LOGINBu Sinta menyambut kepulangan Bryan dari kantor dengan wajah berseri. "Nadia dan anak-anak kalian sudah datang. Anak-anak sudah dibawa ke rumah kakakmu. Nadia sementara bersiap di kamar kalian," ucap mamanya Bryan mengerling penuh makna. "Mama doakan semoga, kalian tidak jadi berpisah."Tanpa banyak kata, Bryan melangkah panjang-panjang menuju kamarnya. Selama proses perceraian mereka baru hari ini, Nadia datang. Bisa jadi, karena tak enak menolak undangan selamatan empat bulanan kandungan Alinka, kakak iparnya. Sebentar lagi, kakaknya akan menambah member anggota keluarga Narendra.Berita kedatangan istrinya itu, jauh lebih menggembirakan bagi Bryan daripada kabar take over sebuah hotel di Kuta yang baru saja ia sepakati tadi pagi.Dari balik pintu, Bryan mendengar samar suara percikan air dari kamar mandi. Senyum gembira tersungging di bibirnya. Tas milik Nadia sudah tergeletak di atas ranjang. Di sudut kamar ada koper yang biasa dibawa saat kedua anakny
Adelia memeluk lututnya di atas ranjang. Air matanya dibiarkan terus berlinang. Mengingat Bryan tak menyangkal semua tuduhannya membuatnya terluka. "Akhirnya aku yang keluar sebagai pecundang. Dibanding Mbak Nadia, aku memang tak ada apa-apanya dari dulu. Mbak Nadia cantik dan juga pinter. Mas Bryan menyukainya dari SMU.""Jangan bicara begitu, Delia. Mama jadi sedih melihatmu begini. Ayo, kita temui mertuamu. Seperti yang Mama bilang tadi. Pasti mereka akan memilihmu dibandingkan Nadia," bujuk Bu Riska sembari mengelus dan merapikan rambut panjang putrinya.Adelia menggelengkan kepala. "Mama saja, aku mau di sini saja.""Baiklah, kita makan dulu. Selesai makan, mama bersiap ke rumah Pak Narendra."•▪︎•Bryan melajukan mobilnya perlahan saat memasuki gerbang 'Andalusia.' Semilir angin menerpa wajah lelahnya saat keluar dari mobil SUV hitam miliknya."Itu, Papa siapa yang datang!" seru Leni yang menyuapi Baby Rai yang duduk di stollernya."Appa!" seru Baby Rai seraya bertepuk tangan. B
Adelia memeluk lututnya di atas ranjang. Air matanya dibiarkan terus berlinang. Mengingat Bryan tak menyangkal semua tuduhannya membuatnya terluka. "Akhirnya aku yang keluar sebagai pecundang. Dibanding Mbak Nadia, aku memang tak ada apa-apanya dari dulu. Mbak Nadia cantik dan juga pinter. Mas Bryan menyukainya dari SMU.""Jangan bicara begitu, Delia. Mama jadi sedih melihatmu begini. Ayo, kita temui mertuamu. Seperti yang Mama bilang tadi. Pasti mereka akan memilihmu dibandingkan Nadia," bujuk Bu Riska sembari mengelus dan merapikan rambut panjang putrinya.Adelia menggelengkan kepala. "Mama saja, aku mau di sini saja.""Baiklah, kita makan dulu. Selesai makan, mama bersiap ke rumah Pak Narendra."•▪︎•Bryan melajukan mobilnya perlahan saat memasuki gerbang 'Andalusia.' Semilir angin menerpa wajah lelahnya saat keluar dari mobil SUV hitam miliknya."Itu, Papa siapa yang datang!" seru Leni yang menyuapi Baby Rai yang duduk di stollernya."Appa!" seru Baby Rai seraya bertepuk tangan. B
Di hotel tempat Adelia menginap, Bu Riska mengomel tak terima dimarahi suaminya via telepon."Enggak usah menakuti mama dengan mengatakan masalah makin ruyam, Papa! Mama kemari, membantu Adelia mempertahankan pernikahannya bersama Bryan. Kalau keponakanmu itu, tahu diri. Pasti dirinya akan mundur. Bryan tidak mau menceraikan Nadia, berarti Nadialah yang harus menggugat Bryan.""Mungkin sekarang Bryan sudah tiba di Jakarta. Gara-gara kelakuan Mama. Dia tadi langsung pergi meninggalkan meeting penting di kantor.""Hah! Bryan sampai nekat terbang kemari gara-gara kita nyamperi Nadia tadi. Hebat ya, keponakanmu itu, Pa. Sihir apa yang digunakan untuk menjerat Bryan. Sebulanan lebih, dia bisa tak pedulikan Adelia. Begitu, ngadu yang tidak-tidak langsung disamperi kemari.""Nadia enggak ngadu. Tapi, Bryan ditelepon kakaknya, Devan.""Ma!" Sentak Adelia panik karena dia turut mendengarkan pembicaraan mama dan papanya yang sengaja dihidupkan loud
Nadia yang masih duduk di tepi ranjang, seketika bahunya bergetar. Ia menangis. Bryan mendekat, duduk di sampingnya, lantas memeluknya erat. “Yan, kita bercerai saja," ucap Nadia di sela tangisnya. “Aku ... aku enggak bisa lagi menjalani pernikahan ini.” Pelukan Bryan mengerat. Dia menenggelamkan wajahnya di rambut indah Nadia yang menguarkan wangi sampo."Maaf, maafkan aku, Dia. Andai waktu bisa diulang, aku tidak akan menodaimu. Karena rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab atas kesalahanku itu, aku turut menekanmu untuk mau menjadi ibu pengganti untuk bayiku dengan Adelia."Aku sangat menyesal, Dia. Katakan apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku itu? Semua akan kulakukan, kecuali perceraian. Andai semua rencana kita berjalan sempurna. Paling tidak rahimmu masih ada. Aku tak akan berpikir dua kali saat kau meminta berpisah."Bryan menangkup kedua pipi Nadia, matanya berkaca-kaca saat dia mengecup kening istrinya dalam-dalam. Keduanya berpelukan, dalam isak tangis ya
Nadia menoleh tepat ke arah mereka. Wajah istri kedua Bryan itu, nampak berseri bahagia. Siang itu, ia mengenaikan blus biru polos dipadu celana jens dengan rambut diikat sederhana. “Bibi ... Delia. Kejutan nih, sampai datang kemari. Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian bicarakan." Nadia bangkit masih dengan mengendong Zaidan. Indah menghampiri sebentar seraya berbisik untuk mempersilakan kedua tamu mereka, sementara dirinya ke dapur membuat minuman."Sudah tentu ada yang penting. Enggak mungkin, kita jauh-jauh datang dari Malang ke sini hanya sekedar main saja," ketus Bu Riska menatap tajam ke arah Nadia.Nadia terdiam sesaat. Ia mulai bisa menebak maksud kedatangan istri pamannya itu. "Apakah Bibi kemari untuk membahas saham Petra Jaya yang diberikan Bryan padaku?" Tanya Nadia begitu berdiri di hadapan Bu Riska. "Mari kita ngobrol di ruang tamu, Bi ... Del."Bu Riska mengikuti langkah Nadia yang berjalan ke ruang tamu, demikian juga Ade







