LOGIN
Di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, di akhir tahun 2012, suasana duka itu kembali hadir. Pemuda yang masih tergolong remaja itu langsung pucat dan jatuh tak sadarkan diri ketika seorang dokter yang menangani ibunya yang sakit di ruang ICCU memberitahukan hal yang paling dikhawatirkannya selama ini.
“Kami minta maaf. Kami sudah berusaha sebatas kemampuan kami untuk menyelamatkan nayawa ibunya adik, namun nampaknya Tuhan berkehendak lain. Kami berharap ….”
***
Pemuda itu bernama Harun. Ia melangkah dengan wajah berselimut duka kala melangkah mengikuti jenazah sang ibunda menuju pemakaman desa. Ia tidak lagi menangis. Mungkin karena air matanya telah habis. Atau mungkin air matanya semuanya mengalir ke dalam. Ke dalam ruang batinnya yang tiba-tiba terasa kosong, hampa, karena sebuah lehilangan besar. Ini adalah kehilangan besar untuk kedua kalinya, setelah kepergian sang ayah secara tragis tiga tahun yang lalu, kini sang ibunya pun meninggalkannya buat selama-lamanya.
Dan, ketika ia menatap wajah kaku sang ibu yang tersingkap sesaat sebelum ditutupi dengan papan liang lahat, ia pun menangis. Kali itu air matanya keluar. Entah itu adalah air mata yang terakhir kali yang ia deraikan.
Seorang laki-laki paruh baya meletakkan tangannya di atas pundakknya dari samping dan mengelus-elusnya lembut, selembut ucapannya, “Kamu harus tabah, dan kamu harus kuat, Run. Semua kita akan mengalami kondisi seperti ini. Kita hanya sedang menunggu giliran saja. Itu adalah takdir dan ketetapan. Lebih banyaklah berdoa buat ibu dan ayahmu, itu sebagai tanda bakti kamu sebagai seorang anak yang sholeh.”
Harun tahu itu siapa laki-laki itu. Ia manggut-manggut. Dia adalah laki-laki yang merupakan paman kandungnya, adik dari almarhumah ibunya. Namanya Paman Hanif. Apa yang dikatakan laki-laki itu tidak salah, dan sangat benar. Ya, iya harus tabah dan harus kuat, dan kondisi itu akan dialami oleh semua manusia, dan kita hanya sedang menunggu giliran saja. Hanya saja, di sisi lain, ia sangat kecewa dengan laki-laki itu. Ia ingat dua hari yang lalu, ia datang ke rumah laki-laki itu untuk meminta pinjaman buat biaya operasi ibunya, namun laki-laki itu tidak bersedia meminjamkannya.
“Ibu masih dalam kondisi koma, Paman. Menurut dokter, beliau harus menjalankan operasi untuk pemasangan ring jantungnya. Biayanya cukup besar. Aku ke mari untuk minta pinjaman lagi pada Paman agar Ibu bisa segera dioperasi,” ucap Harun saat itu dengan wajah penuh harap.
“Operasi pemasangan ring jantung?” tanya Paman Hanif dengan suara yang agak tinggi, namun pada wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keprihatinanya.
“Iya, Paman. Hanya Paman satu-satunya yang bisa aku pinjamin dan harapkan. Aku berjanji untuk mengganti semua uang Paman walau tidak sekaligus.”
“Wah, wah, kalau sudah urusan jantung itu biayanya tidak sedikit, Run. Membayangkan saja membuat jantung Paman sampai berdetak tidak beraturan. Gimana itu?”
“I-iya, Paman. Maafkan aku karena sudah sangat merepotkan Paman dan Bibi.”
Harun masih ingat, untuk perawatan ibunya di ruang ICCU yang terdahulu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Bahkan ia harus meminjam uang pada Paman Hanif itu lagi, namun dengan menitipkan sertifikat rumah milik mereka. Memang dia sebenarnya sudah tahu jika sang paman pasti akan berat untuk menambah pinjaman lagi. Namun mau apa lagi, hanya pamannya itu saja orang yang bisa ia pinjami.
“Memang kamu akan butuh uang berapa lagi?” tanya Paman Hanif, kemudian. Ucapan yang bernada rendah itu langsung membuat wajah Harun jadi sedikit cerah. Belum benar-benar cerah. “Pasti Pak Dokter sudah memberitahukan biayanya, kan?”
“Iya, Paman. Dokter hanya memperkirakan sekitar lima puluh juta, Paman.”
“Apa? Lima puluh juta?” Kamu mau minjam lagi sebesar itu? Gila kamu, Run! Yang dulu saja kamu pinjam dua puluh juta, belum satu sen pun dikembalikan. Dan sekarang kamu mau minjem lagi dengan jumlah nyang lebih tinggi lagi?”
“Iya, Paman, karena untuk biaya pemasangan ring jantung sekitar itu besarnya. Tolonglah, Paman, bantulah Ibu dengan jaminan sertifikat rumah yang telah aku titipkan pada Paman,” sahut Harun dengan wajah yang memelas.
“Paman minta maaf, Run, kayaknya sudah gak bisa. Yang dulu dua puluh juta. Harga untuk tanah dan rumahmu itu saja belum tentu bisa laku dengan harga tujuh puluh juta. Jika pun kamu akan mengembalikannya, itu tentu saja sangat lama, karena kan kamu harus bekerja dan menabung cukup lama juga. Maaf, Run, Paman benar-benar gak bisa.”
“Ya paling tidak Paman pinjamilah sebagian. Sebagian lagi saya coba cari ke tempat-tempat lain. Mungkin dua atau tiga puluh juta saja.”
“Gak bisa, Run ….” Tiba-tiba istrinya Paman Hanif, Bibi Isti, bersuara sembari keluar dari ruang dalam rumahnya, langsung memotong kalimat Harun. “Kami juga sedang butuh dana untuk membesarkan usaha kami. Tolong kamu cari dulu pinjaman di tempat lain, ya? Operasi jantung ibumu diundurkan dulu, sampai kamu mendapatkan biaya operasinya.”
Kalimat itu sebuah penegasan, bahwa ia tak mungkin mendapatkan bantuan lagi di tempat itu. Harun pun pamit dengan perasaan kecewa dan putus asa. Pamannya pun tidak bersedia lagi mengulurkan tangan mereka, walau dalam bentuk pinjaman.
Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid
“Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t
Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala
Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja
Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny
Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang







