LOGINNilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”
“Alasan!” potong Renji kasar.
Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.
“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.
Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”
Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”
Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.
“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”
Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.
****
Malam semakin larut, hampir menginjak pukul 12. Namun, Nilna belum juga mendapati Renji pulang. Ia masih menunggu di ruang tengah karena kalau sampai ia tidur lebih dulu, Renji bisa marah lagi seperti beberapa hari yang lalu.
Tak berselang lama, akhirnya Nilna mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
Nilna bergegas membuka pintu depan, napasnya tertahan sejak gagang pintu berputar. Namun langkahnya terhenti di ambang.
Di bawah cahaya temaram halaman, ia melihat Renji masih duduk di dalam mobil, bibirnya menempel pada bibir seorang perempuan.
Ciuman itu singkat, tapi cukup untuk membuat dada Nilna terasa runtuh.
Akhirnya, perempuan itu turun lebih dulu, menopang Renji yang jelas mabuk. Wajahnya tampak cantik, tubuhnya tinggi, ramping, tapi masih terlihat mungil saat memeluk Renji dari samping. Tangan perempuan itu melingkar, seolah itu tempat yang wajar baginya.
Bahkan, Renji juga terlihat begitu nyaman dalam pelukan perempuan itu.
“Siapa perempuan itu?” gumam Nilna lirih, hatinya terasa semakin perih.
Nilna akhirnya melangkah maju. Perempuan itu menoleh, jelas baru menyadari keberadaannya. Wajahnya sempat terkejut sesaat, lalu segera tersenyum tipis.
“Aku mau nganter Mas Renji yang mabuk,” kata perempuan itu ringan, seolah semua yang terjadi barusan tak berarti apa-apa.
Rasa perih di dada Nilna mendadak berubah jadi keberanian yang rapuh.
“Kalau cuma nganter,” suaranya bergetar, tapi tetap keluar, “kenapa sampai ciuman segala? Kalian ini sebenarnya ada hubungan apa?”
Perempuan itu mengangkat alis, lalu tertawa kecil.
“Emangnya itu urusan kamu?” Ia menatap Nilna dari ujung rambut sampai kaki. “Kamu siapa sih? Siapanya Renji sampai nanya-nanya begitu?”
“Aku ini is—”
“Dia cuma pembantu di rumah ini. Jangan dipedulikan,” potong Ayaka cepat yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun malam itu. Nilna terdiam, kata-katanya runtuh sebelum sempat terbentuk, sementara tatapan perempuan berubah samar, penuh penilaian.
“Oh pembantu,” ujar perempuan itu pelan, lalu beralih menatap Ayaka dengan senyum ramahnya.
“Halo, Tante. Saya Keysha. Kita sudah lama nggak ketemu, ya,” sapa perempuan itu sopan. “Tadi Renji minum terlalu banyak, jadi saya antar pulang. Takut terjadi apa-apa di jalan kalau pulang sendiri.”
Ayaka menatap Keysha agak lama, seolah sedang menyesuaikan ingatan dengan wajah di depannya. Alisnya sedikit berkerut, lalu sorot matanya berubah pelan.
“Keysha…” gumamnya. “Anaknya Keyra, ya?”
Keysha tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya, Tante.”
“Oh ya Tuhan,” Ayaka tertawa pelan. Nada suaranya menghangat. “Pantes Tante tadi merasa familiar. Kamu sekarang beda banget. Tante sempat pangling. Padahal, dulu kamu sering datang ke rumah ini.”
Nilna berdiri kaku di samping, dadanya mengencang. Jadi, mereka memang kenal dekat. Tapi itu semua masih tak bisa memberi alasan kenapa Keysha sampai mencium Renji.
“Ayo masuk dulu,” lanjut Ayaka ramah. “Sudah malam. Kamu nginep saja di sini. Anak perempuan nggak baik pulang sendirian jam segini. Nanti Tante yang hubungi mami kamu.”
Nilna refleks melangkah maju. “Bu, tapi—”
Tatapan Ayaka langsung menyapu ke arahnya, dingin dan menekan. Nilna terdiam. Lagi-lagi, ia tak punya ruang untuk bersuara.
“Nanti ngerepotin, Tante,” kata Keysha sungkan.
“Ah, nggak repot,” sahut Ayaka cepat. “Cuma kamar yang bersih kan tinggal kamar Renji. Kamu tidur sama Renji saja. Lagian dulu kalian juga dekat. Tante masih ingat, loh.”
Keysha tampak canggung. “Itu kan sudah lama, Tante. Masa lalu,” katanya hati-hati, melirik Renji yang masih setengah sadar.
Ayaka tersenyum kecil.
“Tante tahu. Tapi Tante jujur saja, Tante masih berharap kamu yang jadi menantu Tante. Kamu cocok sama Renji.” Pandangannya sekilas meluncur ke Nilna. “Pendidikannya jelas, lingkungannya juga. Tante senang kalau bisa besanan sama Keyra.”
Tatapan Ayaka sekilas meluncur ke arah Nilna, tajam dan meremehkan. “Beda sama orang-orang yang asal masuk rumah ini.”
Nilna merasa dadanya kian kosong. Setiap kata Ayaka seperti menegaskan bahwa ia tak pernah benar-benar dihitung. Bukan karena salah, tapi karena ia memang dianggap tak pantas sejak awal.
Ayaka berdehem pelan, lalu berbalik ke arah Keysha.
“Sudah, bantu Tante antar Renji ke kamar. Dia pasti capek,” katanya ringan, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. “Kamu juga sekalian istirahat saja di situ. Besok pagi baru kita mengobrol lagi.”
Keysha tampak ragu sesaat, tapi akhirnya mengangguk. Ia menuntun Renji ke kamar, sementara Ayaka mengikuti dari belakang.
Pintu kamar tertutup perlahan, tapi bunyinya terasa keras di telinga Nilna. Seperti palu yang memaku posisinya di luar segalanya.
“Bu, ini keterlaluan,” suara Nilna akhirnya pecah. Tangannya gemetar. “Saya ini kan masih istrinya Mas Renji.”
Ayaka menoleh dengan wajah dingin.
“Istri?” katanya mengejek. “Tahu diri saja. Jangan ganggu Renji sama Keysha. Kamu ke kamar belakang saja. Itu tempat kamu.”
“Tapi, Bu …”
“Sudahlah, kamu ini memang tidak tahu terima kasih ya?! Lebih baik kamu pergi tidur, besok pagi siapkan sarapan yang enak.” Ayaka pergi meninggalkan Nilna begitu saja, seolah apa yang ia lakukan ini sama sekali tak berarti apa-apa untuk Nilna.
Sementara itu, Nilna berjalan tertatih ke kamar belakang. Begitu pintu tertutup, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menangis dalam diam, meremas ujung selimut lusuh, merasa seluruh hidupnya runtuh di rumah yang tak pernah menganggapnya ada. Mungkin kali ini ia memang harus pergi.
***
Keesokan paginya, Ayaka keluar dapur dengan wajah kesal. Jam sudah lewat, tapi belum ada masakan di meja. Ia melangkah ke kamar belakang untuk memanggil Nilna.
Namun pintu itu terbuka, dan ruangan di dalamnya kosong. Tidak ada Nilna di sana.
“Nilna! Di mana kamu?!” teriak Ayaka kesal.
Sementara di tempat lain, Nilna terus berjalan tanpa tujuan hingga langkahnya melemah. Dadanya perih, tapi kepalanya terasa jernih untuk pertama kalinya. Ia sadar, bertahan hanya akan mengikis sisa dirinya. Pergi adalah satu-satunya cara menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
Di tepi jalan, Nilna menghentikan sebuah angkot. Namun harapannya runtuh saat sopir angkot menoleh ke arahnya dengan senyum yang membuat perutnya mengeras.
“Sendirian aja, Mbak?” tanyanya sambil menatap Nilna tanpa malu.
Nilna mengangguk singkat, jemarinya mencengkeram tas lebih erat.
“Cantik begini kok pagi-pagi sudah keluyuran,” lanjut sopir itu. Tangannya terulur membuka pintu kursi depan dan sedikit ingin meraih tangan Nilna. “Ayo, Abang antar. Tenang saja, sama Abang aman.”
Nilna tersentak, lalu menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah, Pak. Saya nggak jadi naik,” ucapnya lirih sambil berusaha menjauh.
Namun sopir itu malah terkekeh dan keluar dari angkot, lalu berdiri di depan Nilna. “Ah, malu-malu amat. Kayak biasanya gak pernah aja. Udah ayo.”
Tangan sopir angkot itu kembali bergerak lebih berani. Ia memegang bahu Nilna, membuat napas Nilna tercekat.
Nilna menggeleng pelan, berusaha mundur, tapi bahunya malah dicengkeram kuat. “Nggak, Pak …”
“Lepasin dia.”
Suara tegas itu tiba-tiba datang dari belakang angkot, membuat Nilna seketika menoleh.
Reyhan berdiri di sana, tatapannya dingin.
Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn
Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna
Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu
Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,
Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat







