LOGINThe story of a budding romance in the '80s through the eyes of precocious but clueless16-year old Nia. She's a petite, fair, fiercely loyal,and talented high schooler. Overshadowed by a popular sister, she finds joy in her merry circle of friends. As the New Girl in school, she's often misunderstood and finds herself in trouble because of her flirtatious friend. Cute and popular best bud Lance would always come to her rescue. Take a trip down memory lane as we see her grow up in the 80s, going through life's ups and downs, fun exploits, bittersweet love, betrayal, growing up, and moving on...Will she finally meet the one destined for her? Or was he the one who got away?
View More“Ibu, sedang apa kamu di sini? Kenapa pakaianmu seperti ini?” Zia bertanya untuk meyakinkan penglihatannya.
Napasnya terasa menggebu-gebu. Ia terlalu takut untuk meyakini kalau Ibunya bekerja di rumah bordil itu. Namun, terlihat jelas dari pakaian yang Resa kenakan. Zia berharap ibunya lupa memakai daster atau jaket. Tatapan Zia menjadi tajam, menatap tepat ke arah wajah Resa yang terlihat cemas.
“Zi—Zia, Ibu bisa jelaskan,” ucap Resa seraya berjalan mendekati Zia.
Zia memundurkan langkahnya seolah menjaga jarak dengan Resa. Bukan itu, yang ingin Zia dengar dari ibunya. “Jadi benar, Ibu bekerja di sana!” tunjuk Zia pada rumah bordil.
“Zia ...,” panggil Resa pelan, air matanya tiba-tiba menetes karena merasa sedih anaknya harus mengetahui pekerjaan hinanya.
“Jawab aku, Bu!” Zia berteriak. Tanpa terasa air matanya mengalir deras melihat Resa hanya terdiam. “Kenapa Ibu menangis? Jawab aku, Bu!” teriaknya lagi.
Resa kembali meneteskan air matanya. Ia mendekati Zia agar bisa menenangkan anaknya. Lagi, Zia memundurkan langkah kakinya. Ia enggan disentuh ibunya sendiri.
“Jangan sentuh aku!”
Zia bereaksi kasar saat Resa mencoba meraih tangannya. “Aku tidak percaya, Ibu seperti ini. Ibu tahu apa yang aku alami hari ini?” ucap Zia lirih. Kini, air matanya mengalir makin deras.
“Hari ini, di kampus, aku di bully. Seluruh teman-teman kampusku tahu, kalau Ibu bekerja di rumah bordil. Aku bahkan dikurung di toilet, disiram air. Aku dihina, Bu.” Zia memekik meluapkan kesedihannya.
“Apa? Kamu di bully?” Suara Resa meninggi, ia terkejut mendengar penuturan Zia.
Resa pun mencoba melangkah mendekati Zia lagi, tetapi Zia memundurkan langkahnya lagi. Zia benar-benar menunjukkan rasa sakitnya pada Resa. Resa makin terkejut dengan reaksi anaknya.
“Aku malu, Bu! Bagaimana besok aku harus ke kampus? Bagaimana aku bertemu teman-temanku? Bagaimana kalau mereka terus mem-bully aku lagi?” rintih Zia merasakan sakit di hatinya.
“Kamu tidak usah khawatir, sayang! Ibu akan memindahkan kamu ke kampus lain. Di mana tidak akan ada yang berani mem-bully kamu. Kamu mengerti kan, sayang?” sahut Resa menenangkan Zia.
Sayangnya ucapan Resa malah terasa menambah dalam rasa sakit di hatinya. Zia mencibir dan menatap sinis pada Resa. Ia benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran Resa.
“Pindah kampus?” tanyanya sinis.
“Bukan itu yang membuat aku sakit hati, tetapi kenyataan bahwa Ibu ternyata benar bekerja di sana!” Zia menjerit sekencang-kencangnya.
Beberapa pengunjung bordil menatap mereka dan ada yang hendak menghampiri mereka. Namun, Resa memberi isyarat agar tak perlu diganggu. Ia hanya bisa diam dan membiarkan Zia meluapkan amarahnya.
“Aku berharap semuanya adalah fitnah, karena yang aku tahu Ibuku adalah orang baik. Ibuku tidak mungkin bekerja di rumah bordil. Yang aku tahu Ibu bekerja di sift malam, tapi.”
Suara Zia seperti hilang, bibirnya tak mampu melanjutkan kalimatnya. Zia merasa kecewa dan sedih yang teramat dalam. Ibu yang selama ini dikenalnya orang yang paling pengertian, ternyata tak seperti dugaannya. Dadanya terasa sesak melihat kenyataan tersebut. Zia pun memutarkan tubuhnya hendak meninggalkan Resa.
“Zia, dengarkan Ibu dulu!” ucap Resa yang berhasil meraih tangan Zia dan berhasil menghentikan langkah kaki Zia. “Kamu pikir, Ibu suka bekerja di bordil?
Resa bergerak maju, lalu berdiri di hadapan Zia dan menatap wajah putri tunggalnya. Namun, Zia memalingkan wajahnya. Ada rasa sakit di hatinya karena Zia tak mau menatap wajahnya.
“Kamu tahu alasan Ibu bekerja di bordil? Ini semua terpaksa. Ibu juga tidak mau bekerja di sana.” Resa menunjuk ke sampingnya, tepatnya menunjuk rumah bordil.
Zia melirik sinis pada Resa. Wajah Resa juga terlihat kecewa karena tanggapan Zia yang seperti menatap hina pada dirinya. “ini semua salah ayahmu! Ayahmu berselingkuh dan menghabiskan semua harta keluarga kita dan menelantarkan Ibu dan kamu.”
Resa seperti tak mau kalah dengan Zia, ia juga meluapkan kekesalannya. Napasnya pun menggebu penuh amarah. Ia tak mau disalahkan.
“Tidak ada yang mau menerima Ibu bekerja, sedangkan Ibu harus menghidupi kamu. Ibu terpaksa menjadi wanita malam di bordil agar bisa menghidupi kamu, memenuhi impian kamu,” suara Resa melemah.
“Lihatlah baju yang kamu kenakan! Tas, sepatu, rumah tempat kamu tinggal serta semua fasilitas yang kamu nikmati. Itu semua hasil kerja keras Ibu bekerja di sana!”
Mendengar penjelasan Resa, membuat Zia makin meradang dan bertambah kecewa. “Itu hanya alasan Ibu untuk membenarkan pekerjaan hina Ibu.” Sinis Zia penuh emosi.
Tiba-tiba, Zia melepaskan tas yang ia kenakan dan melemparkannya di hadapan ibunya. Tak sampai di sana, Zia juga melepaskan jaket yang ia kenakan, kemudian sepatunya serta celana jeans-nya. Untunglah Zia selalu memakai celana strit yang panjangnya selutut sebelum ia memakai celana jeans.
“Ambil itu semua! Aku tidak butuh pemberian Ibu,” ucap Zia tegas, kemudian ia berjalan meninggalkan Resa dan mengabaikan teriakan Resa.
“Zia, Zia! Mau ke mana kamu?”
Resa mengejar Zia yang berjalan cepat, tetapi Zia tidak menghiraukannya. Baru beberapa langkah, Resa mendengar seseorang memanggilnya. Resa memilih menghampiri orang yang memanggilnya dan mengurungkan niatnya untuk mengejar Zia. Zia pun menoleh ke belakang, ia merasakan kalau ibunya tak terdengar suaranya.
“Ternyata Ibu lebih memilih pekerjaan hinanya dari pada aku,” lirih Zia saat melihat Resa masuk ke rumah bordil.
**
Zia terus berjalan melangkah tanpa alas kaki. Tubuhnya mulai merasakan kedinginan karena ia hanya mengenakan kaos pendek dan celana strit selutut. Namun, hatinya terasa panas karena emosi dan kecewa memenuhi ruang hatinya.
“Aku harus pergi ke mana?” guman Zia yang tanpa sadar sudah berjalan jauh dari rumah bordil.
Tiba-tiba Zia tersenyum saat menoleh ke arah samping. Ada pantai dengan pemandangan malam yang indah. “Aku tidak tahu kalau aku sudah berada di pantai.”
Zia melangkah ke tepi laut. Ia memandangi ombak malam yang menggulung ke lautan. Angin malam meniupkan suhu dingin yang menusuk kulit. Ia harus meluapkan rasa kecewanya.
“Aaa ....”
Zia berteriak sekencang-kencangnya menghadap lautan. Tak cukup satu teriakan. Zia terus berteriak berkali-kali untuk meluapkan kekecewaannya. Zia tak peduli jika ada orang yang terganggu dengan teriakannya. Hanya cara tersebut yang mampu mengurangi rasa sesak di hatinya.
“Hei, berisik sekali! Siapa itu?” Terdengar suara bariton dengan nada setinggi 10 oktaf, hingga mengejutkan Zia.
Zia menoleh ke belakang untuk mengetahui pemilik suara tersebut. Wajahnya berubah cemas saat melihat pria tinggi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Dari bahan baju dan celananya terlihat kalau lelaki itu adalah orang kaya. Zia terus menatap lelaki asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
“Hei, anak kecil! Di mana orang tuamu? Kenapa kamu berkeliaran malam-malam begini? Apalagi dengan pakaian seperti itu? Masuk angin baru tahu rasa!” seru lelaki itu menatap heran pada Zia.
“Memangnya kenapa? Terserah aku mau ke mana pun.”
Zia membalas teriakan lelaki di hadapannya. Sebenarnya itu adalah teriakan pelepasan kekecewaannya, karena ia merasa perlu meluapkan kekecewaannya. Lelaki itu adalah lawan yang pas untuk sasarannya karena berani mengusiknya.
Namun sayang, tiba-tiba hujan datang tanpa diundang. “Ah menyebalkan, kenapa harus turun hujan di saat seperti ini,” keluh Zia kesal.
Tiba-tiba lelaki itu menarik tangan Zia untuk mencari tempat berteduh. Sayangnya, lokasi pantai itu jauh dari tempat pemukiman dan tak ada tempat untuk berteduh. Indera penglihatannya tertuju pada mobil mewah miliknya yang terparkir tak jauh dari pantai. Ia langsung menarik Zia menuju mobilnya.
“Cepat masuk ke mobilku!” perintah lelaki itu setelah membuka pintu mobil mewah miliknya.
Zia terkejut panik karena lelaki itu mendorong paksa tubuh Zia masuk ke dalam mobil. Zia cemas. Kemudian ia berubah lega, karena lelaki itu ternyata memilih duduk kursi depan, sedangkan Zia berada di kursi belakang.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Zia cemas saat ia menyadari, saat itu hanya berdua di dalam mobil. Apalagi saat malam hari dan turun hujan deras.
“Lalu, aku harus membiarkan kamu sendirian dan basah kuyup!” sahutnya sebal. Wajah lelaki itu terlihat kesal karena pertanyaan konyol Zia.
“Tenang saja! Wajahku ini memiliki tampang menakutkan, tapi aku tidak pernah menyakiti wanita, terutama anak kecil,” ucap lelaki itu seraya membuka laci di samping kemudinya.
“Aku bukan anak kecil, Paman!”
I always felt like I was just a regular guy. Growing up, my parents would shower me with their undivided attention as I was the only boy. My older sister Terry "bullied" me when we were kids, and because of her, I was a bit shy around girls. I just liked hanging around with noisy guys like Jon and Ira, as I felt they "protected" me. I had crushes, but never really told any girl I liked her. Jon joked that the girl must be the one to court me, for I usually clamped up around them. That is, until I met Nia. During our Sophomore year, I heard heard rumors about a girl who transferred to our coed school from an exclusive girls' school. My curiosity was piqued. I felt bad hearing some of them making fun of the girl we have yet to meet. I saw new faces in the room and I asked Ira casually if the new girl had arrived. "Nope, I don't think she's here yet. Those new students came from co-ed schools as well," he replied. I sat down, feeling disappointed. Suddenly, I saw a girl stood b
I was startled to hear my office phone ringing continuously. I picked it up quickly and breathlessly said, "Hello?" "Hello, Nia? Izzie here. What time are you ready? We need to go see Noah immediately at the precinct." I checked my watch and responded, "I can wrap up now and go there. I'll meet you at the mall then we go directly to the precinct. How about the others?" I heard Izzie sighed and said, "Ayene, Leny and Carly went there an hour ago. Ira and Enzo will also proceed there in a bit. I'd like to talk to Noah. He must be really scared." "Don't worry. Buy some snacks, towels, toiletries for him, and I'll be there in a jiffy." I quickly drove to the mall to pick up Izzie. I saw her waiting for me at the mall entrance and quickly stopped at the curb and opened the door. She came in, hugged me and closed the door. She started chatting about Noah. "I told him to resign from that stupid job. He was so stressed out for months, an
"I will not take No again for an answer, Nia," my friend Naomi said crispily over the phone. I was staring at my computer and typing endless memos for my boss who was the senior vice president for Corporate Banking of a leading universal bank. My head was tilted, skillfully balancing the receiver while leafing through the pages of the draft. I was hired as an assistant and working with the bank for nearly 3 years. I met Naomi while I was an intern for a professional advertising executive and she was then his assistant. I liked her because of her feisty nature. "I already met the guy and he seems promising. But do I need to go into another date with him? I am very busy," I answered. Naomi set me up on a blind date with Ervin who was an account executive working for a big pharmaceutical company. "He has been asking why you don't want to give your personal as well as your professional contact number. I think he's got the hots for you. Why don't you give him a chance? Just
Time really flies, and how! I am now a Senior in college, and in just a few months will graduate hopefully with Latin Honors. Soon, I'd be able to keep my promise to Nanay. It was a long arduous journey, but I did it. I only need to pass the remaining exams and defend my thesis. I was so grateful to Jena, Eden, Arnold, and the rest of my classmates who made life in college bearable. As expected, life there was more serious and I learned that you have to take ownership of your decisions and not rely on others. I realized my inner strength and determination to finish what I've started. I sacrificed Lance, and nothing's going to stop me from my goal. A stumbling block indeed came, but I was able to overcome and moved on. A few months ago, I was roaming the University Belt with Jena and Arnold looking for additional sources for our thesis. The place was teeming with students from other universities and colleges. I was able to get copies of the books I needed and was waiting for
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.