Share

Pengecut

Author: Rumi Cr
last update Last Updated: 2025-11-25 14:01:27

Hal yang paling Nadia harapkan ketika menolak Devan kemarin adalah desain rancangannya dikembalikan. Atau setidaknya dia dikeluarkan dari tim pembangunan hotel itu. Namun, ternyata tidak. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan hari ini, Nadia ada janji bertemu dengan Bryan. Dan Mega sudah mengingatkannya sejak pagi.

Sebelum biro 'Pratama' mengirimkan rancangan hotel ke Adijaya Grup. Nadia telah menjanjikan keberhasilan proyek yang sedang ia tangani kepada Pak Yuda jikalau rancangannya terpilih. Dan sekarang, ia harus profesional menepati janjinya itu. Dengan kata lain, ia juga harus menyepakati serangkaian pertemuan yang akan terus terjadi dengan laki-laki menghancurkan hidupnya itu.

Dalam hati, Nadia berharap laki-laki itu tidak perlu hadir dalam pertemuan kali ini. Ya, harapan yang terlalu tinggi, mengingat seberapa keras usaha Bryan untuk terus bisa berbicara dengannya. Anehnya, justru Nadia sendiri yang melangkahkan kaki dengan sukarela untuk menemuinya kali ini.

“Mbak Nadia baik-baik saja?” tanya Mega khawatir saat langkah mereka beradu dengan lantai marmer lobi hotel tempat pertemuan berlangsung.

“Aku baik.” Jawab Nadia singkat. Apa yang sebenarnya ditakuti gadis itu? Oh, sikap menghindarnya Nadia ketika Bryan ingin menyapanya. Pasti rekan kerjanya itu, masih penasaran ada hubungan apa gerangan dirinya dengan putra kedua Adijaya Grup tersebut.

Seperti yang sudah Nadia duga, Bryan hadir di ruangan pertemuan. Kali ini ekspresinya datar, seolah tidak begitu perduli dengan kehadirannya. Seharusnya ia senang melihat perubahan itu, tapi mengapa hatinya jadi sebal.

"Mengapa dia tampak beda hari ini. Lebih kelihatan tenang dari waktu mampir ke rumah minggu lalu. Apakah dia tengah merencanakan sesuatu?

"Oh, tidak bisa! Bryan tidak berhak merencanakan apa pun, karena aku yang akan membuat rencana balas dendam untuknya. Jika memang takdir ingin kita bertemu, itu artinya hari perhitunganku denganmu telah tiba, Bryan." Nadia menyunggingkan senyum sinis, sebelum akhirnya mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Bryan.

Presentasi segera dimulai, segala hal terkait rancangan dan persiapan pembangunan proyek mulai dibicarakan secara detail.

.

“Jadi, kita sudah sepakat untuk meninjau lokasi pembangunan hotel ini, kan?” tanya Bryan sambil menatapnya. Nadia melengos.

"Mengapa pria itu perlu mengulang pertanyaan? Apakah dia tuli dan tidak mendengar persetujuanku, sebelumnya?"

“Bagaimana kalau hari Kamis, tiga hari lagi, Bu Nadia?”

“Bu Nadia?” Nama itu membuat telinga Nadia gatal. Ingin rasanya Nadia, menyahut "Ibu, ibu memang aku ibumu!"

“Kami akan memesan tiket ke Raja Ampat setelah tahu berapa orang yang akan menyertai Bu Nadia ke sana,” lanjut Bryan tenang.

“Raja Ampat?” suara Nadia meninggi. Sebentar, kenapa dia menyebutkan Raja Ampat. Apa, ada hal yang aku lewatkan.

Bagaimana ia bisa lupa mencari tahu lokasi pembangunan hotel milik Adijaya Grup akan dibangun. Ia berpikir saat Pak Narendra mengatakan pembangunan hotel dibawah naungan Petra Jaya. Dalam bayangannya pembangunan hotel nanti, berada di Malang, Jawa Timur. Karena yang Nadia tahu perusahaan itu, berada di sana.

Sejak tahu Bryan yang berwenang atas pembangunan hotel, membuat Nadia melupakan banyak poin penting dalam pekerjaannya. Bahkan seolah Nadia juga lupa, kalau ia harus meninjau langsung lokasi proyek. Yang ternyata, bertempat di ujung paling timur Indonesia itu.

“Ya, Raja Ampat, Papua Barat.” Bryan menjelaskan seolah Nadia tidak tahu letaknya. “Kita membutuhkan tiket untuk ke sana, kan?"

"Pertanyaan yang enggak membutuhkan jawaban," dengkus Nadia seraya memainkan bolpoinnya.

"Jangan khawatir, kami yang akan mengurus transportasi dan akomodasi. Nah, berapa orang yang akan ikut dengan Ibu?” tambah Bryan memperjelas posisinya.

Papua Barat? Dan ia akan ke sana bersama Bryan? Nadia hampir kehilangan kendali. Itu perjalanan panjang dan melelahkan. Ia tidak bisa membayangkan terjebak di tempat terpencil bersama laki-laki itu, hanya ditemani nyamuk-nyamuk penyebar malaria.

Nadia bergidik, membayangkan yang iya-iya. Jika, hal dalam pikirannya menjadi kenyataan.

“Saya boleh ikut, Mbak Nadia?” Tanya Mega dengan mata berbinar penuh harap.

Nadia hanya menghela napas. Bukan soal Mega boleh ikut atau tidak. Masalahnya adalah, Bryan akan berada di dekatnya untuk beberapa waktu ke depan.

Kepalanya terasa berdenyut. Ia harus memikirkan sesuatu, tetapi pikirannya pun buntu untuk menemukan alibi yang cocok supaya ia tidak ikut berangkat saja.

🍁🍁🍁

—Bandara Soetta—

“Mbak Nadia!” panggil Mega. Nadia melangkah ke arahnya.

“Sudah lama?” tanya Nadia, meski ekor matanya sempat menangkap siluet Bryan yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Lumayan. Tinggal nunggu Mbak Nadia, terus kita boarding.”

Nadia menoleh ke arah kakaknya. “Aku harus masuk sekarang, Mas." Pamitnya dengan mata berkaca-kaca, entah seperti ada hal mengganjal kali ini, saat diantar kakaknya untuk pergi melaksanakan tugasnya.

“Kamu akan baik-baik saja.” Sharman mengusap kepalanya lembut. “Nikmati sinar matahari. Bersenang-senanglah. Enggak usah risau mengenai hubungan Mas Sharman dengan Mas Devan, Nadia. Kami akan tetap berteman baik. Fokus saja dengan pekerjaanmu di sana. Main air yang banyak. Bukannya salah satu, impianmu ingin pergi ke Raja Ampat?”

Nadia mendengkus. “Kami ke sana untuk kerja, Mas.”

Sharman tertawa, lalu menepuk bahu adiknya sebelum pergi bergabung dengan temannya.

Nadia pun melangkah ke arah Mega yang kini sudah bersama Bryan. Ternyata selain mereka bertiga, ada dua orang lain dalam rombongan. Lima orang total. Cukup membuat Nadia sedikit lega. Setidaknya ia bisa meminimalisir interaksi berdua saja dengan Bryan.

Namun, harapannya langsung runtuh saat melihat Bryan dengan tenang menuju ke tempat duduk yang berada di sebelah Nadia.

“Apa dia sengaja melakukan semua ini?” pikir Nadia kesal. Ia ingin protes, tetapi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap profesional dalam menangani proyek ini.

Bryan duduk di sampingnya, tampak tak peduli meski Nadia langsung membuang muka ke jendela.

"Masak iya, aku harus lihat ke jendela terus. Bisa tengeng kepalaku, nanti. Mmcchh," gumam Nadia mendengkus sebal. Akhirnya ia memilih memejamkan mata, sengaja supaya tak diganggu oleh pria di sebelahnya.

Entah mengapa, ketika terpejam kejadian masa lalu itu, tiba-tiba terputar layaknya sebuah film. Hatinya perih, karena lukanya terbuka kembali. Hingga tanpa sadar Nadia menyentuh dadanya.

“Dadamu kenapa?” suara cemas Bryan membuat Nadia membuka mata.

“Enggak apa-apa.” Nadia menghentikan gerakan tangannya. Ternyata pria itu memperhatikannya diam-diam.

“Dadamu sesesak itu, ya, saat aku duduk di sampingmu?” Bryan menghela napas. “Padahal, aku ingin bicara banyak denganmu, Nadia ....”

Nadia mengatupkan bibirnya, kedua jemari tangannya tanpa sadar tergenggam erat.

"Maaf ... aku minta maaf atas perbuatanku waktu itu."

"Apakah karena ingin mengatakan ini, kamu sampai mengatur tempat duduk, supaya kita bisa bersama."

Bryan memandang mata wanita di depannya yang seolah ingin menghabisinya. "Aku sangat mencintaimu, Nadia. Tapi, kau mengatakan mencintai Radith. Maaf, aku khilaf karena cemburu juga sakit hati. Kupikir, setelah itu kamu akan datang memintaku untuk menikahimu. Dan akhirnya akulah yang akan memilikimu seutuhnya."

"Pengecut!" umpat Nadia tepat di depan wajah Bryan.

.

.

Next ..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SAHAM 50 PERSEN    Ending

    Pandangan Nadia menelusuri ruang tamu penthouse Bryan. Usai resepsi mereka berdua langsung masuk lift menuju kediaman Bryan selama ini."Sini aku bantu lepasin bajunya, pasti kamu mau segera mandi bersihkan badan, kan. Semua barang sudah dirapikan di kamar, Dia." Nadia tidak menolak bantuan yang ditawarkan pria yang sudah resmi menjadi suaminya kembali itu. Nadia langsung mandi di kamar utama, ia tersenyum simpul saat melihat ranjang yang dihias cantik sedemikian rupa. Mama mertuanya menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin sebagai rasa bahagia mereka bersatu kembali..“Mm … kalau kita enggak terlahir di dunia, kita ngapain, ya?”Bryan menatap wajah wanitanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang terlintas di kepala istrinya, "Enggak ada. Benar-benar kita enggak ngapa-ngapain, kayaknya.”Nadia menghela napas pendek. “Terus kenapa kita jadi lahir, ya? Kalau enggak lahir, kan enak. Kita enggak perlu pusing mikirin banyak permasala

  • SAHAM 50 PERSEN    Akad Kedua

    Bryan berdiri di samping Nadia, sesekali melirik wanita itu. Hatinya menghangat melihat bagaimana mata Nadia berbinar tiap kali menatap bayi. Ada kelembutan yang tak pernah pudar dari dirinya, kelembutan seorang ibu.“Kalian bermalam di sini saja, Nay? Besok pagi baru berangkat pulang,” tawar Bu Riska, setengah berharap.Nadia menggeleng lembut. “Gampang itu, Bi … habis dari sini, kita mau ziarah ke makam nenek, ayah, ibu. Lalu mampir ke tempat Buliknya Bryan.”“Oh, begitu … ini, kalian pergi berdua. Jangan-jangan sudah resmi balikan, ya?” goda Bu Riska dengan senyum semringah.Bryan tertawa kecil. “Belum. Ponakan Bibi masih belum mau saya halalin,” jawabnya santai dan sukses mengundang gelak tawa orang-orang di ruang tamu.“Ih, kamu ini, apa sih, Yan!” Nadia mencubit lengan pria itu gemas.“Lha, bener, kan … apa yang kubilang barusan. Dari dulu, kamu yang enggan kuhalalin,” bisik Bryan tepat di telinga Nadia.Nadia mena

  • SAHAM 50 PERSEN    Undangan Aqiqah

    “Waktu Papa bilang padaku … tentang Zyan,” ucap Bryan akhirnya.Tubuh Nadia seketika menegang.“Kalian semua sudah tahu tentang Zyan?" suaranya nyaris tak terdengar. Iya, ternyata tebakan keluarganya bahwa keluarga Narendra sudah tahu siapa Zyan terbukti benar.Bryan memejamkan mata sejenak, lalu berbalik menghadap Nadia. “Papa dan mama sudah lama tahu, bahwa Zyan adalah anak kita. Aku sendiri mulai sadar saat mendonorkan darah padanya. Dan sejak itu, aku merasa seperti manusia paling berdosa di dunia ini.”Ruangan seketika terasa sunyi, hanya tersisa dengung AC yang mengisi sela-sela keheningan.Nadia menunduk. Tangannya gemetar di pangkuannya. “Jadi … selama ini, sikapmu berubah karena itu.”Bryan mengangguk. “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setiap kali melihat Zyan, aku ingin memeluknya, mengaku sebagai ayahnya … tapi aku juga ingat ucapan Papa, untuk menghormati keputusan kalian.”Ia melangkah mendekat. “Dan

  • SAHAM 50 PERSEN    Kamu, Kenapa Bryan?

    Bu Sinta datang ke penthouse Bryan tanpa memberi kabar. Ia mendapati anak bungsunya duduk di balkon menatap langit Jakarta tanpa bintang yang terlihat jelas.“Kamu kenapa akhir-akhir ini, terlihat murung?” tanya Bu Sinta lembut. Ia merasakan ada sesuatu dengan putranya.Bryan menggeleng pelan, pandangannya jauh. “Enggak ada apa-apa, Ma.""Baiklah, kalau belum mau cerita dengan mama. Bry ... Nadia sudah memberikan lampu hijau untuk kembali denganmu. Kenapa sekarang, kamu seolah menjaga jarak dengan Nadia?” tanya Bu Sinta menatap dalam putra bungsunya itu. Ia tahu betul gejolak di hati anaknya.Bryan menunduk. Ia tak bisa berbohong pada ibunya. “Aku masih belum bisa berdamai sama diriku sendiri, Ma. Mengingat yang kulakukan dulu pada Nadia, itu membuatku merasa sesak. Aku mencintai Nadia, tapi ... kalau hidup denganku membuatnya tak bahagia. Aku juga tak menginginkan hal itu. Entah, trauma itu ... masih ia rasakan atau sudah hilang.""Bagai

  • SAHAM 50 PERSEN    Ada Apa dengan Bryan

    Beberapa hari setelah operasi yang menegangkan itu, kondisi Zyan mulai membaik. Luka di kepalanya menutup sempurna, dan ia sudah bisa melakukan aktivitas walau pelan bisa dilakukan sendiri. Selebihnya, hasilnya sangat baik, sebuah keajaiban yang melegakan semua orang.Nadia menghela napas lega, rasa syukur membanjiri hatinya. Sejak Zyan tersadar dari ruang ICU, remaja itu sudah tak banyak bicara. Ia lebih banyak diam dan menatap jendela rumah sakit, memandangi langit di luar jendela. Bryan selalu datang, namun tak pernah benar-benar masuk ke dalam kamar. Kadang ia berdiri di balik kaca ruang perawatan, sekadar memastikan keadaan Zyan.Setiap kali Nadia secara tak sengaja memergoki bayangan pria itu, sosok tinggi yang berdiri kaku di ambang pintu. Hatinya berdesir aneh. Ia bersyukur atas kepedulian Bryan pada keluarganya. Suatu sore, dokter menyarankan agar Zyan dibawa ke Jakarta untuk menjalani terapi lanjutan dan observasi neurologi jangka panjang. Sharman mengangguk cepat, menyetu

  • SAHAM 50 PERSEN    Zyan Anakmu

    “Siap, Pak?” tanya perawat ramah.Bryan mengangguk, menatap jarum yang akan menembus kulitnya. Saat itu, pintu ruang donor terbuka. Pak Narendra masuk, wajahnya tersenyum lega.“Bryan,” sapa Pak Narendra.Bryan terkejut. “Papa? Kenapa Papa bisa kemari?""Untuk melihat keadaan Zyan. Tadi, sebenarnya mama lihat taksi kalian waktu kami mau mau gerbang perumahan. Saat mamamu menghubungimu tadi, Papa sudah persiapan boarding.""Oh, begitu ... Papa ke ruangan ini, mau donor darah untuk Zyan juga."“Iya,” ujar Pak Narendra singkat, lalu duduk di kursi donor sebelahnya. “Darah yang diperlukan dua kantong lagi. Pas, kan?”Bryan menatap ayahnya, ada banyak pertanyaan di matanya, namun ia memilih diam. Jarum suntik menembus kulitnya, cairan merah pekat mulai mengalir ke kantong darah. Ia melirik ayahnya yang terlihat tenang, seolah ini adalah hal biasa bagi mereka berdua.Setelah proses donor selesai, Bryan dan Pak Narendr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status