LOGINNaren menatap Althea cukup lama. Ekspresinya masih sulit dibaca, membuat Althea tidak tahu apakah pria itu sedang mempertimbangkan usulannya atau justru mencari alasan untuk menolaknya.
“Aku tahu ini bukan situasi yang ideal,” ujar Althea akhirnya. “Tapi kita sama-sama sudah membayar apartemen ini. Kalau salah satu dari kita pergi sekarang, uangnya juga ikut hilang. Jadi menurutku, untuk sementara kita bisa tinggal di sini bersama.” Naren masih terdiam, ia hanya mengangkat satu alisnya seolah tak memahami ucapan Althea. Althea terdiam sejenak, berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara. “Dua tahun. Kurasa cukup untukku mengumpulkan uang dan mencari tempat lain. Kalau semuanya sudah siap, aku akan pindah lebih dulu. Jadi kita juga nggak perlu terus tinggal bersama,” lanjut Althea dengan penuh percaya diri. Naren tidak langsung menjawab. Ia kembali mengamati ruangan di sekitarnya, seolah sedang memastikan apakah keputusan itu benar-benar layak diambil. Apartemen tersebut memang cukup luas untuk dua orang, bahkan masing-masing bisa memiliki ruang sendiri tanpa terlalu sering berpapasan. “Satu tahun,” ujar Naren singkat. Althea menoleh. “Apa?” “Kita tinggal di sini satu tahun.” Nada suara Naren tetap datar, tetapi kali ini tidak terdengar seperti sedang menawarkan pilihan. Ia sudah menetapkan keputusan. “Tapi aku butuh waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang.” Althea menatap Naren dengan ragu. Satu tahun terdengar singkat bagi Althea. Ia baru saja dipindahkan ke kantor pusat, walau ia akan mendapatkan gaji yang lumayan tetap saja kebutuhan hidupnya dna keluarganya juga tak kalah banyak. Apa lagi dia adalah seorang sandwich generation yang harus menghidupi keluarganya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus mulai menghitung ulang pengeluarannya. Bagaimana mungkin dalam waktu satu tahun ia bisa mengumpulkan cukup uang untuk mencari tempat tinggal baru sekaligus menanggung kerugian dari apartemen ini? “Itu bukan urusanku,” jawab Naren singkat, lalu berbalik dan melangkah ke arah kamarnya. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar, pria itu kembali berkata, “Selama tinggal di sini, jangan masuk ke kamarku tanpa izin. Jangan membawa orang lain ke apartemen ini, dan jangan mengganggu urusanku.” Naren berhenti sejenak, kemudian menoleh. “Kalau tidak mau, silakan pergi.” Setelah mengatakan itu, Naren masuk ke kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Althea sendirian di ruang tengah dengan dua pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan. Althea terdiam, masih mencoba mencerna sikap pria itu yang sama sekali tidak memberinya ruang untuk bernegosiasi. Bagaimanapun juga, Naren memang memiliki alasan untuk bersikap demikian. Pria itu yang lebih dulu membeli apartemen tersebut, meskipun hanya berbeda beberapa jam dari dirinya. Althea tidak bisa menyangkal bahwa secara posisi, Naren memang memiliki hak yang lebih kuat atas tempat ini. Althea menghela napas panjang. Setelah mempertimbangkan semuanya, ia tahu dirinya tidak punya banyak pilihan. “Oke, aku setuju!” ujar Althea akhirnya. Tidak ada jawaban dari balik pintu kamar Naren. Althea menghembuskan napas kesal, lalu mengambil tasnya dari sofa. Setidaknya untuk sementara, ia harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini dirinya akan tinggal serumah dengan pria asing. *** Keesokan paginya, Althea terbangun dengan suara alarm yang sudah entah berapa kali berbunyi. Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur, berusaha mematikan suara berisik itu tanpa membuka mata. Namun, begitu layar ponselnya akhirnya terlihat, matanya langsung membelalak. 08.17. “Ya ampun!” Althea langsung bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor baru, setelah beberapa hari yang lalu ia mendapatkan surat mutasi dari kantor pusat. Sebelumnya Althea bekerja di salah satu cabang perusahaan Wijaya Group. Berkat hasil kerjanya yang dianggap mampu meningkatkan kinerja divisi tempatnya bekerja, ia mendapatkan kesempatan untuk dipindahkan ke kantor pusat yang berada langsung di bawah pengawasan direktur utama. "Sial, sungguh sial. Kenapa aku harus bangun kesiangan di hari pertama kerja?" gumamnya, panik. Althea segera melompat dari ranjangnya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak sampai lima belas menit, ia sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan dari semalam. Kemeja merah muda, rok selutut dan rambut yang hanya ia rapikan asal asalan. Ia tidak sempat memikirkan penampilan terlalu lama. Yang ada di pikirannya hanya satu, jangan sampai membuat kesan buruk di hari pertama. Setelah mengambil tas dan mengenakan sepatu heals, Althea langsung keluar dari apartemen. Ia bahkan tidak sempat melihat apakah Naren sudah bangun atau belum. Setelah beberapa menit ia menaiki taksi, sampailah ia depan gedung besar yang menjulang keatas. Ia menatap ke arah jam tangannya, ia bernapas lega saat melihat itu. Untungnya, ia tidak terlambat. "Permisi, saya Althea Roselyn. Saya mendapat surat mutasi dari kantor cabang dan diminta melapor hari ini." Althea menyodorkan surat mutasinya kepada salah seorang resepsionis yang tengah berjaga. Resepsionis menerima dokumen tersebut lalu memeriksanya. "Baik, Bu Althea. Anda akan bergabung di kantor pusat sebagai staf Divisi Strategi Bisnis. Untuk pengarahan awal, silakan menuju lantai dua belas, ruang HRD." Althea mengangguk dan mengikuti arahan tersebut. Ia segera berjalan menuju ke arah lift yang tak jauh dari resepsionis. Ia segera menekan tombol dua belas seperti apa yang dikatakan oleh resepsionis. Namun, belum sempat lift itu menuju ke lantai dua belas. Lift itu tiba tiba berhenti saat berada di lantai lima. Pintu lift terbuka menampilkan dua orang pria dengan jas yang membalutnya. Namun, saat ia menatap ke salah seorang pria dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, ia tertegun. 'Naren? Kenapa dia ada disini? Apa dia juga kerja disini? " Rentetan pertanyaan itu mulai mengusik pikiran Althea. Namun, sebelum Althea sempat mengatakan apa pun, pria itu lebih dulu melangkah masuk ke dalam lift bersama rekannya. Naren terlihat berbeda dari biasanya. Jika di apartemen pria itu hanya mengenakan pakaian sederhana dengan ekspresi dingin yang membuat Althea kesal, sekarang ia terlihat begitu berwibawa dengan setelan jas hitam yang rapi. Aura seorang pemimpin begitu terasa dari caranya berjalan dan berdiri. Althea tanpa sadar terus menatapnya. Hal itu membuat Naren menyadari keberadaannya, pria itu segera menoleh hingga pandangan mereka bertemu. "Kenapa kamu juga disini?" tanya Althea. Naren hanya mengangkat alisnya, saat pria di sampingnya ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Althea. Naren buru buru menahan pria itu. "Saya bekerja disini," jawabnya, singkat. Althea hanya mengangguk anggukan kepalanya. Suasana lift itu kembali hening, Althea hanya terdiam sembari memperhatikan percakapan antara pria itu dan asistennya. Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang cukup serius. Ia tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi melihat sikap pria itu, Althea mulai berpikir bahwa pria tersebut bukan orang sembarangan. Mungkin dia memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan ini. Namun, pikiran itu justru membuat Laluna semakin bingung. Kalau memang pria itu memiliki posisi yang bagus, bukankah penghasilannya juga pasti besar? Lalu kenapa dia masih mempermasalahkan apartemen kecil itu? Bukankah seharusnya masalah seperti itu tidak terlalu penting baginya? Althea hanya menghela nafas kecil, mencoba mengabaikan rasa penasarannya. Mungkin saja pria itu seperti dirinya sebagai karyawan biasa yang bergaji imut. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Sebelum melangkah, Althea menatap sekilas ke arah Naren yang ternyata juga ikut keluar di lantai dua belas. "Althea?" Seorang karyawan menghampiri Althea yang baru saja tiba di depan ruang HRD. Althea mengangguk dan bergegas masuk mengikuti instruksi dari karyawan itu. "Althea, kamu duduk disini dulu. Sebentar lagi akan ada seseorang yang mewawancarai." Karyawan itu menunjuk ke salah satu kursi. Althea segera menuruti instruksi karyawan itu. Ia menatap sekeliling ruangan dengan gugup. Hari pertamanya di tempat baru ternyata jauh lebih menegangkan dari yang ia bayangkan. Beberapa menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Laluna yang awalnya hanya melihat ke arah meja tiba tiba membeku ketika melihat siapa yang masuk. Pria yang tadi berada di dalam lift kini berjalan masuk ke ruangan interview. Alis Laluna langsung berkerut penuh kebingungan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sebelum ia sempat bertanya, salah satu karyawan yang berdiri di sebelahnya segera memperkenalkan pria itu. "Perkenalkan, beliau adalah Tuan Naren Wijaya, CEO perusahaan ini. Hari ini beliau yang akan melakukan wawancara untuk kandidat Divisi Strategi Bisnis yang akan beliau pimpin sendiri." Mata Laluna membesar. 'Naren? CEO?’Setelah tiga kali laporannya dikembalikan tanpa alasan yang jelas, Althea kembali berdiri di depan ruang kerja Naren Wijaya. Tangannya menggenggam map laporan itu erat. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharusnya satu jam lalu ia sudah meninggalkan gedung perusahaan, tetapi sampai sekarang ia masih harus berurusan dengan bos barunya itu. Saat hendak mengetuk pintu, suara beberapa karyawan yang masih lembur terdengar dari dekat meja mereka. “Baru kali ini ada anak baru yang langsung lembur,” bisik salah seorang karyawan. “Iya. Tadi aku sempat lihat Pak Naren sampai turun tangan sendiri,” sahut yang lain sambil melirik ke arah ruangan Naren. “Serius? Padahal aku dengar beliau paling tidak suka membuang waktu.” Langkah Althea terhenti. Ia menoleh sekilas ke arah mereka. Dahi Althea sedikit berkerut. Jadi, bukan hanya dirinya yang merasa ada yang aneh dengan perlakuan Naren hari ini? Namun, rasa penasaran itu segera ia singkirkan. Althea mena
Naren menatap ke arah Althea yang terlihat begitu terkejut. Gadis itu hanya diam, seakan otaknya membutuhkan waktu untuk mencerna kenyataan yang baru saja ia ketahui.Pria yang setiap hari akan ia temui di apartemen, pria yang kemarin ia ajak berdebat, pria yang selama ini ia anggap sebagai pekerja kantoran biasa. Ternyata adalah CEO dari perusahaan tempatnya bekerja.Bosku? Teman Apartemenku? Dua fakta itu terus berputar di kepala Althea, rasanya ia ingin tertawa karena merasa situasi ini terlalu tidak masuk akal.'Dari semua orang di dunia ini, kenapa harus dia?' keluhnya dalam hati.Naren hanya mengamati perubahan ekspresinya. Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapannya membuat Althea semakin tidak nyaman. Beberapa detik kemudian, Naren berjalan menuju kursinya."Silakan tunggu di luar," ucapnya kepada asisten dan staf HRD yang masih berada di ruangan. "Saya akan melanjutkan wawancara ini sendiri."Althea yang tadi masih bisa bersikap percaya diri, kini duduk dengan tubuh sediki
Naren menatap Althea cukup lama. Ekspresinya masih sulit dibaca, membuat Althea tidak tahu apakah pria itu sedang mempertimbangkan usulannya atau justru mencari alasan untuk menolaknya. “Aku tahu ini bukan situasi yang ideal,” ujar Althea akhirnya. “Tapi kita sama-sama sudah membayar apartemen ini. Kalau salah satu dari kita pergi sekarang, uangnya juga ikut hilang. Jadi menurutku, untuk sementara kita bisa tinggal di sini bersama.” Naren masih terdiam, ia hanya mengangkat satu alisnya seolah tak memahami ucapan Althea. Althea terdiam sejenak, berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara. “Dua tahun. Kurasa cukup untukku mengumpulkan uang dan mencari tempat lain. Kalau semuanya sudah siap, aku akan pindah lebih dulu. Jadi kita juga nggak perlu terus tinggal bersama,” lanjut Althea dengan penuh percaya diri. Naren tidak langsung menjawab. Ia kembali mengamati ruangan di sekitarnya, seolah sedang memastikan apakah keputusan itu benar-benar layak diambil. Apartemen tersebut memang cuk
Pengelola apartemen terlihat semakin canggung melihat dua penyewa di hadapannya. Ia tidak menyangka kesalahan administrasi kecil dari pihak mereka bisa menyebabkan situasi serumit ini.“Baik, Bapak Naren Wijaya dan Ibu Althea Roselyn. Karena kesalahan ini berasal dari pihak kami, kami akan memberikan waktu untuk Bapak dan Ibu berdiskusi terlebih dahulu mengenai masalah ini. Silakan hubungi kami dalam tiga hari ke depan setelah mendapatkan keputusan. Jika tidak ada konfirmasi sampai batas waktu tersebut, kami akan menganggap masalah ini telah selesai. Tentu saja, kami juga akan membantu proses penyelesaian, termasuk pengajuan refund sesuai dengan ketentuan yang berlaku.”Althea mengerutkan kening. Ia masih tidak percaya apartemen yang sudah ia cari selama berbulan-bulan ternyata memiliki masalah seperti ini.Pengelola apartemen kemudian membungkuk kecil sebelum beranjak meninggalkan mereka.Pintu apartemen tertutup, meninggalkan suasana hening yang terasa jauh lebih canggung dari sebel
"B–baju siapa itu?" Althea menatap sekeliling ruang apartemen itu. Ia baru saja menginjakkan kaki di apartemen barunya itu setelah hampir dua tahun tinggal di kamar kos sempit.Kini, kerja keras Althea seolah terbayar. Ia mampu membeli apartemen sendiri, meskipun memang bukan apartemen mewah.Namun, melihat keadaan apartemen itu yang agak berantakan — beberapa pakaian tergeletak sembarangan, Althea merasa janggal. Ia melangkah masuk perlahan setelah meletakkan koper dan beberapa tasnya di depan pintu. Pandangannya menyapu ke segala penjuru, mencoba mencari keberadaan seseorang.Untungnya, tak ada siapapun di sana.Althea menghela napas pelan. Ia tidak ingin merusak suasana hari pertamanya di rumah baru. Ia mulai membereskan beberapa barang yang berantakan sambil memperhatikan ruangan itu.“Mungkin pemilik sebelumnya lupa beresin,” gumam Althea sambil meletakkan beberapa potong pakaian itu di tempat sampah.Lepas membereskan sedikit kekacauan itu, Althea menarik kembali kopernya menuj







