MasukBAMMMM! Garis-garis kehidupan di mata Zhuge Yan meredup seketika. Kesadarannya runtuh total saat tubuhnya yang kurus keriput tak lagi sanggup menopang hancurnya seluruh meridian. Dengan bunyi *BRUGH* yang berat, kepala Zhuge Yan terhempas menghantam batuan kuarsa. Sisa-sisa Qi darahnya menguap menjadi asap tipis, meninggalkan sesosok mayat hidup bernapas lemah yang sepenuhnya kehilangan kultivasi! "ZHUGE YAN!" Raungan histeris membelah langit Altar Utama! Patriark Klan Zhuge yang menyaksikan putra sekaligus calon penerus klan tunggalnya berubah menjadi sosok cacat tak berguna tak mampu lagi menahan kegilaan amarahnya. BOMMMMMMMMM! Tekanan kultivasi Ranah Petarung Raja Bintang Tujuh meledak dahsyat dari tubuh Patriark Klan Zhuge, menghancurkan seluruh area tribun kehormatan di sekitarnya! Pembatas pualam hancur berkeping-keping saat sosoknya melesat bagaikan bayangan iblis yang diselimuti api kemurkaan murni. SWRRRZH! Cahaya menyilaukan memancar dari cincin ruang di jarinya. Seb
BZZZZZZZT! BZZZZZZZT! Langkah Seribu Petir milik Fang Zhe terpicu sepenuhnya! Setiap kali tumitnya menyentuh lantai kuarsa, pendar petir ungu-biru meletup halus, meninggalkan jejak kilatan arus listrik yang seketika melontarkan tubuhnya bagaikan bayangan hantu. WUSHH! WUSHH! WUSHH! "B-BAGIMANA MUNGKIN?!" raung Zhuge Yan semakin gila, rahang keriputnya bergetar hebat. Sepasang cakarnya yang beracun terus mengayun tanpa henti, membelah udara dengan kecepatan gila-gilaan dari Ranah Petarung Raja Bintang Empat. Namun, tak peduli seberapa brutal dan buas serangan cakar darahnya... yang berhasil ia robek hanyalah sisa-sisa bayangan petir yang ditinggalkan oleh Fang Zhe! BAM! BAM! DUMM! Hantaman cakar Zhuge Yan yang luput berkali-kali menghantam lantai kuarsa, menciptakan kawah-kawah baru dan menerbangkan puing-puing batu yang hancur menjadi debu. Namun sosok Fang Zhe tetap tak tersentuh, berkelebat lincah mengitari area pertarungan bagaikan kilat meliuk di antara badai. "PENGECUT! KAU
BOMMMMMMM! Aura darah kehitaman yang membakar sisa-sisa hidup Zhuge Yan makin menggila, hingga getaran tekanannya sanggup meretakkan pasak-pasak penahan formasi kubah pelindung arena. Bau amis darah yang teramat pekat meluap menembus celah-celah formasi, menyengat hidung ribuan penonton yang ketakutan. Di panggung utama tribun kehormatan, suasana yang tadinya diwarnai sorak-sorai dendam para tetua klan besar seketika berubah menjadi kekacauan total! "Sialan! Apa-apaan yang dilakukan bocah Zhuge itu?!" seru seorang Tetua dari Sekte Pedang Surgawi seraya menggebrak meja batu hingga hancur berkeping-keping. "Membakar garis darah murni demi memaksakan lonjakan ranah sampai Petarung Raja Bintang Empat?! Dia bukan cuma menghancurkan masa depannya sendiri, tapi bisa membuat kubah pertarungan ini meledak!" "Ini bukan lagi sekadar duel babak eliminasi!" tambah Penatua Agung Sekte Awan Hijau dengan wajah sepucat kertas. "Karakter dan akal sehatnya sudah sepenuhnya ditelan oleh kegilaan! Gel
"Ba-bagaimana bisa dia sudah ada disisiku?!" Zhuge Yan belum sempat memalingkan wajahnya ketika rasa dingin menembus tulang belakangnya. Sensasi ancaman kematian mengunci seluruh geraknya, membekukan darah di pembuluh dadanya. BZZZZZT—BOOOOM! Tanpa memberi jeda satu detik pun, tangan kanan Fang Zhe yang terlapisi pendar tiga elemen melesat maju bagaikan hantaman godam naga! Tinju itu menghantam tepat di tengah punggung Zhuge Yan dengan presisi yang menghancurkan. DUUMMMMMM! Suara retakan tulang dan ledakan Qi yang memekakkan telinga bergema keras di dalam kubah. Efek daya hancur tinju Fang Zhe menjalar kilat, seketika meremukkan pertahanan Formasi Busur Surgawi dan menghancurkan sisa-sisa aliran Qi di meridian Zhuge Yan yang memang sudah di ambang kehancuran. "GUAARRGH!" Darah segar menyembur deras dari mulut Zhuge Yan. Tubuhnya terlempar melintasi panggung arena bagaikan peluru meriam, menghantam dinding kubah pelindung hingga meretakkan formasi magis tersebut sebelum akhirnya
Fang Zhe tetap berdiri ditempatnya, tak bergeming di tengah amuk badai Qi yang dipicu oleh Zhuge Yan. Tatapan matanya yang setenang permukaan telaga es sama sekali tidak goyah, bahkan ketika tekanan aura Ranah Petarung Raja palsu milik lawannya menggetarkan lantai kuarsa di sekeliling mereka. Mendengar raungan penuh rasa percaya diri yang semu dari Zhuge Yan, sudut bibir Fang Zhe terangkat tipis, membentuk sebuah ukiran senyum dingin yang sarat akan ejekan mutlak. "Dendam lama dan baru?" tutur Fang Zhe datar, suaranya yang halus namun jernih menembus riuhnya deru angin badai di dalam kubah. Ia melangkah satu tapak ke depan. Ketenangan sikapnya berbanding terbalik dengan aura destruktif yang dipancarkan musuhnya. "Zhuge Yan, tampaknya ingatanmu ikut rusak bersama efek samping pil murahan itu," lanjut Fang Zhe dengan nada meremehkan yang begitu tajam. "Di Dunia Kecil tadi, bukankah kau sudah menggunakan cara yang sama untuk menaikkan kultivasimu secara paksa? Dan bagaimana hasilnya?
Suasana di sekeliling Altar Utama mendadak diliputi keheningan yang serasa menjerat leher. Dua puluh nama yang berpendar keemasan di atas udara—membawa reputasi puncak generasi muda Wilayah Timur—menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata. Namun, bukannya langsung melangkah maju dengan penuh percaya diri, para jenius muda yang namanya tertera di daftar itu justru saling pandang dengan raut cemas. Keringat dingin merembes dari pelipis beberapa di antara mereka. Sistem pertarungan terbuka tanpa batasan undian ini ibarat pedang bermata dua. Jika mereka asal melangkah dan menantang orang yang salah, kegagalan tragis sudah menanti di depan mata. Lebih dari itu, kehadiran sosok Fang Zhe yang baru saja membantai puluhan jenius serta mampu memicu bentrokan tingkat Petarung Kaisar membuat peta kekuatan di antara dua puluh besar menjadi teramat mengerikan. Menantang Fang Zhe sama saja menyerahkan nyawa, namun membiarkannya bertengger tanpa ada yang berani menantang juga menjadi beban mental t
Hening beberapa detik memenuhi kabin mobil yang bergerak halus itu. Fang Zhe juga tidak langsung menjawab.Di luar jendela, gedung-gedung kota Shange mulai menjulang tinggi. Dunia yang beberapa jam lalu terasa begitu kejam, kini seperti membuka celah kecil untuknya.“Kalau aku menolak?” tanyanya te
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arog







