تسجيل الدخولRangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu
Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has
"Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j
"Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.
Ajeng yang berada di samping mereka juga mulai terisak pelan. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Lintang nggak akan bertindak seperti ini. Kak Rangga, jemputlah Kak Lintang pulang, biar aku saja yang pergi.""Diam kamu!"Rangga tiba-tiba membentak dengan sangat keras.Seketika itu juga, ruang tamu menjadi sunyi senyap.Ajeng tersentak kaget mendengar bentakan itu, hingga dia lupa caranya menangis.Ratna pun menatapnya dengan penuh keheranan. "Rangga, kamu ….""Kubilang diam!" Rangga berdiri dengan sentakan kasar, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. "Dia sudah pergi. Dia nggak akan kembali lagi! Apa kalian nggak paham?"Rangga menatap tajam foto di layar ponselnya, pikirannya kacau balau.Lintang benar-benar pergi ke Kota Banger.Gadis itu benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.Lintang yang sejak kecil selalu mengekor di belakangnya, yang matanya hanya tertuju padanya. Lintang yang pernah berjanji akan menikmati hujan bersamanya. Lintang yang dia pikir tida
Hari sudah larut malam saat aku tiba di ibu kota, tepatnya Kota Banger.Bulan September di utara, angin malamnya sudah mulai terasa dingin menusuk kulit.Aku menyeret koperku keluar dari stasiun, menatap deretan lampu yang benderang, tetapi asing di sepanjang jalan. Hatiku tidak merasa takut, sebaliknya, aku justru merasa tenang yang tak dapat dijelaskan.Masih ada waktu beberapa hari sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai.Aku mencari hostel yang murah di dekat kampus. Satu kamar untuk delapan orang dengan tempat tidur tingkat. Tarifnya hanya seratus ribu per hari.Teman-teman satu kamarku berasal dari berbagai daerah. Ada yang sedang berjuang menempuh ujian pascasarjana, ada pula yang sedang mencari kerja. Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri."Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS.







