Share

Bab 7

"Lala, kamu bikin orang khawatir saja."

Keesokan paginya, Zayden diantar pulang oleh Gita. Begitu masuk ke dalam rumah, dia melihat Briella tengah tertidur di sofa.

Zayden berdiri di dekat sofa. Melihat luka di dahi Briella, alisnya berkerut dan ekspresinya menjadi suram.

Kalau di rumah ini ada pria dewasa, ibunya pasti tidak perlu bekerja sekeras ini.

Zayden menghela napas dalam dan duduk di dekat sofa, mulai tenggelam dalam pikirannya.

Pria yang muncul di saluran keuangan tadi malam cukup lumayan ....

Pikiran Zayden teringat kembali akan wajah tampan pria itu.

Semalam dia mencari tahu tentang identitas pria yang dia lihat semalam. Pria itu adalah presdir Perusahaan Regulus, yang juga atasan ibunya. Mungkinkah ibunya mengandung anak atasan itu, jadi tidak berani memberitahukan hal itu kepada orang lain dan memilih untuk melahirkannya secara diam-diam?

"Sayang, kamu sudah pulang?"

Briella langsung melihat putranya begitu membuka mata. Karena suasana hatinya sedang bagus, Briella pun langsung memeluk Zayden. Dia mencium dan mengusap wajah Zayden sampai tak berbentuk.

Zayden meronta dan mendorong Briella dengan ekspresi tidak suka. Dia langsung mengelap air liur di wajahnya.

"Cepat mandi. Aku akan buat sarapan biar nggak telat ke kantor."

Briella meregangkan badannya.

"Nak, Mama mau bicara sesuatu denganmu."

"Bicara apa?" Zayden menuangkan dua gelas susu dan berbalik untuk memanggang roti.

"Mama mau berhenti kerja. Kita bisa pindah ke rumah lebih besar yang dekat sekolah biar ganti suasana baru."

Zayden menghentikan aktivitasnya dan menoleh menatap Briella sambil menyipitkan matanya.

"Mama dapat uang dari mana untuk beli rumah di dekat sekolah?"

"Mama dapat uang tambahan dari kerja paruh waktu."

Zayden menggeleng dan menolak, "Uangnya ditabung saja. Nggak perlu beli rumah. Uangnya disimpan buat pengobatan Nenek."

"Astaga." Briella mencubit wajah cemberut Zayden. "Selain buat beli rumah sama pindah sekolah, Mama masih punya cukup uang buat berobat nenek."

Briella memikirkan kejadian tadi malam, di mana Valerio ingin memberikan Galapagos padanya.

Karena pria itu sudah mengakhiri hubungan dengannya, maka logikanya kepemilikan rumah itu sudah dipindahkan kepadanya, 'kan? Akan tetapi, Briella tidak enak ingin menanyakannya karena Valerio tidak mengatakan apa pun.

"Royal sekali atasan Mama."

Zayden teringat akan sesuatu, seketika kedua matanya berbinar. Dia menatap Briella penuh harap.

"Mama, karena mama punya uang, gimana kalau kita cari Papa?"

"Papamu ...." Briella cemberut, sesaat ekspresinya terlihat suram. "Papa pasti akan datang mencari kita."

Zayden mengusap kepala Briella dan menata sarapan.

"Mama, makanlah. Roti yang aku panggang hari ini sangat lezat."

Sejak bisa mengingat banyak hal, Zayden selalu menunggu ayahnya. Namun, sekarang usianya sudah lima tahun dan ayahnya masih belum kembali.

Karena ayahnya tidak mencari mereka, dia sendiri yang akan mencari ayahnya.

...

Setelah sarapan, Briella pergi ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Namun, dia dipanggil ke bagian kepegawaian.

"Pengunduran dirimu nggak disetujui oleh perusahaan."

"Kenapa?"

"Pak Valerio bilang kamu mengacaukan kerja sama dengan Pak Sony. Kamu boleh keluar dari perusahaan kalau kesepakatan sudah tercapai. Lagi pula, selama ini kamulah yang mengurus kerja sama itu. Kurang pantas kalau digantikan orang lain."

Briella terkejut.

Bukan ini yang dikatakan Valerio tadi malam.

Apa yang diinginkan pria itu sebenarnya?

Briella pergi ke kantor presdir setelah menyelesaikan urusannya di bagian kepegawaian. Beberapa rekan kerja yang dia temui terlihat tengah membicarakan sesuatu.

Setelah mendekat, Briella baru bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.

"Kalian merasa nggak, kalau kepala bagian keuangan agak mirip dengan Bu Briella?"

"Pantas saja Bu Briella bisa kerja lama sama Pak Valerio. Ternyata itu karena wajahnya mirip seseorang."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status