Compartilhar

2. Misi Konyol

Autor: BandaNeira
last update Data de publicação: 2026-09-14 18:57:20

“Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.

Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan.

“Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”

Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya.

“Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya.

Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya.

Ding!

Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget.

Gleg.

Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata.

“Sistem?”

Misi perdana Host!

Mengintip warna celana dalam Customer!

Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel.

Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir kelas S.

Dimas langsung terkejut melihat apa yang tertulis di layar hologram dihadapannya itu. "Mengintip" bukanlah hal yang mudah di lakukan, pikirnya.

Terlebih targetnya seorang wanita dewasa yang terlihat sangat di segani. Apalagi target memakai pakaian formal, dengn rok span hitam pendek serta kemeja putih yang sedikit ketat, membuat lekuk tubuhnya yang padat serta bulatan padat yang mencuat ke depan, nyaris membuat fokuanya hilang.

“Sistem apaan ini! Sialan, gue malah kayak orang mesum jadinya!” umpat Dimas di dalam hatinya.

Dimas berusaha mengabaikan misi yang di berikan itu, namun saat ia baru saja menyentuh mesin mobil suara notifikasi kembali terdengar.

Ding!

Segera selesaikan misi!

Jika gagal sistem akan memberikan hukuman, membuat Host terkena masalah selama 24 jam!

Deg!

Kepala Dimas langsung berubah pening seketika, ia berusaha mencari celah untuk mengintip warna celana dalam target.

Dan saat Dimas sedang memikirkan caranya, Pak Haris memanggilnya, Dimas segera menghampiri pria tua itu.

“Dim, tolong gantikan oli mobil mbak Livia ya, bisa kan?” tanyanya.

Dimas langsung mengangguk, sekilas ia menoleh ke arah wanita di samping Pak Haris itu lalu kembali menatap Pak Haris.

“Bisa Pak, sebentar. Saya ambil olinya dulu,” jawab Dimas sambil pergi ke arah rak yang menyimpan persediaan oli.

Tak lama Dimas kembali, dan mendongkrak mobilnya agar ia bisa masuk ke bagian bawah. Setelah selesai Dimas langsung merangkak masuk, untuk mengeluarkan oli lama dan menggantinya dengan yang baru.

Sementara itu Livia bukannya pergi dan menunggu di kursi, ia justru berjongkok tepat di dekat Dimas sambil bertanya.

“Mas, montir PKL?” tanya Livia dengan penasaran.

Dimas yang sedang membuka penutup pembuangan Oli menoleh perlahan, dan begitu ia melibat ke arah depan. Ia terkejut, ternyata Livia berjongkok tepat di hadapan wajahnya membuat Dimas hanya bisa menelan ludah saat melihat sesuatu yang menonjol tebal dari balik kain yang menutupinya.

Ia tahu, Livia tak akan menyadarinya karena wajah Dimas terhalang body mobil.

“I-iya mbak, saya baru hari ini masuk,” jawabnya berusaha fokus dengan pekerjaannya.

Gleg!

“Sialan! Mana depan muka gue lagi!” umpatnya dalam hati.

Ding!

Misi berhasil!

Warna pink!

Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir kelas S. (Di terima)

Saldo terkini: Rp, 3,200.000

Dimas terkejut saat melihat layar biru di hadapannya Itu. Ia memang memiliki uang yang sengaja di berikan ibunya untuk bekal selama PKL. Namun, melihat jumlah saldonya bertambah, tentu ia merasa senang walau dengan cara yang sedikit mesum dan tidak masuk akal.

“Sistem edan! Kalo lo terus kasih misi kayak gitu, lo bikin gue jadi orang mesum!” protesnya dalam hati.

Ding!

[SISTEM LUNA TELAH TERSINGKRON DENGAN PIKIRAN TERAKHIR HOST YANG MEMICU MISI TERSEBUT, JADI ITU BUKAN KESALAHAN SISTEM.]

Dimas hanya mendengus kesal melihat sistem yang ternyata bisa menjawabnya.

Tak lama ia selesai mengganti oli mobil milik Livia, ia pun kembali membereskan peralatan yang di pakainya itu.

“Sudah mbak,” ucap Dimas.

Livia tersenyum ramah, sambil memberikan uang tipa kepadanya. “Terimakasih Mas, kalo lihat montir yang ganteng kayak gini, saya rasa mobil rusak setiap hari juga nggak apa-apa,” candanya.

Dimas tertawa canggung, ia tahu ia memiliki wajah tampan. Namun, jika menghadapi customer seperti Livia setiap hari maka akan membuat Dimas bekerja ekstra keras.

“Hehe, mbak bisa aja,” jawab Dimas.

Setelah itu, Kegiatan Dimas berlangsung dengan lancar. Ia semakin akrab dengan senior-seniornya yang ada di bengkel, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore, tanda bengkel harus segera di tutup.

Setelah semua beres, Dimas segera berpamitan dengan senior-seniornya, termasuk dengan Pak Haris.

Warepacknya di penuhi noda oli, wajahnya terlihat kusam karena keringat bercampur debu dan oli. Ia melangkah dengan santai, karena jarak bengkel dengan rumah tantenya hanya sekitar belasan meter.

“Lumayan seru sih di hari pertama,” gumam Dimas sambil meneguk air minum yang ia beli di warung.

Begitu ia sampai di depan gerbang, suasana di halaman rumah terlihat tenang. Hanya ada bi Narsih dan Mang Asep yang sedang membersihkan halaman.

Begitu melihat Dimas datang keduanya menyambut Dimas dengan senyuman.

“Baru pulang Mas Dimas?” tanya Pak Asep dengan basa-basi yang menurut Dimas tidak perlu.

Dimas mengangguk sambil tersenyum, “Iya Mang, lumayan rame soalnya di bengkel tadi.”

Setelah berbincang sebentar dengan bi Narsih dan mang Asep, Dimas masuk ke dalam rumah melalui garasi. Karena sepatu dan bajunya kotor.

“Dim, kenapa kamu lewat situ?” tanya Tante Vania yang baru saja lewat sambil membawa gelas berisi jus mangga.

Dimas terdiam begitu melihat tante Vania yang ada di hadapannya itu. Tante Vania yang mengenakan Daster tipis selutut membuat Dimas kembali di hantui pikiran kotor.

Terlebih bulatan padat yang membusung di balik kain tipis itu membuat Dimas langsung memalingkan wajahnya ke arah bawah dan berpura-pura melepas sepatu.

“Soalnya pakaian Dimas kotor, Tante. Takut ngotorin lantai,” jawabnya pelan.

“Mana tante kagak pakek kutang lagi! Sialan emang!” umpatnya di dalam hati.

Tante Vania mengangguk sambil tersenyum, “Ya sudah, kamu mandi dulu. Baru makan,” ucap tante Vania sambil melangkah pergi.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   6. Misi berhasil

    Ding! Bantu perbaiki kendaraan mogok! Hadiah: Skill poin S + Rp.3.000.000 Waktu 24 jam! dari sekarang. Dimas menggerutu di dalam hatinya, dimana ia harus mencari kendaraan mogok dan membantu memperbaikinya dalam waktu 24 jam terhitung dari sekarang, belum lagi misi memberi Rere hadiah belum ia selesaikan membuat kepalanya semakin pusing. “Dimana gue harus cari kendaraan mogok? ada-ada aja lo sistem! ck!” gerutunya. Dimas akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar keluar rumah, sekaligus mengenali lingkungan di sekitar rumah tantenya itu. Saat menuruni tangga, ia langsung di sambut oleh tantenya, Vania. “Mau kemana kamu Dim?” tanyanya. Dimas kembali menelan ludah sambil menundukkan pandangannya dan berkata, “Mau cari udara segar tan, nggak jauh-jauh kok sekalian cari cemilan,” jawabnya sambil melangkah turun dari tangga. Vania mengangguk sambil menyilangkan kedua kakinya membuat daster yang di kenakannya tersingkap, Dimas yang melihat itu semakin berdegup kencang. T

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   5. Firasat buruk

    Sore harinya, Dimas sudah berdiri di depan bengkel dengan pakaian yang sedikit lebih rapi. Rambutnya disisir, kausnya diganti dengan kemeja sederhana, dan sepatu yang biasanya penuh noda oli sudah ia bersihkan. Ia berkali-kali melihat jam di ponselnya. “Lima menit lagi...” Dimas menarik napas panjang. “Kenapa gue malah gugup begini? Gue cuma makan bareng customer.” Tak lama kemudian, sebuah motor putih berhenti di depan bengkel. Alya melepas helmnya dan tersenyum. “Maaf ya, Mas Dimas. Tadi agak macet.” Dimas menggeleng. “Nggak apa-apa. Saya juga baru selesai bersiap.” Ding! Dimas langsung terdiam. Layar biru muncul di hadapannya. [MISI BARU!] [Target: Alya] [Tujuan: Buat target merasa nyaman selama acara makan.] [Hadiah: Rp1.000.000] Dimas membelalakkan mata. “Sejuta?!” Alya menatapnya heran. “Mas bilang apa?” Dimas langsung menggeleng. “Eh, nggak. Saya cuma bilang... sejuta...” Ia berhenti. “...eh, maksud saya, silakan.” Alya tertawa kecil. “Mas Dimas aneh juga, ya.” D

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   4. Berkencan

    Keesokan harinya, Dimas tetap memikirkan apa hadiah yang cocok untuk Rere, si gadis jutek yang membuatnya selalu geram setiap melihat ekspresinya yang ketus.“Kalau bukan sepupu gue, udah gue jailin tuh cewek, ck!” gumam Dimas sambil melangkah santai menuju ke bengkel.Seperti biasa, udara pagi di sekitar rumah Tante Vania terasa cukup sejuk. Dimas berjalan sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadinya.Namun, baru beberapa langkah memasuki area bengkel, suara notifikasi kembali terdengar di kepalanya.Ding!Dimas langsung berhenti. “Apaan lagi?” gumamnya.Sebuah layar biru transparan muncul tepat di hadapannya.[SISTEM LUNA][MISI BARU TERSEDIA!]Dimas mengernyitkan kening.“Jangan bilang misi mesum lagi.”Layar itu berubah.[Misi Peningkatan Skill Montir][Target: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan diagnosis kendaraan Host.][Persyaratan misi:][1. Sambut customer baru.][2. Periksa kerusakan kendaraan tanpa bantuan senior.][3. Berhasil memperbaiki kerusakan kendaraan.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   3. Pijatan

    Dimas menggantung pakaian kotornya di kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir pikiran kotor yang seharian ini memenuhi kepalanya. Di bawah shower air ia hanya bisa meredam semua pikiran kotornya, dan tak lama Dimas segera berpakaian untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat Dimas melangkah keluar kamar, sura notifikasi sistem membuatnya menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Ding! Misi baru! Berikan hadiah untuk Rere! Besok Rere ulang tahun. Hadiah: ? Dimas tertegun melihat tulisan di layar biru itu, ternyata sistem tidak memberikannya misi yang aneh, tapi... hadiah dari sisten tidak di tunjukan, hal itu membuat Dimas sedikit khawatir. Tapi apa yang harus ia berikan kepada Rere, sepupunya? Pikir Dimas. Dimas akan memikirkannya lagi nanti, ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai. Dan begitu melihat ke arah dapur, Rere dan tante Vani sudah lebih dulu duduk di meja makan sambil menunggunya.

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   2. Misi Konyol

    “Kalo emang kamu nggak bisa lanjut hari ini, kamu lanjutin besok aja nggak apa-apa,” lanjut Pak Haris.Dimas menggelengkan kepalanya pelan sambil, “Udah Pak, saya nggak kenapa-kenapa, cuma sakit sedikit aja di bagian kepala,” jawabnya penuh keyakinan. “Ya sudah kalo begitu, kita lanjutkan.”Semua orang kembali beraktifitas seperti biasa, di sela-sela aktifitasnya Dimas terus memikirkan hal yang dia lihat di bawah alam kesadarannya. “Ahh, palingan itu cuma mimpi,” pikirnya. Namun, tepat saat sebuah mobil datang ke bengkel tersebut, suara denting halus menggema di kepalanya. Ding! Tiba-tiba sebuah layar biru muncul di hadapan Dimas, membuatnya sedikit terlonjak kaget. Gleg. Dimas menelan ludah sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang dia lihat memang benar nyata. “Sistem?” Misi perdana Host! Mengintip warna celana dalam Customer! Target bernama : Livia, usia sekitar 25 tahun, pekerjaan managet hotel. Hadiah: Rp, 200.000 + 10 poin sistem dan 5 poin skill montir

  • SISTEM: Aku Si Raja Montir   1. Sistem.

    “Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu.“Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya.Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo.Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu.Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya.***Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai P

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status