LOGINPengelola apartemen terlihat semakin canggung melihat dua penyewa di hadapannya. Ia tidak menyangka kesalahan administrasi kecil dari pihak mereka bisa menyebabkan situasi serumit ini.
“Baik, Bapak Naren Wijaya dan Ibu Althea Roselyn. Karena kesalahan ini berasal dari pihak kami, kami akan memberikan waktu untuk Bapak dan Ibu berdiskusi terlebih dahulu mengenai masalah ini. Silakan hubungi kami dalam tiga hari ke depan setelah mendapatkan keputusan. Jika tidak ada konfirmasi sampai batas waktu tersebut, kami akan menganggap masalah ini telah selesai. Tentu saja, kami juga akan membantu proses penyelesaian, termasuk pengajuan refund sesuai dengan ketentuan yang berlaku.” Althea mengerutkan kening. Ia masih tidak percaya apartemen yang sudah ia cari selama berbulan-bulan ternyata memiliki masalah seperti ini. Pengelola apartemen kemudian membungkuk kecil sebelum beranjak meninggalkan mereka. Pintu apartemen tertutup, meninggalkan suasana hening yang terasa jauh lebih canggung dari sebelumnya. Althea segera membalikkan badannya, ia berjalan mondar mandir mencoba mencari solusi dari permasalahan yang tengah ia alami. "Apa karena aku mendapatkan apartemen ini dengan harga diskon, jadi aku harus mendapatkan masalah segila ini?" gumam Althea pelan. Pria di sebelahnya, yang ternyata bernama Naren itu masih terlihat tenang. Berbeda dengannya yang sudah memikirkan berbagai kemungkinan buruk, pria itu hanya berdiri sambil memperhatikan keadaan apartemen. Althea menatapnya kesal. "Kamu … udah kamu aja yang pergi dari sini. Aku udah bayar lunas apartemen ini dari tanggal 15 bulan kemarin!” Naren menoleh ke arah Althea, ekspresi datarnya masih menghiasi wajah pria itu. Tiba-tiba, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. “Jam berapa kamu membelinya?” tanya Naren tiba-tiba, tanpa menoleh sedkikitpun. Mendengar itu, Althea mengernyitkan dahinya. Jam? Untuk apa bertanya soal jam pembelian? Tapi, karena kepalang kesal, Althea langsung menyodorkan surat jual beli miliknya. Di sana tertera sangat jelas waktu pembelian. “Tanggal 15 Mei 2026, pukul 13.00 siang!” seru Althea dengan kesal. Naren melirik Althea dan kontrak jual beli itu sekilas, lalu menyodorkan ponselnya di depan wajah Althea. Di layar itu juga terpampang jelas dokumen kontrak jual beli milik Naren. “Aku membelinya jam 10 pagi, tanggal 15 Mei 2026.” Naren menatap Althea yang tampak tak percaya. “Aku yang lebih dulu memiliki apartemen ini. Jadi, silakan pergi dari ini.” Althea menggertakkan giginya tak terima, tangannya meremas ujung surat kontrak di tangannya. Sial! Ia kalah cepat 3 jam! “Itu …. Itu tetep aja gak bisa!” Althea tak mau mengalah. Naren masih terdiam, tangannya bahkan terlipat di depan dada, seolah menunggu kepergian Althea. Althea semakin tak tahan. Sikap santai Naren benar-benar membuatnya semakin merasa terpojok dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu seolah tidak merasa memiliki masalah apa pun, sementara dirinya sudah hampir gila memikirkan bagaimana caranya mendapatkan kembali uang yang sudah terlanjur ia keluarkan untuk membeli apartemen ini. “Kalau kamu mau menyuruh aku pergi, kamu harus bayar 40%-nya ke aku!” “Itu bukan kewajibanku,” jawab Naren santai. Althea langsung menatap pria itu tidak percaya “Kalau begitu aku harus bagaimana? Aku sudah membayar lunas apartemen ini. Semua tabunganku habis untuk membeli tempat ini, dan sekarang kamu menyuruhku pergi begitu saja sementara aku hanya mendapatkan 60% uangku kembali?” keluar Althea tanpa sadar, kepalang frustasi. Naren tidak langsung menjawab. Tangannya masih terlipat di depan dada, sementara ekspresi wajahnya tetap tenang seolah masalah yang sedang mereka hadapi sama sekali tidak terlalu penting. Berbeda dengannya, Althea sudah hampir kehilangan akal. Dia tidak mungkin menerima begitu saja uang refund tersebut. Empat puluh persen dari harga apartemen ini bukan jumlah yang sedikit, apalagi setelah seluruh tabungannya habis untuk membelinya. Bahkan jika Althea mendapatkan kembali 60% uangnya, jumlah itu belum tentu cukup untuk mendapatkan apartemen lain yang lokasinya bagus dengan kondisi yang sama seperti tempat ini. Belum lagi, dia harus kembali mencari tempat tinggal dari awal. Memikirkan hal itu saja sudah membuat kepala Althea berdenyut. “Lagipula, ini juga bukan sepenuhnya salahku,” lanjut Althea, mulai merasa kesal karena Naren terus saja bersikap seolah-olah hanya dirinya yang berhak tinggal di tempat ini. “Kamu memang membeli apartemen ini tiga jam lebih dulu dariku, tapi aku juga sudah membayar lunas dan mendapatkan kuncinya. Jadi, kenapa harus aku yang pergi?” Naren akhirnya menatap Althea. “Lalu, apa yang kamu inginkan?” Pertanyaan itu membuat Althea terdiam. Tentu saja dia ingin tetap tinggal di apartemen ini. Namun, masalahnya, Naren sudah membeli tempat ini lebih dulu. Dia tidak mungkin memaksa pria tersebut pergi hanya karena dirinya merasa tidak rela kehilangan uang. Althea kembali melihat sekeliling apartemen. Kemudian, pandangannya berhenti pada dua pintu kamar yang berada tidak terlalu jauh dari ruang tengah. Kedua matanya perlahan melebar. “Tunggu...” gumam Althea. Naren mengerutkan kening. “Apa?” Althea langsung menoleh kepada pria itu dengan tatapan yang sedikit berbeda. Seolah baru saja menemukan jalan keluar dari masalah besar yang sejak tadi membuat kepalanya berputar-putar. “Ini apartemen dua kamar kan ya?” lanjut Althea. Naren mengikuti arah pandangan Althea, lalu melihat ke arah dua kamar tersebut. “Kalau begitu...” Althea berhenti sebentar, mencoba memastikan bahwa ide yang ada di kepalanya benar-benar masuk akal. “Kita tinggal bersama saja.”Naren mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Althea yang masih sibuk memperhatikan wajahnya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu hingga berani menyebutnya pria galak, padahal beberapa detik sebelumnya ia masih memujinya setampan itu."Kamu mengatakan saya pria galak?" tanyanya.Althea mengerucutkan bibirnya. Ia kembali mencubit pipi Naren pelan, kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi kesal."Iya iya seperti pak Naren, satu satunya pria galak yang suka marah-marah. Kalau bicara sama aku, mukanya selalu kayak orang mau makan orang. Apalagi wajahnya selalu saja dingin seperti batu es. " Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Naren, menirukan ekspresi pria itu. "Sini, sini, Althea! Kerjakan ini! Althea, masuk ke ruangan saya! Althea, kenapa kamu menghindari saya?"Lisa yang berjalan di samping mereka seketika menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Ia tidak menyangka Althea yang biasanya cukup tenang bisa menirukan atasannya dengan
Helena menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar akan menolak pilihan Kakek demi wanita itu?" "Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya akan menikahi Althea." "Kalau begitu, kenapa kamu terus membelanya? Apa pentingnya wanita sepertinya?" Pertanyaan itu membuat Naren terdiam sesaat. Ia sendiri belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Althea. Bahkan, beberapa hari terakhir, wanita itu justru terus menghindarinya. Setiap kali Naren mencoba mendekat, Althea selalu berusaha menciptakan jarak di antara mereka, seolah-olah keberadaan dirinya adalah sesuatu yang harus dihindari. Namun, satu hal yang ia yakini adalah bahwa Althea tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Lagi pula wanita itu tidak pernah berbuat nekat untuk mendekatkan dirinya kepadanya, walau wnaita itu begitu cererwt tetapi bersamanya Naren bisa merasa nyaman,setidkanya ia tidak merasakan sepi lagi. "Karena saya tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Ibu," jawabnya. "Dan s
Naren terdiam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras mendengar bagaimana ibunya kembali merendahkan Althea tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bagi Helena, status sosial dan latar belakang keluarga seolah menjadi satu-satunya hal yang menentukan kelayakan seseorang untuk berada di sisi putranya. Padahal, wanita yang terus-menerus direndahkannya itu bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan semenjak kenal wanita itu tidak pernah merayunya. "Jadi, menurut Ibu, seseorang hanya pantas dicintai kalau dia berasal dari keluarga kaya?" tanya Naren dengan suara rendah. Helena mendengus. "Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu! Kamu tahu betul apa yang Ibu maksud. Keluarga kita bukan keluarga sembarangan, Naren. Ada nama besar yang harus kita jaga. Ibu tidak akan membiarkan seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya merusak semua yang sudah kita bangun selama ini." "Merusak?" Naren mengulang kata itu dengan senyum sinis. "Apa sebenarny
Naren dengan langkah tegas segera melangkah memasuki rumah mewah, rumah yang selalu ia benci. Dengan tatapan tajam dan amarah yang membara ia membuka pintu rumah itu dengan kasar. Seorang wanita paruh baya yang tengah menyesap tehnya dan membaca majalah. "Ibu!" teriak Naren.Helena yang tengah menikmati tehnya seketika mengangkat kepala. Suara bentakan yang menggema di seluruh ruangan itu membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan cangkir yang berada di tangannya. Ia segera meletakkan cangkir tersebut di atas meja, kemudian menoleh ke arah sumber suara.Tatapannya langsung bertemu dengan Naren yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya, tetapi tidak ada sedikit pun ketenangan yang tersisa di wajahnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua matanya menatap Helena dengan sorot tajam yang seolah-olah mampu membongkar seluruh kebohongan wanita itu.Helena mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menyangka putranya akan datang tanpa pemberitahuan, te
Althea terdiam. Pertanyaan Naren itu seketika membuat pikirannya kembali tertuju pada wanita paruh baya yang telah menawarinya uang dua ratus juta untuk menjauhi putranya. "Tidak ada," jawabnya, cepat. Naren menyipitkan mata. Ia mengenal Althea cukup lama untuk menyadari bahwa perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Lihat saya ketika menjawab pertanyaan yang saya lontarkan!" Althea terpaksa mengangkat wajahnya. Ia mencoba untuk bersikap tenang, seolah tidak ada masalah apapun. "Saya sudah menjawabnya, Pak. Apa Bapak masih tidak percaya?" "Bukan masalah percaya atau tidak. Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Kalau begitu, sebaiknya Bapak tidak perlu terlalu memikirkan saya." Althea berusaha mempertahankan ketenangannya. "Saya hanya bawahan Bapak. Selama saya masih mengerjakan pekerjaan dengan baik, seharusnya sikap saya di luar urusan pekerjaan tidak menjadi masalah, bukan?" Rahang Naren mengeras. Ia tidak menyukai jawaban itu, terlebih
Naren kembali menghela napas. Ia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, berusaha mengusir perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sungguh menyebalkan. Ia bahkan tidak pernah merasa sepusing ini hanya karena seseorang menghindarinya. "Kalau teman saya ingin memperbaiki keadaan, apa yang sebaiknya dia lakukan?" tanyanya,lagi. Robert akhirnya menundukkan kepala, menyembunyikan senyum yang semakin sulit ditahan. Ia tidak menyangka akan menyaksikan bosnya yang terkenal dingin dan tidak pernah peduli terhadap urusan pribadi orang lain justru sibuk memikirkan alasan seorang wanita menjauhinya. "Menurut saya, teman Bapak sebaiknya bertanya langsung kepada wanita itu. Daripada terus menebak-nebak, lebih baik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Bagaimana kalau wanita itu terus menghindar setiap kali dia berusaha mendekat?" "Kalau begitu, mungkin teman Bapak harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya." Naren terdiam sejenak. Ia mengang







