LOGIN"Permisi, Pak," sapa Naura. "Bapak Candra?""Oh, beliau sedang keluar." Pria paruh baya di dalam ruangan tersebut menyahut. "Kamu mahasiswa bimbingan beliau?""Beliau pembimbing akademik saya, Pak." Naura menjelaskan, khawatir dikira mahasiswi semester tua.Pria paruh baya itu mengangguk. "Nanti ke sini lagi saja. Beliau mendadak harus menghadiri rapat senat.""Oh, begitu. Baik, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya," jawab Naura seraya mengangguk sopan.Ia kembali menarik pintu kayu itu hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang pelan. Sembari membalikkan badan, Naura mengembuskan napas panjang. Ada secuil rasa lega sekaligus canggung yang bercampur di dalam dadanya; lega karena ia memiliki waktu lebih untuk menyiapkan mental, namun juga canggung karena rencana di hari pertamanya ini tidak berjalan mulus sesuai jadwal. Dengan langkah kaki yang santai, Naura berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan, meninggalkan area gedung dosen menuju tangga
## Bab: Titik Mula BaruPengumuman hasil seleksi masuk universitas hari itu menjadi salah satu momen paling krusial di kediaman Ginanjar. Di tengah ketegangan yang menyelimuti ruang tengah, dua buah layar laptop terbuka bersisian. Ketika tombol *refresh* ditekan secara bersamaan, warna hijau yang melambangkan kelulusan seketika memenuhi layar.Naura dan Dimas dinyatakan lolos di universitas negeri yang sama. Sebuah pencapaian besar yang membuat Bu Farida menangis haru dan Mas Hanif tersenyum penuh kebanggaan.Meskipun mereka berdua sama-sama berhasil menembus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jalur yang mereka ambil sepenuhnya berbeda. Dimas, dengan segala kalkulasi logis dan ambisi korporatnya, mutlak memilih jurusan Manajemen Bisnis. Sementara Naura, setelah melewati pergolakan batin yang panjang di sudut kafe Kak Riana, akhirnya menjatuhkan pilihan pada jurusan Akuntansi. Baginya, barisan angka dan laporan keuangan adalah representasi dari kepastian—sebuah ilmu pasti yang bisa ia kend
Naura menyesap es cokelatnya perlahan, merasakan sensasi manis dan dingin yang membasahi tenggorokannya yang kering. Ia menggeleng pelan. "Bukan soal itu juga sih spesifiknya. Cuma kayaknya perlu ubah suasana dulu aja.""Karena?""Bingung...." Riana diam, menunggu Naura melanjutkan.Sementara gadis itu memikirkan ucapan Dimas soal bantuan keluarga Ginanjar dan omongan Devan soal cita-cita tadi."Kak ... Kak Riana kuliah? Maaf kalau aku tanya begini."Riana tertawa kecil. "Nggak apa, Ra. Tapi jawabannya enggak. Aku langsung coba cari kerja sehabis lulus SMA kemarin.""Oh? Terus kenapa buka kafe? Awalnya kerja di kafe?""Enggak juga." Riana menyodorkan camilan pada Naura. "Awalnya aku jadi babysitter Mas Rama."Naura berkedip. Ia diam cukup lama sebelum kemudian bertanya, "Gimana, Kak?""Pokoknya, pekerjaan pertamaku waktu itu adalah bekerja buat keluarga Ginanjar. Eh ternyata jodoh, sama Mas Rama.""Terus kenapa jadinya punya kafe?""Coba makanannya, Ra. Masakanku enak nggak?"Naura
Jemari Naura bergerak cepat di atas papan ketik, buru-buru mengetik balasan."Maaf, Mas. Tadi aku memang sempat ke perpus daerah. Tapi sekarang sudah selesai semua dan aku sudah di dalam angkot."[Oh, oke, aman. Bukti kalau kamu bisa balas pesanku berarti transaksi ponselnya lancar ya?]"Aman kok."[Lain kali titip pesan atau kabari. Waspada sedikit kalau jalan sendiri.]Naura diam. Benar juga, kali ini dia juga bergerak sendiri.Otaknya sepintas teringat saat ia pergi ke kontrakan lamanya dan bertemu dengan Bowo. Niatnya cuma ambil barang, tapi endingnya justru demikian.Sontak, Naura bergidik.Ia kenal Bowo, sampai tahu kalau pria itu sifatnya buruk. Kalau sekarang bedanya, ia tidak kenal Devan sekalipun sikap pria itu ramah dan terbuka. Meski begitu, keduanya tetap punya potensi untuk berbuat jahat dan Naura baru menyadari hal itu.Yah, dia sekarang tidak apa-apa dan masib berpikir Devan baik saja. Tapi ia paham maksud Dimas."Siap, Mas. Maaf kalau sempat bikin khawatir."Selama beberapa saat
Berikut adalah pengembangan cerita menjadi sekitar 600 kata, dengan memperdalam dinamika psikologis antarkarakter dan ketegangan suasana tanpa mengubah inti cerita maupun menjadikannya terlalu mendayu-dayu.“Maaf, Kak,” ucapnya kemudian. “Selain teman kuliah, apa Kak Devan punya hubungan lain dengan Mbak Dea?”Devan terdiam sejenak. Sorot matanya mendadak berubah intens, mengunci pandangan Naura. “Memangnya kenapa, Ra? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”“Nggak, Kak…”Naura sedikit kebingungan, merutuki bibirnya yang bergerak lebih cepat daripada otaknya. Pertanyaan tadi terlontar secara spontan begitu saja. Sembari meremas jemarinya di bawah meja, ia memutar otak untuk mencari alasan yang logis. Ia jelas tidak bisa mengatakan kalau dia tidak sengaja melihat foto tersembunyi di galeri ponsel Devan saat pria itu sempat meminjamkan ponselnya tadi.“Soalnya Kakak kedengaran dekat sekali dengan Mbak Dea,” lanjut Naura, mencoba melempar senyum senormal mungkin. “Sahabat kah?”“Iya, tema
Naura tidak langsung menjawab. Dalam hati menimbang ajakan tersebut dengan memikirkan motivasi Devan. Apakah itu murni untuk makan dan kompensasi, atau ada niat lain.Tapi, seperti biasa. Rasa tidak enakan yang menjadi kelemahan terbesar Naura akhirnya kembali mengambil alih."Boleh, Kak," jawab Naura singkat.Mereka berdua berjalan kaki menyeberang jalan raya menuju sebuah kedai soto ayam yang cukup ramai. Devan mencarikan meja yang agak teduh di dekat pilar, menarikkan kursi untuk Naura, dan memesankan dua porsi makanan tanpa membuat Naura merasa canggung. Sikap dewasanya yang tenang sempat membuat Naura sedikit melonggarkan pertahanannya. Naura membatin dalam hati, mungkin prasangkanya semalam terlalu berlebihan."Kamu masih kuliah?" Devan membuka obrolan setelah dua mangkuk soto hangat dihidangkan di atas meja mereka. “Oh ya. Namamu siapa? Aku Devan.”"Naura, Kak. Aku lagi bersiap buat ujian penyetaraan, Kak. Kemarin sempat putus sekolah karena harus mengurus Ibu yang sakit," ja







