LOGIN

Prologue Paris meletakkan tasnya yang berharga ribuan Euro di atas kursi khusus tempat tas dengan hati-hati. Tas itu berasal dari brand Chanel, edisi terbatas tentunya. Bukan hanya tasnya yang berasal dari brand ternama, jam tangan yang menjadi aksesoris penunjang penampilannya juga bukan main-main karena berasal dari brand serupa, bahkan gaun kasual yang dikenakannya berasal dari Chanel. Hanya sepatunya yang berasal dari brand Christian Louboutin. Ah, iya... Gelang yang ia sandingkan bersama jamnya adalah gelang Chartier dan berlian yang menghias di telinga dan lehernya, itu adalah edisi terbatas dari perancang perhiasan ternama, Prilly Johanson. Paris, ia adalah wanita sosialita kelas atas di negara ia tinggal sekarang. Sore itu ia sedang menghadiri acara rutinnya bersama teman-teman sosialitanya, acara yang di lakukan setiap hari Selasa sore untuk saling memamerkan kekayaan suami mereka. “Di mana Ursula?” tanya Rachel yang baru saja datang. Penampilan Rachel tak kalah mahal dari Paris, seluruh barang yang melekat di tubuhnya juga berasal dari brand kenamaan dunia. “Dia mengatakan akan segera datang,” jawab Paris. Ia adalah peserta yang pertama datang ke tempat itu. Sebuah private room di sebuah hotel bintang lima yang di desain khusus penuh bunga-bunga hanya untuk pertemuan lima orang wanita. “Kau percaya?” tanya Rachel dengan nada geli. Ia tahu seperti apa sahabatnya yang bernama Ursula. “Tentu saja, tidak,” jawab Paris. “Aku yakin ia sedang menyisir rambutnya, yang keriting agar tampak lurus,” kata Rachel dengan nada mengejek. Keduanya tertawa bersama. Tidak lama tampak Lea dan Ruth, keduanya datang bersamaan. Mereka berjalan dengan anggun bak dua orang model yang sedang memperagakan pakaian, kacamata hitam berukuran besar bertengger di atas hidung mereka nyaris menutupi sebagian wajah. Mereka selalu terlihat kompak karena memang saudara kembar. Ruth memiliki suami yang lebih kaya tetapi Lea, ia memiliki suami yang lebih tampan. Ruth lebih tenang sedangkan Lea, ia adalah ratu panik. Tetapi, jangan salah. Ruth adalah ratu pamer. Ia bahkan membawa satu orang asisten hanya untuk memegangi tasnya, padahal bisa di pastikan tas itu tidak mungkin berat. “Maafkan kami, kami terlambat,” kata Ruth sambil menghampiri Paris untuk menyapa sahabatnya, menempelkan kedua pipinya. “It’s oke. Hanya beberapa menit,” ucap Paris dengan nada bicara anggun. “Oh, Paris... kau semakin cantik, aku sungguh iri padamu.” Lea berseru. Di antara semua mereka semua Lea adalah yang paling berisik dan mudah panik. “Kau juga semakin cantik, dadamu... semakin membesar... sepertinya,” ucap Paris sambil memeluk sahabatnya. Sementara Ruth menghampiri Rachel untuk saling menyapa. Lea meregangkan pelukannya dari Paris, ia kemudian menatap dadanya sendiri baru saja ditambah implan sehingga tampak nyaris seperti balon. Begitu juga Paris, ia menatap dengan kagum dada sahabatnya kemudian mereka berdua berucap, “Wow!” “Apa kau juga tertarik memperbesar milikmu?” tanya Lea. “Aku akan memikirkannya,” jawab Paris. Sekedar berbasa-basi karena ia sama sekali tidak tertarik dengan ukuran dada yang melebihi kapasitas seperti itu, menurutnya itu terlalu berlebihan dan sepertinya melelahkan. Tiga puluh menit telah berlalu, empat wanita itu telah saling bercakap-cakap membicarakan saja harta kekayaan mereka tetapi yang ditunggu belum datang juga. Ursula, satu teman mereka itu memiliki kebiasaan datang terlambat menghadiri acara. Benar saja Ursula datang setelah empat puluh lima menit dari waktu yang di tentukan. Ursula tampak memegangi ponselnya sambil berjalan dan merekam suasana acara perkumpulan itu bermaksud mengunggah ke dalam akun media sosialnya. Ia tampak sama sekali tidak merasa bersalah membiarkan orang lain menunggunya. Setelah menyapa keempat sahabatnya Ursula duduk tepat di samping Paris. “Kira-kira siapa pemenang arisan Minggu ini?” tanya Ursula entah kepada siapa. “Yang jelas bukan aku,” jawab Paris sambil tertawa ringan. “Kau pemenang Minggu kemarin, tentu saja kau tidak memiliki bagian lagi di bulan ini,” celetuk Lea. “Tetapi, jika kalian ingin digantikan dengan senang hati aku akan menggantikannya,” seloroh Paris tetapi nadanya terdengar sangat bersungguh-sungguh. "Kau selalu siap untuk itu," ejek Rachel yang diangguki Ruth dan Lea. Paris hanya mampu menyeringai. Satu jam kemudian, seorang pemuda yang mungkin berusia dua puluh tahun datang ke tengah-tengah mereka. Pemuda tampan itu tampak berdarah Asia. Terlihat dari rambut, kulit dan dari wajahnya. Pemuda itu adalah calon sugar baby dari salah satu kelima wanita yang beruntung minggu ini. Wanita sosialita yang hidupnya kesepian itu setiap minggunya melakukan acara arisan untuk mendapatkan satu pemuda tampan dengan bayaran tinggi untuk menghangatkan ranjang mereka. Bersambung...."Ini adakah tempat terbaik," ucap Paris, wanita itu setengah mengapung di pinggir kolam renang belakang rumahnya. Rumahnya adalah tempat terbaik di muka bumi ini, Samuel. Ya, Samuel, pria itu adalah tempatnya berteduh. "Kemarilah, Sayang!" Samuel memanggil istrinya agar mendekat. Paris terkekeh. "Tidak mau, di situ dalam," ujarnya sambil kakinya berputar-putar di dalam air. "Ya Tuhan, ini hanya sampai dadaku," ujar Samuel. "Itu berarti sampai di daguku," kata Paris yang tetap menolak mendekati suaminya. "Kau tidak akan tenggelam." Samuel akhirnya mendekati Paris. "Aku memiliki ide terbaik di kepalaku, apa kau tahu?" "Oh ya? Katakan." Paris berdiri, air di pinggir kolam hanya sebatas pahanya membuat dadanya yang berisi terbungkus bikini basah tampak menonjol sempurna. Samuel melirik ke arah boks bayi yang tertutup kelambu di teras halaman belakang rumah mungil mereka. "Karena Caramella sedang tidur, sepertinya kita bisa bersenang-senang," katanya sambil merengkuh ist
"Aku sungguh tidak menyangka jika kau akan kembali menikah secepat ini, Paris." Ursula dan Paris sengaja bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di sekitar sungai Seine. Sungai Seine adalah sungai yang membelah kota Paris, sungai ini menjadi jalur transportasi komersial lalu lintas air. Di samping kanan dan kiri sungai terdapat bangunan-bangunan bersejarah dengan desain klasik yang sangat menawan dan memanjakan mata. Paris tersenyum. "Aku tidak menyangka akan menjadi begini." Ia menatap Samuel yang bersandar di pagar pembatas sungai, pria pujaannya itu sedang berbicara dengan teman kencan Ursula meskipun tatapan matanya terus mengarah kepadanya. "Kurasa kalian benar-benar saling jatuh cinta," ujar Ursula yang mengekori ke mana arah tatapan mata Paris. "Aku baru tahu jika jatuh cinta rasanya sangat indah," gumam Paris. Andai waktu bisa di putar kembali, ia ingin bertemu Samuel lebih awal agar tidak ada yang tersakiti oleh mereka. Ah, sayangnya tidak ada seandainya di muka
"Kau yakin rumah ini yang kau pilih?" tanya Samuel saat mereka berada di halaman belakang rumah yang akan mereka beli. Paris mengangguk, setelah menikah nanti mereka telah mantap akan menetap di Swiss. Rumah itu adalah rumah ketiga yang mereka lihat, memang tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar tidur di lantai bawah dan tiga kamar tidur di lantai atas. Tetapi, rumah itu cukup nyaman karena halamannya sangat luas dan tentunya memiliki kolam renang di halaman belakang. "Kau memilih karena ada kolam renangnya?" tanya Samuel, ia menaikkan sebelah alisnya. Paris menyeringai. "Aku bisa kok berenang," ujarnya dengan nada tidak terima. "Di Tokyo kau ketakutan," ucap Samuel menggoda Paris. Ia masih mengingat betapa Paris ketakutan saat menaiki perahu di atas air sungai. Paris kembali menyeringai. "Aku belum pernah berenang di sungai, jelas saja aku takut," katanya membela diri. "Ya, aku percaya. Kau bisa berenang tapi di kolam renang anak-anak." Samuel menatap Paris dengan t
"Wow...!" Paris terpesona dengan pemandangan di depannya. Mereka berada di Lauterbrunnen, Lauterbrunnen adalah desa yang indah di Swiss dengan jumlah populasi sangat sedikit, tetapi memiliki pemandangan yang sangat yang indah. Terletak di lembah Lauterbrunnen dan terdiri dari desa Lauterbrunnen, Wengen, Mürren, Gimmelwald, Stechelberg dan Isenfluh. Nama "Lauter Brunnen" memiliki arti banyak air mancur, yang menunjukkan keagungan lanskap ini. Ada tujuh puluh dua air terjun di sana dan yang paling terkenal adalah air terjun Staubbach dengan ketinggian air terjun hampir 300 meter dari permukaan batu yang menjorok, menjadikannya sebagai salah satu air terjun tertinggi di Eropa. "Aku yakin kau belum pernah mengunjungi tempat ini," ucap Samuel sambil memasang lensa kameranya. "Sam, ini sangat indah...." kata Paris sambil memasang topi di kepalanya. "Apa kau akan mengajakku berkeliling dunia?" Samuel terkekeh. "Apa kau ingin?" Paris mengangguk. "Ambil fotoku, di sini," ucapn
"Bonne après-midi....""Kau datang untuk menggodaku lagi, Zac...." Mata Paris masih fokus ke arah kalkulator, sebelah tangannya memegang pulpen. Ia sedang berada di ruang kerjanya yang sederhana mencatat laporan barang keluar dari tokonya. "Zac?" Suara itu semakin dekat dan juga... itu bukan suara Zac, kakaknya. Ia mendongakkan kepalanya. "Sam...," desah Paris melihat siap yang ada di ruang kerjanya.Samuel tersenyum, pria itu menaikkan sebelah alisnya sambil melangkah mendekati Paris, wanita pujaannya, wanita yang sangat ia rindukan juga paling ia cintai. "Siapa Zac?" Paris meletakkan pulpen di tangannya, ia bangkit dari duduknya. "K-kau datang?" "Aku merindukanmu," ucap Samuel sambil merengkuh Paris ke dalam pelukannya. "Sayangku...."Paris melingkarkan lengannya di pinggang Samuel, wanita itu memejamkan matanya, menghirup aroma pria yang sangat ia rindukan. Pria yang setiap saat bayangannya seolah terpatri di dalam otaknya, pria bermata cokelat almon yang menggetarkan hatinya
Sekuat apa pun Paris mengusirnya, Samuel tidak akan pergi dari tempat itu. Yang harus pergi adalah Arsen, pria itu tidak akan pernah mengalah apalagi jika menyangkut kepemilikan Paris. Mereka bersitegang kembali tetapi Samuel dengan sigap ia menangkap tubuh Paris, mengurungnya di dalam pelukannya, menghujani rambut di kepala Paris dengan kecupan bertubi-tubi.Paris milikku. Sulit membedakan obsesi dan cinta, yang jelas ia tidak bisa jika harus kehilangan Paris. Sudah cukup beberapa hari di lalui tanpa Paris, rasanya sangat mengerikan karena ia hampir tidak mampu bernapas. Ia ingin hidup bersama Paris, menghirup udara yang sama bersama wanita itu. Samuel tidak akan pernah melepaskan Paris, tidak dengan cara apa pun."Dengarkan aku, Sayang." Samuel terus memeluk Paris dengan posesif. Meski Paris meronta, menangis mengamuk memukulinya, Samuel sama sekali tidak peduli."Aku tidak ingin mendengarkanmu!" teriak Paris."Sayangku, aku tahu aku salah, aku menghilang beberapa hari, aku tahu,
Chapter 4 Pesta perjamuan berlangsung mewah dan meriah. Paris mulai lelah berdiri di atas sepatu tingginya mendampingi Arsen menyapa teman-temannya. Saat seorang pria yang ia kenal kenal sebagai salah satu pejabat penting di Perancis mendekati Arsen, Paris segera mengambil kesempatan. Setelah meny
Chapter 3Penuh sandiwara, itulah Paris."Sayang...!" seru Paris seraya melangkah cepat menghampiri suaminya lalu menghambur ke dalam pelukan Arsen. "Sayang, kau ada di rumah rupanya. Kau kembali begitu cepat, apa hari ini ada acara khusus?" tanya Paris dengan nada manja yang mampu membuat Arsen be
Chapter 2Hujan lebat mengguyur kota Paris pagi itu. Di dalam sebuah mobil yang melaju membelah jalan kota Paris yang lengang dengan kecepatan sedang seorang pemuda tampan dengan rakus mencumbu bibir ranum Paris, erangan yang terlepas dari bibir Paris seolah mengalahnya suara derasnya air hujan yan
Hola! Chapter 1 Paris adalah ibu kota Perancis. Terletak di sungai Seine, di utara Perancis, di jantung region Île-de-France. Kota Paris pada batas administratifnya memiliki penduduk 2.167.994 jiwa. Paris terkenal sebagai kiblat fashion dunia. Paris juga terkenal dengan sebutan "city of light"







