LOGINPonsel Nadia berbunyi saat yang punya masih sibuk membantu kakak ipar membuat kue di dapur.
"Dik! ponselmu bunyi terus itu, lo ... dari tadi." Teriak Sharman dari ruang tengah yang disibukan menemani kedua anaknya membuat prakarya tugas sekolah. "Sebentar, lagi nanggung mixernya, Mas! Nanti biar kutelepon lagi. Palingan Alinka atau Mega yang telepon hari libur gini." Bunyi ponsel akhirnya berhenti dengan sendirinya tanpa ada yang mengangkat. Semua orang pada sibuk sendiri. Hari libur adalah hari yang sangat dinanti untuk keluarga kecil Sharman plus Nadia. Kadang kegiatan tiap akhir pekan, sudah masuk list memo awal bulan oleh Nadia, setelah ia dan kakaknya gajian. Indah yang akan meng—acc menyesuaikan jadwal suaminya. "Seperti ini, kan, Mbak Indah?" tanya Nadia pada kakak iparnya setelah menuangkan adonan kue yang dimixernya tadi ke dalam loyang. "Iya, sip!" Indah mengacungkan jempol kanannya. "Selanjutnya biar Mbak yang lanjutin, kamu lihat ponselmu dulu, siapa tahu telepon penting." Nadia mengangguk, lantas berlalu menuju bufet ruang tengah dimana ponsel miliknya diletak di sana. Bertepatan ia pegang ponselnya ada panggilan masuk dari Devan. "Halo, Mas ...." "Aku jemput hari ini jam 9, bersiaplah!" pinta lelaki itu. "Untuk apa? Aku lagi malas bepergian." Nadia menjawab dengan enggan. Terdengar hembusan napas kasar dari seberang sana. "Kita ditunggu mama di butik untuk ngukur baju," jawabnya tenang. "Baju apa?" tanya Nadia setengah terkejut. "Jas dan kebaya untuk acara lamaran sekalian akad nikah. Mama bilang kalau memang aku sudah siap nikah, langsung saja nikah. Enggak usah nunggu enam bulan lagi." "Sebentar, siapa yang lamaran dan akad nikah?" Tanya Nadia. "Jangan bilang kita, Mas," lanjut Nadia memastikan. "Enggak! Yang nikah, upin-ipin!" jawab Devan ngasal sangking kesalnya dengan pertanyaan Nadia. "Sudah enggak sudah banyak tanya, kita ditunggu mama. Dari arisan katanya langsung ke butik. Nanti kita ketemuan di sana." Nadia memandang Sharman yang sudah berdiri di depannya, mungkin kakaknya itu penasaran saat ia berbicara tentang pernikahan tadi. "Baiklah, aku siap-siap sekarang," sahut Nadia sebelum menutup pembicaraannya dengan Devan. "Bukannya kemarin Devan sudah dari sini, Dik?" "Iya, Mas. Padahal aku sudah bilang enggak mau nikah dengannya. Cuma belum sampai bilang alasanku nolak dia karena apa. Belum selesai bicaranya ada paket datang dan adiknya Mas Devan nyusul." "Ya, sudah. Sana siap-siap, kamu ngomong saja apa adanya, misalkan dia mau terima, bisa kamu pertimbangkan, Dik ... niat baik Devan ingin menikahimu." Nadia menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Walaupun Mas Devan enggak mempermasalahkan. Aku enggak mau nikah dengannya." Sharman melihat kesungguhan di pancaran mata adiknya, ia pun tak bertanya lagi. "Ya, sudah sana, siap-siaplah. Kalian bicaralah dengan baik-baik." Nadia segera berlalu menuju ke kamarnya di lantai atas. Sharman menghampiri istrinya yang seolah meminta penjelasan pembicaraan dengan adiknya barusan. "Devan mau datang, ngajak Nadia keluar. Sepertinya perasaan Devan benar-benar serius pada Nadia, Sayang." "Udah kelihatan dari awal dia main kemari, Mas. Kalau Mas Devan itu, naksir sama Nadia." "Iya, sih. Setahun yang lalu saat mampir main kemari, dia dah bilang naksir Nadia lewat pandangan pertama. Cuma, ngomongnya sambil cengégèsan Mas pikir canda saja, isengin Nadia. Dia ngomong seriusan dua bulanan yang lalu, Mas sudah mengatakan untuk bicara langsung ke Nadia. Karena dia yang akan menjalani pernikahan dengannya." "Semoga Nadia segera menemukan kebahagiaannya, ya, Mas," lanjut Indah dengan mata berkaca, dia dan Sharman yang menemani hari-hari terpuruk Nadia delapan tahun yang lalu. "Itu, yang selalu kita harapan dan pinta untuk Nadia, bukan? Dia menikah dan hidup bahagia dengan lelaki yang mencintainya dengan tulus." Indah mengaminkan ucapan suaminya sembari mengusap air mata yang hendak jatuh ke pipi. • Tepat jam 09.00 mobil Devan sudah terparkir di depan rumah Sharman. Nadia segera menghampiri. Devan bergegas turun membukakan pintu dan menutup setelah Nadia duduk dengan nyaman. "Kita pergi sebentar, Kak Ipar!" pamit Devan dengan nada bercanda melambai pada Sharman dan Indah yang mengantar mereka hingga ke depan pagar. "Hati-hati bawa mobilnya, Van!" sahut Indah mewakili Sharman yang hanya tersenyum melihat Nadia masuk ke mobil Devan tadi, karena bisa jadi jawaban dari Nadia membuat sahabatnya itu, enggak main ke rumahnya lagi. Seperti prediksi Nadia saat bicara dengannya beberapa hari yang lalu. 🍁🍁🍁 Nadia terdiam selama perjalanan. Tak ada percakapan di antara mereka. Perempuan itu hanya melihat pemandangan sepanjang jalan dari kaca jendela. Devan sesekali meliriknya. "Kita langsung ke Butik, atau ingin bicara dulu, Yang. Kayaknya kok kayak maksa orang untuk kawin, enggak ada aura kebahagiaan sama sekali," kelakar Devan untuk mencairkan suasana. Nadia memandang ke arah Devan, "Kita cari tempat untuk ngobrol dulu, Mas. Di taman situ, saja." Tunjuk Nadia saat mereka hampir melewati taman kota. • Setelah memparkirkan mobilnya, Devan mengikuti Nadia yang melangkah ke pohon beringin yang cukup rindang. Ada kursi besi yang tersedia di taman, untuk mereka duduk berbicara. "Jadi, apa yang harus kudengar sekarang. Wahai calon istriku." Devan menatap Nadia yang telah duduk tenang di sebelahnya. "Kita sambung pembicaraan kita saat di rumah Mas Sharman kemarin, Mas Devan." "Yang kamu bilang belum siap untuk menikah ...." "Bukan belum siap menikah, Mas. Tapi, aku tidak mau menikah dengan Mas Devan." sahut Nadia. Deru napasnya tak beraturan karena menahan gejolak di dadanya. Rahasia tentang masa kelam dirinya, harus terungkap untuk ketiga kalinya di hadapan 3 pria yang serius ingin menikahinya. "Alasannya?" "Aku, wanita yang sudah ternoda. Mahkotaku sebagai perempuan terengut delapan tahun lalu." Devan terdiam, diperhatikan air mata di wajah cantik Nadia. "Aku diperkosa karena menolak cinta temanku, di hari kelulusan sekolah." Nadia mengusap jejak airmatanya, lantas memaksakan untuk tersenyum. "Maaf, aku tidak bisa menerima Mas Devan. Aku enggak ingin, ditolak untuk ketiga kalinya saat ada pria yang serius ingin menikahiku. Makanya, kali ini aku nolak Mas Devan dulu." "Aku akan tetap menikahimu, Nay. Aku enggak peduli masa lalumu. Bagiku, kau tetaplah wanita yang kucintai dan ingin kunikahi." "Maaf, aku enggak bisa, Mas." Tegas Nadia menggelengkan kepalanya. "Mas Devan bisa menikah dengan gadis yang lebih baik dariku." "Tapi, aku maunya nikah denganmu, Nadia." "Tapi, aku enggak mau, Mas!" sentak Nadia spontan. "Maaf, bukan maksudku bicara kasar." "Apa masalahmu sebenarnya, Nay?Aku tak mempermasalahkan yang kau katakan tadi. Kenapa kau tetap enggak mau menikah denganku." Karena aku tak mau berkaitan dengan orang yang menghancurkan hidupku, Mas. Menikah denganmu, akan selalu berkaitan dengan Bryan karena kalian saudara. Aku enggak mau lepas kendali, menghajar adikmu itu.Pandangan Nadia menelusuri ruang tamu penthouse Bryan. Usai resepsi mereka berdua langsung masuk lift menuju kediaman Bryan selama ini."Sini aku bantu lepasin bajunya, pasti kamu mau segera mandi bersihkan badan, kan. Semua barang sudah dirapikan di kamar, Dia." Nadia tidak menolak bantuan yang ditawarkan pria yang sudah resmi menjadi suaminya kembali itu. Nadia langsung mandi di kamar utama, ia tersenyum simpul saat melihat ranjang yang dihias cantik sedemikian rupa. Mama mertuanya menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin sebagai rasa bahagia mereka bersatu kembali..“Mm … kalau kita enggak terlahir di dunia, kita ngapain, ya?”Bryan menatap wajah wanitanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang terlintas di kepala istrinya, "Enggak ada. Benar-benar kita enggak ngapa-ngapain, kayaknya.”Nadia menghela napas pendek. “Terus kenapa kita jadi lahir, ya? Kalau enggak lahir, kan enak. Kita enggak perlu pusing mikirin banyak permasala
Bryan berdiri di samping Nadia, sesekali melirik wanita itu. Hatinya menghangat melihat bagaimana mata Nadia berbinar tiap kali menatap bayi. Ada kelembutan yang tak pernah pudar dari dirinya, kelembutan seorang ibu.“Kalian bermalam di sini saja, Nay? Besok pagi baru berangkat pulang,” tawar Bu Riska, setengah berharap.Nadia menggeleng lembut. “Gampang itu, Bi … habis dari sini, kita mau ziarah ke makam nenek, ayah, ibu. Lalu mampir ke tempat Buliknya Bryan.”“Oh, begitu … ini, kalian pergi berdua. Jangan-jangan sudah resmi balikan, ya?” goda Bu Riska dengan senyum semringah.Bryan tertawa kecil. “Belum. Ponakan Bibi masih belum mau saya halalin,” jawabnya santai dan sukses mengundang gelak tawa orang-orang di ruang tamu.“Ih, kamu ini, apa sih, Yan!” Nadia mencubit lengan pria itu gemas.“Lha, bener, kan … apa yang kubilang barusan. Dari dulu, kamu yang enggan kuhalalin,” bisik Bryan tepat di telinga Nadia.Nadia mena
“Waktu Papa bilang padaku … tentang Zyan,” ucap Bryan akhirnya.Tubuh Nadia seketika menegang.“Kalian semua sudah tahu tentang Zyan?" suaranya nyaris tak terdengar. Iya, ternyata tebakan keluarganya bahwa keluarga Narendra sudah tahu siapa Zyan terbukti benar.Bryan memejamkan mata sejenak, lalu berbalik menghadap Nadia. “Papa dan mama sudah lama tahu, bahwa Zyan adalah anak kita. Aku sendiri mulai sadar saat mendonorkan darah padanya. Dan sejak itu, aku merasa seperti manusia paling berdosa di dunia ini.”Ruangan seketika terasa sunyi, hanya tersisa dengung AC yang mengisi sela-sela keheningan.Nadia menunduk. Tangannya gemetar di pangkuannya. “Jadi … selama ini, sikapmu berubah karena itu.”Bryan mengangguk. “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setiap kali melihat Zyan, aku ingin memeluknya, mengaku sebagai ayahnya … tapi aku juga ingat ucapan Papa, untuk menghormati keputusan kalian.”Ia melangkah mendekat. “Dan
Bu Sinta datang ke penthouse Bryan tanpa memberi kabar. Ia mendapati anak bungsunya duduk di balkon menatap langit Jakarta tanpa bintang yang terlihat jelas.“Kamu kenapa akhir-akhir ini, terlihat murung?” tanya Bu Sinta lembut. Ia merasakan ada sesuatu dengan putranya.Bryan menggeleng pelan, pandangannya jauh. “Enggak ada apa-apa, Ma.""Baiklah, kalau belum mau cerita dengan mama. Bry ... Nadia sudah memberikan lampu hijau untuk kembali denganmu. Kenapa sekarang, kamu seolah menjaga jarak dengan Nadia?” tanya Bu Sinta menatap dalam putra bungsunya itu. Ia tahu betul gejolak di hati anaknya.Bryan menunduk. Ia tak bisa berbohong pada ibunya. “Aku masih belum bisa berdamai sama diriku sendiri, Ma. Mengingat yang kulakukan dulu pada Nadia, itu membuatku merasa sesak. Aku mencintai Nadia, tapi ... kalau hidup denganku membuatnya tak bahagia. Aku juga tak menginginkan hal itu. Entah, trauma itu ... masih ia rasakan atau sudah hilang.""Bagai
Beberapa hari setelah operasi yang menegangkan itu, kondisi Zyan mulai membaik. Luka di kepalanya menutup sempurna, dan ia sudah bisa melakukan aktivitas walau pelan bisa dilakukan sendiri. Selebihnya, hasilnya sangat baik, sebuah keajaiban yang melegakan semua orang.Nadia menghela napas lega, rasa syukur membanjiri hatinya. Sejak Zyan tersadar dari ruang ICU, remaja itu sudah tak banyak bicara. Ia lebih banyak diam dan menatap jendela rumah sakit, memandangi langit di luar jendela. Bryan selalu datang, namun tak pernah benar-benar masuk ke dalam kamar. Kadang ia berdiri di balik kaca ruang perawatan, sekadar memastikan keadaan Zyan.Setiap kali Nadia secara tak sengaja memergoki bayangan pria itu, sosok tinggi yang berdiri kaku di ambang pintu. Hatinya berdesir aneh. Ia bersyukur atas kepedulian Bryan pada keluarganya. Suatu sore, dokter menyarankan agar Zyan dibawa ke Jakarta untuk menjalani terapi lanjutan dan observasi neurologi jangka panjang. Sharman mengangguk cepat, menyetu
“Siap, Pak?” tanya perawat ramah.Bryan mengangguk, menatap jarum yang akan menembus kulitnya. Saat itu, pintu ruang donor terbuka. Pak Narendra masuk, wajahnya tersenyum lega.“Bryan,” sapa Pak Narendra.Bryan terkejut. “Papa? Kenapa Papa bisa kemari?""Untuk melihat keadaan Zyan. Tadi, sebenarnya mama lihat taksi kalian waktu kami mau mau gerbang perumahan. Saat mamamu menghubungimu tadi, Papa sudah persiapan boarding.""Oh, begitu ... Papa ke ruangan ini, mau donor darah untuk Zyan juga."“Iya,” ujar Pak Narendra singkat, lalu duduk di kursi donor sebelahnya. “Darah yang diperlukan dua kantong lagi. Pas, kan?”Bryan menatap ayahnya, ada banyak pertanyaan di matanya, namun ia memilih diam. Jarum suntik menembus kulitnya, cairan merah pekat mulai mengalir ke kantong darah. Ia melirik ayahnya yang terlihat tenang, seolah ini adalah hal biasa bagi mereka berdua.Setelah proses donor selesai, Bryan dan Pak Narendr







