LOGIN“Ini salah paham.”
Ganda bergidik ngeri mendengar ujaran Gladis barusan. Namun dalam sepersekian detik, otaknya yang licik bekerja lebih cepat dari kilat.
Sebuah ide gila pun muncul secara tiba-tiba di benaknya, sebuah rencana untuk membalikkan keadaan sekaligus menghancurkan narasi kedekatan Kael dan Gladis yang
Kael menunjuk dengan gerakan ragu, jarinya terangkat sedikit ke arah bagian belakang rok legging merah muda yang dikenakan Sabrina."Itu, sepertinya kau..." Sabrina membeku. Detik itu juga, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembap merembes di area sensitifnya. Sebuah firasat buruk mulai merayapi benaknya saat otaknya tiba-tiba memutar balik tanggal di kalender yang ia abaikan karena terlalu sibuk mengurus skema polimer kemarin. Ia haid. Dan jika melihat tatapan orang-orang, darah itu pasti sudah menembus kain tipis roknya, membentuk pola merah yang sangat kontras di atas warna merah muda cerah. Wajah Sabrina yang tad
Perjalanan menuju lapangan umum yang terletak tak jauh dari kompleks apartemen itu hanya memakan waktu sepuluh menit. Namun, bagi Sabrina, duduk di kursi penumpang sementara Kael yang menyetir mobil terasa seperti perjalanan panjang yang penuh kecanggungan. Pria itu tampak santai dengan tangan satu di kemudi, sementara Sabrina terus merapikan topi olahraganya yang sebenarnya sudah terpasang sempurna. Begitu sampai, kencan yang menjadi syarat bantuan Kael tadi malam pun dimulai. Bukan makan malam romantis di restoran berbintang, melainkan olahraga lari di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyengat. Masalah muncul dalam lima menit pertama. Tinggi Sabrina yang hanya 156 cm jelas kalah telak dengan Kael yang menjulang lebih dari 30 cm darinya. Langkah panjang Kael membuat
"Aku tidak memaksa. Aku hanya memberikan penawaran.” Kael berkata dengan suara tenang dan senyum yang terkulum. Ia menyesap kopinya perlahan, menatap Sabrina dari balik uap tipis yang mengepul di antara mereka.Namun, Sabrina malah membelalakkan matanya begitu lebar. "Kau... apa-apaan? Permintaanmu tidak masuk akal!!""Kalau begitu ya sudah. Tugasku selesai sampai di sini membantumu. Lagipula aku yakin kau cukup pintar untuk mengatasinya sendiri," sahut Kael enteng. Ia mulai menutup laptopnya, seolah-olah data sabotase polimer tipe B yang mereka bahas tadi bukan lagi urusannya."Kael? Kau sengaja memanfaatkanku ya?" sentak Sabrina dengan mata yang masih melotot. Napasnya memburu, kesal melihat ketenangan pria yang dulu adalah atasannya itu."Aku hanya sedang bernegosiasi." Sabrina berdecak sebal. Ia merasa terjebak dalam skema pria ini. Di satu sisi, ia butuh akses data industri milik Kael untuk membuktikan kecurangan Rama sebelum laboratorium risetnya benar-be
"Tidak. Aku belum tidur. Kenapa?" Kael yang padahal baru saja merebahkan diri di atas ranjangnya yang luas, sontak mendudukkan diri begitu menyambut panggilan telepon dari Sabrina. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar tenang dan tidak terlalu bersemangat."Datang saja," jawabnya santai sebelum memutus sambungan. Tak lama kemudian, bel pintu unitnya berbunyi. Begitu pintu dibuka, sosok Sabrina muncul dengan penampilan yang sangat jauh dari kesan formal. Gadis itu mengenakan kaos oblong berwarna kuning cerah dengan gambar bebek berenang di bagian perut. Celananya berbahan kaos dengan panjang sebetis, dan rambutnya dicepol asal-asalan. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, menambah kesan serius pada wajahnya yang tampak pucat. Tak lupa, sebuah laptop dipeluknya
Kael menutup pintu unit apartemennya dengan punggung bersandar pada kayu jati yang dingin. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang masih sedikit kotor karena noda jelaga. Ia senyam-senyum sendiri mengingat betapa gugupnya Sabrina melihatnya tanpa baju tadi. Namun, senyum itu segera berganti dengan decakan kesal."Sial, menaklukkan hati wanita itu jauh lebih sulit daripada mengakuisisi sepuluh perusahaan sekaligus," gumam Kael pelan. Ia menyentakkan tubuhnya dengan kasar. Meski ia merasa senang karena berhasil menciptakan sedikit gangguan di hati Sabrina, ia juga merasa konyol."Kalau dewan direksi tahu aku mencuci piring dengan celemek bunga demi sebuah perhatian, harga diriku benar-benar tamat," keluhnya sam
"Cepat pakai bajumu!" Sabrina berseru dengan suara yang bergetar gugup. Pandangannya sudah berpaling ke samping dengan satu telapak tangan yang menutupi sebagian wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke leher. Sabrina membelalak saat menyadari ruang tengah sudah sepi. Ganda dan Aliz entah sudah menghilang ke mana. Mungkin kakaknya itu cukup tahu diri untuk membawa Aliz menjauh dari drama dewasa yang mendadak berubah panas ini. Kini, hanya ada dia dan Kael di dapur yang sempit. Kael terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya terdengar begitu dekat, membuat bulu kuduk Sabrina meremang. Ia sangat menikmati pemandangan di depannya, wajah Sabrina yang memerah seperti kepiting rebus. Alih-alih menuruti perkataan Sabrina, pria i
Setelah Gladis diusir dari ruangan, Kael masih terpaku pada meja kerjanya. Punggungnya menyandar pada kursi kulit ergonomis yang dingin, namun matanya tak lepas dari permukaan meja jati yang baru saja dibersihkan.&nb
Sabrina menarik napas panjang, menatap botol tanpa label yang kini berada di genggamannya. Di ruang kerja yang sunyi itu, ia perlahan mengenakan sarung tangan karet kuningnya. Bunyi karet yang beradu dengan kulit terdengar nyaring
Suara helaan napas Kael terdengar berat di tengah keheningan balkon yang dingin. Di hadapannya, Sabrina masih bersimpuh. Gadis itu menunduk dalam, menangkupkan kedua telapak tangannya dengan tubuh yang sedikit bergetar."Tu
Lorong lantai satu mendadak riuh. Salah satu OB senior bertubuh gempal yang sedari tadi menghina Sabrina tampak benar-benar emosi. Merasa dipermalukan karena kata-kata Sabrina, wanita itu merangsek maju. Ia mengangkat tangannya, b







