LOGINKael berdiri mematung di koridor yang mendadak sunyi setelah dentuman pintu kamar Sabrina meredam. Ia masih bisa merasakan getaran dari dinding tadi akibat kemarahan sang gadis yang tak terduga itu. Sementara kini hadapannya, Gladis masih terengah-engah, wajahnya memerah padam antara syok dan terhina.
"Kael! Kau lihat itu? Dia sudah gila!” rengek Gladis, tangannya gemetar mencengkeram kruk. "Dia berani membentakku
Sabrina berdiri di depan cermin besar kamar hotelnya, menatap bayangan wanita yang hampir tidak ia kenali sebagai dirinya sendiri. Ia mengenakan setelan power suit berwarna charcoal grey yang dipadukan dengan blus sutra berwarna gading. Rambutnya yang dulu selalu diikat seadanya, kini tertata rapi dalam sanggul modern yang menonjolkan garis rahangnya yang tegas. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis polos yang selalu menunduk dan meminta maaf."Mama cantik!" suara cadel Aliz memecah lamunan Sabrina. Bocah itu sedang duduk di atas ranjang, asyik dengan boneka kelincinya. Sabrina tersenyum, meski hatinya mencelos. Ia berlutut di depan Aliz, merapikan poni bocah itu."Mama harus pergi sebentar untuk bekerja ya, Sayang. Aliz bersama Tante Stella dulu ya? Nanti kalau sudah selesai, kita bisa jalan-jalan.""Janji?" Ali
"Aku tidak heran sebenarnya. Sabrina itu cukup pintar," celetuk Gladis memecah keheningan di dalam Presidential Suite yang temaram. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kael yang masih mematung menatap kerlap-kerlip lampu Zurich. "Dia bukan lagi karyawan rendahan yang dulu selalu menunduk padamu. Bisa jadi di Berlin sana dia bertemu dan menikah dengan pebisnis handal sepertimu. Apalagi dia ternyata cinderella yang berasal dari keluarga yang terpandang. Wajar bukan?” Kael tidak menyahut, namun rahangnya mengeras. Kata-kata Gladis barusan seperti menyiramkan bensin ke api cemburu yang sejak tadi membakar dadanya. Bayangan Sabrina didekap pria lain. Entah itu pria yang mungkin jauh lebih tampan, kaya atau berada di atasnya dalam hal apapun membuat ulu hati Kael terasa nyeri. Gladis melirik profil wajah Kael dari sa
"Kenapa tidak bilang sih kalau kalian berurusan dengan O'Shea?" Sabrina menggerutu. Tangannya bergerak ritmis, mengusap pelan puncak kepala si kecil yang mulai mengantuk.Adrian yang duduk di kursi depan, menoleh sedikit dengan senyum kebapakan yang tenang. "Memangnya kenapa, Nak? Ini masalah bisnis. Apapun akan diterima selama membawa keuntungan bagi perusahaan kita," jawabnya dengan nada berwibawa namun lembut.Ganda, yang duduk di samping Sabrina, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Kalian mengobrol apa saja tadi? Aku lihat kau cukup lama berdiri di sana bersamanya.""Mana ada begitu," jawab Sabrina ketus. Ia memalingkan wajah, enggan memperpanjang bahasan tentang tatapan Kael yang tadi seolah ingin menguliti rahasianya.Ganda terkekeh, sengaja ingin memancing emosi adiknya. "Jangan marah begitu dong. Kau ini 'kan sudah jadi mama-mama, dan..." ia melirik jahil ke arah Sabrin
Angin musim dingin Zurich berdesis tajam, menyapu butiran salju halus yang mendarat di atas karpet rumput sintetis taman atap gedung Pratama Group. Di sana, di bawah langit abu-abu yang menggantung rendah, waktu seolah kehilangan detaknya. Kael Mahendra O’Shea berdiri mematung, tubuhnya yang tegap terasa kaku seperti pilar batu yang tertanam di tengah badai. Beberapa meter di depannya, seorang wanita sedang berlutut di atas lantai yang dingin. Wanita itu bukan lagi bayangan rapuh yang dulu sering ia lihat dalam balutan seragam asisten yang kusam. Kini, dalam balutan long coat kasmir berwarna krem yang elegan, Sabrina tampak memancarkan otoritas yang tenang sekaligus kelembutan yang menyakitkan untuk dipandang. 
"Gladis," suara Kael terdengar parau saat ia menghubungi sekretarisnya lewat sambungan internal kamar hotel. "Cari tahu di mana lokasi laboratorium utama mereka. Aku tahu mereka berbasis di Berlin, tapi mereka pasti punya kantor perwakilan di Zurich ini selama pameran berlangsung. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Aku ingin tahu siapa orang di balik formula ini." Keesokan paginya, di dalam limosin mewah yang membelah jalanan Zurich yang tertutup salju tipis, Gladis duduk dengan wajah tegang. Ia masih merasakan panas di pipinya setiap kali mengingat hinaan Ganda di malam gala. Sebagai bentuk pembalasan, ia bekerja dua kali lebih keras untuk menguliti rahasia Pratama Group."Kael, akses menuju sang inovator dijaga ketat oleh firma hukum elit," lapor Gladis sambil menyerahkan tabletnya saat mereka menuju kantor sementara Pratama di pusat kota. "Data pribadinya dikunci rapat. Bahkan para peneliti senior tidak pernah menyebut namanya. Mereka hanya memanggiln
Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Zurich memantulkan kemewahan yang menyesakkan. Di tengah denting gelas sampanye, paviliun Pratama Group berdiri angkuh. Ganda memegang sebuah tabung kecil berisi cairan polimer bening yang berkilau di bawah lampu sorot."Material ini bukan sekadar penemuan, ini adalah masa depan industri otomotif dunia," suara Ganda bergema penuh otoritas. Kael O’Shea melangkah maju, membelah kerumunan dengan auranya yang mengintimidasi."Presentasi yang cukup dramatis, Ganda. Aku ingin spesifikasi teknisnya. Jika material ini sehebat klaimmu, O’Shea Corp siap membicarakan kontrak eksklusif." Ganda menoleh, senyum tipis yang menghina tersungging di bibirnya. Ia melirik jam tangan Patek Philippe edisi terbatas di pergelangan tangannya, sebuah simbol kesuksesan yang mustahil ia miliki saat perusahaannya nyaris kolaps beberapa musim lalu."Eksklusif? Kau terlambat, Kael. Slot untuk Asia sudah hampir habis dipesan oleh konsorsium







