Share

Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya
Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya
Penulis: Olenji

Bab 1

Penulis: Olenji
"Iya, 'kan? Suamiku kerja di bawah pimpinan Pak Ello, dia selalu cerita kalau Pak Ello itu sayang banget sama istrinya. Kulit Bu Ardina halus banget, makanya tiap hari Pak Ello suruh orang borong susu dari koperasi buat mandi istrinya. Bu Ardina suka ketenangan, dia sampai bangun rumah tunggal gaya Rusia. Waktu Bu Ardina belanja dan menghilang sejam aja, Pak Ello langsung panik sampai pasang iklan di koran buat cari dia. Sekarang Bu Ardina pergi diam-diam begini, dia bisa gila, 'kan .…"

Ardina menyunggingkan senyum mendengar perbincangan orang-orang itu. Tatapan matanya menyiratkan ejekan pada diri sendiri yang makin pekat.

Ya, semua orang tahu betapa Ello Sardi mencintainya.

Waktu itu, dia adalah penari utama di kelompok seni militer, sedangkan Ello adalah anak pejabat terpandang di Kota Banda.

Semua orang mengatakan kalau pria itu dingin, berwibawa, tidak peduli pada wanita. Kehidupan pribadinya bahkan terkenal sangat hambar dan kaku, semua wanita harus menjaga jarak tiga meter darinya.

Sampai akhirnya pada malam acara ramah tamah itu, dia bertemu dengan Ardina.

Pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu mulai gila-gilaan mengejarnya. Perhiasan mewah diberikan tanpa memedulikan biaya, kembang api dinyalakan di langit selama tiga hari tiga malam untuk mengumumkan cintanya. Bahkan hanya karena kalimat santai Ardina yang ingin makan kue kenari yang sudah bertahun-tahun berhenti diproduksi, pria itu menerobos badai salju di tengah malam, menyetir melewati tiga kota. Tubuhnya basah kuyup, tapi dia tetap menyodorkan kue yang masih hangat itu ke hadapannya.

Hal yang benar-benar membuat Ardina memantapkan hati untuk menerimanya adalah hari ketika orang tuanya meninggal.

Ello yang saat itu sedang dinas di luar provinsi yang jauh, rela melepaskan segalanya demi segera pulang tanpa memedulikan apa pun.

Saat tiba di hadapannya, penampilan pria itu sangat berantakan dengan mata yang dipenuhi guratan merah. Tapi, dia mendekap Ardina ke dalam pelukannya dengan penuh cinta.

"Dina, jangan nangis. Kamu masih punya aku, aku bakal selalu temani kamu selamanya."

Melihat ketulusan di mata pria itu, jantung Ardina sempat melewatkan beberapa detak.

Dia orangnya.

Ardina membatin seperti itu pada dirinya sendiri.

Namun, pria yang begitu setia kepadanya itu justru tidak bisa menahan godaan sejak tiga bulan lalu. Dia berselingkuh dengan sepupu Ardina yang datang dari desa untuk meminta bantuan mencarikan pekerjaan.

Di atas sofa vila yang dibangun untuknya, di dapur, di ranjang pernikahan, semua tempat dipenuhi dengan jejak percintaan mereka.

Keluarga Sardi memiliki latar belakang khusus, sehingga karena aturan organisasi, seluruh anggota Keluarga Sardi tidak boleh pergi ke luar negeri.

Termasuk Ello.

Asalkan dia pergi ke luar negeri, pria itu tidak akan pernah bisa menemukannya seumur hidup!

Ardina menyimpan dokumen imigrasi di tangannya, lalu berjalan lurus menuju kompleks perumahan dinas.

Begitu mendorong pintu, aroma khas sperma langsung menusuk ujung hidungnya.

Ardina meremas telapak tangan untuk menenangkan diri sebelum melangkah masuk berpura-pura tenang.

Dua orang yang sedang menggantung pajangan di dinding itu langsung berbalik menatapnya setelah mendengar suara gerakan.

Ello terpaku sejenak, lalu tatapan matanya seketika melembut. Dia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Ardina.

"Dina, kenapa pakai baju tipis banget? Dingin nggak? Kamu bukannya mau pergi belanja, kok cepat banget pulangnya? Aku lagi menyiapkan kejutan buat kamu."

Kejutan?

Ardina mendongak menatap Ello, tapi tatapannya refleks tertuju pada leher pria itu.

Di sana, terdapat bercak merah bekas kecupan yang sangat banyak.

Bulu matanya sedikit bergetar, dia berusaha keras menahan rasa sakit yang menusuk jantungnya.

Melihat Ardina tidak menjawab, Tasya yang berada di samping berjalan mendekat sambil tersenyum manja.

"Kak, Kak Ello benar-benar cinta banget sama Kakak. Hari peringatan pertama kali kalian bertemu aja dirayakan semewah ini .…"

Tasya sengaja menggantung kalimatnya, lalu menunjuk ke tumpukan hadiah yang menggunung di atas sofa samping.

"Lihat, ini semua hadiah yang udah disiapin Kak Ello buat Kakak, lho."

Ardina mengikuti arah tangan Tasya, tapi dia justru lebih dulu melihat noda air yang membekas di bawah tumpukan hadiah.

Pada saat itu, dia merasa seperti tersambar petir. Aroma saat pertama kali masuk pintu tadi dan bekas yang ada sekarang, sepenuhnya membuktikan kenyataan yang baru saja dia tebak.

Mencintainya?

Cinta yang digembar-gemborkan Ello adalah menyiapkan hadiah untuknya sembari bercinta dengan Tasya di atas sofa, bahkan begitu bergairah hingga membasahi sebagian besar sofa?

Rasa sakit yang mengoyak hati dan menusuk tulang, tidak lebih dari ini.

Ello tidak menyadari keanehan Ardina. Dia hanya memakaikan kalung yang sudah disiapkan sejak awal ke leher istrinya, lalu berkata dengan nada yang sangat lembut hingga terasa membuai, "Dina, selamat hari peringatan pertemuan kita. Aku juga udah siapkan makan malam romantis, semua bahan makanannya dikirim langsung dari Eropa."

Tubuh Ardina gemetar, dia menggelengkan kepala. "Aku nggak mau makan, aku … kurang enak badan."

Saat ini, setiap detik yang dia habiskan bersama Ello adalah siksaan.

Sejak awal dia sudah mengatakannya, dia memiliki obsesi kesucian dalam hubungan dan tidak bisa menerima cacat sedikit pun.

Kalau memang tidak bisa, jangan pernah mendekatinya. Karena sudah mendekatinya, kenapa sekarang malah mengkhianatinya?

Ello langsung panik seolah menghadapi musuh besar mendengar Ardina mengeluh kurang enak badan.

Dia langsung menelepon beberapa dokter keluarga untuk memeriksanya. Setelah pemeriksaan selesai dan dinyatakan tidak ada masalah, dia tetap merasa tidak tenang. Dia menyuruh bawahannya membeli banyak suplemen penambah darah, lalu menyeduh susu sendiri untuk membujuk istrinya tidur.

Setelah repot selama sekitar lima jam, Ardina akhirnya tertidur karena bujukannya.

Tengah malam, Ardina tiba-tiba terbangun karena haus dan ingin keluar untuk mengambil air.

Namun, tepat saat membuka pintu kamar, seluruh tubuhnya seketika membeku di tempat.

Pintu kamar sebelah terbuka lebar, cahaya bulan yang terang menembus jendela dan menyinari dua orang yang sedang bergumul tanpa sehelai benang pun di atas ranjang.

"Kalung yang tadi itu mahal banget, aku udah merengek minta sama kamu lama banget, tapi nggak dikasih. Kakak nggak lakukan apa-apa, tapi kamu malah sukarela kasih semua barang bagus ke dia."

Setelah gairah mereda, kaki Tasya masih melingkari pinggang pria itu, kalimatnya penuh nada cemburu.

Ello mengernyitkan dahi, dia menarik dirinya keluar lalu duduk di tepi ranjang sambil menyalakan cerutu.

"Kamu nggak sadar sama posisi kamu, ya? Aku udah bilang kalau aku cuma cinta sama Dina."

"Kalau kamu mau jaga hubungan ini sama aku, cuma bisa sembunyi-sembunyi. Kalau sampai dia tahu, kamu tahu sendiri akibatnya."

Wajah Tasya memucat, dia bangkit dengan tubuh telanjangnya lalu memeluk pria itu dari belakang sambil berkata dengan nada manja yang sedih, "Aku tahu kamu cinta sama Kakak, tapi aku juga cinta sama kamu. Aku cuma cemburu sedikit, masa nggak boleh sih."

Ello tidak bersuara, dia hanya membungkuk dan mengambil sebuah kalung dari dalam laci yang modelnya sama dengan milik Ardina tapi beda warna.

"Jangan pasang wajah sedih begitu, aku juga belikan satu buat kamu. Tapi, kamu cuma boleh memakainya diam-diam. Kalau sampai ketahuan sama dia, hubungan kita langsung berakhir."

Wajah Tasya seketika berubah gembira. Dia bergegas mengambil kalung itu dan mencocokkannya di lehernya yang penuh dengan bekas kecupan keunguan.

"Makasih, Kak Ello! Aku tahu di dalam hatimu masih ada aku! Tapi kamu segitu takutnya ya kalau Kakak pergi!"

Pria itu menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Iya, aku nggak bisa hidup tanpa dia. Kalau dia pergi, aku bisa gila."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, dia langsung menekan tubuh Tasya ke bawahnya lagi dan memulai pergumulan berikutnya.

Tempat tidur berderit kencang akibat gerakannya, suara erangan Tasya terdengar bertubi-tubi di telinga. Ardina yang berdiri di kejauhan meneteskan air mata dengan deras.

Dengan mata memerah, dia menatap wajah Ello yang ada di foto pernikahan di dinding.

Ello, 15 hari lagi, aku akan menantikan kegilaanmu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status