مشاركة

Bab 2

مؤلف: Ren
Ibu bicara sambil bercucuran air mata, tetapi kata-katanya justru membuat amarah di dadaku meledak hebat.

Aku tidak tahan lagi. Aku berteriak sekencang mungkin, menumpahkan segala sesak yang menyiksa, "Iya! Paman memang pernah menolong kita! Tapi, Ibu ingat nggak, waktu Ayah masih ada, berapa banyak uang yang Ibu berikan pada keluarga mereka? Semua uang yang Ayah kumpulkan dengan taruhan nyawa, Ibu ambil semuanya cuma buat belikan mereka rumah dan mobil!"

"Waktu aku demam, dia memang meminjamkan uang. Tapi, setelah itu, dia malah mengadu ke semua saudara kalau Ibu ini janda yang cuma bisa merepotkan dia! Dan Ibu? Ibu merasa berutang sampai mengembalikan uang itu sepuluh kali lipat!"

"Soal dia gagal mutasi, itu karena kemampuannya yang payah! Dia nggak lolos seleksi! Tapi, dia pulang dan berbohong pada Ibu, bilang kalau itu demi menjaga kita. Dia sengaja membuat Ibu merasa bersalah, supaya Ibu merasa berutang budi seumur hidup padanya!"

Aku meneriakkan semuanya dalam satu tarikan napas. Setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang menyayat lapisan kekeluargaan palsu yang selama ini membungkus rumah ini.

Ibu terpaku, menatapku dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja dia temui.

Air mataku tumpah tak terbendung. Sambil terisak hebat, aku menatap Ibu tajam. "Bu, kalau Ibu merasa berutang budi padanya, Ibu saja yang bayar sendiri! Kenapa harus menarikku masuk ke dalamnya? Atas dasar apa Ibu menumbalkan masa depan dan cintaku demi membayar utang budi Ibu?"

Pandanganku beralih cepat, menusuk tepat ke arah Rangga.

"Dan kamu, Rangga!" Aku menunjuk wajahnya dengan ujung jari yang gemetar hebat. "Jatah liburmu hanya beberapa hari dalam sebulan, tapi kamu selalu mencari alasan ada urusan mendesak sampai nggak bisa menemaniku. Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu selama ini Ibu yang menyuruhmu pergi berkencan dengan Ajeng tanpa sepengetahuanku!"

"Laki-laki sepertimu, apa hakmu menentukan masa depanku?"

Begitu kalimat terakhirku meluncur, ruang tamu seketika sunyi senyap. Hening yang mencekam.

Ibu memegangi dadanya, bibirnya gemetar hebat tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Beliau tampak sangat terpukul.

Sementara itu, kulihat kilatan rasa bersalah melintas cepat di mata Rangga.

Akan tetapi, di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara debum yang keras. Ajeng tiba-tiba berlutut di hadapanku.

"Kak Lintang! Maafkan aku! Ini semua salahku!"

Sambil meraung histeris, dia mulai membenturkan dahinya ke lantai berulang kali. Dia bersujud dengan sangat dramatis di depanku.

"Aku nggak seharusnya datang dan membebani kalian! Aku akan pergi sekarang juga! Aku akan pergi dari sini dan nggak akan pernah menampakkan diri lagi di hadapan kalian! Kumohon jangan bertengkar lagi. Ini semua salahku."

Dia seolah-olah baru saja menelan ketidakadilan terbesar di dunia, tersungkur di atas lantai sambil menangis tersedu-sedu.

"Ajeng!"

Rangga melesat maju, hendak memapahnya bangun. Namun, Ajeng justru berontak, memegangi dadanya dan batuk dengan sangat keras hingga wajahnya mendadak pucat pasi.

Rangga mendongak, menatapku tajam. Sisa-sisa rasa bersalah di matanya seketika menguap, tergantikan oleh amarah yang meluap-luap.

Dia melangkah mendekatiku, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Aku menengadahkan wajah, menatap lurus ke dalam matanya dengan tatapan kosong, lalu berucap dengan nada datar, "Rangga, kalau telapak tanganmu itu sampai mendarat di wajahku, tamparan itu akan menjadi akhir dari segalanya di antara kita."

Tangan Rangga membeku di udara, seolah terkunci oleh rasa mati rasa di tatapanku.

Akan tetapi, di detik berikutnya, suara batuk yang lebih menyakitkan dan rintihan mual terdengar dari arah Ajeng.

Sisa keraguan terakhir di wajah Rangga lenyap seketika.

"Kamu benar-benar sudah nggak punya akal sehat!"

Dia membentak rendah dan tangan yang sempat membeku di udara itu kini meluncur menghantam wajahku!

Tamparan ini jauh lebih keras dan lebih menyakitkan daripada tamparan Ibu tadi.

Tubuhku terhuyung hingga pinggangku menabrak sudut meja makan dengan keras. Rasa sakit yang tajam menusuk dari samping perutku. Seketika itu juga, rasa anyir darah yang pahit memenuhi mulutku.

Ajeng bergegas menarik lengan Rangga sambil terisak, "Kak Rangga, aku nggak apa-apa. Jangan salahkan Kak Lintang."

Melihat itu, Rangga dengan penuh rasa iba langsung merengkuh Ajeng ke dalam pelukannya.

"Gadis bodoh, dia sudah memperlakukanmu sejahat ini, tapi kamu masih saja membelanya! Kamu itu terlalu baik."

Ibu juga ikut menatapku dengan tatapan penuh kebencian.

"Lintang, berlutut! Minta maaf sama Ajeng sekarang juga!"

Aku tertawa getir, menatap untuk terakhir kalinya pada keluarga bahagia yang sedang berpelukan di hadapanku.

Detik itu juga, percikan kasih sayang terakhir yang tersisa untuk mereka di hatiku benar-benar padam. Mati total.

Dengan langkah terhuyung, aku bangkit dan berlari keluar dari rumah yang terasa mencekik itu.

Aku memacu langkahku menuju tepi pantai dan duduk di sana dalam waktu yang sangat lama.

Kukeluarkan ponselku, lalu jemariku mulai mencari pesan lama yang dikirimkan Rangga enam bulan yang lalu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 10

    Rangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 9

    Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 8

    "Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 7

    "Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 6

    Ajeng yang berada di samping mereka juga mulai terisak pelan. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Lintang nggak akan bertindak seperti ini. Kak Rangga, jemputlah Kak Lintang pulang, biar aku saja yang pergi.""Diam kamu!"Rangga tiba-tiba membentak dengan sangat keras.Seketika itu juga, ruang tamu menjadi sunyi senyap.Ajeng tersentak kaget mendengar bentakan itu, hingga dia lupa caranya menangis.Ratna pun menatapnya dengan penuh keheranan. "Rangga, kamu ….""Kubilang diam!" Rangga berdiri dengan sentakan kasar, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. "Dia sudah pergi. Dia nggak akan kembali lagi! Apa kalian nggak paham?"Rangga menatap tajam foto di layar ponselnya, pikirannya kacau balau.Lintang benar-benar pergi ke Kota Banger.Gadis itu benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.Lintang yang sejak kecil selalu mengekor di belakangnya, yang matanya hanya tertuju padanya. Lintang yang pernah berjanji akan menikmati hujan bersamanya. Lintang yang dia pikir tida

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 5

    Hari sudah larut malam saat aku tiba di ibu kota, tepatnya Kota Banger.Bulan September di utara, angin malamnya sudah mulai terasa dingin menusuk kulit.Aku menyeret koperku keluar dari stasiun, menatap deretan lampu yang benderang, tetapi asing di sepanjang jalan. Hatiku tidak merasa takut, sebaliknya, aku justru merasa tenang yang tak dapat dijelaskan.Masih ada waktu beberapa hari sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai.Aku mencari hostel yang murah di dekat kampus. Satu kamar untuk delapan orang dengan tempat tidur tingkat. Tarifnya hanya seratus ribu per hari.Teman-teman satu kamarku berasal dari berbagai daerah. Ada yang sedang berjuang menempuh ujian pascasarjana, ada pula yang sedang mencari kerja. Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri."Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status