ホーム / Young Adult / Romantic Purple / Diam yang Punya Arti

共有

Diam yang Punya Arti

作者: aquarian
last update 公開日: 2026-05-25 21:17:14

Suara gitar dan nyanyian memenuhi kantin yang siang itu hampir kosong. Dua gitar dipetik bergantian, nadanya saling mengisi, sementara Zaki bermain dengan ekspresi serius seolah sedang latihan sungguhan.

Beberapa anak duduk saling berhadapan di bangku panjang. Mereka menyanyi bersama, kadang kompak, kadang berantakan, lalu tertawa ketika lirik mulai melenceng terlalu jauh. Rian duduk di ujung meja, memegang gorengan di tangannya. Ia ikut bernyanyi sebentar, lalu tersenyum ketika suaranya sendir
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Romantic Purple   Janji di Atas Kota

    Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar

  • Romantic Purple   Hari yang Akan Dirindukan

    Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i

  • Romantic Purple   Ungu yang Tetap Sama

    Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen

  • Romantic Purple   Tempat Pulang

    Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb

  • Romantic Purple   Selama Kamu Mau

    “Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera

  • Romantic Purple   Yang Akhirnya Terucap

    Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status