LOGIN"Duduk di sana. Jangan bergerak sebelum aku selesai bicara," suara Kael rendah, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.Sementara Rani yang tadinya menggebu-gebu membela harga diri Sabrina, kini benar-benar membeku. Nampan pembersih di tangannya bergetar hebat. Ia melirik Sabrina dengan tatapan minta tolong, namun gadis itu sendiri hanya bisa menunduk dalam, meremas pakaian kerjanya yang masih ia peluk erat.Kael melangkah mendekati Rani, melewati Sabrina tanpa menoleh sedikit pun. Ia berhenti tepat di depan petugas kebersihan itu, memberikan tekanan mental yang luar biasa hanya dengan keberadaannya. "Jadi, menurutmu aku memanfaatkan asistenku sendiri? Merusak masa depannya di dalam kantor ini?""Ma-maaf, Pak... saya... saya cuma khawatir sama Sabrina," cicit Rani dengan suara yang nyaris hilang."Khawatir?" Kael mendengkus. "Khawatirlah pada pekerjaanmu sendiri. Karena mulai detik ini, kau punya tugas tambahan. Bersihkan seluruh kaca balkon di lantai in
Cahaya matahari pagi menembus jendela ruang kerja Kael melalui gorden yang terbuka sedikit. Sinarnya jatuh tepat di atas karpet bulu yang tebal, memperlihatkan posisi tidur yang sangat tidak biasa. Di sana, Kael tertidur pulas sambil memeluk Sabrina dari belakang. Lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggang sang gadis, menarik tubuh mungil asistennya itu merapat ke dadanya seolah sedang mencari kehangatan di tengah dinginnya AC ruangan. Keduanya tampak tertidur sangat lelap setelah semalam suntuk berkutat dengan draf audit Jerman. Kael menjadi orang pertama yang terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya yang mulai terang. Namun, begitu kesadarannya pulih dan ia menyadari posisi mereka yang sangat intim, Kael tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Ia tahu ini sudah melampaui batas profesional yang selama ini ia jaga dengan ketat. Kael hendak beranjak secepat mungkin agar Sabrina tidak menyada
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut sofa ruang kerjanya. Di sana, Sabrina masih tetap pada posisi terakhirnya saat mereka berdiskusi beberapa saat lalu. Blazer hitamnya tersampir sembarang di lengan sofa. Gadis itu duduk lesehan di atas karpet bulu, punggungnya bersandar pada kaki sofa dengan laptop di atas meja yang sejajar dengan pandangannya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini digulung asal-asalan ke atas menggunakan sebuah pensil, menyingkap leher jenjangnya yang bewarna kuning langsat di bawah cahaya lampu kerja yang temaram. "Kau tidak berniat pulang?" suara berat Kael memecah kesunyian, datar namun menuntut. Sabrina tidak mendongak. Jemari
Ruang kerja Kael yang biasanya kaku dan dingin mendadak berubah menjadi ruang kedap udara yang memerangkap dua jiwa dalam gravitasi yang tak terelakkan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang jauh lebih berbahaya daripada fluktuasi saham mana pun. Napas Kael yang hangat terasa menyapu permukaan bibir Sabrina, membawa aroma kopi hitam dan sisa ketegangan rapat yang kini mencair menjadi gairah murni yang tak lagi bisa disembunyikan. Jemari Kael yang melingkar di tengkuk Sabrina memberikan tekanan posesif, seolah-olah ia sedang menaruh seluruh sisa tenaganya pada gadis itu, satu-satunya tempat ia bisa melepaskan topeng keangkuhannya. Sabrina memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam debaran jantung Kael yang berdentum keras di balik kemeja mahalnya. Detak itu begitu cepat, sebuah pengakuan fisik yang jujur bahwa pria sedingin es ini pun bisa luluh. Jemari Sabrina yang semula kaku di dada Kael, perlahan meremas
"Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian." Sabrina mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Kael yang dalam. Ada kejujuran yang langka di sana, sebuah pengakuan bahwa Kael sebenarnya lebih menghargai keberadaan Sabrina daripada drama yang diciptakan Gladis."Saya mengerti, Tuan," jawab Sabrina lirih, pipinya merona tipis. Kael memberikan anggukan kecil, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Gladis yang kini sedang mengepalkan tangan karena cemburu buta. Di rumah sakit, Gladis benar-benar menunjukkan sisi ratu yang menyebalkan. Ia sengaja memperlamb
Kael tidak membuang waktu satu detik pun. Ia melompat turun dari anak tangga ketiga, nyaris menabrak bahu Sabrina yang masih mematung di kaki tangga."Gladis!" seru Kael, suaranya sarat akan kepanikan yang mentah. Sabrina tersentak. Insting profesionalnya mengambil alih. Meski hatinya perih melihat reaksi berlebihan Kael, ia tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk benar-benar terjadi di bawah pengawasannya. Ia ikut berlari di belakang Kael, sepatunya mengetuk lantai dengan ritme cepat yang memacu adrenalin. Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam sana tampak kacau. Gladis tersungkur di karpet bulu di samping tempat tidurnya. Lampu meja kristal pecah berkeping-keping di dekat kakinya yang dibebat gips. Wanita itu memegang pergelangan kakinya dengan wajah y







