Share

KRONOLOGI

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2025-12-09 10:26:14

Kakiku rasanya pegal-pegal semua akibat semalam jalan kaki. Keluarga itu benar-benar keterlaluan. 

"Kamu mau kerja di mana, Nduk? Bapak antar ya? Bapak harus tahu kamu kerja di tempat yang aman atau tidak," ujar Bapak setelah aku dan Liana selesai sarapan. Emak menyiapkan nasi goreng tanpa kecap seperti biasanya.

"Di rumahnya juragan Ginanjar itu loh, Pak. Di kampung sebelah. Rumah paling gede dan megah." 

Bapak dan Emak cukup kaget setelah mendengar balasanku. Mereka saling pandang lalu menatapku kembali.

"Kok bisa kenal sama juragan Ginanjar segala, dari mana?" Bapak kembali bertanya.

Aku lantas menceritakan soal kejadian saat aku pulang jaga warung beberapa hari yang lalu. 

Waktu itu, aku melihat mobil parkir di samping taman. Tapi kendaraan itu tampak mencurigakan lantaran tidak kunjung bergerak. Mungkin mogok, tapi pengemudinya tidak kelihatan di mana-mana. Akhirnya kuputuskan untuk mengecek.

Ternyata di samping mobil ada laki-laki yang pingsan dengan luka tusuk di perutnya. Panik, aku langsung cari bantuan. 

Untunglah dengan bantuan warga, juragan Ginanjar berhasil dibawa ke klinik. Saat itulah pria itu mengucapkan terima kasih dan bertanya beberapa hal yang kemudian berujung aku ditawari pekerjaan, bahkan sebagai asisten pribadi.

“Asisten pribadi, Nduk? Tapi kamu cuma lulusan SMA….”

"Paling suruh momong bocah, Pak. Sebutannya aja asisten.” Aku menanggapi. “Soalnya Juragan bilang kalau anaknya susah diatur. Sudah gonta-ganti asisten, tapi nggak ada yang betah. Makanya beliau janji kalau Riana betah bakal dikasih gaji tinggi misal mau." 

Akhirnya Bapak menghela napas panjang. Laki-laki terhebatku itu pun tersenyum tipis sembari mengusap punggungku pelan.

"Iya, Nduk. Semoga kamu betah di sana ya? Ingat, cari kerjaan susah. Kamu harus belajar untuk sabar, telaten dan fokus dengan pekerjaanmu. Pekerjaan apa pun itu kalau ditekuni juga akan menghasilkan, yang penting halal." 

Aku memeluk Bapak setelah menganggukkan kepala.

"Bukannya anak Juragan Ginanjar sudah pada besar, Pak? Yang paling kecil seumuran Liana kayanya. Setahu Emak sih begitu." Emak menimpali membuatku dan bapak beralih ke arahnya seketika.

"Mungkin anak sulung dari istri kedua atau ketiganya, Mak. Namanya orang kaya, biasanya 'kan punya banyak istri."

"Oh, iya. Benar juga sih, Pak. Masa iya orang dewasa masih suruh momong. Kan nggak mungkin."

"Mak dan bapak doakan yang terbaik buat kamu, Nduk. Semoga pekerjaan kamu ini membawa berkah untukmu juga keluarga kita." 

Kami mengaminkan doa Emak dengan mata berkaca-kaca.

"Riana janji akan membuat Emak dan bapak bangga. Riana nggak rela melihat Bapak dan Emak selalu dihina oleh mereka karena kemiskinan kita. Lihat saja nanti, mereka pasti akan menyesal sudah mencaci maki kita seperti itu." 

Aku tergugu. Tiap kali membayangkan semua perlakuan mereka, tiap itu juga ada bongkahan batu besar yang terasa menghantam dada. Sesak sekali rasanya.

"Nduk, apapun yang mereka lakukan pada keluarga kita, jangan pernah sekalipun membuatmu dendam. Seburuk apa pun mereka tetap keluarga kita. Seperti apapun yang mereka lakukan, tak akan pernah menghilangkan jejak bahwa emak dan pakde juga paklekmu itu lahir dari rahim yang sama.” Emak menasehati. 

“Kamu sabar ya, Nduk. Belajar dari Emak, sekalipun Emak tak pernah dendam pada mereka. Hanya doa Emak tak pernah putus setiap malamnya, semoga mereka segera menyadari kesalahan dan kekhilafahan mereka sendiri,” lanjut Emak. “Emak tahu kamu sakit hati, tapi tetap fokus pada dirimu dan masa depanmu. Tak perlu risau dengan penilaian orang lain ya?" 

Emak mengusap pipiku pelan lalu menyeka bulir bening yang menetes ke pipi.

"Iya, Mak. Riana tahu kalau Emak memang wanita paling sabar dan tulus yang pernah Riana kenal.”

"Sudahlah, emak paham sekali apa yang kamu rasakan. Cuci muka sana. Jangan sampai juraganmu kaget lihat wajahmu yang sembab begini. Biar bapak yang antar kamu ke sana." Emak kembali menenangkan. 

Rasanya hati begitu nyaman tiap kali berada di samping wanita terhebatku itu. Senyumnya yang tulus, tatapannya yang teduh dan suaranya yang merdu selalu membuatku rindu dan candu.

"Motor bapak kan rusak, Mak. Masih di rumah Bu Ayu juga. Bapak mau antar pakai apa?" tanyaku kemudian.

"Barusan pinjam sama Mbak Bella. Kebetulan hari ini dia libur kerja, jadi nggak apa-apa dipinjam sebentar, katanya." Lagi-lagi aku mengangguk dan bersyukur masih ada orang baik di sekitar kontrakan.

Mbak Bella adalah seorang janda beranak satu yang sering membantu Emak saat kekurangan. Kebaikan dan ketulusannya bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan keluarga besar Emak sendiri.

Setelah pamit pada Emak dan Mbak Bella yang duduk di teras kontrakan, aku pun buru-buru duduk di motor. Membaca Basmallah sebelum bapak melajukan motor perlahan keluar area kontrakan.

Sebenarnya jalan kaki pun bisa untuk sampai di rumah juragan Ginanjar. Ada jalan pintas yang sering kulewati saat sekolah dulu. Mungkin sekitar setengah jam sampai rumah gedong itu.

Hanya saja mengingat pesan Mbak Yuni kemarin supaya aku datang sebelum jam tujuh, membuatku mengurungkan niat untuk jalan kaki. Lebih baik memang diantar Bapak sekalian meyakinkannya kalau aku benar-benar kerja di sana.

"Mbak Riana ya?" tanya seorang satpam bernama Agus padaku saat bapak membunyikan bel di samping gerbang.

"Iya, benar, Pak. Saya Riana yang ditawari juragan buat kerja di sini," balasku kemudian.

"Juragan sudah menunggu di dalam, Mbak. Mari saya antar."

Bapak mendoakanku banyak hal sebelum masuk ke rumah mewah itu. Senyum tulusnya membuatku lebih bersemangat untuk menjalani pekerjaan ini dengan ikhlas. Sebandel-bandelnya seorang anak, aku pasti bisa menaklukkannya.

Meski Emak bilang nggak boleh dendam dan fokus dengan pekerjaanku saja, tapi tak ada salahnya jika cacian mereka justru menjadi semangat utamaku untuk membuktikan bahwa aku bisa, bukan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Membalas Ancaman

    Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.​BRAK!​"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. ​Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"​Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan.​"Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. ​"Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status