تسجيل الدخولAsap tipis mengepul dari panggangan jagung di pinggir jalan, membawa aroma mentega yang gurih dan bumbu pedas manis yang menggugah selera. Di atas kursi plastik biru yang sedikit goyang, Kael kini duduk dengan posisi yang sangat tidak biasa bagi pria sekelasnya. Jas mahalnya tersampir di sandaran kursi, kemeja putihnya yang masih digulung tadi tampak kontras dengan suasana pasar malam yang berdebu. Sabrina tidak bisa berhenti tertawa. Ia memegang jagung bakarnya dengan santai, sementara di sampingnya, Kael menatap tongkol jagung itu seolah sedang menghadapi dokumen audit yang paling rumit. Kael memegang jagung itu dengan ujung jarinya, sangat berhati-hati seolah satu tetes bumbu saja bisa meruntuhkan harga diri yang ia sandang."Pegang yang benar. Jangan kaku begit
Kael tidak langsung menjawab pertanyaan barusan. Ia hanya mengulas senyum tipis sambil menunjuk ke arah gerbang kayu besar yang dihiasi lampu warna-warni kuno di depan mereka. Suasana bising musik dari pengeras suara tua dan aroma jagung bakar seketika menyerbu indra penciuman mereka. Sabrina tersentak. Matanya membelalak menyadari bahwa mereka kini berada di depan pasar malam rakyat. Ingatannya langsung terlempar pada memori belasan tahun lalu, saat ibu dan ayahnya sering membawa dirinya dan Ganda ke tempat seperti ini. Dada Sabrina terasa sesak. Bukan karena ketakutan yang menghantuinya seminggu terakhir, melainkan karena ia tidak menyangka Kael akan mencari tahu detail sekecil itu tentang kebahagiaan sederhananya."Ayo turun," ajak Kael. 
Langit di luar jendela kantor sudah berubah warna menjadi jingga pekat, tanda sore akan segera berakhir. Di dalam ruangan, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Kael masih setia duduk di sana, menyilangkan kaki dengan santai sambil terus menatap layar ponselnya. Namun, dia tidak sedang memeriksa laporan keuangan, melainkan sebuah pesan dari Ganda terbaca di layarnya.[Titip Sabi ya, Bro. Awas saja kalau kau berani macam-macam.] Kael tersenyum tipis menanggapi pesan barusan. Ia lantas menarik napas panjang, lalu melirik Sabrina yang masih berkutat dengan barisan angka di monitor. Wajah gadis itu terlihat kaku. Kael tahu betul, kesibukan ini hanyalah pelarian agar Sabrina tidak perlu memikirkan kejadian seminggu lalu. Trauma itu masih ada, bersembunyi di balik tu
"Ayolah. Ikut saja makan siang dengan kami," bujuk Ganda sembari menggendong Aliz yang tampak begitu manja di pelukannya. Putri kecilnya itu baru saja dijemput Sabrina dari daycare, dan kini mereka telah tiba di kantor. Sabrina menggeleng perlahan sembari menunjuk tumpukan kertas di mejanya. "Aku masih harus memeriksa data lagi, Bang," tolaknya, memberikan alasan seputar beban pekerjaan yang sebenarnya hanya digunakannya untuk tetap sibuk agar pikirannya tidak melayang ke tempat lain.Ganda berdecak, matanya memicing jenaka. "Jangan sampai kau mengadu pada Ayah kalau aku sibuk pacaran ya?" godanya, berusaha mencairkan suasana kaku yang menyelimuti adiknya selama seminggu terakhir. Sabrina hanya melirik sebal sang kakak, meski sudut bibirnya terangkat tipis. Ia lantas mengalihkan pandangan pada keponakannya yang menggemask
Suara sirene polisi yang menjauh perlahan digantikan oleh kesunyian yang mencekam di dalam gudang sana. Keheningan itu terasa berat, hanya dipecahkan oleh deru napas Sabrina yang pendek dan tidak beraturan. Ia masih terduduk di lantai semen yang dingin, dikelilingi oleh drum-drum kimia yang kini tampak seperti saksi bisu atas horor yang baru saja ia alami. Debu kayu yang beterbangan di antara celah cahaya lampu gudang yang temaram seolah ikut mengendap, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan. Ganda segera bergerak mendekat, melepaskan jaket denimnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tidak langsung memeluk Sabrina. Ada keraguan yang nyata di matanya karena takut memicu trauma adiknya lebih jauh setelah intimidasi obsesif yang dilakukan Rama. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyampirkan jaket itu ke bahu Sabri
“Hanya kita berdua di sini, Sabi.” Suara Rama merayap masuk ke telinga Sabrina seperti racun. Ia bisa merasakan hawa napas Rama yang panas berbaur dengan aroma parfum maskulin yang tajam, kini terasa memuakkan karena bercampur dengan debu kayu yang pengap. Sabrina berjuang melawan mual yang mengaduk perutnya. Ruang geraknya terkunci sepenuhnya oleh beban tubuh Rama yang menekan, membuatnya merasa sesak, seolah oksigen di gudang itu telah habis diserap oleh kegilaan pria di hadapannya itu."Kau tahu, Sabi," bisik Rama lagi, jemarinya kini menelusuri rahang Sabrina dengan kasar. "Menghancurkan kariermu adalah hukuman yang setimpal. Kau terus-menerus menolakku, menganggapku tidak ada, sementara aku sudah memberikan segalanya untuk perusahaan kalian. Jika aku tidak bisa memilikimu dengan cara biasa, maka aku akan memilikimu di kehancuranmu." Rama mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Sabrina, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus seolah sedang meny
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut
"Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian."&n
"Kael, bisakah kau bantu aku membenarkan posisi dudukku? Pinggangku rasanya kaku sekali karena tidak boleh menggerakkan kaki kanan ini sama sekali. Sakitnya sampai ke saraf tulang belakang," rintih Gladis dengan suara yang sengaja dilemahkan, serak dan penuh permohonan.&
Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol terasa begitu panjang bagi Sabrina. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu flat berbunyi ritmis, menciptakan gema di antara dinding-dinding putih yang pucat. Ia berjalan







