Share

174. MASA SIH?

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-04-19 11:01:59

"Rapat hari ini saya nyatakan selesai. Terima kasih atas kerja samanya."

            Suasana dingin itu segera pecah oleh suara derit kursi yang bergeser serentak. Sabrina menjadi yang pertama berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar tasnya dan melangkah keluar, meninggalkan aura mencekam yang tertinggal di ruang rapat Pratama Group.

            Namun, di lobi lift,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   241. HABIS KETEMU PACAR?

    Mobil yang dikemudikan Sabrina membelah jalanan Jakarta dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan dentum jantung di balik dadanya yang masih belum mau mereda. Ketika lampu merah menyala, Sabrina menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan bangunan yang tampak buram. Pikirannya melayang kembali ke kabin jet pribadi beberapa menit yang lalu, ke arah sepasang mata abu-abu yang membelalak kaget dan rasa hangat pipi Kael yang sempat bersentuhan dengan bibirnya.“Bodoh, Sab. Kau ini benar-benar bodoh,” bisiknya pada diri sendiri, menutupi wajahnya yang memanas dengan kedua telapak tangan. Ya. Sabrina merutuki aksi dadakannya tadi. Bagaimana bisa ia melakukan hal seberani itu? Ia adalah gadis yang biasanya lebih suka berdebat dengan logika daripada menyerah pada perasaan. Namun tadi, di depan pria yang p

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   240. CINTA MONYET

    "Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   239. SEBUAH PENGAKUAN

    Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   238. CINTA ITU BOHONG

    Setengah jam kemudian, suasana di dalam kamar Ganda terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja melanda meja makan. Pria itu baru saja merebahkan tubuhnya, berniat memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, getaran dari gawainya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari Gladis.[Rencana kita sepertinya berhasil. Tadi Sabrina bertanya padaku.] Ganda mengulas senyum tipis yang penuh arti. Ia meletakkan kembali ponselnya, menarik selimut, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata, provokasi kecilnya di telepon tadi adalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar. Keesokan paginya, Sabrina sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Ia telah mengirimkan seluruh laporan dan daftar tuga

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   237. TANYAKAN SAJA PADANYA

    Pesan ketus itu muncul di layar gawai Ganda tepat saat ia baru saja hendak menyuap nasi gorengnya.Kael:[Tanyakan saja padanya, adikmu yang masih sangat muda dan sok bijak itu. Kau 'kan kakaknya!] Ganda langsung meringis, nyaris tersedak. Jawaban itu lebih dari cukup untuk mengonfirmasi dugaannya. Atmosfer ruang makan yang mendadak beku dan semprotan Sabrina tadi bukanlah tanpa alasan. Dua orang keras kepala itu jelas sedang terlibat perang dingin yang cukup hebat. Ganda segera meletakkan sendoknya dan bergegas bangkit, mencoba mengejar Sabrina yang sudah melangkah cepat menuju pintu depan. Ia berniat meminta penjelasan yang lebih manusiawi daripada pesan teks Kael yang tajam. Namun, belum sempat dirinya bersuara, Sabrina sudah memberikan isyarat t

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   236. BENAR-BENAR KETERLALUAN

    Deru mesin mobil mewah itu membelah jalanan malam dengan kecepatan yang tidak wajar. Di dalam kabin, suasana yang beberapa jam lalu terasa hangat oleh sisa aroma gula kapas kini berubah mencekam. Kael mencengkeram kemudi dengan rahang yang mengeras sempurna, tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh. Sabrina duduk mematung di sampingnya. Ia berkali-kali menoleh, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun setiap kali melihat profil wajah Kael yang kaku, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang mengganjal, namun di saat yang sama, harga dirinya juga terusik. Setiap kali lampu jalan menyinari kabin, mata Kael menangkap sepasang sandal karakter kucing konyol yang masih mereka kenakan. Alih-alih lucu, itu justru menjadi tamparan bagi eg

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   69. BUKAN YANG PERTAMA

    Sabrina masih mematung di atas tempat tidur mewah itu, bahkan setelah suara langkah kaki Kael menjauh menuju balkon. Matanya tertuju pada sebuah paper bag putih dengan logo brand ternama yang diletakkan sang bos

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   68. CARI CARA LAIN

    "Kau bilang rencanamu sempurna! Tapi apa yang kulihat semalam?" desis Gladis dengan suara rendah yang mengancam. "Kael membawanya pergi! Dia tidak membiarkan satu orang pun mendekat, apalagi wartawan yang sudah kau siapkan itu!"&nb

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   67. SAYA SANGAT PANAS

    "Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?” Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   66. JANGAN JADI BAJINGAN

    Kael memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan sisa kewarasan yang kian menipis.“Kita mau ke mana, hmm?” Kael hanya berdecak sebagai respon dari pertanyaan bernada bahaya barusan.“Tuan?” rengek Sabrina manja.“Kita akan ke apartemenku yang kemarin.”Sab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status