Share

Bab 3

Author: Limuju
Kata "selingkuh" itu menggelegar bagaikan petir di siang bolong, seketika membungkam seluruh ruang perjamuan, disusul kegaduhan kasak-kusuk yang lebih hebat.

Semua mata tertuju pada akta nikah yang ada di tanganku.

"Kok bisa gitu? Bukannya selama ini cinta Wanda hanya bertepuk sebelah tangan?"

"Katanya dia istri sah di mata hukum … jangan-jangan Mona justru memang orang ketiga?"

"Nggak mungkin, 'kan Pak Yansen bilang ini acara pertunangan mereka?"

Di tengah keriuhan itu, wajah Mona berubah dari pucat pasi lalu mengeras seperti menahan marah, kemudian merona merah karena rasa malu yang menyerangnya.

Tiba-tiba dia mencengkeram lengan Yansen, suaranya bergetar menahan tangis, tapi masih terdengar cukup jelas oleh semua orang.

"Yansen! Sampai sekarang kamu masih belum mau bilang yang sebenarnya? Apa kamu tega biarin aku dan bayi kita difitnah begini?"

Di tengah tangisannya dan tatapan penasaran orang-orang, Yansen menarik napas panjang.

Saat dia kembali menatapku, sisa-sisa kegelisahan di matanya sudah lenyap, digantikan oleh sorot mata yang penuh tekad dan hati yang tegas.

"Wanda."

Suaranya terdengar jelas ke seluruh ruangan melalui mikrofon.

"Awalnya aku masih ingin menjaga harga dirimu, tapi kamu malah buat keributan di sini."

Dia berhenti sejenak, lalu menunjuk akta nikah di tanganku, berbicara perlahan dan tegas, "Akta nikah yang kamu pegang itu palsu."

Seketika mataku terbelalak, aku menatapnya tak percaya.

"Karena terlalu lama ngejar-ngejar aku, tekanan mentalmu jadi berat. Kamu hidup dalam khayalan yang kamu ciptain sendiri."

Nada bicara Yansen terdengar seolah-olah penuh belas kasihan, tapi justru membuat hatiku terasa makin dingin.

"Karena kasihan sama kamu, aku sempat ngurus akta nikah palsu itu. Nggak kusangka kamu terus aja terobsesi, bahkan sampai memfitnah aku dan tunanganku."

"Nggak mungkin! Akta nikah itu kita ambil bersama di kantor catatan sipil!" Aku langsung membalas tanpa berpikir.

Dia menghela napas, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

"Hanya dengan sedikit uang, buat dokumen kayak begitu sih gampang. Wanda, ini bukan tempat untuk bikin keributan."

Dalam sekejap, semua tatapan tertuju padaku. Dari yang semula penuh curiga, berubah menjadi hinaan dan rasa kasihan.

"Ternyata palsu."

"Pantas saja Pak Yansen nggak pernah mengakuinya, ternyata demi menjaga perasaan dia!"

"Gila, benar-benar gila, sampai berani datang bikin onar di acara pertunangan orang."

Mona bersandar di pelukan Yansen. Senyum kemenangan sempat terlintas di sudut bibirnya, lalu segera lenyap dan dia kembali memasang wajah lemah tak berdaya.

Hatiku terpuruk ke titik terendah, seluruh tubuhku terasa dingin.

Aku menggenggam akta nikah itu kuat-kuat, sampai-sampai ruas jariku memutih.

Jadi selama ini, hanya sebuah akta nikah palsu yang mengikat aku dan Yansen begitu lama.

Ruang pesta kembali riuh.

Mona tampak hampir menangis, suaranya pelan tapi cukup terdengar oleh semua orang.

"Kak Wanda, selama ini aku anggap kamu seperti kakak sendiri … tapi kenapa kamu terus mengincar tunanganku? Demi kamu, kami sudah menahan diri berkali-kali."

"Keluar! Kamu nggak diundang di sini!" Seseorang dari kerumunan ikut berteriak.

Tiba-tiba Mona berteriak kaget, tangannya dengan panik meraba jarinya.

"Cincinnya! Cincin pertunanganku dari Yansen hilang!"

Melvin yang tadi sangat bersemangat, langsung melompat ke depan, mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat, seolah ingin meremukkan tulangku.

"Wanda! Pasti kamu yang ambil! Cuma kamu yang pengin merusak acara ini!"

Aku terseret sampai terhuyung-huyung, rasa tidak masuk akal dan penghinaan membuat tubuhku gemetar.

"Aku nggak ambil cincin itu! Jangan asal nuduh!"

"Benar atau nggak, ya tinggal digeledah aja, 'kan?"

Melvin pun mencibir, menarik aku dan hendak menyeretku ke samping.

Aku menoleh tajam ke arah Yansen, pria yang pernah aku cintai sepenuh hati. Suaraku bergetar karena putus asa.

"Yansen, kamu akan biarkan mereka berbuat begini sama aku? Setidaknya kita dulu …."

Setidaknya kita pernah memiliki begitu banyak kenangan bersama.

Kalimat itu tertahan di tenggorokan, karena Yansen justru mengalihkan pandangannya. Dia hanya berdiri diam, seolah menyetujui semua yang terjadi.

Saat itu, hatiku benar-benar hancur. Sisa harapan terakhirku pun padam.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 9

    Setelah badai berlalu, tibalah waktunya untuk perhitungan.Yansen dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan. Penipuan bisnis, pemindahan aset ilegal dalam jumlah besar, hingga pernikahan ganda dan dijatuhi hukuman total dua puluh tahun penjara.Grup Suwira yang dibangunnya runtuh seketika akibat kebocoran teknologi inti, penarikan dana investor, dan pengosongan kas, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut.Mona juga tak luput dari jerat hukum.Namun karena sedang hamil, dia mendapat penangguhan penahanan dan dijatuhi hukuman percobaan.Melvin pun terlibat dan harus mendekam di penjara dalam waktu yang tidak singkat.Para karyawan Grup Suwira yang dulu ikut memihak dan memperkeruh keadaan, baik di vila maupun di dunia maya, bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga masuk daftar blokir industri karena dampak sosial yang buruk. Mereka kesulitan mencari kerja, dan benar-benar menuai akibat dari perbuatan mereka sendiri.Suatu hari, aku menerima telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengata

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 8

    "Palsu! Semua ini bohong!"Mata Yansen memerah, menunjuk ke layar sambil berteriak histeris."Wanda! Kamu palsuin semua ini cuma karena Grup Linarta udah di ambang kehancuran! Kamu mau nyeret aku ikut jatuh dengan cara licik kayak gini. Pengin paksa aku menyelamatkan Keluarga Linarta, 'kan?! Aku bilang, jangan mimpi!"Menyaksikan perjuangannya yang sia-sia dan memalukan itu, tanpa sadar aku tersenyum."Yansen, sebenarnya siapa yang nggak mampu?"Baru saja aku selesai bicara, pintu samping ruang konferensi didorong keras. Asisten Yansen berlari masuk dengan tergesa-gesa."Pak Yansen! Gawat! Semua data riset inti dan informasi klien perusahaan bocor! Beberapa investor terbesar kita baru aja narik seluruh dana mereka! Dan seluruh dana likuid di perusahaan … hilang dalam semalam!""Apa?!"Yansen seperti tersambar petir. Dia mundur selangkah, menatap asistennya dengan tak percaya."Nggak mungkin! Gimana ini bisa terjadi?! Siapa yang lakuin?!"Seluruh ruangan gempar! Rangkaian kejadian yang

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 7

    Pada hari konferensi pers, ruang acara dipadati berbagai media hingga nyaris tak ada celah kosong.Aku mengenakan setelan rok dan jas hitam yang sederhana.Yansen dan Mona berjalan masuk sambil bergandengan, bagai pihak yang sudah keluar sebagai pemenang. Mereka langsung menghampiriku.Yansen menatapku dari atas ke bawah, sudut bibirnya terangkat dengan penuh keyakinan.Nada suaranya terdengar seolah memberi belas kasihan."Wanda, kalau dari awal kamu setenang ini, semuanya nggak perlu jadi kayak sekarang. Keluarga Linarta dan kamu sendiri juga nggak perlu menanggung akibat kayak begini."Mona segera mendekat, pura-pura menopang lenganku, lalu berbisik di telingaku dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Kak, lihat aja. Pada akhirnya, semua milikmu, identitasmu, laki-lakimu, bahkan kejayaan Keluarga Linarta, sebentar lagi akan jadi milikku."Perlahan aku menarik kembali lenganku, lalu mengambil tisu antiseptik di meja dan mengelap bagian yang tadi disentuhnya den

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 6

    Hatiku membeku sedingin es.Ternyata sejak dulu, dia sudah merancang dengan matang segala kebohongan ini!Dan Yansen … pria itu tahu kebenarannya!Yansen tahu betul latar belakang Mona, tahu dia berasal dari desa terpencil, tahu akulah yang membiayai hidup perempuan itu!Tapi Yansen bukan membongkarnya, malah membiarkan, bahkan mungkin ikut membantu sandiwara penyamaran ini!Para karyawan di aula yang tadinya gencar membela dan memuji-muji Mona, kini wajahnya berubah pucat pasi tak keruan, persis seperti orang yang baru saja menelan pil pahit.Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini dipenuhi amarah karena merasa dipermainkan dan kepanikan yang datang terlambat."Kita … kita semua ditipu?""Waktu itu Mona cuma bilang itu foto bersama keluarga, dia nggak pernah jelasin apa-apa. Kita aja yang mengira-ngira.""Tapi dia juga nggak membantah! Bahkan sering menyiratkan kalau Pak Jerry bersikap keras sama dia!"Mona mulai memasang wajah memelas, kembali memainkan peran sebagai korban."Semuany

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 5

    Pintu utama terbuka dengan keras. Ayahku, Jerry Linarta, masuk ke ruangan diiringi sekelompok pengawal berpakaian hitam.Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti elang memburu mangsa, lalu berhenti padaku yang tergeletak meringkuk di lantai. Darah merah menyala mengalir di bawah tubuhku.Dalam sekejap, dari matanya terpancar rasa tak percaya, dan amarah yang meluap.Ekspresi karyawan pria yang tadi paling lantang berteriak langsung berubah. Wajahnya segera memamerkan senyum menjilat, bercampur kecemasan yang mendalam."Pak … Pak Jerry! Kenapa Bapak ke sini?""Kebetulan sekali Bapak datang, ada yang sedang menindas putri Keluarga Linarta di sini."Ucapannya terhenti mendadak. Mengikuti arah tatapan Ayah yang nyaris membunuh, dia pun melihat kondisiku yang mengenaskan di lantai.Dia buru-buru menunjuk ke arahku, mencoba membela diri, "Se-semuanya salah Wanda! Dia yang duluan mengamuk dan mendorong Nona Mona! Padahal Nona Mona sedang hamil! Dia yang buat keributan di sini, ka

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 4

    Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Yansen."Aku nggak mengambilnya!"Aku langsung menepis tangan Melvin dan menunjuk ke arah pintu. "Yang harusnya pergi itu kalian! Sekarang juga, keluar dari rumahku!""Jangan bercanda. Kamu cuma gadis kampung, dari mana kamu bisa punya rumah kayak begini."Tiba-tiba, suara lembut Mona terdengar."Kak Wanda, kamu salah. Rumah ini udah lama dialihkan atas namaku sama Yansen. Lihat, sertifikatnya ada di sini."Dia mengeluarkan sebuah akta tanah berwarna merah tua dari dalam tasnya. Saat dibuka, pada bagian nama pemilik tertulis jelas "Mona Tedja"."Jadi …."Dia tersenyum, suaranya manis namun kejam."Ini rumahku. Yang seharusnya pergi itu kamu, orang luar."Guncangan hebat itu terasa seperti palu besar yang menghantam dadaku.Ternyata bukan hanya perasaan, bahkan hadiah yang kupersiapkan dengan penuh cinta untuk anakku di masa depan pun sudah lama dia serahkan pada orang lain!Tubuhku yang masih lemah akibat program bayi tabung beberapa hari terak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status