Mag-log inAku memiliki kekasih tapi ia tak sebaik yang ku kira dan aku tak menyukai sifat kebohongannya yang sangat suka ia tunjukan padaku.
view moreKado Biru Istriku
"Dek, ini uang bulanan buat kamu. Ingat, digunakan sebaik mungkin. Jangan belanja yang nggak perlu." Andin menerima pemberian uang dariku tanpa suara. Uang itu segera diletakkannya di atas nakas begitu saja tanpa menyimpannya dalam dompet seperti biasanya. Bahkan ia tidak menghitung berapa jumlah uang tersebut. Aneh, biasanya selalu ia hitung di hadapanku dan lalu mengeluh kalau uangnya kurang. "Kamu tidak menghitungnya?" tanyaku penasaran. Ia menggeleng. Lalu mengambil handuk yang kuletakkan sembarang setelah mandi di atas tempat tidur tanpa suara pula. Keningku mengernyit. Biasanya ia akan protes dan ngedumel panjang lebar hingga memekikkan gendang telinga. Kali ini tidak, ada apa dengannya?Kuperhatikan ia dengan seksama. Ada yang berbeda. Ia lebih kurusan. Kukucek mata dan mengerjapkannya beberapa kali.Iya, benar. Ia memang kurus. Apa diet? Sepertinya. Mungkin teguranku seminggu yang lalu itu manjur, kena di hatinya, makanya dia memutuskan untuk diet. Syukurlah. "Din, kamu diet?" Andin diam seperti tidak mendengar."Din …!" Kupanggil ulang. "Hah?" Ia melongo seolah baru dengar. Bisa-bisanya melamun di saat aku mengajaknya bicara. "Kamu diet? Abang lihat badanmu agak kurusan." Bibirnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu, tapi gegas kupotong. "Syukurlah, setidaknya uang belanja tidak akan berkurang banyak karena kebiasaanmu yang jajan di luar. Ibu sering bilang kamu selalu memanggil penjual makanan yang lewat di depan rumah kita.""Berhematlah sedikit, Din. Ibu benar menyuruhku mengurangi jatah bulananmu. Setidaknya kamu nggak boros lagi. Uang bulan lalu masih ada sisa kan?" imbuhku melanjutkan. Andin terdiam. Ia terpaku memandangku tanpa berkedip, kuharap apa yang barusan kuucapkan masuk ke telinga kiri dan langsung terkirim ke otaknya untuk direnungkan."Hei, kok bengong?" Kujentikkan tangan di depan wajahnya, baru ia mengerjap. Kugelengkan kepala dengan sedikit. Kesal. "Ya sudah, Abang pergi kerja dulu nggak sarapan, takut telat," ucapku pamit setelah tidak ada sahutan apapun darinya. Kulangkahkan kaki berjalan menuju pintu, baru beberapa langkah kutolehkan kepala ke arahnya. Dia hanya diam memandangku datar. Tanpa suara, tanpa senyuman. Ia bahkan lupa mencium tanganku seperti biasanya, ritual saat kupamit kerja. Ada apa dengan istriku? Dia terlihat aneh. Sebenarnya dari seminggu yang lalu sudah tampak perubahan darinya. Namun kali ini sikapnya beda, lebih dingin, sedingin es kutub Utara. Tidak seperti biasanya cerewet dan berbicara banyak hal kepadaku.Apa mungkin yang kuucapkan seminggu lalu itu keterlaluan?*** "Dek, bisa nggak badanmu itu dikurusin? Capek aku, dijadikan bahan tertawaan keluarga kalau lagi ngumpul. Kamu dijuluki gendut lah, kulkas dua pintu, gajah bengkak. Lama-lama aku malu kalau hadir di acara keluarga. Belum lagi tetangga dan teman kantor Abang bilang istrinya Jaka gendut." "Abang malu, memangnya kamu nggak malu apa dibilang begitu?" imbuhku lagi menyinggungnya. Andin diam. Gestur tubuh dan ekspresinya datar saja. Tidak ada keterkejutan atau sangkalan darinya. "Din?" panggilku. "Oh …, Abang malu?" Ia tersenyum tipis sembari tangannya sibuk melipat pakaian. "Tentu saja malu, Din. Orang-orang memanggil kamu begitu dan Abang terkena imbasnya juga. Seluruh orang memanggil Abang--Jaka suaminya si Andin gendut," jawabku mengeluh. "Mau gimana lagi Bang emang bentukannya kayak gini, disyukuri aja. Yang penting istrimu ini sehat," sahutnya berkilah tampak santai menyahutku. "Nggak, pokoknya kamu harus kurus. Kalau nggak, Abang akan cari istri yang kurus dan lebih cantik darimu." Andin melongo mendengar ancamanku barusan tapi tak kupedulikan. "Sabtu ini kamu nggak perlu hadir di acara arisan keluarga. Biar Abang wakilin. Kurusin dulu badan bengkak itu baru boleh pergi," ancamku memperingatkannya lagi. Padahal sengaja karena aku berencana hadir membawa orang lain, bukan dia. *** "Jak, kamu kenapa? Kok makannya melamun gitu? Masakannya nggak enak, ya?" Ibu bertanya dengan netra menelisik. "Enak, kok, Bu," jawabku dengan tersenyum tipis menatapnya. "Kalau enak kenapa makannya malas-malasan, Mas?" Erika ikut bersuara. Nada bicaranya terdengar kesal. "Enak, kok," jawabku sembari memasukkan makanan ke dalam mulut dengan lahap. "Kamu ada masalah sama Andin? Dia kenapa? Sakit?" "Ibu tahu Andin sakit?" tanyaku terkejut. Jangan-jangan Andin memang sakit. Makanya dia terlihat lebih kurus. Entah kenapa aku jadi kepikiran Andin. "Seminggu yang lalu kan Ibu ada datang ke sana, minta dijahitkan baju. Badannya agak kurusan kayak orang sakit. Waktu Ibu tanya, katanya magh-nya kambuh." "Kok Andin nggak ada cerita ya? Biasanya dia paling susah nahan sakit dan memaksaku membelikannya obat. "Mas, kok bengong? Pasti mikirin Andin, ya?" Erika tampak merajuk. Wajahnya cemberut. Ibu mengkodeku supaya membujuk Erika. "Ini kamu yang masak? Enak. Mas habisin ya," pujiku berbohong berusaha membuatnya senang. Senyum Erika kembali merekah."Kapan kamu ceraikan Andin, Ibu sudah eneg lihat mukanya. Kemarin saja dia sudah berani menolak menjahitkan baju Ibu. Pake alasan sakit magh. Nggak perlu nunggu lama, menantu nggak guna dan memalukan itu secepatnya saja dicerai." Kuhembuskan napas pelan menanggapi perkataan Ibu barusan. Berat rasanya menceraikan Andin. Selama ini walaupun cerewet dan gendut, ia adalah istri yang baik, pengertian dan penurut. Masalah utama kami hanyalah soal anak. Sampai sekarang di usia pernikahan yang ketiga, Andin belum juga hamil. Sudah segala hal kami lakukan. Bahkan mungkin karena pengaruh suntik, obat dan sebagainya itulah yang membuatnya jadi gendut seperti sekarang. Aku tidak jadi menginap di rumah Ibu. Padahal sudah kukirim pesan pada Andin tidak akan pulang karena alasan lembur, tapi setelah mendengar cerita Ibu, perasaanku jadi tidak enak. Kuputuskan pulang cepat untuk memastikan Andin dalam keadaan baik-baik saja. *** Kutekan bel berulang kali tapi belum juga terdengar derap langkah kaki Andin ke depan pintu. Bahkan kupanggil namanya pun masih tidak ada sahutan. Aku ingat membawa kunci cadangan. Dengan kunci cadangan itu, pintu berhasil dibuka. Kaget. Saat pintu kubuka, di dalam keadaannya gelap, tapi lampu teras menyala. Aneh, apa lampu di dalam yang rusak? Tambah kaget setelah kutekan saklar di dinding, lampunya menyala. Artinya Andin yang lupa menghidupkan lampu di dalam rumah ini, tapi dimana dia? Kenapa main gelap-gelapan?Kupanggil dari tadi tidak ada sahutan darinya. Bahkan di kamar pun tidak kutemukan keberadaannya. Lampu kamar juga dalam keadaan mati. Ini sangat aneh. Aku duduk di tepi ranjang mengambil ponsel dan segera menghubunginya. Nomornya tidak aktif. Ponselnya mati? Ini makin tidak masuk diakal. Berulang kali mencoba menghubungi, tetap tidak bisa. Kemana dia pergi? Apa terjadi sesuatu padanya?Saat ingin beranjak pergi mataku tidak sengaja melihat sebuah kotak persegi dengan kertas kecil diatasnya. Terletak di atas nakas. Aku terpaku, apa itu? Kenapa baru sadar ada benda itu di sana? Untuk Bang Jaka. Di kertas kecil tersebut tertulis seperti itu. Apa ini kado dari Andin? Sudut bibirku tertarik ke atas. Sepertinya, Andin ingin memberikan sebuah kejutan, tapi bukankah sekarang bukan hari ulang tahunku? Jadi ini untuk apa?Kado ini sangat ringan saat kuangkat. Apa isinya, hingga tidak terasa berat. Penasaran segera kubuka kado tersebut. Mataku memicing saat melihatnya. Kosong. Hanya ada selembar kertas dengan tulisan tangan Andin. Ini pasti surat untukku. Tunggu, kukira kosong, ternyata ada benda lain. Seketika mataku melebar melihatnya. Bukankah ini testpack? Benda ini pernah kubeli di supermarket untuk mengecek kehamilan Erika. Untuk apa Andin memberikanku testpack dengan dua garis merah? Apa jangan-jangan ….At Morning Liyra Company.Aku masih sibuk menyusun berkas berkasku yang masih berada di atas meja dan tak lama aku mendengar suara pintu ruangan ku di ketuk oleh seseorang dari luar. Tok tok." Masuk ."Jawabku. Tanpa melihat siapa yang datang." Kau sibuk Nona Hwang."Ucap seseorang aku berhenti sejenak karena tiba tiba mendengar suara yang sangat familiar. Aku mendongakan wajahku untuk menatapnya Marcus." Marcus."Ucapku dengan pelan dan terus menatapny. Ia tersenyum menatapku.Lalu tak lama aku berjalan menghampirinya masih dengan terus menatapnya. Saat kami sudah saling berhadapan aku memeluknya dengan erat dan kurasakan ia balas memelukku dengat erat juga." I miss you Liy." Ucapnya tepat di telingaku." I miss you to Marc."Ucapku membalasnya.Marcus teman masa kecilku yang takan pernah kulupakan dan sekarang muncul dengan tiba tiba di hadapanku dengan gagah, aku bahkan terkejut melihatnya sudah ada di kantorku, ia
Liyra.Aku dan Shin masih terus mengikuti mobil yang di kendarai oleh wanita di sampingku ini pria yang bernama Kim, sampai secara tiba tiba ia berhenti di sebuah Mall Flan bukan Mall inha apa maksud dari pria ini fikirku." Shin bukankah kekasihmu ingin bertemu dengan kliennya di Mall Inha tapi kenapa ia jadi kemari."Ucapku padanya." Entahlah akupun tak mengerti apa tidak jadi ya disana makanya ia kesini entahlah akupun bingung Liyra."Ucapnya dengan bingung." Tak apa apa ayo masuk kedalam dan ikuti dia dari jarak yang agak jauh agar ia tak curiga kalau sedang kita ikuti." Ucapku bersiap turun setelah merapihkan penampilanku. Ia pun mengikutiku turun dari mobilnya dan berjalan kedalam Mall untuk mengikuti Kekasih nya Shin. Aku dan Shin masih terus mengikutinya saat kurasakan Pria itu memberhentikan langkahnya dengan tiba tiba lalu berbalik melangkah ke dalam restorant jepang. Aku dan Shin juga memutuskan untuk masyk dan duduk berjauhan dari
Sandrevano.Liyra ingatlah bahwa sampai kapan pun hanya kau satu satunya wanita yang ku cintai tidak ada yang lain bahkan Mira sekalipun aku tak pernah sedikitpun mencintainya. Aku hanya menginginkan dirimu bukan yang lain karena cinta ku ini begitu sangat tulus untukmu.Aku akan terus menempel padamu seperti permen karet kemanapun kau pergi akan aku ikuti tak apa kalau mereka menyebutku penguntit karena kenyataanya bukan seperti yang mereka fikirkan.Pov.Liyra.San menjauhlah dariku karena aku tak mau melihatmu sementara untuk saat ini. San ingatlah aku pernah mengatakan bukan kalau suatu saat nanti jika kita memang berjodoh pasti Tuhan akan menyatukan kita berdua. Jadi aku mohon menjauhlah dariku untuk sementara.Pov.Liyra Company.Aku masih bergel
Jika nanti suatu saat kau mau bersamaku, berada disisiku dan menjalin hubungan denganku. Aku berjanji akan selalu membuat mu tersenyum dan takan menyakitimu ataupun membuatmu menangis karena terluka ketika bersamaku Liy.Aku mencintaimu Liyra dan akan selalu mencintaimu sampai kapanpun itu, dan sampai mau memisahkan mungkin karena hanya kau yang akan selalu aku cintai dan takan ada wanita lain yang bisa menggantikan mu Liyra, dihatiku.Andreas .Jika nanti kau berhasil membuatku mencintaimu maka mari berjanjilah akan selalu menepati janji mu untuk membuatku selalu tersenyum dan tak akan membuatku menderita jika bersamamu nanti fan berjanjilah takan membuatku menjatuhkan air mata karena kecewa tapi aku akan menjatuhkan air mataku karena bahagia.Liyra .Pov.









![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.