LOGINKemacetan sore menuju arah luar kota terasa begitu menjemukan. Di dalam kabin SUV hitam milik Kael yang kedap suara, Aliz yang duduk di baris belakang bersama Sabrina mulai merasa bosan setelah menghabiskan dua judul film kartun. Bocah berusia dua setengah tahun itu mulai bergerak gelisah, membolak-balik boneka jerapahnya, sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya menatap ke arah spion tengah. Cukup lama Aliz memperhatikan pantulan di kaca kecil itu, sampai akhirnya ia menunjuk ke depan dengan dahi mengernyit polos."Om... kenapa lihat Mama terrrus?" tanyanya dengan pelafalan huruf R yang begitu khas karena memang ia baru saja membiasakan diri dengan lidahnya. Pertanyaan super jujur dari mulut mungil i
Isi kepala Sabrina mendadak mendidih. Penolakan telak yang baru saja dilayangkan ayahnya membuat atmosfer di dalam apartemen terasa begitu mencekik. Sepasang matanya bergerak gelisah, menatap profil samping Kael yang kini tampak begitu kaku dengan rahang yang mengeras sempurna. Ya. Sabrina dirundung ketakutan yang hebat. Ia tahu betul siapa Kael, pria dengan harga diri setinggi langit yang tidak biasa didebat, apalagi ditolak mentah-mentah di depan umum. Bagaimana jika Kael murka? Bagaimana jika pria itu tersinggung dan memilih untuk berbalik pergi lalu mendiamkannya berhari-hari? Namun di sisi lain, benak Sabrina juga dipenuhi kebingungan yang teramat sangat atas sikap Adrian. Tumben sekali ayahnya bersikap sekeras dan sefrontal ini. Bukankah hubungan mereka sudah membaik setelah perseteruan tiga tahun lalu? Kenapa saat ini ayahnya mendadak memasang benteng pertahanan begitu tinggi, seolah-olah Kael adalah ancaman besar yang harus dihalau dari agen
“Ya. Kami memang mau pergi yang jauh.”“Begitu ya?” gumam Kael yang kini melirik ke arah sumber suara. Di sana ada Aliz yang menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh semangat.“Kami mau pergi lihat gajah sama kelinci-kelinci lucu!" Bocah kecil itu melompat-lompat kecil di depan sofa sambil menunjukkan boneka binatang di pelukannya, memamerkan rencana besarnya kepada Kael yang masih berdiri diam di dekat ruang tengah. Kael menundukkan pandangannya, menatap sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipi gembil Aliz. Senyum tipis yang sarat akan rasa penasaran terukir di wajah tampannya. Ia kemudian beralih menatap Sabrina yang berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah yang tampak agak panik."Melihat gajah sore-sore begini?" tanya Kael, menuntut penjelasan dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Tatapannya yang tajam langsung mengunci manik mata Sabrina. Sabrina mengembuskan napas panjang, merasa tidak punya pilihan lain selain membongkar renca
“Aku tidak bisa tenang kalau tidak menyusulnya ke sana hari ini juga.” Suara Ganda terdengar berat, dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. Ia berdiri di tengah ruang apartemen sambil meremas ponselnya kuat-kuat, seolah berharap kabar dari Singapura akan berubah menjadi lebih baik jika ia terus menatap layar itu.Sabrina mengangguk pelan. Ia bisa melihat jelas kepanikan di mata kakaknya.“Pergi saja, Bang,” ujarnya lembut sambil menepuk bahu Ganda untuk menenangkan. “Urusan Aliz biar aku yang tangani di sini.”Ganda mengusap wajahnya kasar. “Tapi aku…”“Aku akan memastikan dia baik-baik saja,” potong Sabrina tegas. “Kau fokus saja pada terapi Gladis.” Kalimat itu sedikit melegakan Ganda. Namun, masalahnya ternyata belum selesai
Terkejut mendengar tawa Kael di telepon, Sabrina langsung turun dari ranjang tanpa alas kaki. Ia mengendap-endap keluar dari kamar Aliz, berjalan cepat menuju pintu depan apartemennya, lalu menempelkan wajahnya pada peephole, yakni lubang intip pintu di sana. Sabrina menahan napas. Di luar sana, di koridor yang sepi dan temaram, Kael benar-benar berdiri bersandar di bingkai pintu unit apartemennya yang terbuka sedikit. Pria itu masih menempelkan ponsel di telinga, menatap lurus ke arah pintu Sabrina dengan senyum jahil yang jarang sekali ia tunjukkan."Aku tahu kau sedang mengintipku," bisik Kael lewat telepon, suaranya terdengar sangat dekat sekaligus seksi. "Buka pintunya sebentar, atau aku yang akan mengetuknya sampai Aliz dan Ganda terbangun?" Sabrina
"Ayolah, Kael. Kita bisa minum di lounge sana sebentar saja," bujuk Rosaleen sembari mempererat gelayutan tangannya di lengan Kael, menunjuk ke arah bar mewah hotel dengan dagunya. Kael tidak goyah sedikit pun. Dengan gerakan kasar dan tak bersahabat, ia menyentak tangannya hingga tautan Rosaleen terlepas sepenuhnya. Tatapannya menatap wanita itu dengan kilat kemarahan yang mematikan."Aku lelah. Aku ingin pulang," tolak Kael tegas. Namun, Rosaleen tidak menyerah begitu saja. Di bawah pendar lampu koridor yang temaram, ia justru sengaja melangkah maju, memangkas jarak hingga tubuh mereka hampir tak berjarak. Dengan berani, jemari lenturnya bergerak naik, menyentuh dada bidang Kael dan merapikan kerah kemeja pria
Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&
Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,
“Abang tahu enggak. Gara-gara foto kita kemarin bosku malah besar. Dia jadi salah sangka.”“Halah! Cuma foto doang kok.”“Tapi ‘kan, Bang..”“Udah ya, Sab
Setelah Gladis diusir dari ruangan, Kael masih terpaku pada meja kerjanya. Punggungnya menyandar pada kursi kulit ergonomis yang dingin, namun matanya tak lepas dari permukaan meja jati yang baru saja dibersihkan.&nb







