Share

Bab 3 Tinggal bersama

Author: Namorae
last update publish date: 2026-06-30 18:53:14

Naren menatap Althea cukup lama. Ekspresinya masih sulit dibaca, membuat Althea tidak tahu apakah pria itu sedang mempertimbangkan usulannya atau justru mencari alasan untuk menolaknya.

“Aku tahu ini bukan situasi yang ideal,” ujar Althea akhirnya. “Tapi kita sama-sama sudah membayar apartemen ini. Kalau salah satu dari kita pergi sekarang, uangnya juga ikut hilang. Jadi menurutku, untuk sementara kita bisa tinggal di sini bersama.”

Naren masih terdiam, ia hanya mengangkat satu alisnya seolah tak memahami ucapan Althea.

Althea terdiam sejenak, berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara.

“Dua tahun. Kurasa cukup untukku mengumpulkan uang dan mencari tempat lain. Kalau semuanya sudah siap, aku akan pindah lebih dulu. Jadi kita juga nggak perlu terus tinggal bersama,” lanjut Althea dengan penuh percaya diri.

Naren tidak langsung menjawab. Ia kembali mengamati ruangan di sekitarnya, seolah sedang memastikan apakah keputusan itu benar-benar layak diambil. Apartemen tersebut memang cukup luas untuk dua orang, bahkan masing-masing bisa memiliki ruang sendiri tanpa terlalu sering berpapasan.

“Satu tahun,” ujar Naren singkat.

Althea menoleh. “Apa?”

“Kita tinggal di sini satu tahun.” Nada suara Naren tetap datar, tetapi kali ini tidak terdengar seperti sedang menawarkan pilihan. Ia sudah menetapkan keputusan.

“Tapi aku butuh waktu lebih lama untuk mengumpulkan uang.” Althea menatap Naren dengan ragu.

Satu tahun terdengar singkat bagi Althea. Ia baru saja dipindahkan ke kantor pusat, walau ia akan mendapatkan gaji yang lumayan tetap saja kebutuhan hidupnya dna keluarganya juga tak kalah banyak. Apa lagi dia adalah seorang sandwich generation yang harus menghidupi keluarganya.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus mulai menghitung ulang pengeluarannya. Bagaimana mungkin dalam waktu satu tahun ia bisa mengumpulkan cukup uang untuk mencari tempat tinggal baru sekaligus menanggung kerugian dari apartemen ini?

“Itu bukan urusanku,” jawab Naren singkat, lalu berbalik dan melangkah ke arah kamarnya. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar, pria itu kembali berkata, “Selama tinggal di sini, jangan masuk ke kamarku tanpa izin. Jangan membawa orang lain ke apartemen ini, dan jangan mengganggu urusanku.”

Naren berhenti sejenak, kemudian menoleh. “Kalau tidak mau, silakan pergi.”

Setelah mengatakan itu, Naren masuk ke kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Althea sendirian di ruang tengah dengan dua pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan.

Althea terdiam, masih mencoba mencerna sikap pria itu yang sama sekali tidak memberinya ruang untuk bernegosiasi.

Bagaimanapun juga, Naren memang memiliki alasan untuk bersikap demikian. Pria itu yang lebih dulu membeli apartemen tersebut, meskipun hanya berbeda beberapa jam dari dirinya. Althea tidak bisa menyangkal bahwa secara posisi, Naren memang memiliki hak yang lebih kuat atas tempat ini.

Althea menghela napas panjang. Setelah mempertimbangkan semuanya, ia tahu dirinya tidak punya banyak pilihan.

“Oke, aku setuju!” ujar Althea akhirnya.

Tidak ada jawaban dari balik pintu kamar Naren.

Althea menghembuskan napas kesal, lalu mengambil tasnya dari sofa. Setidaknya untuk sementara, ia harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini dirinya akan tinggal serumah dengan pria asing.

***

Keesokan paginya, Althea terbangun dengan suara alarm yang sudah entah berapa kali berbunyi.

Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur, berusaha mematikan suara berisik itu tanpa membuka mata. Namun, begitu layar ponselnya akhirnya terlihat, matanya langsung membelalak.

08.17.

“Ya ampun!”

Althea langsung bangkit dari tempat tidur.

Hari ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor baru, setelah beberapa hari yang lalu ia mendapatkan surat mutasi dari kantor pusat.

Sebelumnya Althea bekerja di salah satu cabang perusahaan Wijaya Group. Berkat hasil kerjanya yang dianggap mampu meningkatkan kinerja divisi tempatnya bekerja, ia mendapatkan kesempatan untuk dipindahkan ke kantor pusat yang berada langsung di bawah pengawasan direktur utama.

"Sial, sungguh sial. Kenapa aku harus bangun kesiangan di hari pertama kerja?" gumamnya, panik.

Althea segera melompat dari ranjangnya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak sampai lima belas menit, ia sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan dari semalam.

Kemeja merah muda, rok selutut dan rambut yang hanya ia rapikan asal asalan. Ia tidak sempat memikirkan penampilan terlalu lama. Yang ada di pikirannya hanya satu, jangan sampai membuat kesan buruk di hari pertama.

Setelah mengambil tas dan mengenakan sepatu heals, Althea langsung keluar dari apartemen. Ia bahkan tidak sempat melihat apakah Naren sudah bangun atau belum.

Setelah beberapa menit ia menaiki taksi, sampailah ia depan gedung besar yang menjulang keatas. Ia menatap ke arah jam tangannya, ia bernapas lega saat melihat itu. Untungnya, ia tidak terlambat.

"Permisi, saya Althea Roselyn. Saya mendapat surat mutasi dari kantor cabang dan diminta melapor hari ini." Althea menyodorkan surat mutasinya kepada salah seorang resepsionis yang tengah berjaga.

Resepsionis menerima dokumen tersebut lalu memeriksanya.

"Baik, Bu Althea. Anda akan bergabung di kantor pusat sebagai staf Divisi Strategi Bisnis. Untuk pengarahan awal, silakan menuju lantai dua belas, ruang HRD."

Althea mengangguk dan mengikuti arahan tersebut. Ia segera berjalan menuju ke arah lift yang tak jauh dari resepsionis. Ia segera menekan tombol dua belas seperti apa yang dikatakan oleh resepsionis. Namun, belum sempat lift itu menuju ke lantai dua belas.

Lift itu tiba tiba berhenti saat berada di lantai lima. Pintu lift terbuka menampilkan dua orang pria dengan jas yang membalutnya. Namun, saat ia menatap ke salah seorang pria dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, ia tertegun.

'Naren? Kenapa dia ada disini? Apa dia juga kerja disini? " Rentetan pertanyaan itu mulai mengusik pikiran Althea.

Namun, sebelum Althea sempat mengatakan apa pun, pria itu lebih dulu melangkah masuk ke dalam lift bersama rekannya.

Naren terlihat berbeda dari biasanya. Jika di apartemen pria itu hanya mengenakan pakaian sederhana dengan ekspresi dingin yang membuat Althea kesal, sekarang ia terlihat begitu berwibawa dengan setelan jas hitam yang rapi. Aura seorang pemimpin begitu terasa dari caranya berjalan dan berdiri.

Althea tanpa sadar terus menatapnya. Hal itu membuat Naren menyadari keberadaannya, pria itu segera menoleh hingga pandangan mereka bertemu.

"Kenapa kamu juga disini?" tanya Althea.

Naren hanya mengangkat alisnya, saat pria di sampingnya ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Althea. Naren buru buru menahan pria itu.

"Saya bekerja disini," jawabnya, singkat.

Althea hanya mengangguk anggukan kepalanya. Suasana lift itu kembali hening, Althea hanya terdiam sembari memperhatikan percakapan antara pria itu dan asistennya. Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang cukup serius.

Ia tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi melihat sikap pria itu, Althea mulai berpikir bahwa pria tersebut bukan orang sembarangan. Mungkin dia memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan ini.

Namun, pikiran itu justru membuat Laluna semakin bingung.

Kalau memang pria itu memiliki posisi yang bagus, bukankah penghasilannya juga pasti besar? Lalu kenapa dia masih mempermasalahkan apartemen kecil itu? Bukankah seharusnya masalah seperti itu tidak terlalu penting baginya?

Althea hanya menghela nafas kecil, mencoba mengabaikan rasa penasarannya. Mungkin saja pria itu seperti dirinya sebagai karyawan biasa yang bergaji imut.

Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Sebelum melangkah, Althea menatap sekilas ke arah Naren yang ternyata juga ikut keluar di lantai dua belas.

"Althea?" Seorang karyawan menghampiri Althea yang baru saja tiba di depan ruang HRD.

Althea mengangguk dan bergegas masuk mengikuti instruksi dari karyawan itu.

"Althea, kamu duduk disini dulu. Sebentar lagi akan ada seseorang yang mewawancarai." Karyawan itu menunjuk ke salah satu kursi.

Althea segera menuruti instruksi karyawan itu. Ia menatap sekeliling ruangan dengan gugup. Hari pertamanya di tempat baru ternyata jauh lebih menegangkan dari yang ia bayangkan.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Laluna yang awalnya hanya melihat ke arah meja tiba tiba membeku ketika melihat siapa yang masuk.

Pria yang tadi berada di dalam lift kini berjalan masuk ke ruangan interview. Alis Laluna langsung berkerut penuh kebingungan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sebelum ia sempat bertanya, salah satu karyawan yang berdiri di sebelahnya segera memperkenalkan pria itu.

"Perkenalkan, beliau adalah Tuan Naren Wijaya, CEO perusahaan ini. Hari ini beliau yang akan melakukan wawancara untuk kandidat Divisi Strategi Bisnis yang akan beliau pimpin sendiri."

Mata Laluna membesar. 'Naren? CEO?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 57 Kenapa?

    Naren mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Althea yang masih sibuk memperhatikan wajahnya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu hingga berani menyebutnya pria galak, padahal beberapa detik sebelumnya ia masih memujinya setampan itu."Kamu mengatakan saya pria galak?" tanyanya.Althea mengerucutkan bibirnya. Ia kembali mencubit pipi Naren pelan, kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi kesal."Iya iya seperti pak Naren, satu satunya pria galak yang suka marah-marah. Kalau bicara sama aku, mukanya selalu kayak orang mau makan orang. Apalagi wajahnya selalu saja dingin seperti batu es. " Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Naren, menirukan ekspresi pria itu. "Sini, sini, Althea! Kerjakan ini! Althea, masuk ke ruangan saya! Althea, kenapa kamu menghindari saya?"Lisa yang berjalan di samping mereka seketika menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Ia tidak menyangka Althea yang biasanya cukup tenang bisa menirukan atasannya dengan

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 56 Memalukan

    Helena menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar akan menolak pilihan Kakek demi wanita itu?" "Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya akan menikahi Althea." "Kalau begitu, kenapa kamu terus membelanya? Apa pentingnya wanita sepertinya?" Pertanyaan itu membuat Naren terdiam sesaat. Ia sendiri belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Althea. Bahkan, beberapa hari terakhir, wanita itu justru terus menghindarinya. Setiap kali Naren mencoba mendekat, Althea selalu berusaha menciptakan jarak di antara mereka, seolah-olah keberadaan dirinya adalah sesuatu yang harus dihindari. Namun, satu hal yang ia yakini adalah bahwa Althea tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Lagi pula wanita itu tidak pernah berbuat nekat untuk mendekatkan dirinya kepadanya, walau wnaita itu begitu cererwt tetapi bersamanya Naren bisa merasa nyaman,setidkanya ia tidak merasakan sepi lagi. "Karena saya tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Ibu," jawabnya. "Dan s

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 55 Tidak akan menjauh!

    Naren terdiam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras mendengar bagaimana ibunya kembali merendahkan Althea tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bagi Helena, status sosial dan latar belakang keluarga seolah menjadi satu-satunya hal yang menentukan kelayakan seseorang untuk berada di sisi putranya. Padahal, wanita yang terus-menerus direndahkannya itu bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan semenjak kenal wanita itu tidak pernah merayunya. "Jadi, menurut Ibu, seseorang hanya pantas dicintai kalau dia berasal dari keluarga kaya?" tanya Naren dengan suara rendah. Helena mendengus. "Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu! Kamu tahu betul apa yang Ibu maksud. Keluarga kita bukan keluarga sembarangan, Naren. Ada nama besar yang harus kita jaga. Ibu tidak akan membiarkan seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya merusak semua yang sudah kita bangun selama ini." "Merusak?" Naren mengulang kata itu dengan senyum sinis. "Apa sebenarny

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 54 Amarah

    Naren dengan langkah tegas segera melangkah memasuki rumah mewah, rumah yang selalu ia benci. Dengan tatapan tajam dan amarah yang membara ia membuka pintu rumah itu dengan kasar. Seorang wanita paruh baya yang tengah menyesap tehnya dan membaca majalah. "Ibu!" teriak Naren.Helena yang tengah menikmati tehnya seketika mengangkat kepala. Suara bentakan yang menggema di seluruh ruangan itu membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan cangkir yang berada di tangannya. Ia segera meletakkan cangkir tersebut di atas meja, kemudian menoleh ke arah sumber suara.Tatapannya langsung bertemu dengan Naren yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya, tetapi tidak ada sedikit pun ketenangan yang tersisa di wajahnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua matanya menatap Helena dengan sorot tajam yang seolah-olah mampu membongkar seluruh kebohongan wanita itu.Helena mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menyangka putranya akan datang tanpa pemberitahuan, te

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 53 Mengintai

    Althea terdiam. Pertanyaan Naren itu seketika membuat pikirannya kembali tertuju pada wanita paruh baya yang telah menawarinya uang dua ratus juta untuk menjauhi putranya. "Tidak ada," jawabnya, cepat. Naren menyipitkan mata. Ia mengenal Althea cukup lama untuk menyadari bahwa perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Lihat saya ketika menjawab pertanyaan yang saya lontarkan!" Althea terpaksa mengangkat wajahnya. Ia mencoba untuk bersikap tenang, seolah tidak ada masalah apapun. "Saya sudah menjawabnya, Pak. Apa Bapak masih tidak percaya?" "Bukan masalah percaya atau tidak. Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Kalau begitu, sebaiknya Bapak tidak perlu terlalu memikirkan saya." Althea berusaha mempertahankan ketenangannya. "Saya hanya bawahan Bapak. Selama saya masih mengerjakan pekerjaan dengan baik, seharusnya sikap saya di luar urusan pekerjaan tidak menjadi masalah, bukan?" Rahang Naren mengeras. Ia tidak menyukai jawaban itu, terlebih

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 52 Salah?

    Naren kembali menghela napas. Ia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, berusaha mengusir perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sungguh menyebalkan. Ia bahkan tidak pernah merasa sepusing ini hanya karena seseorang menghindarinya. "Kalau teman saya ingin memperbaiki keadaan, apa yang sebaiknya dia lakukan?" tanyanya,lagi. Robert akhirnya menundukkan kepala, menyembunyikan senyum yang semakin sulit ditahan. Ia tidak menyangka akan menyaksikan bosnya yang terkenal dingin dan tidak pernah peduli terhadap urusan pribadi orang lain justru sibuk memikirkan alasan seorang wanita menjauhinya. "Menurut saya, teman Bapak sebaiknya bertanya langsung kepada wanita itu. Daripada terus menebak-nebak, lebih baik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Bagaimana kalau wanita itu terus menghindar setiap kali dia berusaha mendekat?" "Kalau begitu, mungkin teman Bapak harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya." Naren terdiam sejenak. Ia mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status