LOGINReyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.
Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji.
"Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.
Reyhan hanya tersenyum mengangguk.
Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen.
"Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.
Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.
Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin.
"Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?"
"Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna sebelum perempuan itu sempat menolaknya.
Nilna turun perlahan. Kakinya yang memakai sandal japit sempat ragu menyentuh lantai parkiran basement yang mengilap. Bau khas gedung mahal menyeruak, campuran pendingin udara, sabun lantai, dan sesuatu yang tak bisa ia namai.
Mata Nilna terangkat, mengikuti garis gedung ke atas. Dadanya terasa mengecil.
"Mas, aku kayaknya...." Nilna menggigit bibir. "Aku nggak pernah masuk ke rumah begini."
Reyhan meliriknya singkat. " Jangan takut. Ikuti aku saja."
Mereka melangkah menuju lift. Lorong basement luas, lampu tersusun rapi, tak ada suara selain langkah kaki mereka. Reyhan menempelkan kartu ke panel. Lampu hijau menyala. Pintu lift terbuka tanpa bunyi.
Nilna berhenti di ambang pintu.
"Kamu takut lift?" tanya Reyhan.
Nilna mengangguk kecil.
Reyhan menahan pintu dengan tangannya. "Nggak akan lama. Kita ke lantai dua puluh."
"Dua puluh?" Nilna menelan ludah.
"Pegang aku." Reyhan mengulurkan tangan kosong. Bukan menarik. Hanya menunggu.
Setelah ragu beberapa detik, Nilna meraih ujung lengan baju Reyhan, bukan tangannya. Jemarinya gemetar.
Pintu lift menutup. Ruang kecil itu bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Dada Nilna ikut naik turun. Telinganya terasa berdengung.
"Tarik napas," ucap Reyhan pelan.
Nilna menurut. Pandangannya terpaku ke lantai. Saat angka dua puluh menyala, lututnya hampir goyah.
Lift terbuka. Lorong berkarpet menyambut, sunyi, lampu temaram, pintu-pintu tertutup rapat. Tak ada suara orang. Terlalu sepi.
"Kenapa sunyi sekali?" bisik Nilna.
"Libur, orang pada tidur," jawab Reyhan singkat.
Mereka berhenti di depan satu pintu. Reyhan mengeluarkan ponsel, mengetik cepat. Bunyi klik terdengar. Kunci digital terbuka.
Nilna terpaku.
Apartemen itu luas. Jendela besar menghadap kota. Sofa empuk. Meja kaca. Lampu gantung modern. Semuanya mahal, tapi .... berantakan. Kaus di sandaran kursi. Sepatu dekat meja. Gelas kopi di mana-mana. Selimut di sofa.
"Ini bukan rumah yang rapi," batin Nilna.
"Masuk saja," kata Reyhan, sedikit canggung.
Nilna melangkah masuk perlahan. Tangannya memeluk tas kuat-kuat.
"Maaf," ucap Reyhan. "berantakan"
Nilna tersenyum. Matanya masih menyapu ruangan.
"Kamu duduk dulu."
Belum sempat Nilna bergerak, Reyhan sudah menurunkan tasnya, lalu berbalik tergesa. Tangannya menyambar kaus dari sofa, melempar ke arah kamar. Sepatu disusun asal. Jaket dilipat setengah, ditaruh di kursi.
"Kamu nggak usah bantu," katanya saat Nilna hendak membantunya. "Aku beresin sebentar, " ucap Reyhan sambil berlari kecil.
Nilna berdiri kikuk dekat pintu. Pandangannya mengikuti Reyhan yang mondar-mandir membuka pintu kamar, menendang ember ke sudut, menarik sprei, mengumpulkan celana dari lantai. Gerakannya cepat, cemas, seperti sedang dikejar waktu.
"Mas... santai saja," ucap Nilna pelan, lalu menaruh tasnya. Tangannya ikut bergerak membantu Reyhan.
Reyhan menatap segan sambil terus memasukkan semua pakaian ke kamar. Napasnya terdengar berat. Sesekali ia melirik jam dinding. Jarum bergerak terlalu cepat bagi pikirannya.
Tak lama, Reyhan keluar dari kamarnya. Lalu duduk bersebrangan dengan Nilna setelah menghela nafas panjang kecapean.
Nilna sekilas ingin tersenyum melihat kelelahan di mata Reyhan, namun rasanya ia telah lama tak tahu bagaimana cara tersenyum.
"Kalau pingin senyum, senyum saja, kenapa kamu sembunyikan?"
Nilna menunduk. " E, enggak, Mas."
" Kamu nertawain aku, ya?"
"Habisnya.... " Akhirnya Nilna bisa tersenyum juga.
Reyhan menatapnya tak berkedip. "Kamu lapar?"
"Enggak," elak Nilna malu. Namun, perutnya tak bisa diajak kompromi dengan mengeluarkan bunyi.
Reyhan sontak menatapnya, lalu mengambil handphone di sakunya, mengetik sebuah pesan.
"Katanya nggak lapar," cibir Reyhan tersenyum dengan sekilas menatap Nilna. "Memang pas kamu pergi tadi kamu nggak makan?"
Nilna mendongak sebentar lalu menggeleng.
Reyhan menatap curiga. "Jadi beneran kamu nggak pamitan Renji?" tanyanya curiga.
Agak lama Nilna diam, baru dengan takut-takut dia bilang. " Tidak, Mas."
"Ya, Tuhan.... Bagaimana ini?"
Nilna makin menunduk. Sementara dia melihat Reyhan begitu gelisah.
Sejenak hening menyelimuti diantara mereka.
"Sementara kamu di sini, kamu pakai kamar yang di ujung itu. Nanti setelah kamu tenang, kita pikirkan lagi enaknya bagaimana." Akhirnya Reyhan berkata.
"Iya, Mas," ucap Nilna sambil berdiri. " Kalau gitu, aku bawa tasku ke sana dulu."
Reyhan mengangguk, ada gurat gelisah yang ditangkap Nilna dalam tatap matanya.
Nilna masuk ke kamar yang dimaksud Reyhan. Bau harum tercium Nilna. Ia menatap seisi ruangan yang sepertinya terlihat rapi, beda dengan saat ia masuk. Sebuah kamar yang cukup luas dengan tempat tidur tak terlalu besar, tapi cukup mewah menurutnya.
Nilna meletakkan tasnya di bawa, tidak dimasukkan ke dalam almari pakaian yang ada di sana.
Tak lama ia keluar. Harum masakan sudah tercium. Di meja itu sudah terhidang makanan siap disantap.
"Ayo makan, aku sendiri juga lapar," ajak Reyhan.
Uap hangat keluar saat penutup dibuka. Aroma sederhana memenuhi ruang.
Nilna menatap makanan itu sejenak, "Terima kasih, Mas."
Reyhan mengangguk. "Ngak usah terimakasih terus."
Nilna tersenyum lalu mengambil sendok. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena lapar saja, tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia makan tanpa takut dimarahi.
"Aku cuma sebentar di rumah," kata Reyhan setelah mereka selesai makan, nada setengah bicara ke diri sendiri. "Nanti kamu istirahat saja. Jangan ke mana-mana. Kalau mau makan, bikin sesuatu di kulkas dulu kalau aku belum pulang."
Ponsel bergetar di meja dekat Reyhan makan. Reyhan segera mengambilnya. "Mami?"
Nilna hanya memperhatikan sejenak sambil membawa piring dan gelas yang telah kosong ke bak cucian. Dilihatnya Reyhan mengusap wajah, lalu menjawab.
"Iya, Mi." Reyhan menoleh ke arah Nilna. "Apa? Sekarang? Iya... iya, Reyhan ke sana."
Telepon ditutup. Reyhan mengembuskan napas panjang, menatap Nilna dengan ragu.
"Mami suruh aku pulang," katanya. "Aku harus keluar sebentar."
Nilna refleks mengangguk. "Iya, Mas. Nggak apa-apa."
Namun, Reyhan terlihat gelisah. Ia menatap Nilna berkali-kali.
"Saya nggak akan mencuri, Mas," ucap Nilna tak enak hati.
Reyhan kaget dengan kata-kata Nilna baru saja. "Bukan begitu, Nilna. Bukan itu yang aku takutkan."
"Lalu apa?" Mata Nilna sudah buram.
"Aku belum ganti kode," ucap Reyhan cepat. "Aku pikir… siang nanti."
"Memangnya kenapa dengan kodenya?" tanya Nilna ketakutan.
Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn
Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna
Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu
Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,
Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat







