로그인
Tahun terakhir di SMA dimulai dengan hal yang tidak menyenangkan: Rian datang terlambat ke sekolah. Ia melewati gerbang sambil mengangguk kecil pada satpam yang sudah hafal wajahnya, lalu melangkah masuk ke halaman yang terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar siswa sudah berada di dalam kelas; hanya beberapa yang masih berada di luar––entah karena sengaja atau memang belum sempat masuk.
Rian berjalan menyusuri lorong menuju kelas IPA. Dinding lorong dipenuhi poster lama yang mulai menguning di sudut-sudutnya, beberapa bahkan tampak hampir terlepas. Ia sempat membaca sekilas salah satu judul, tapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.
Sesampainya di kelas, Rian langsung menuju bangku kosong dekat jendela—posisi yang ia sukai sejak kelas satu. Jendela di sampingnya sedikit macet jika dibuka terlalu lebar dan akan berbunyi lirih saat tertiup angin.
Ia duduk sambil membuka tas, lalu mengeluarkan buku pelajaran. Pulpen selalu ia letakan di antara halaman buku, jaga-jaga jika ia tiba-tiba harus membaca atau mengerjakan tugas.
Sejak awal kelas tiga, ia menyadari ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Kegugupan sebagai siswa baru telah lama hilang, digantikan oleh kecemasan yang lebih tenang namun lebih dalam. Tidak ada lagi dorongan untuk diperhatikan, hanya sekedar ingin menyelesaikan SMA nya dengan tenang.
Semua orang sudah memiliki tempatnya masing-masing.
Yang ramai tetap ramai,.
Yang populer tetap dikelilingi banyak orang
Yang pendiam tetap berada di sudut-sudut ruangan.
Ia sendiri berada di antara itu semua—posisi yang bagi kebanyakan orang terasa tanggung.
Teman seangkatannya tahu ia ada
Adik kelas mengenalnya sebatas cerita yang tidak pernah benar-benar lengkap
Guru-guru jarang memanggilnya kecuali untuk memastikan satu hal: nilainya aman, sikapnya tidak perlu dikhawatirkan.
Sesekali, ia diingatkan ketika terlalu dekat dengan sesuatu yang bukan urusannya. Kata-kata seperti itu sering terdengar seperti pujian, sampai ia menyadari bahwa pujian kerap datang bersama tuntutan yang tidak diucapkan.
Pelajaran pertama berjalan seperti biasa. Guru menjelaskan, beberapa siswa bertanya hal-hal sepele, sebagian lain menguap atau menulis sambil menatap langit. Rian mencatat seperlunya, tangannya bergerak otomatis.
Di luar jendela, pohon-pohon bergoyang pelan tertiup angin, daunnya bergerak tanpa arah pasti. Ia memperhatikan pemandangan itu sedikit lebih lama dari seharusnya, sampai suara guru memanggil namanya.
Ia mengangkat kepala dan menjawab dengan tenang.
Jawabannya benar. Guru mengangguk puas. Beberapa teman menoleh sekilas sebelum kembali ke urusan masing-masing. Ia duduk kembali tanpa merasakan sesuatu yang berarti. Tidak ada rasa lega, apalagi kepuasan.
Hanya satu pikiran singkat yang lewat: selesai satu lagi.
Saat jam istirahat tiba, Rian tidak langsung keluar. Ia tetap duduk beberapa menit, menatap pepohonan di halaman. Angin menggerakkan daun-daun yang baru mulai hijau, sementara aroma tanah basah dari hujan semalam masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
Detail kecil itu—bau, suara, gerakan—perlahan membangkitkan sesuatu dalam dirinya: keinginan untuk mengamati dan merasakan hidup tanpa harus selalu memberi makna.
Ia akhirnya menutup buku, mengambil sweater, dan berjalan ke kantin. Di sana, teman-temannya tertawa dan bercanda, membicarakan hal-hal sederhana: band baru, music, style baru, atau drama kecil di kelas lain. Ia mendengar sebagian, tersenyum tipis pada beberapa momen, tetapi lebih sering diam.
Tidak ada yang mengganggu atau terlalu penting untuk diperhatikan. Semuanya terasa seperti latar belakang kehidupan sehari-hari—membosankan sekaligus menenangkan.
Orang-orang sering mengira ketenangannya berarti ia tidak memiliki masalah. Mereka tidak tahu bahwa terlalu lama memendam sesuatu bisa membuat seseorang lupa bentuk asli dari perasaannya sendiri.
Menjelang siang, bel terakhir berbunyi.
Suasana sekolah perlahan berubah. Lorong yang tadi padat mulai melonggar, suara tawa terdengar terputus-putus. Kebanyakan siswa bergegas pulang, Tapi Rian lebih memilih berjalan santai seperti orang yang tidak pernah mengejar apapun.
Kadang ia bermain basket bersama teman-temannya, atau menghabiskan waktu di kantin sambil mendengarkan cerita orang lain. Namun ada juga hari-hari ketika ia tidak ditemukan di lapangan maupun di kantin.
Di hari-hari seperti itu, ia biasanya berada di satu tempat.
Warzam.
Warung sederhana itu tidak memiliki daya tarik khusus. Bangkunya panjang dan agak keras, dinaungi pohon jambu yang rindang. Catnya mulai pudar di beberapa bagian, dan jika hujan turun, bagian depannya sering kebasahan. Tidak ada papan nama besar, hanya spanduk kecil yang warnanya hampir hilang.
Justru itu yang membuatnya nyaman.
Di sana, ia tidak harus menjadi siapa pun. Tidak ada nilai yang harus dijaga, tidak ada sikap yang perlu dipertahankan. Jika ia diam, orang mengira ia lelah. Jika ia tertawa, tidak ada yang menuntut kelanjutannya. Warzam tidak meminta penjelasan.
Berbeda dengan sekolah yang terasa seperti ruang dengan dinding tak terlihat—tempat setiap gerakan diberi makna. Di Warzam, ia hanya seseorang yang singgah, tanpa harus membuktikan sesuatu dan itu terasa cukup.
Suatu sore, Rian duduk bersama beberapa teman. Gitar dimainkan dan yang lain refleks ikut bernyanyi sembari mengobrol hal lain. Ia meminum minumannya perlahan, rasanya biasa saja—mungkin terlalu manis—tapi ia tidak berniat mengeluh.
“Lagi capek, Yan?” tanya Zaki tanpa menoleh.
Ia mengangkat bahu. “Enggak. Cuma kerasa panas aja.”
Di Warzam, percakapan tidak pernah panjang. Diam tidak dianggap aneh, justru sering terasa lebih jujur daripada kata-kata yang dipaksakan.
Beberapa menit kemudian, Rian berdiri. Meletakkan gelas, mengangguk singkat, dan pergi tanpa ada yang menahan. Tidak ada yang bertanya ke mana ia akan pergi. Sore memang tidak selalu harus dihabiskan bersama.
Ia berjalan menyusuri jalan menuju sekolah, jalan yang sering ia lewati namun jarang benar-benar ia perhatikan. Pepohonan di sisi kiri mulai gelap menjelang senja, sementara arus siswa bergerak pulang dengan cara masing-masing. Di situlah ia melihatnya.
Seorang siswi berjalan sendirian di sisi jalan.
Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa. Tanpa HP di tangannya ataupun teman di sampingnya. Hanya dirinya sendiri dan langkah yang terasa pasti tanpa terlihat terburu-buru.
Pandangan itu seharusnya biasa saja. Setiap hari ada ratusan siswa yang pulang. Namun entah mengapa, matanya tertuju sejenak lebih lama dari yang ia sadari. Ia tidak berhenti, tidak juga memperhatikan lebih jauh. Hanya satu pandangan singkat sebelum kembali menatap ke depan.
Namun bayangan itu tidak langsung hilang.
Bukan wajahnya yang ia ingat. Bahkan ia tidak yakin bisa mengingat detailnya. Yang tertinggal justru caranya berjalan—tenang, tidak berusaha membuktikan apa pun.
Ada sesuatu dalam kesederhanaan itu yang mengganggunya.
Malamnya, saat duduk di kamar dengan buku pelajaran terbuka di hadapannya, pikirannya kembali ke detail kecil yang biasanya ia abaikan. Ia tidak bertanya pada siapa pun. Tidak mencari tahu siapa siswi itu.
Ia hanya menyadari bahwa ada bagian dalam dirinya yang masih bisa terusik oleh sesuatu yang sederhana.
Dan kesadaran itu terasa asing.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sekolah, tugas, candaan singkat, dan obrolan tentang masa depan yang terdengar lebih seperti daftar aman daripada keinginan. Ia mendengarkan, mengangguk, dan menjawab seperlunya.
Namun di sela rutinitas itu, ia kembali melihat siswi yang sama. Selalu dari jarak dan tanpa sengaja. Kadang di depan gerbang, di jalan yang sama.
Dan selalu berjalan sendiri.
Rian tidak tahu kapan mulai mengenali ritmenya. Yang ia tahu, keberadaan itu kini terasa familiar meski tidak pernah benar-benar dekat.
Ia tidak menyebutnya ketertarikan.
Belum.
Hanya menyadarinya sebagai sesuatu yang ada—cukup untuk membuat hidup terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa mungkin hidupnya tidak sepenuhnya berjalan datar seperti yang selama ini ia kira.
Hari pertama semester dua, Rian datang lebih pagi dari biasanya. Namun pagi itu motornya tidak langsung menuju sekolah. Ia justru membelok ke arah Warzam, warung kecil yang selalu ramai oleh siswa setiap pagi.Dari kejauhan saja suasananya sudah terlihat padat. Motor terparkir rapat di depan warung. Beberapa siswa berdiri sambil mengobrol, sebagian lain duduk di bangku kayu panjang sambil menikmati sarapan seadanya.Yang membuat Rian sedikit heran, ada beberapa anak kelas satu di sana. Ia memarkir motornya di bawah pohon cengkeh, lalu berjalan mendekat.“Lah Jar, ngapain kesini pagi-pagi?” tanyanya.Fajar menoleh sambil tersenyum.“Iya A, kan semester dua kelas satu masuk pagi sekarang.”Rian mengangguk pelan. Ia baru teringat sesuatu yang pernah dikatakan Lidya beberapa waktu lalu.“Oh... pantesan,”“Kenapa gitu, A?” tanya Fajar.“Gak apa-apa, Jar.”Ia lalu ikut bergabung dengan mereka. Obrolan pagi itu ringan saja––tentang liburan yang baru selesai, tentang pelajaran yang sebentar l
HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kenapa?”Ada jeda sebentar sebelum Lidya berbicara lagi.“Foto di kamera kamu kemarin banyak kan?”Rian melirik kamera yang masih tergeletak di meja sejak hari mereka ke Braga.“Gak tau.”“Kamu udah liat?”“Belum.”“Belum sama sekali?”“Belum sempet,” jawab Rian.“Kenapa?”Di seberang telepon, Lidya terdiam sesaat.“Di kameranya ada yang kamu hapus gak?”Rian mengernyit sedikit.“Enggak lah. Aku aja belum buka.”Hening beberapa detik.Di sisi lain telepon, Lidya tanpa sadar menghela napas pelan.Syukurlah.Ia sempat khawatir Rian sudah melihat semua isi kamera itu. Termasuk satu dua foto yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Rian.“Kenapa?” tanya Rian.“Gak apa-apa.”Nada suara Lidya kemba
Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar. “Main, yuk.”“Ke mana?”“Nonton... atau ke mall gitu, Jalan-jalan.”Hening beberapa detik. Dari seberang, terdengar suara kipas angin berputar pelan.“Males ah.”Jawabannya lembut, tapi jelas.Rian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok.“Oh... ya udah.”Ia hampir ingin menutup telepon ketika suara Lidya menyusul cepat.“Tapi kalau kamu mau ...”Rian mengernyit. “Apa?”“Aku pengen ke tempat lain.”“Ke mana?”“Nanti aja, mau janjian dimana?”Rian tersenyum kecil.“Aku jemput ke rumah kamu aja.”“Iya.”Telepon ditutup.Rian mengambil tas selempangnya, lalu pandangannya berhenti pada kamera di meja belajar. Ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Tanpa banyak pikir, ia memasuk
Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya. Ia melihat ke arah Laras yang sedang duduk bersama Lidya. Ia lalu menghampirinya dengan langkah santai. “Ras. Nonton ya, nanti gue tanding basket,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk didengar.Laras mengangkat wajah. “Liat nanti ya, emang lawan kelas berapa?”“Lawan tiga IPA empat.”Lidya yang sedang membuka botol minum berhenti sebentar, tangannya terdiam.Tiga IPA empat, itu kan kelas Rian.Rendi tidak menyadarinya. Ia hanya menyeringai kecil ke arah Laras, lalu melirik sekilas ke Lidya.“Jangan lupa nonton ya.”Laras menoleh ke Lidya. “Nonton yuk, Lid?”Lidya tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lorong yang mulai dilalui para siswa. Beberapa detik kemudian, ia
Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Namun satu kalimat Hany masih tertinggal di kepala Rian. Kadang cewek juga menunggu, tapi tidak mau kelihatan menunggu.Rian berjalan ke gerbang, menyerahkan kunci motornya ke Diki. Ia berhenti di pos satpam samping gerbang sekolah, pura-pura membaca kertas pengumuman yang di tempel di kaca pos.Tak lama, suara riuh terdengar dari aula. Lidya keluar dari aula bersama Laras.Rian tidak langsung menoleh. Baru ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia membalikkan badan baru sadar ada orang di dekatnya.“Eh.”Lidya berhenti. Laras ikut menghentikan langkahnya.“Kamu belum pulang?” tanya Lidya.“Belum,” jawab Rian singkat.“Nunggu temen.”Laras menahan senyum kecil.Rian menatap Lidya sebentar.“Besok sanlatnya sore kan.”“Iya.”“Kalau pulangnya... buka bareng?”Tidak ada penjelasan, hanya kalimat sederhana yang keluar pelanLidya terdiam sebentar. “Aku izin dulu sama Papah sama Mamah ya. Nanti di kabarin lagi.”Rian mengangguk. “Iya.”Lar
Bulan Ramadan tiba, kegiatan yang biasanya belajar. Kini menjadi pesantren kilat.Lapangan sudah penuh sejak pagi. Karpet digelar memanjang dan hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan terpasang rapi. Anak-anak duduk bersila berderet sesuai kelas. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau. Mikrofon berdiri tegak, sesekali memantulkan suara dengung halus.Rian duduk di barisan belakang, bersama anak-anak kelas tiga. Busana muslim putihnya sedikit kusut di bagian punggung. Tangan kirinya memutar bolpoin tanpa sadar.Suara ustaz menggema pelan melalui pengeras suara.“Puasa itu bukan cuma menahan lapar...”Barisan depan duduk tegak dan tenang. Semakin ke belakang, bisik-bisik kecil mulai terdengar. Matahari mulai terasa di punggung baju putih mereka.Rian menoleh ke arah barisan siswi yang terhalang hijab pembatas. Dari balik kain itu terdengar suara berbisik dan tawa yang ditahan.“Warzam, buka bareng kapan Zak?” Bisiknya.“Belum tau euy, minggu depan kayaknya.” Jawab Zaki pelan.O







