Share

07. Baru sekarang

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-02-04 13:04:47

Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.

Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji.

"Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.

Reyhan hanya tersenyum mengangguk.

Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen.

"Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.

Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.

Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin.

"Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?"

"Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna sebelum perempuan itu sempat menolaknya.

Nilna turun perlahan. Kakinya yang memakai sandal japit sempat ragu menyentuh lantai parkiran basement yang mengilap. Bau khas gedung mahal menyeruak, campuran pendingin udara, sabun lantai, dan sesuatu yang tak bisa ia namai.

Mata Nilna terangkat, mengikuti garis gedung ke atas. Dadanya terasa mengecil.

"Mas, aku kayaknya...." Nilna menggigit bibir. "Aku nggak pernah masuk ke rumah begini."

Reyhan meliriknya singkat. " Jangan takut. Ikuti aku saja."

Mereka melangkah menuju lift. Lorong basement luas, lampu tersusun rapi, tak ada suara selain langkah kaki mereka. Reyhan menempelkan kartu ke panel. Lampu hijau menyala. Pintu lift terbuka tanpa bunyi.

Nilna berhenti di ambang pintu.

"Kamu takut lift?" tanya Reyhan.

Nilna mengangguk kecil.

Reyhan menahan pintu dengan tangannya. "Nggak akan lama. Kita ke lantai dua puluh."

"Dua puluh?" Nilna menelan ludah.

"Pegang aku." Reyhan mengulurkan tangan kosong. Bukan menarik. Hanya menunggu.

Setelah ragu beberapa detik, Nilna meraih ujung lengan baju Reyhan, bukan tangannya. Jemarinya gemetar.

Pintu lift menutup. Ruang kecil itu bergerak naik. Angka-angka menyala satu per satu. Dada Nilna ikut naik turun. Telinganya terasa berdengung.

"Tarik napas," ucap Reyhan pelan.

Nilna menurut. Pandangannya terpaku ke lantai. Saat angka dua puluh menyala, lututnya hampir goyah.

Lift terbuka. Lorong berkarpet menyambut, sunyi, lampu temaram, pintu-pintu tertutup rapat. Tak ada suara orang. Terlalu sepi.

"Kenapa sunyi sekali?"  bisik Nilna.

"Libur, orang pada tidur," jawab Reyhan singkat.

Mereka berhenti di depan satu pintu. Reyhan mengeluarkan ponsel, mengetik cepat. Bunyi klik terdengar. Kunci digital terbuka.

Nilna terpaku.

Apartemen itu luas. Jendela besar menghadap kota. Sofa empuk. Meja kaca. Lampu gantung modern. Semuanya mahal, tapi .... berantakan. Kaus di sandaran kursi. Sepatu dekat meja. Gelas kopi di mana-mana. Selimut di sofa.

"Ini bukan rumah yang rapi," batin Nilna.

"Masuk saja," kata Reyhan, sedikit canggung.

Nilna melangkah masuk perlahan. Tangannya memeluk tas kuat-kuat. 

"Maaf," ucap Reyhan. "berantakan"

Nilna tersenyum. Matanya masih menyapu ruangan. 

"Kamu duduk dulu."

Belum sempat Nilna bergerak, Reyhan sudah menurunkan tasnya, lalu berbalik tergesa. Tangannya menyambar kaus dari sofa, melempar ke arah kamar. Sepatu disusun asal. Jaket dilipat setengah, ditaruh di kursi.

"Kamu nggak usah bantu," katanya saat Nilna hendak membantunya. "Aku beresin sebentar, " ucap Reyhan sambil berlari kecil.

Nilna berdiri kikuk dekat pintu.  Pandangannya mengikuti Reyhan yang mondar-mandir membuka pintu kamar, menendang ember ke sudut, menarik sprei, mengumpulkan celana dari lantai. Gerakannya cepat, cemas, seperti sedang dikejar waktu.

"Mas... santai saja," ucap Nilna pelan, lalu menaruh tasnya. Tangannya ikut bergerak membantu Reyhan.

Reyhan menatap segan sambil terus memasukkan semua pakaian ke kamar. Napasnya terdengar berat. Sesekali ia melirik jam dinding. Jarum bergerak terlalu cepat bagi pikirannya.

Tak lama, Reyhan keluar dari kamarnya. Lalu duduk bersebrangan dengan Nilna setelah menghela nafas panjang kecapean.

Nilna sekilas ingin tersenyum melihat kelelahan di mata Reyhan, namun rasanya ia telah lama tak tahu bagaimana cara tersenyum.

"Kalau pingin senyum, senyum saja, kenapa kamu sembunyikan?"

Nilna menunduk. " E, enggak, Mas."

" Kamu nertawain aku, ya?"

"Habisnya.... " Akhirnya Nilna bisa tersenyum juga.

Reyhan menatapnya tak berkedip. "Kamu lapar?"

"Enggak," elak Nilna malu. Namun, perutnya tak bisa diajak kompromi dengan mengeluarkan bunyi.

Reyhan sontak menatapnya, lalu mengambil handphone di sakunya, mengetik sebuah pesan. 

 "Katanya nggak lapar," cibir Reyhan tersenyum dengan sekilas menatap Nilna. "Memang pas kamu pergi tadi kamu nggak makan?"

Nilna mendongak sebentar lalu menggeleng.

Reyhan menatap curiga. "Jadi beneran kamu nggak pamitan Renji?" tanyanya curiga.

Agak lama Nilna diam, baru dengan takut-takut dia bilang. " Tidak, Mas."

"Ya, Tuhan.... Bagaimana ini?"

Nilna makin menunduk. Sementara dia melihat Reyhan begitu gelisah.

Sejenak hening menyelimuti diantara mereka.

"Sementara kamu di sini, kamu pakai kamar yang di ujung itu. Nanti setelah kamu tenang, kita pikirkan lagi enaknya bagaimana." Akhirnya Reyhan berkata.

"Iya, Mas,"  ucap Nilna sambil berdiri. " Kalau gitu, aku bawa tasku ke sana dulu."

Reyhan mengangguk, ada gurat gelisah yang ditangkap Nilna dalam tatap matanya.

Nilna masuk ke kamar yang dimaksud Reyhan. Bau harum tercium  Nilna. Ia menatap seisi ruangan yang sepertinya terlihat rapi, beda dengan saat ia masuk. Sebuah kamar yang cukup luas dengan tempat tidur tak terlalu besar, tapi cukup mewah menurutnya.

Nilna meletakkan tasnya di bawa, tidak dimasukkan ke dalam almari pakaian yang ada di sana.

Tak lama ia keluar. Harum masakan sudah tercium. Di meja itu sudah terhidang makanan siap disantap.

"Ayo makan, aku sendiri juga lapar,"  ajak Reyhan.

Uap hangat keluar saat penutup dibuka. Aroma sederhana memenuhi ruang.

Nilna menatap makanan itu sejenak, "Terima kasih, Mas."

Reyhan mengangguk. "Ngak usah terimakasih terus."

Nilna tersenyum lalu mengambil sendok. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena lapar saja, tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia makan tanpa takut dimarahi.

"Aku cuma sebentar di rumah," kata Reyhan setelah mereka selesai makan, nada setengah bicara ke diri sendiri. "Nanti kamu istirahat saja. Jangan ke mana-mana. Kalau mau makan, bikin sesuatu di kulkas dulu kalau aku belum pulang."

Ponsel bergetar di meja dekat Reyhan makan. Reyhan segera mengambilnya. "Mami?"

Nilna hanya memperhatikan sejenak sambil membawa  piring dan gelas yang telah kosong ke bak cucian. Dilihatnya Reyhan mengusap wajah, lalu menjawab.

"Iya, Mi."  Reyhan menoleh ke arah Nilna. "Apa? Sekarang? Iya... iya, Reyhan ke sana."

Telepon ditutup. Reyhan mengembuskan napas panjang, menatap Nilna dengan ragu.

"Mami suruh aku pulang," katanya. "Aku harus keluar sebentar."

Nilna refleks mengangguk. "Iya, Mas. Nggak apa-apa."

Namun, Reyhan terlihat gelisah. Ia menatap Nilna berkali-kali.

"Saya nggak akan mencuri, Mas," ucap Nilna tak enak hati.

Reyhan kaget dengan kata-kata Nilna baru saja. "Bukan begitu, Nilna. Bukan itu yang aku takutkan."

"Lalu apa?" Mata Nilna sudah buram.

"Aku belum ganti kode," ucap Reyhan cepat. "Aku pikir… siang nanti."

"Memangnya kenapa dengan kodenya?" tanya Nilna ketakutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   138. Sulit

    “Aku bisa bicara sebentar dengan pengacaranya?" Lelaki itu bicara tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa berubah dalam satu detik.Nilna yang semula berdiri duduk bersandar, langsung menoleh. Matanya membesar. Napasnya tertahan tanpa sadar."Daddy kok ke sini? Katanya nggak sempat waktu aku minta tolong?""Aku cuma ngerasa nggak enak. Biasanya kamu tak pernah minta tolong. Kok tumben?"Lelaki itu berdiri tegap dekat ambang pintu. Kemeja gelap membalut tubuhnya rapi, aura dingin menguar tanpa perlu usaha. Tatapannya tidak berpindah. Sejak masuk, hanya tertuju pada satu orang.Nilna.Pengacara Reyhan sempat terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Silakan, Pak.”Reyhan mengernyit tipis, tapi tidak langsung menyela. Sorot matanya bergeser cepat, mengamati ayahnya. "Tumben," gumannya terdengar Nilna yang di dekatnya.Nilna meremas jemarinya sendiri. Perasaan aneh merayap pelan. Tidak nyaman. Tidak sepenuhnya takut, tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia pahami dengan mu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   137. Kedekatan

    “Aku belum sempat memberinya nama, Bu…”Suara Nilna pelan, nyaris hilang tersapu isaknya sendiri.Rea yang sudah setengah berbalik langsung menoleh. Wajahnya kembali runtuh. Bayi kecil dalam pelukannya bergerak ringan, seperti merespons suara yang begitu akrab.“Belum…?” ulang Rea lirih.Nilna menggeleng. Bibirnya bergetar. “Selama ini aku… takut terlalu berharap,” katanya, terbata. “Bahkan sekarang aku makin akut… kalau aku memberinya nama… aku makin tidak sanggup melepas.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Kesedihan itu seolah menekan dada siapa saja yang mendengar pengakuan itu.Reyhan menunduk sebentar. Tangannya kembali mengepal. Kalimat itu seperti menampar sesuatu dalam dirinya. Ada jeda panjang yang tidak berani ia isi dengan kata-kata sembarangan.“Dia berhak punya nama,” lanjut Nilna, lebih pelan. “Nama yang baik. Nama yang… tidak membawa luka.”Rea mendekap bayi itu lebih erat. Air matanya kembali jatuh, menetes pelan ke kain kecil yang membungkus tubuh mungil itu.

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   134. Rasa ini

    “Kenapa belum istirahat?” Suara tegas, terdengar Nilna tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Seorang petugas rutan berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, sorot matanya menilai satu per satu isi ruangan. “Ibu baru saja melahirkan. Butuh istirahat,” lanjutnya, nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana berubah dingin. Rea langsung berdiri. “Maaf, Bu. Kami hanya… sebentar.” Petugas itu melangkah masuk. Pandangannya berhenti pada bayi yang masih terbaring kecil, lalu beralih ke Nilna yang tampak pucat. “Waktu jenguk seharusnya selesai,” kata petugas itu, singkat. Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah tubuh mereka menolak kenyataan bahwa waktu benar-benar habis. Nilna menunduk. Tangannya masih memegang ujung selimut yang membungkus bayinya. Jari-jarinya gemetar. “Sebentar saja…” Suara Nilna hampir tidak terdengar. “Tolong.” Petugas itu menghela napas pelan. “Tidak bisa lama. Anda harus istirahat." Rea menatap Nilna. Ia melangkah mendek

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   133. Tawaran

    Nilna menatap bingung. “Izin… apa?” Rea kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya. “Ibu ingin membawa bayi ini keluar dari sini.” Jantung Nilna seperti berhenti sesaat. Matanya melebar. Sedetikpun ia tak pernah bisa membayangkan jika ia harus terpisah dari buah hatinya. “Apa… saya tidak salah dengar, Bu? Dia putri saya. Dan mungkin, putri saya satu-satunya." “Ibu nggak akan mengeluarkan kamu dari hidupnya. Ibu akan tetap mengenalkan kalau kamu ibunya. Ibu hanya akan akan membawanya ke keluarga Ibu.” Suara Rea tenang, tapi tegas. “Dia tidak pantas tumbuh di tempat seperti ini.” Nilna membeku. Tangannya yang tadi menggenggam selimut perlahan mengencang. “Bagaimana mungkin saya pisah dari anak saya, Bu?” “Ibu tahu itu sulit.” Rea menjawab cepat. “Justru karena itu, Ibu ingin memberikan hidup yang lebih baik untuknya.” Air mata Nilna mengalir lagi. Kali ini lebih deras. “Saya…” suaranya gemetar. “Saya belum siap berpisah.” Rea menunduk sebentar, lalu kembali mena

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   132. Alasan

    Rea memeluknya erat. Air mata wanita itu luruh. "Tenang, Nilna. Tenang." Nilna masih terisak. "Aku bukan ibu yang baik. Aku... melahirkan dia di sini. Dia pasti malu. Teman-temannya kelak akan menghina dia." Bahu Nilna terguncang. “Jangan takut apa pun, Nilna. Jamgan takut." Rea menghabus air matanya yang juga tak berhenti menetes. Suara itu lembut, namun kuat. Pelukan Rea terasa hangat, menahan tubuh Nilna yang masih gemetar. "Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat setelah kamu berjuang melahirkannya." Nilna menutup mata sesaat. Seharusnya dalam kondisi normal dia sudah tertidur. Tetapi tidak bagi Nilna. Pikiran yang kacau membuat matanya tak jua terpejam. Napasnya belum stabil. Dada naik turun cepat, seolah masih mengejar detik-detik panjang yang baru saja ia lewati. “Bu…” Suara Nilna parau, hampir hilang. “Kenapa… selama ini Ibu pakai cadar? Kalau nggak salah, dulu Ibu nggak berhijab 'kan?" Rea terdiam. Tangannya yang tadi mengusap punggung Nilna berhenti sebentar. Ada jeda y

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   131. Bagaimana bisa?

    "Cepat!” wanita itu terus menggedor. “Buka pintunya sekarang!”Beberapa orang yang bertugas, dengan panik langsung mendekat. Suasana berubah kacau"Mbak, bertahan, ya."Nilna tak dapat menjawab. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kunci berderak. Pintu terbuka dengan bunyi keras."Nilna... " Teriak wanita itu langsung menghambur masuk dan memeluk Nilna. Tak terasa cadarnya tersangkut di pintu besi saat ia menerobos masuk. Nilna yang kesakitan menatap kaget. "Nyonya?""Cepat, cepat.... kalian tangani." Dia begitu panik saat melihat ada cairan merembes di baju yang Nilna pakai. "Tarik nafas, Nilna. Kamu harus kuat."Nilna masih menatapnya tak percaya. Wanita itu seolah tak lagi perduli dengan cadar yang telah terlepas dari mukanya. "Belum… belum waktunya, Bu,” bisik Nilna lemah sambil menatap wanita yang memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, rasa itu datang tanpa peduli. Datang lagi dan lagi. Lebih keras.“Ahhh ....” Jeritan itu pecah. Nilna tak lagi dapat menahan r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status