Share

06. Jalan keluar

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 09:52:26

Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.

“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.

“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.

Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.

“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng.

"Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.

Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh.

"Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani.

"Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.

Tentu saja, itu hanya akal-akalan Reyhan. Namun, Nilna paham maksud Reyhan.

Sopir angkot itu tampak terkejut, tapi setelah itu tetap tak mau kalah. Ia terkekeh. "Sok akrab. Tahu apa kamu?"

Jawaban tak pernah keluar. Reyhan melangkah cepat. Tangannya menyambar pergelangan tangan lelaki itu, memelintir tanpa aba-aba.

“Argh!” Teriakan kaget terdengar.

Cengkeraman terlepas, digantikan bunyi tulang yang tertekan.

"Kurang ajar!" Sopir itu mencoba melawan, tapi satu pukulan mendarat tepat. Rahangnya tersentak, tubuhnya terhuyung menghantam badan angkot.

Nilna menjerit kecil. “Ah!”

Pukulan kedua menyusul. Lalu tendangan ke arah perut. Lelaki itu meringkuk, mengerang, napasnya tersengal.

"Jangan sentuh perempuan ini lagi," ucap Reyhan dingin. "kalau kamu masih ingin hidup!"

Nilna segera berlari, meringkuk di belakang tubuh tinggi besar Reyhan.

Sopir angkot meludah darah, bangkit terpincang, lalu segera masuk ke angkotnya.

Mesin dinyalakan asal, angkot melaju tak karuan sebelum menghilang.

Sunyi jatuh mendadak. Nilna kaku. Dadanya naik turun cepat, telinganya masih berdenging. Dunia seolah berhenti beberapa detik.

Reyhan menoleh. Wajahnya masih keras, napas berat, tapi sorot matanya berubah ketika menatap Nilna. "Kamu nggak kenapa-kenapa?"

Nilna menggeleng pelan. "Nggak... cuma kaget."

Reyhan menatap Nilna. Tatapannya menyapu cepat, memastikan tak ada luka terlihat. "Yakin kamu nggak sakit? Dia pegang kamu kuat sekali."

Nilna menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah menolong saya.”

Reyhan mengangguk pelan, lalu memperhatikan penampilan Nilna yang membawa tas cukup besar. "Kamu mau ke mana?" 

"Aku … aku mau pergi," jawab Nilna singkat sambil menunduk.

Reyhan terhenyak. "Pergi ke mana? Pulang kampung?"

Nilna terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.

Nilna menyembunyikan tas saat melihat Reihan meliriknya, sebuah tas besar yang warnanya saja pudar. Itu adalah tas yang diberikan budenya saat Nilna dibawa ke kota oleh Renji.

Melihat gerak-gerik Nilna, Reyhan seolah menyadarinya. Ia menghela napas berat. “Kamu mau ke mana? Aku antar.”

Namun, Nilna kembali menggelengkan kepalanya. Ia menatap Reyhan sejenak, lalu sebuah ide aneh muncul di kepalanya. 

"Mas...." suara Nilna bergetar. "Apa kamu... kamu ....butuh pembantu?"

Pertanyaan itu keluar tanpa rencana. Bahkan Nilna sendiri terkejut mendengarnya.

Reyhan menatapnya lekat. "Pembantu?”

"Iya." Nilna menelan ludah. "Aku bisa masak. Bersih-bersih. Apa saja. Aku nggak minta gaji besar. Asal... asal boleh tinggal."

Angin pagi bertiup pelan, membuat kerudung buruk Nilna bergerak acak. Matanya merah, tapi air mata belum jatuh lagi.

Reyhan terdiam lama.

"Aku sahabat Renji," ucap Reyhan akhirnya, jujur. "Kalau kamu mau tinggal atau kerja di aku, aku nggak enak sama dia."

“Ah, iya aku mengerti.” Nilna tersenyum kecil, pahit. Ia melangkah mundur satu langkah, seolah bersiap pergi lagi.

Namun, belum jauh langkah Nilna pergi, suara Reyhan kembali terdengar, membuatnya berhenti.

“Kamu pergi dari rumah Renji?” tanya Reyhan terus terang.

Nilna kembali menoleh, lalu mengangguk pelan.

“Kenapa?” tanya Reyhan penasaran.

Nilna kembali terdiam, lalu hanya bisa menjawab, “Nggak kerasan.”

“Apa mereka gak kasih kamu gaji yang layak? Atau mereka menyakiti kamu?” tanya Reyhan lagi, ia maju selangkah lebih dekat.

Pertanyaan itu jatuh ringan, tapi terasa berat. Nilna membuka mulut, lalu menutup lagi. Dadanya sesak. Kata-kata berdesakan, namun tak satu pun berani keluar.

"Kalau nggak nyaman jawab, nggak apa-apa," ucap Reyhan setelah beberapa detik.

Nilna menggeleng.

“Nggak … aku cuma nggak nyaman aja di sana,” jawabnya akhirnya.

Nilna bingung untuk mengatakan kalau dia istrinya Renji. Dia memang bingung tentang status. Tentang pernikahan tanpa pengakuan. Tentang rumah yang tak pernah menjadi rumah.

Nilna menggigit bibir. Air mata akhirnya jatuh satu, cepat ia hapus.

Melihat itu, Reyhan menghela napas. “Kamu ikut aku aja dulu. Nanti, setelah kamu tenang, aku antar kamu ke mana pun kamu mau pergi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   08. Ketakutan

    Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   07. Baru sekarang

    Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   06. Jalan keluar

    Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   05. Tak ada rencana

    Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   04. Saat Renji datang

    Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   03. Ke Bidan

    Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status