Share

05. Tak ada rencana

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Tanggal publikasi: 2025-12-01 15:08:33

Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”

“Alasan!” potong Renji kasar.

Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.

“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.

Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”

Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”

Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.

“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”

Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.

****

Malam semakin larut, hampir menginjak pukul 12. Namun, Nilna belum juga mendapati Renji pulang. Ia masih menunggu di ruang tengah karena kalau sampai ia tidur lebih dulu, Renji bisa marah lagi seperti beberapa hari yang lalu.

Tak berselang lama, akhirnya Nilna mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.

Nilna bergegas membuka pintu depan, napasnya tertahan sejak gagang pintu berputar. Namun langkahnya terhenti di ambang.

Di bawah cahaya temaram halaman, ia melihat Renji masih duduk di dalam mobil, bibirnya menempel pada bibir seorang perempuan.

Ciuman itu singkat, tapi cukup untuk membuat dada Nilna terasa runtuh.

Akhirnya, perempuan itu turun lebih dulu, menopang Renji yang jelas mabuk. Wajahnya tampak cantik, tubuhnya tinggi, ramping, tapi masih terlihat mungil saat memeluk Renji dari samping. Tangan perempuan itu melingkar, seolah itu tempat yang wajar baginya. 

Bahkan, Renji juga terlihat begitu nyaman dalam pelukan perempuan itu.

“Siapa perempuan itu?” gumam Nilna lirih, hatinya terasa semakin perih.

Nilna akhirnya melangkah maju. Perempuan itu menoleh, jelas baru menyadari keberadaannya. Wajahnya sempat terkejut sesaat, lalu segera tersenyum tipis.

“Aku mau nganter Mas Renji yang mabuk,” kata perempuan itu ringan, seolah semua yang terjadi barusan tak berarti apa-apa.

Rasa perih di dada Nilna mendadak berubah jadi keberanian yang rapuh.

“Kalau cuma nganter,” suaranya bergetar, tapi tetap keluar, “kenapa sampai ciuman segala? Kalian ini sebenarnya ada hubungan apa?”

Perempuan itu mengangkat alis, lalu tertawa kecil.

“Emangnya itu urusan kamu?” Ia menatap Nilna dari ujung rambut sampai kaki. “Kamu siapa sih? Siapanya Renji sampai nanya-nanya begitu?”

“Aku ini is—”

“Dia cuma pembantu di rumah ini. Jangan dipedulikan,” potong Ayaka cepat yang baru saja keluar dari dalam rumah.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun malam itu. Nilna terdiam, kata-katanya runtuh sebelum sempat terbentuk, sementara tatapan perempuan berubah samar, penuh penilaian. 

“Oh pembantu,” ujar perempuan itu pelan, lalu beralih menatap Ayaka dengan senyum ramahnya.

“Halo, Tante. Saya Keysha. Kita sudah lama nggak ketemu, ya,” sapa perempuan itu sopan. “Tadi Renji minum terlalu banyak, jadi saya antar pulang. Takut terjadi apa-apa di jalan kalau pulang sendiri.”

Ayaka menatap Keysha agak lama, seolah sedang menyesuaikan ingatan dengan wajah di depannya. Alisnya sedikit berkerut, lalu sorot matanya berubah pelan.

“Keysha…” gumamnya. “Anaknya Keyra, ya?”

Keysha tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya, Tante.”

“Oh ya Tuhan,” Ayaka tertawa pelan. Nada suaranya menghangat. “Pantes Tante tadi merasa familiar. Kamu sekarang beda banget. Tante sempat pangling. Padahal, dulu kamu sering datang ke rumah ini.”

Nilna berdiri kaku di samping, dadanya mengencang. Jadi, mereka memang kenal dekat. Tapi itu semua masih tak bisa memberi alasan kenapa Keysha sampai mencium Renji.

“Ayo masuk dulu,” lanjut Ayaka ramah. “Sudah malam. Kamu nginep saja di sini. Anak perempuan nggak baik pulang sendirian jam segini. Nanti Tante yang hubungi mami kamu.”

Nilna refleks melangkah maju. “Bu, tapi—”

Tatapan Ayaka langsung menyapu ke arahnya, dingin dan menekan. Nilna terdiam. Lagi-lagi, ia tak punya ruang untuk bersuara.

“Nanti ngerepotin, Tante,” kata Keysha sungkan.

“Ah, nggak repot,” sahut Ayaka cepat. “Cuma kamar yang bersih kan tinggal kamar Renji. Kamu tidur sama Renji saja. Lagian dulu kalian juga dekat. Tante masih ingat, loh.”

Keysha tampak canggung. “Itu kan sudah lama, Tante. Masa lalu,” katanya hati-hati, melirik Renji yang masih setengah sadar.

Ayaka tersenyum kecil.

“Tante tahu. Tapi Tante jujur saja, Tante masih berharap kamu yang jadi menantu Tante. Kamu cocok sama Renji.” Pandangannya sekilas meluncur ke Nilna. “Pendidikannya jelas, lingkungannya juga. Tante senang kalau bisa besanan sama Keyra.”

Tatapan Ayaka sekilas meluncur ke arah Nilna, tajam dan meremehkan. “Beda sama orang-orang yang asal masuk rumah ini.”

Nilna merasa dadanya kian kosong. Setiap kata Ayaka seperti menegaskan bahwa ia tak pernah benar-benar dihitung. Bukan karena salah, tapi karena ia memang dianggap tak pantas sejak awal. 

Ayaka berdehem pelan, lalu berbalik ke arah Keysha.

“Sudah, bantu Tante antar Renji ke kamar. Dia pasti capek,” katanya ringan, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. “Kamu juga sekalian istirahat saja di situ. Besok pagi baru kita mengobrol lagi.”

Keysha tampak ragu sesaat, tapi akhirnya mengangguk. Ia menuntun Renji ke kamar, sementara Ayaka mengikuti dari belakang.

Pintu kamar tertutup perlahan, tapi bunyinya terasa keras di telinga Nilna. Seperti palu yang memaku posisinya di luar segalanya.

“Bu, ini keterlaluan,” suara Nilna akhirnya pecah. Tangannya gemetar. “Saya ini kan masih istrinya Mas Renji.”

Ayaka menoleh dengan wajah dingin.

“Istri?” katanya mengejek. “Tahu diri saja. Jangan ganggu Renji sama Keysha. Kamu ke kamar belakang saja. Itu tempat kamu.”

“Tapi, Bu …”

“Sudahlah, kamu ini memang tidak tahu terima kasih ya?! Lebih baik kamu pergi tidur, besok pagi siapkan sarapan yang enak.” Ayaka pergi meninggalkan Nilna begitu saja, seolah apa yang ia lakukan ini sama sekali tak berarti apa-apa untuk Nilna.

Sementara itu, Nilna berjalan tertatih ke kamar belakang. Begitu pintu tertutup, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menangis dalam diam, meremas ujung selimut lusuh, merasa seluruh hidupnya runtuh di rumah yang tak pernah menganggapnya ada. Mungkin kali ini ia memang harus pergi.

***

Keesokan paginya, Ayaka keluar dapur dengan wajah kesal. Jam sudah lewat, tapi belum ada masakan di meja. Ia melangkah ke kamar belakang untuk memanggil Nilna.

Namun pintu itu terbuka, dan ruangan di dalamnya kosong. Tidak ada Nilna di sana.

“Nilna! Di mana kamu?!” teriak Ayaka kesal.

Sementara di tempat lain, Nilna terus berjalan tanpa tujuan hingga langkahnya melemah. Dadanya perih, tapi kepalanya terasa jernih untuk pertama kalinya. Ia sadar, bertahan hanya akan mengikis sisa dirinya. Pergi adalah satu-satunya cara menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Di tepi jalan, Nilna menghentikan sebuah angkot. Namun harapannya runtuh saat sopir angkot menoleh ke arahnya dengan senyum yang membuat perutnya mengeras.

“Sendirian aja, Mbak?” tanyanya sambil menatap Nilna tanpa malu.

Nilna mengangguk singkat, jemarinya mencengkeram tas lebih erat.

“Cantik begini kok pagi-pagi sudah keluyuran,” lanjut sopir itu. Tangannya terulur membuka pintu kursi depan dan sedikit ingin meraih tangan Nilna. “Ayo, Abang antar. Tenang saja, sama Abang aman.”

Nilna tersentak, lalu menggelengkan kepalanya.

“Nggak usah, Pak. Saya nggak jadi naik,” ucapnya lirih sambil berusaha menjauh.

Namun sopir itu malah terkekeh dan keluar dari angkot, lalu berdiri di depan Nilna. “Ah, malu-malu amat. Kayak biasanya gak pernah aja. Udah ayo.”

Tangan sopir angkot itu kembali bergerak lebih berani. Ia memegang bahu Nilna, membuat napas Nilna tercekat.

Nilna menggeleng pelan, berusaha mundur, tapi bahunya malah dicengkeram kuat. “Nggak, Pak …”

“Lepasin dia.”

Suara tegas itu tiba-tiba datang dari belakang angkot, membuat Nilna seketika menoleh. 

Reyhan berdiri di sana, tatapannya dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   138. Sulit

    “Aku bisa bicara sebentar dengan pengacaranya?" Lelaki itu bicara tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa berubah dalam satu detik.Nilna yang semula berdiri duduk bersandar, langsung menoleh. Matanya membesar. Napasnya tertahan tanpa sadar."Daddy kok ke sini? Katanya nggak sempat waktu aku minta tolong?""Aku cuma ngerasa nggak enak. Biasanya kamu tak pernah minta tolong. Kok tumben?"Lelaki itu berdiri tegap dekat ambang pintu. Kemeja gelap membalut tubuhnya rapi, aura dingin menguar tanpa perlu usaha. Tatapannya tidak berpindah. Sejak masuk, hanya tertuju pada satu orang.Nilna.Pengacara Reyhan sempat terdiam sejenak, lalu mengangguk sopan. “Silakan, Pak.”Reyhan mengernyit tipis, tapi tidak langsung menyela. Sorot matanya bergeser cepat, mengamati ayahnya. "Tumben," gumannya terdengar Nilna yang di dekatnya.Nilna meremas jemarinya sendiri. Perasaan aneh merayap pelan. Tidak nyaman. Tidak sepenuhnya takut, tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia pahami dengan mu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   137. Kedekatan

    “Aku belum sempat memberinya nama, Bu…”Suara Nilna pelan, nyaris hilang tersapu isaknya sendiri.Rea yang sudah setengah berbalik langsung menoleh. Wajahnya kembali runtuh. Bayi kecil dalam pelukannya bergerak ringan, seperti merespons suara yang begitu akrab.“Belum…?” ulang Rea lirih.Nilna menggeleng. Bibirnya bergetar. “Selama ini aku… takut terlalu berharap,” katanya, terbata. “Bahkan sekarang aku makin akut… kalau aku memberinya nama… aku makin tidak sanggup melepas.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Kesedihan itu seolah menekan dada siapa saja yang mendengar pengakuan itu.Reyhan menunduk sebentar. Tangannya kembali mengepal. Kalimat itu seperti menampar sesuatu dalam dirinya. Ada jeda panjang yang tidak berani ia isi dengan kata-kata sembarangan.“Dia berhak punya nama,” lanjut Nilna, lebih pelan. “Nama yang baik. Nama yang… tidak membawa luka.”Rea mendekap bayi itu lebih erat. Air matanya kembali jatuh, menetes pelan ke kain kecil yang membungkus tubuh mungil itu.

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   134. Rasa ini

    “Kenapa belum istirahat?” Suara tegas, terdengar Nilna tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu. Seorang petugas rutan berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, sorot matanya menilai satu per satu isi ruangan. “Ibu baru saja melahirkan. Butuh istirahat,” lanjutnya, nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana berubah dingin. Rea langsung berdiri. “Maaf, Bu. Kami hanya… sebentar.” Petugas itu melangkah masuk. Pandangannya berhenti pada bayi yang masih terbaring kecil, lalu beralih ke Nilna yang tampak pucat. “Waktu jenguk seharusnya selesai,” kata petugas itu, singkat. Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah tubuh mereka menolak kenyataan bahwa waktu benar-benar habis. Nilna menunduk. Tangannya masih memegang ujung selimut yang membungkus bayinya. Jari-jarinya gemetar. “Sebentar saja…” Suara Nilna hampir tidak terdengar. “Tolong.” Petugas itu menghela napas pelan. “Tidak bisa lama. Anda harus istirahat." Rea menatap Nilna. Ia melangkah mendek

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   133. Tawaran

    Nilna menatap bingung. “Izin… apa?” Rea kembali duduk, lebih dekat dari sebelumnya. “Ibu ingin membawa bayi ini keluar dari sini.” Jantung Nilna seperti berhenti sesaat. Matanya melebar. Sedetikpun ia tak pernah bisa membayangkan jika ia harus terpisah dari buah hatinya. “Apa… saya tidak salah dengar, Bu? Dia putri saya. Dan mungkin, putri saya satu-satunya." “Ibu nggak akan mengeluarkan kamu dari hidupnya. Ibu akan tetap mengenalkan kalau kamu ibunya. Ibu hanya akan akan membawanya ke keluarga Ibu.” Suara Rea tenang, tapi tegas. “Dia tidak pantas tumbuh di tempat seperti ini.” Nilna membeku. Tangannya yang tadi menggenggam selimut perlahan mengencang. “Bagaimana mungkin saya pisah dari anak saya, Bu?” “Ibu tahu itu sulit.” Rea menjawab cepat. “Justru karena itu, Ibu ingin memberikan hidup yang lebih baik untuknya.” Air mata Nilna mengalir lagi. Kali ini lebih deras. “Saya…” suaranya gemetar. “Saya belum siap berpisah.” Rea menunduk sebentar, lalu kembali mena

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   132. Alasan

    Rea memeluknya erat. Air mata wanita itu luruh. "Tenang, Nilna. Tenang." Nilna masih terisak. "Aku bukan ibu yang baik. Aku... melahirkan dia di sini. Dia pasti malu. Teman-temannya kelak akan menghina dia." Bahu Nilna terguncang. “Jangan takut apa pun, Nilna. Jamgan takut." Rea menghabus air matanya yang juga tak berhenti menetes. Suara itu lembut, namun kuat. Pelukan Rea terasa hangat, menahan tubuh Nilna yang masih gemetar. "Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat setelah kamu berjuang melahirkannya." Nilna menutup mata sesaat. Seharusnya dalam kondisi normal dia sudah tertidur. Tetapi tidak bagi Nilna. Pikiran yang kacau membuat matanya tak jua terpejam. Napasnya belum stabil. Dada naik turun cepat, seolah masih mengejar detik-detik panjang yang baru saja ia lewati. “Bu…” Suara Nilna parau, hampir hilang. “Kenapa… selama ini Ibu pakai cadar? Kalau nggak salah, dulu Ibu nggak berhijab 'kan?" Rea terdiam. Tangannya yang tadi mengusap punggung Nilna berhenti sebentar. Ada jeda y

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   131. Bagaimana bisa?

    "Cepat!” wanita itu terus menggedor. “Buka pintunya sekarang!”Beberapa orang yang bertugas, dengan panik langsung mendekat. Suasana berubah kacau"Mbak, bertahan, ya."Nilna tak dapat menjawab. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Kunci berderak. Pintu terbuka dengan bunyi keras."Nilna... " Teriak wanita itu langsung menghambur masuk dan memeluk Nilna. Tak terasa cadarnya tersangkut di pintu besi saat ia menerobos masuk. Nilna yang kesakitan menatap kaget. "Nyonya?""Cepat, cepat.... kalian tangani." Dia begitu panik saat melihat ada cairan merembes di baju yang Nilna pakai. "Tarik nafas, Nilna. Kamu harus kuat."Nilna masih menatapnya tak percaya. Wanita itu seolah tak lagi perduli dengan cadar yang telah terlepas dari mukanya. "Belum… belum waktunya, Bu,” bisik Nilna lemah sambil menatap wanita yang memeluknya dengan penuh kekhawatiran. Tiba-tiba, rasa itu datang tanpa peduli. Datang lagi dan lagi. Lebih keras.“Ahhh ....” Jeritan itu pecah. Nilna tak lagi dapat menahan r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status