LOGINMotor melaju pelan, di antara kendaraan lain mengikuti arus pagi yang mulai padat. Di belakangnya, Hendoko terus berbicara tentang hal-hal acak—kadang soal kelas satu, kadang soal musik, bahkan tentang jalan yang semakin macet menjelang jam tujuh. Rian mengangguk sesekali, menjawab seperlunya. Tetapi cukup untuk menjaga percakapan tetap hidup tanpa benar-benar ia ikuti.
Sesampainya di parkiran, ia mematikan mesin, memarkir motor dengan rapi, lalu menyimpan helm dan mengangkat tas ke pundak.
Lorong menuju kelas sudah ramai, tetapi seperti biasa, keramaian itu memiliki pola yang bisa ditebak: siswa berlari mengejar bel, beberapa bercanda di sudut lorong, sebagian lain berhenti di papan pengumuman. Aroma kertas lembap bercampur sisa hujan semalam masih terasa samar di udara.
Rian berjalan seperti biasa, namun tanpa ia sadari, matanya lebih sering menoleh ke sekeliling.
“Yan, kelas lu udah dikasih PR Fisika belum?” tanya Hendoko.
Rian menggeleng. “Kayaknya belum.”
“Haduh, mana siang dikumpulin lagi,” balasnya singkat.
Percakapan itu berhenti begitu saja, seperti kebanyakan percakapan lain yang tidak pernah benar-benar perlu dilanjutkan.
Di kelas, suasananya tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya—tidak terlalu ribut.
Rian duduk di tempatnya, dekat jendela. Ia membuka buku, bukan untuk benar-benar belajar, melainkan sekadar memberi alasan pada tangannya agar tidak diam terlalu lama. Tapi pagi itu, ia menyadari sesuatu yang kecil tapi mengganggu: ia lebih sering menoleh ke arah pintu.
Pelajaran berjalan seperti biasa sampai menjelang akhir jam. Ketika pintu diketuk dari luar, perhatian kelas terpecah sejenak. Seorang siswa masuk dengan seragam rapi dan lencana OSIS di saku. Ia berbicara singkat pada guru, lalu berdiri di depan kelas.
“Cari Kak Rian,” katanya.
Beberapa kepala menoleh, lalu kembali ke urusan masing-masing. Rian berdiri tanpa bertanya dan mengikuti siswa itu keluar.
Mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Baru ketika mendekati ruang OSIS, siswa itu kembali membuka suara. “Kak, OSIS lagi nyiapin buku kenangan buat kelulusan angkatan Kakak.”
Rian mengangguk, menunggu penjelasan berikutnya.
“Anak-anak nyebut nama Kakak,” lanjutnya datar.
“Buat jadi koordinator tema di kelas Kakak.”
Langkah Rian terhenti sejenak.
“Kenapa saya?” tanyanya akhirnya.
Siswa itu mengangkat bahu.
“Katanya Kakak yang megang kelas. Terus—enggak ribet orangnya.”
Rian tidak langsung menjawab. Ia hanya mengatakan akan memikirkannya, lalu kembali ke kelas tanpa membawa keputusan apa pun.
Sepanjang sisa pelajaran, ia mencoba kembali ke ritmenya—mencatat, mendengarkan, menjawab jika perlu.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya tinggal di sana.
Permintaan itu tidak terasa seperti beban, tetapi seperti sesuatu yang terselip di saku: ringan, namun terus mengganggu setiap kali ia bergerak.
Rian tahu, permintaan tadi bukan sesuatu yang besar. Banyak orang mungkin akan langsung menerima tanpa berpikir panjang. Tapi baginya, menerima berarti membuka ruang—sesuatu yang selama ini ia hindari tanpa perlu alasan yang jelas.
Hari berikutnya, ia mencoba kembali ke rutinitasnya. Sayangnya pikirannya sering melompat ke potongan-potongan kecil: wajah siswa OSIS itu, nada suaranya yang datar, dan kalimat “yang megang kelas” terasa terlalu longgar untuk dijadikan alasan.
Rian tidak merasa dirinya pemimpin. Ia hanya terbiasa diam sebelum bicara.
Saat jam istirahat, ia duduk bersama teman-temannya di kantin. Obrolan ringan kembali mengisi ruang—candaan, komentar singkat, dan tawa yang tidak perlu diingat. Rian ikut tertawa seperlunya, penanda bahwa ia terlihat hadir.
“Yan,” kata salah satu dari mereka sambil membuka bungkus roti.
“Kemarin dicari OSIS, kenapa?”
Rian mengangkat bahu. “Urusan buku kenangan.”
“Oh.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Obrolan segera berpindah ke hal lain.
Waktu berlalu begitu cepat.
Hingga sore harinya, seperti biasa, Rian singgah di Warzam. Tempat itu tetap sama—tidak berubah, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana. Ia duduk di pojok bangku panjang, memesan teh hangat, lalu menatap jalan.
Beberapa siswa berlalu-lalang: ada yang berboncengan, ada yang berjalan berkelompok, dan ada yang sendiri. Dan di antara itu, ia melihatnya lagi.
Sweater putih-biru itu.
Kali ini lebih dekat. Ia berdiri di pinggir jalan, tampak menunggu angkot. Rambutnya sedikit tertiup angin, tas di pundaknya tetap diam meski angin bergerak pelan. Tidak ada yang menonjol, tetapi tidak terasa biasa.
Rian menahan diri untuk tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan, mengingat hal-hal kecil yang bahkan tidak ia butuhkan.
Tidak lama kemudian, Fajar muncul dari dalam warung. Ia mengikuti arah pandang Rian, lalu tersenyum tipis.
“Itu temen sekelas saya,” katanya santai.
“Namanya Lidya.”
Nama itu terdengar sederhana, tetapi tidak langsung hilang.
“Lidya,” ulang Rian pelan.
Lebih seperti memastikan kata itu benar-benar ada.
Percakapan berhenti di situ. Namun dalam perjalanan pulang, nama itu kembali muncul di pikirannya––tidak dipanggil, hanya hadir.
Malamnya, di kamar. Rian menyalakan komputer dan membuka dokumen kosong. Ia mengetik satu kata:
Tema.
Kursor berkedip cukup lama, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Rian menatap layar tanpa benar-benar melihat, lalu akhirnya menutup dokumen itu tanpa menambahkan apa pun.
Keesokan paginya, saat melewati depan ruang OSIS, langkahnya melambat. Pintu terbuka. Hanya satu orang di dalam yang sedang menyusun kertas.
Ia berhenti beberapa detik.
“Permisi,” katanya pelan.
Orang di dalam menoleh. “Oh, Kak Rian, ya?”
Rian mengangguk. “Soal––yang kemarin.”
Ia menarik napas singkat.
Lalu melanjutkan, “Kalau saya ambil, saya enggak janji bisa cepet.”
Orang itu tersenyum tipis. “Gak apa-apa, Kak. Yang penting mau bantu.”
Rian mengangguk lagi. “Ok kalo gitu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, hampir seperti janji setengah. Namun setelah mengucapkannya, ia merasakan sesuatu yang berbeda––ringan, tapi sekaligus tidak sepenuhnya.
Di kelas, ia kembali duduk di tempatnya. Temannya menoleh.
“Ada urusan sama OSIS?”
Rian mengangguk. “Buku kenangan.”
“Oh.”
Obrolan pun beralih.
Rian menatap ke luar jendela. Pohon yang sama, angin yang tidak terlalu kuat. Semuanya terlihat biasa. Namun tidak lagi terasa sepenuhnya sama. Rian tidak benar-benar tahu kenapa ia setuju.
Tetapi kali ini, rasa tidak nyamannya terasa berbeda—bukan sesuatu yang ingin ia hindari, melainkan sesuatu yang, tanpa ia sadari, mulai ingin ia hadapi dan Rian belum tahu, perasaan kecil itu tidak akan berhenti di sini.
Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar
Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i
Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen
Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb
“Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera
Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?
“Three point, Yan!”Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan
Rian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan. Guru berdiri di depan kelas, lalu mengan
Udara pagi terasa segar, menyisakan dingin dari hujan semalam. Sinar matahari menembus celah awan tipis, jatuh di rerumputan yang masih basah. Lorong sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa yang bersahutan, dan aroma kertas lembap yang bercampur dengan tanah dari taman belakang.Semuanya tampak s
Tahun terakhir di SMA dimulai dengan hal yang tidak menyenangkan: Rian datang terlambat ke sekolah. Ia melewati gerbang sambil mengangguk kecil pada satpam yang sudah hafal wajahnya, lalu melangkah masuk ke halaman yang terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar siswa sudah berada di dalam ke







