Share

SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR
SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR
Penulis: Ericka Ghaniya

Bab 1 - Pekerjaan Rahasia

Penulis: Ericka Ghaniya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 15:40:37

Bab 1 - Pekerjaan Rahasia

  Saat anak seusianya hidup dalam kondisi ekonomi yang stabil, penuh kehangatan cinta dari keluarga lengkap, tapi Lisa justru hidup dengan keras menghadapi kenyataan pahit. Tumbuh di panti asuhan sejak kecil, membuatnya selalu merasa haus akan kasih sayang. 

  Hari itu, Lisa diangkat menjadi anak seorang nenek bernama Gami yang berprofesi sebagai petani kacang di desanya. Gami tak mempunyai anak dan juga telah kehilangan suaminya yang meninggal karena perang, membuatnya harus merasakan hidup sendirian. Sampai akhirnya Gami mendatangi sebuah panti bernama Rumah Aman yang terletak ditengah ibu kota Z. 

  Setelah memutuskan untuk pindah hidup ke kota, Gami juga ingin mengangkat seorang anak dari panti asuhan untuk menemaninya di usianya sudah hampir senja. Dan ia memilih Lisa sebagai anak angkatnya. 

  Lisa sangat senang karena akhirnya ia juga bisa mempunyai keluarga seperti teman-temannya yang lebih dulu pergi dijemput orang tua angkatnya. Kini giliran Lisa merasakan perasaan bahagia itu. 

  “Aku menyayangimu seperti cucuku sendiri, Lisa. Walaupun aku belum pernah merasakan punya anak yang lahir dari rahimku sendiri. Tapi kurasa, usiaku kini juga sama seperti usia suamiku yang sekarang sudah hidup dengan damai bersama alam. Dia selalu mengira bahwa kami akan punya anak dan juga cucu kesayangan. Sayangnya, alam lebih menyayanginya dibandingkan diriku yang malang,” tutur Gami saat pertamakali Lisa menginjakkan kakinya di rumah Gami.

 Anak perempuan berusia sepuluh tahun itu mengangguk-anggukan kepalanya, seolah paham apa yang diucapkan Gami. Dan sekarang, usia Lisa sudah dua puluh empat tahun. Rasanya baru kemarin ia diperkenalkan dengan Gami sebagai orang tua sekaligus nenek angkatnya dari rumah aman. Tapi sekarang, Lisa harus melihat Gami terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit tumornya yang baru ketahuan. 

 “J-jadi … Nenekku masih bisa diselamatkan kan, dok? Berapapun biayanya, aku pasti akan melunasinya. Tapi tolong … tolong selamatkan nenekku,” pinta Lisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca memohon pada pria muda berkacamata itu yang mengenakan jas putih ala kedokteran pada umumnya.

 “Saya tidak bisa mengatakan bisa atau tidaknya, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk hasil yang terbaik. Masalah biayanya, bisa diselesaikan di ruang administrasi, karena itu bukan bagian dari tugas saya,” balasnya rasional.

 Lisa mengangguk paham seraya melihat ke dalam jendela sana. Di mana Gami tengah terbaring lemah tak berdaya dengan kedua mata tertutup. 

 “B-berarti kalau saya belum menyelesaikan administrasi itu … nenek saya belum bisa ditangani untuk operasi, dok?”

 “Belum. Tapi secepatnya harus akan dioperasi paling lambat besok malam, karena kalau tidak … aku tak bisa bilang tumor itu jinak atau juga ganas. Kalau belum menyebar ke bagian organ tubuh yang lain, masih bisa ditangani dengan mudah.”

 Seketika sekujur tubuh Lisa langsung berubah lemas berdiri ditempat. Gami satu-satunya orang di hidupnya yang menganggapnya sebagai keluarga. 

 “Tolong operasi saja sekarang dok, saya akan mencari biaya tambahan untuk pengobatan operasi nenek saya sekarang. Mungkin saya baru bisa mencicilnya sedikit, tapi saya janji akan melunasinya secepatnya,” mohon Lisa dengan air mata yang tak bisa ia bendung di kedua sudut matanya.

 Pria itu tampak menyipitkan kedua matanya seraya membuka masker penutup yang menutupi sebagian wajahnya. “Baiklah, saya akan berusaha. Jangan menangis, nenekmu pasti akan sembuh,” ujarnya menyemangati sambil menepuk bahu Lisa dan pergi meninggalkan ia sendiri didepan ruang ICU itu.

 Untuk pertamakali, Lisa mendapatkan semangat dari seorang pria yang tak dia kenal. Rasanya seperti ada harapan untuknya yang selalu hidup dibayang-bayang kesedihan dan kesendirian.

 “Tumben kamu menelponku, Lis. Ada perlu apa?” suara Nina terdengar dari layar telepon itu. Lisa yang sekarang tengah duduk di halaman rumah sakit sekarang.

 “Pekerjaan paruh waktu yang kamu bilang waktu itu … apakah masih ada, Na?”

 “Kenapa? Kamu butuh uang?”

 “Nenekku membutuhkan biaya yang banyak untuk operasi, dan tabunganku hanya sedikit untuk membayar DP nya,” jelas Lisa lemah. 

 “Hm… aku turut prihatin dengan kabar dari Nenekmu, Lis. Tapi pekerjaan paruh waktu di kedai kopi itu sudah tidak ada,” balas Nina terdengar kecewa.

 Lisa yang saat itu menaruh harap padanya seketika langsung terduduk lemah di taman itu. Udara sekitaran rumah sakit berhembus dingin menyeruak ke dalam pori-pori kulitnya yang putih.

 “Tapi … ada satu kerjaan lagi yang hanya dilakukan pada malam hari. Gajinya cukup besar, tapi apakah kamu sanggup melakukannya?” tiba-tiba Nina memberi informasi lain sebelum menutup sambungan telepon itu.

  “B-benarkah? Aku sanggup, Na! Aku sanggup!” 

 “Kau yakin? Pekerjaan ini sungguh merepotkan dan bisa saja kau tak akan tahan dengan situasinya.”

  “M-memang apa pekerjaannya, Na?”

 “Kau harus melayani pria dewasa di sebuah club malam.”

 Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Nina disambungkan telepon, Lisa pergi kembali ke rumahnya untuk menjernihkan pikirannya yang kusut. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Lisa harus melayani pria dewasa yang usianya saja ia tak tahu berapa puluh tahun tanpa rasa cinta dan status sebagai suaminya.

 Agak lama ia melamun didalam kamarnya, memikirkan resiko yang akan terjadi nantinya jika ia harus melakukan hubungan terlarang dengan banyak pria setiap malamnya. Tapi tiba-tiba…

 “Aku akan melakukannya hanya pertama dan terakhir kalinya. Ya … aku akan minta pria itu untuk membayar mahal harga diriku yang sudah direnggut paksa olehnya. Ini demi kebaikan Nenek, dan kebaikanku juga,” ucap Lisa sambil menyeka air matanya.

 Tubuh mungil itu bergegas bangun dan pergi ke alamat bar & resto yang dikirim oleh Nina via pesan. Untuk sampai kesana, Lisa menyewa ojek online yang berjarak sekitar tiga kilometer dari lokasi rumahnya.

 Beberapa menit setelahnya, Lisa tiba di lokasi. Bar & resto itu tidak terlihat seperti club malam yang dibicarakan orang-orang pada umumnya. Mungkin lebih terlihat seperti restoran mahal kelas atas, yang biasa dijajakan oleh para pebisnis kaya bersama dengan rekan-rekan kerjanya.

 “Apa benar ini tempatnya? Kukira akan seperti club malam yang menyeramkan itu. Atau … jangan-jangan bangunan mewah ini hanya visualisasi dari luarnya saja?” batin Lisa mengatakan.

 “Pelan-pelan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat itu. Tapi ternyata sudah disambut hangat oleh seorang pria muda yang mengenakan baju kostum hitam putih.

  “Lisa ya?” tanyanya tiba-tiba mengejutkan.

  “I-iya .. s-saya temannya Nina.”

  “Mari ikut saya,” titahnya mengajak Lisa berjalan mengelilingi ruangan itu.

  Tibalah mereka didepan tempat di mana banyaknya botol cocktail terpajang diatas lemari besar itu. Lisa dipersilakan untuk duduk sebentar. 

  “Tunggu disini dulu ya, Lis. Aku akan ambilkan seragam untukmu,” katanya yang terdengar akrab seraya meninggalkan Lisa duduk sendirian di sana.

  Tiba-tiba…

  “Kau Lisa ya? Temannya Nina,” sapa seorang pria berperawakan tinggi dengan seragam hitamnya.

  “I-iya, Mas.”

  “Nina juga pernah kerja disini. Tapi sekarang dia sibuk dengan kerjaan barunya. Sudah lama sekali dia tidak datang kesini, tiba-tiba dia menelpon katanya ada temannya yang butuh pekerjaan,” jelasnya. 

  “Sepertinya Nina banyak bercerita tentangku,” batin Lisa dalam hati.

  “Kamu serius mau kerja di sini, Lis? Sepertinya kamu baru pertamakali ke tempat seperti ini,” gumam pria itu.

  “I-iya, Mas. Saya baru pertamakali ke sini,” balas Lisa singkat. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya paham. 

  Detik kemudian, salah satu pria yang menyambutnya saat datang tadi tiba-tiba kembali seraya membawa sebuah pakaian seragam pelayan perempuan ala Jepang dan memberikannya kepada Lisa.

  “Pake ini Lis, ganti baju sekarang. Oh ya, panggil saja aku Reno. Umur kita gak beda jauh, kok,” ujar Reno tak sungkan.

  “I-iya, Reno, terimakasih. Kalau gitu aku langsung ganti baju sekarang,” balas Lisa. Lelaki itu mengangguk mengiyakan.

  Lisa izin pergi untuk berganti pakaian. Sementara itu, kedua pria tadi tampak melihat Lisa dengan tatapan yang berbeda. 

  “Lo yakin dia bisa, Ren? Kelihatannya dia kayak anak baik-baik. Si Nina gimana sih, orang polos kayak gitu malah disuruh kerja ginian,” gerutu pria berseragam hitam itu.

  “Udah tenang aja, dia lama-lama juga bisa. Lagian malam ini dia dapat jatah kelas kakap, Ben.”

  “Maksudnya? Orang tajir malam ini? Ah, bukannya emang tamu-tamu kita orang-orang tajir semua?”

  “Ya iya, tapi yang ini lebih tajir lagi. Bisa dibilang tajir mampus. Gak akan rugi juga dia layanin Tuan Arseno.”

  “Hah, serius Lo? Tuan Arseno yang CEO Tayo Group itu? Bukannya dia udah tunangan?”

  “Kayak baru tahu aja kelakuan orang-orang tajir dibelakang. Mereka tunangan dan nikah cuma buat status doang. Kebiasaan mereka gak akan pernah berubah buat main perempuan, Ben.” 

  “Kalo sampe si Lisa gagal layanin dia, bisa habis kita semua. Lo jangan kesenangan dulu, Ren.”

  “Gue udah siapin semuanya. Lo tinggal kasih si Lisa minum aja, obatnya udah Gue siapin. Suruh dia minum itu, abis itu baru Lo kasih dia pesanan cocktail ke kamar Tuan Arseno,” tutur Reno dengan siasat liciknya pada Beni. 

  Beberapa menit setelahnya, Lisa kembali dengan pakaian yang berbeda. Tampak sedikit ketat dan terbuka dibagian atasnya. Reno dan Beni seketika tercengang melihat keindahan tubuh dan wajah Lisa yang cantik menawan.

  “Gila, kok dia cantik banget, Ren. Tadi perasaan biasa aja,” bisik Beni.

  “Ya emang cantik, kan. Tadi karena dia pake baju lusuh, makanya Lo lihat penampilan dia biasa aja,” balas Reno sambil mencubit pinggang Beni.

  “Ohiya Lis, coba deh kamu buka ikatan rambutnya. Kalau penampilan kamu malam ini kelihatan bagus dimata klien, kamu bisa dapatin uang tip yang besar, loh,” ujar Reno memberi saran.

  Kedua bola mata Lisa lantas membelalak dengan lebar mendengar uang tip besar yang dikatakan Reno barusan. Apalagi saat ini ia sedang membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan neneknya agar bisa segera di operasi.

  “B-benarkah, Reno? K-kira- kira berapa ya?” tanya Lisa hati-hati.

  “Yaa lumayan, kalau kamu disukai sama klien kita, bisa sepuluh atau juga sampai dua puluh juta dalam semalam,” balas Reno memperkirakan.

  Mendengar itu, Lisa semakin tak sabar untuk segera bertemu dengan klien yang dimaksud Reno. Di mana lagi ia bisa menemukan pekerjaan singkat ini dengan gaji yang cukup besar. Lisa berpikir Nina sangat baik karena sudah merekomendasikan pekerjaan ini untuknya. Sampai lupa bahwa ada sesuatu yang harus ia terima sebagai bayarannya dengan setimpal.

  “Kau minumlah dulu, Lis. Sebelum bertemu dengan klien kami, kamu harus menyegarkan dahaga mu. Ini, minumlah!” titah Reno memberikan secangkir cocktail untuknya yang sudah diberikan obat perangsang.

  Reno dan Beni tersenyum menyeringai melihat Lisa yang berhasil meneguk minuman itu sampai habis. Sayangnya gadis itu tidak tahu menahu rencana busuk mereka.

  “Aku sudah meminumnya Ren, setelah itu aku harus apa?” tanya Lisa setelah habis meneguk minuman tersebut.

  “Kau naik ke lantai empat, lantai paling atas. Setelah itu kau masuki kamar nomor 409. Ini kartunya,” ujar Reno seraya memberikan kartu kamar tersebut pada Lisa.

  “A-apakah klien yang kamu maksud tadi sudah ada di sana?” lanjut Lisa bertanya.

  “Belum, nanti dia akan tiba sebentar lagi. Kamu bersiap saja menyiapkan minuman dan makanannya untuk dibawa kesana. Kau akan dibantu oleh Beni. Ben, bantu dia,” sanggah Reno menyuruh Beni membantu Lisa. 

  Sampai akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu pun datang bersama dengan satu orang pria dibelakangnya. Pria bertubuh tinggi mengenakan jas hitam lengkap dengan aksesoris mewah di tangannya terlihat berjalan memasuki lift. Reno yang melihat pria itu langsung memberikan isyarat kepada Beni agar segera menyelesaikan pekerjaannya.

  “Ben, cepet! Udah datang orangnya,” titah Reno tak sabar.

  “Hah, serius? Bentar-bentar. Eh, Lis, kamu diam aja, biar saya yang bereskan sisanya. Kau naik saja duluan ke atas, aku akan menyuruh pelayan membawakan ini semua,” kata Beni menyuruh Lisa berhenti untuk membantunya.

  Lisa tampak ragu-ragu mengiyakan. Melihat dirinya sendiri yang kebingungan karena tak membawa apapun untuk bertemu klien, membuat Lisa merasa khawatir kalau klien itu akan langsung mengusirnya keluar.

  “B-bagaimana kalau aku tidak boleh masuk, Ben?” tanya Lisa sungkan.

  “Gak boleh masuk gimana? Dia minta untuk dilayani malam ini, ya gak mungkin lah, Lis. Udah sana cepat,” seka Beni.

  “Udah Lis, kamu masuk aja ke atas. Biar aku yang minta pelayan buat bawa ini semua nanti,” ucap Reno mengatakan hal yang sama seperti Beni. Lisa pun mengiyakan sambil berjalan menuju lift itu dengan hati-hati. 

  “Lo yakin dia bisa, Ren? Gue gak yakin. Dari gerak-geriknya aja dia kayak gak pengalaman” keluh Beni tak yakin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 19 - Posesif

    “Mulai sekarang, kau harus resign dari T Group. Josh sudah mengatur surat pengunduran dirimu. Dan bersiaplah untuk tinggal di penthouse ku mulai sekarang,” titah Arseno berkata setelah keduanya berada didalam mobil. Lisa mengerutkan keningnya sesaat, “apakah harus resign sekarang? Kan masih tahap awal kehamilan, sayang. Aku masih ingin bekerja sebentar dan berpamitan dengan rekan kerjaku,” ujar Lisa tak setuju. Ia “Apa kau sangat ingin bertemu dengan lelaki itu? Bagaimana kau akan menjelaskan itu padanya nanti? Apa seperti ini? Atau begini?” gerutunya seraya mencengkeram lengan Lisa. Hih, bilang saja kau sedang cemburu sekarang. Kenapa harus sampai begitu? Dasar harimau gila ini. “S-sakit…” desis Lisa. Spontan Arseno langsung melepas cengkeramannya. Tapi, mobil yang ia setir itu pun dibawa ke tepi jalan sepi. Setelah ia mengerem mobilnya, Arseno melepaskan seat belt dan… tiba-tiba dia melumat bibir ranum Lisa dengan brutal. Sampai membuat kelinci kecilnya hampir saja kehabis

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 18 - Status Baru

    “Aku … bukankah aku tidak setara dengan Anda? B-bukankah pernikahan Anda s-sudah ditentukan? Kenapa situasinya jadi berubah tiba-tiba?” tutur Lisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Arseno menatapnya lekat, keduanya saling bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya pria itu menghela napas dan berkata, “maaf. Maaf untuk perkataanku sebelumnya. Setelah menyadari bahwa aku … tidak bisa jauh tanpamu, Lisa. Saat aku melihatnya lagi, perasaanku sudah berubah. Aku selalu teringat wajahmu,” ujar Arseno seraya merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan dan menyelipkannya ke belakang daun telinganya . “Kau … membuat hidupku berubah, Lisa. Berjanjilah untuk tidak pergi, atau berusaha kabur dan melarikan diri dariku,” lanjutnya lagi. Lisa terdiam agak lama, bulir bening mengalir begitu saja menatap lekat wajah Arseno yang tampak sedu tidak seperti dirinya biasanya. “Jangan menangis. Kalau kau menangis, aku semakin merasa bersalah padamu,” sambung Arseno sembari menyeka air mata Lisa. “Bag

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 17 - Mimpi yang Menjadi Nyata

    Bukan marah, tapi justru Arseno semakin bertambah bergairah setelah mendengar penuturan Lisa yang berani menentangnya. “Apa? Kau mengatakan apa? Bukan suami istri? Begitukah?” seringainya. Mata elang ya menatap kedua mata Lisa lekat. Glek! Lisa meneguk salivanya, degup jantungnya berdebar cukup hebat. Melihat kondisi yang tiba-tiba berubah tegang setelah ia mengatakan itu pada Arseno. Tapi pria itu semakin melekatnya wajahnya begitu dekat. Sampai tidak menyisakan celah jarak sedikit pun. “A-aku…” Baru membuka mulutnya sedikit, tapi Arseno kembali membungkam bibirnya dengan lumatan. “Hah… hah!” deru napas Lisa terdengar terengah-engah setelah Arseno melepaskan ciumannya. “Kau segitu tidak tahannya ya, untuk menjadi istriku? Bukankah kita sudah melakukannya berulangkali, hm? Apa menurutmu pelayananku kurang memuaskan?” bisiknya seraya mulai menyentuh area sensitif tubuh Lisa, namun segera ditepis olehnya. “J-jangan sekarang, bukankah Anda harus segera pergi ke kantor? Saya

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 16 - Lihat Aku Seorang

    Bab 16 - Status Hubungan yang Jelas “Perutku?” balas Lisa seraya mengerutkan keningnya. “Bukankah tadi kau sempat mual?” tukas Arseno mengingat kejadian sebelumnya. Tangan besarnya meraih tubuh Lisa hingga tidak ada celah jarak diantara keduanya. “A-aku … sudah lebih baik.” “Benarkah? Apa itu berarti kita bisa melanjutkan permainan ini?” ujarnya sembari meraba-raba buah dada Lisa yang hanya tertutupi oleh baju lingerie tipis dan tanpa mengenakan bra. “T-tidak. Aku … aku takut tubuhku tidak kuat melakukannya,” gumam Lisa beralasan. “Hm … padahal aku sangat merindukan berkeringat bersamamu,” imbuh Arseno seraya mengecup lembut kening Lisa agak lama. “Dia masih saja membahas tentang itu, padahal aku masih menunggu jawaban dari sikap anehnya hari ini,” batin Lisa sedu. “Kenapa Anda melakukan ini pada saya?” tutur Lisa setelah berhasil memerangi pikirannya. Jika Lisa tidak berani bertanya, maka dia pun tak akan pernah mendapatkan jawabannya. Sekalipun jawaban yang mengandung

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 15 - Kabar Baik yang Dirahasiakan

    Arseno kembali ke kediaman Lisa setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Presdir Han. Setibanya ia di sana, sudah disambut dengan dokter Anita, sekretaris Josh, dan beberapa orang pengawal pribadinya. Arseno langsung menemui Lisa yang saat ini tengah duduk di kamarnya dengan tangan yang sudah berbalut selang infusan. Sekretaris Josh tidak sempat bertanya lebih dulu sebab menatap Arseno yang begitu cemas ingin melihat kondisi Lisa. Grep!! Tiba-tiba Arseno mendekap tubuh Lisa yang masih tampak lemah. Wanita itu agak terkejut kebingungan dengan sikapnya tiba-tiba saja memeluknya yang baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. “Apa semuanya berjalan lancar?” ujar Lisa bertanya. Tangan kecilnya memberikan pijatan lembut pada wajah Arseno yang saat ini tengah memeluknya erat. Posisi Lisa yang duduk terlentang dengan tubuh besar Arseno bersandar pada bahunya. “Ya. Kakek menyetujuinya,” jawabnya sambil memejamkan kedua matanya sejenak. “Setuju? Apakah Anda punya permintaan pad

  • SENTUHAN GADIS SEMALAM SATU MILIAR   Bab 14 - Keputusan Arseno

    Setelah mendapati telepon dari orang kepercayaan Presdir Han, Arseno pergi meninggalkan Lisa dengan memberikan amanah pada sekretaris Josh untuk menjaganya serta membawakannya dokter agar memeriksa kondisi tubuhnya yang lemah. Tentu saja sekretaris Josh sangat patuh dengan tuannya. Dia bahkan rela berdiam diri berjam-jam di dalam mobil hanya untuk menunggu Arseno keluar dari dalam rumah Lisa. Dan sekarang, pria bermata elang itu sedang berada di perjalanan menuju rumah kediaman utama dengan menyetir mobilnya sendiri. Ia sudah bisa menebaknya maksud dan tujuan kakeknya memintanya untuk datang. Karena sebelumnya ia sempat berdebat dengan Laura. Terlebih lagi Arseno sudah mengusirnya keluar dari ruang kerjanya. Tidak berapa lama kemudian, Arseno tiba di kediaman rumah utama. Pagar besar itu terbuka lebar secara otomatis. Setibanya ia didepan pintu utama, rupanya sudah disambut oleh beberapa pelayan beserta ajudan. Hingga orang kepercayaannya sang kakek pun turut hadir menyambutnya. “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status