Share

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang
Penulis: Ren

Bab 1

Penulis: Ren
Tepat setelah aku menekan tombol simpan dan pilihan universitasku kembali ke Universitas Adiwangsa, pintu kamar dibanting terbuka dengan keras.

Ibu berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam menahan amarah. "Lintang! Keluar kamu! Mau pamer muka masam di depan siapa, hah? Ajeng itu adikmu, beraninya kamu nggak sopan begitu? Cepat keluar dan minta maaf padanya!"

Aku bergeming di kursi, menatap tulisan data berhasil dikirim yang berkedip di layar monitor. Dengan suara datar, aku menjawab, "Minta maaf buat apa? Aku nggak merasa salah."

"Kamu!" Ibu melangkah lebar menghampiriku, lalu menyambar lenganku dengan kasar. "Sudah berani membangkang, ya? Kata-kata Ibu sudah nggak ada gunanya lagi buatmu? Hari ini, kamu harus minta maaf!"

Ibu menyeretku paksa dari kursi. Aku terhuyung, nyaris terjatuh saat ditarik menuju sisi meja makan.

Di sana, mata Ajeng sudah bengkak seperti buah persik. Dia meringkuk ketakutan, menyembunyikan wajahnya di pelukan Rangga.

"Lintang, minta maaf sama Ajeng!" perintah Ibu dengan ketus, tangannya masih mencengkeram kuat lenganku hingga terasa perih.

Ajeng langsung melambaikan tangan dengan panik, suaranya parau tertahan isak tangis. "Jangan, Bibi. Jangan dipaksa. Ini salahku. Aku yang sudah buat Kak Lintang marah."

Rangga akhirnya ikut bicara. Nada suaranya terdengar sangat tidak senang, penuh penghakiman padaku.

"Lintang, berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dari awal kita sudah sepakat, di mana pun aku berada, di sanalah kamu akan kuliah. Ini hal yang wajar dan nggak perlu diperdebatkan. Kamu yang mulai mencari masalah duluan."

"Kondisi fisik Ajeng lemah, dia nggak boleh tertekan. Minta maaf sekarang dan kita anggap masalah ini selesai."

Aku menatap mereka bertiga bergantian. Tiba-tiba, pemandangan di depanku ini terasa begitu konyol dan menjijikkan.

"Aku mencari masalah?" Sudut bibirku terangkat, membentuk senyum getir yang sinis. "Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Baru saja, aku sudah mengubah …."

Belum sempat kalimatku selesai, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku!

Ibu menamparku dengan seluruh tenaganya. Kepalaku terhentak ke samping, pandanganku seketika menggelap dan telingaku berdenging hebat.

"Masih berani kamu membantah!"

Suara Ibu melengking, pecah oleh tangis frustrasi yang dipaksakan.

"Lintang! Percuma Ibu membesarkanmu sampai sekarang! Apa kamu sudah lupa? Ayahmu meninggal saat kamu masih kecil, hidup kita susah setengah mati! Ibu sendirian mengurusmu, hampir saja kita nggak bisa bertahan hidup! Siapa yang menolong kita? Itu pamanmu!"

Ibu berteriak sambil menangis, telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. "Pamanmu sendiri hidupnya pas-pasan. Saat kamu demam tinggi dan harus masuk rumah sakit, dialah yang pontang-panting meminjam uang untuk biaya pengobatanmu!"

"Lalu, saat dia punya kesempatan mutasi kerja yang bagus, dia sengaja melepasnya hanya demi bisa menjaga kita di sini. Semua budi baik itu, Ibu berutang seumur hidup padanya! Seumur hidup Ibu nggak akan bisa melunasinya!"

"Sekarang Paman dan bibimu sudah tiada. Mereka meninggalkan putri satu-satunya untuk Ibu rawat. Ibu wajib berbuat baik padanya! Termasuk kamu, jangan pernah berani menindasnya sedikit pun!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 10

    Rangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 9

    Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 8

    "Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 7

    "Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 6

    Ajeng yang berada di samping mereka juga mulai terisak pelan. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Lintang nggak akan bertindak seperti ini. Kak Rangga, jemputlah Kak Lintang pulang, biar aku saja yang pergi.""Diam kamu!"Rangga tiba-tiba membentak dengan sangat keras.Seketika itu juga, ruang tamu menjadi sunyi senyap.Ajeng tersentak kaget mendengar bentakan itu, hingga dia lupa caranya menangis.Ratna pun menatapnya dengan penuh keheranan. "Rangga, kamu ….""Kubilang diam!" Rangga berdiri dengan sentakan kasar, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. "Dia sudah pergi. Dia nggak akan kembali lagi! Apa kalian nggak paham?"Rangga menatap tajam foto di layar ponselnya, pikirannya kacau balau.Lintang benar-benar pergi ke Kota Banger.Gadis itu benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.Lintang yang sejak kecil selalu mengekor di belakangnya, yang matanya hanya tertuju padanya. Lintang yang pernah berjanji akan menikmati hujan bersamanya. Lintang yang dia pikir tida

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 5

    Hari sudah larut malam saat aku tiba di ibu kota, tepatnya Kota Banger.Bulan September di utara, angin malamnya sudah mulai terasa dingin menusuk kulit.Aku menyeret koperku keluar dari stasiun, menatap deretan lampu yang benderang, tetapi asing di sepanjang jalan. Hatiku tidak merasa takut, sebaliknya, aku justru merasa tenang yang tak dapat dijelaskan.Masih ada waktu beberapa hari sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai.Aku mencari hostel yang murah di dekat kampus. Satu kamar untuk delapan orang dengan tempat tidur tingkat. Tarifnya hanya seratus ribu per hari.Teman-teman satu kamarku berasal dari berbagai daerah. Ada yang sedang berjuang menempuh ujian pascasarjana, ada pula yang sedang mencari kerja. Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri."Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status