LOGINPintu logam ruangan itu dihantam terbuka hingga membentur dinding dengan keras. Faiye dan Lei Ba melesat masuk dengan senjata yang setengah terhunus dan ekspresi wajah yang penuh ketegangan. Mereka berdua panik setelah mendengar suara ledakan energi yang dahsyat, disusul oleh makian penuh amarah dari Fang Zhe yang menggema hingga ke luar ruangan. "Tuan Muda! Apakah ada penyusup?!" teriak Lei Ba, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan liar, mencari musuh yang mungkin bersembunyi di dalam kegelapan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Fang Zhe yang berdiri di tengah ruangan dengan jubah hitam yang masih berkibar pelan sisa gelombang kejut tadi. Hanya saja Urat-urat di pelipisnya menonjol, dan sepasang matanya menyiratkan kekesalan yang begitu mendalam. Memang benar aura yang menguar dari tubuh Fang Zhe kini telah jauh lebih kuat dan padat menandakan ia telah resmi menginjak ranah Pengumpul Roh bintang tiga... Tetapi ekspresinya justru tampak seperti orang yang baru
Fang Zhe menatap reaksi berlebihan dari kedua bawahannya dengan pandangan datar, seolah-olah sumber daya yang sanggup memicu perang di penjara naga hitam itu, tak lebih dari sekadar vitamin penambah stamina biasa. "Kalian berdua, berjaga di luar sekarang," perintah Fang Zhe, suaranya pelan namun mengandung otoritas yang tidak menerima bantahan. "Jangan biarkan siapa pun mendekat atau mengintip ke dalam ruangan ini selama aku menyerap khasiat dua sumber daya ini." "Baik, Tuan Muda!" jawab Faiye dan Lei Ba serentak. Mereka berdua segera mundur dengan langkah cepat, menutup pintu logam ruangan dengan rapat. Di luar, keduanya langsung memasang posisi siaga penuh, melepaskan aura kewaspadaan tertinggi untuk memastikan tidak ada mata-mata faksi lain atau sipir yang berani mendekat. Begitu situasi di luar dipastikan aman, Fang Zhe tidak langsung menyentuh kotak cendana di atas meja. Ia justru memejamkan matanya sejenak, mengalirkan indra spiritualnya ke seluruh penjuru ruangan un
Fang Zhe menatap gulungan bambu giok yang berkilauan di atas meja. Matanya memicing, menganalisis fluktuasi energi spiritual yang menguar samar dari tulisan-tulisan kuno di atasnya. Cairan Sumsum Naga Bumi dan Pil Pemurni Jiwa Sembilan Transformasi. Menurutnya ini sudah cukup. "Ambilkan semuanya untukku," ujar Fang Zhe tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya terdengar mutlak, sebuah titah dari seorang pria yang tahu persis apa yang dia inginkan. Li Shian tersenyum lebar, binar matanya memancarkan kepuasan seorang pebisnis yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. "Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Muda Fang Zhe. Mohon tunggu sebentar." Dengan gerakan anggun namun cekatan, Li Shian menggunakan segel giok khususnya untuk memproses transaksi fantastis tersebut. Puluhan kartu ATM di atas meja tersedot saldonya secara masif, meninggalkan angka yang pas untuk menebus dua sumber daya terlarang itu. Tak lama kemudian, Li Shian kembali dengan sebuah kotak kayu cenda
Jarak di antara mereka kini begitu dekat. Aroma lembut bunga melati yang menguar dari tubuh Li Shian kembali menyapa indra penciuman Fang Zhe, berpadu dengan kehangatan napas wanita itu yang berembus tipis di udara. Tatapan mata Li Shian yang seindah bintang tampak mengunci penuh selidik, mencoba mencari celah di balik ketenangan wajah pria di depannya. Namun, alih-alih terpesona atau merasa terintimidasi oleh kedekatan yang sengaja diciptakan Li Shian, Fang Zhe justru memundurkan tubuhnya setengah langkah dengan gerakan yang sangat natural. Ekspresi wajahnya mengeras, menjadi begitu dingin dan acuh tak acuh. "Rahasia," jawab Fang Zhe singkat dengan nada suara yang judes dan sangat jutek. "Dan kurasa, bagaimana cara aku berkultivasi sama sekali bukan urusan Toko Sumber Daya Naga Langit." Li Shian sempat terpaku sejenak. Sebagai wanita yang terbiasa dipuja dan dipatuhi oleh banyak kultivator tangguh di penjara ini, respons judes dan penolakan mentah-mentah dari Fang Zhe bena
Li Shian berjalan dengan keanggunan seorang dewi yang terasing di tempat pembuangan, jubah putihnya menyapu lantai kayu spiritual dengan desir halus yang menenangkan. Fang Zhe mengikuti dari belakang, membiarkan jubah hitamnya menyembunyikan setiap riak energi yang bergejolak di dalam meridiannya. Creeek... Klek. Begitu pintu kayu giok ruang kerja pribadi Li Shian tertutup, keheningan mutlak langsung menyelimuti mereka. Ruangan ini dilapisi oleh formasi kedap suara tingkat tinggi, mengisolasi setiap kata yang terucap dari dunia luar yang bising. Li Shian tidak langsung duduk. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap lurus ke arah rongga tudung jubah hitam Fang Zhe. Sepasang matanya yang seindah bintang malam berkilat dengan kecerdasan yang mendalam. "Anda bisa melepaskan tudung Anda sekarang... Fang Zhe," ucap Li Shian tenang, suaranya mengalir datar namun sarat akan keyakinan mutlak. Di balik kegelapan tudungnya, sudut bibir Fang
Sreeet... Suara desas-desus yang semula memenuhi ruangan Toko Sumber Daya Naga Langit mendadak hening. Kata-kata yang keluar dari bibir Fang Zhe, meskipun lirih, itu cukup bisa didengar oleh beberapa pelanggan lain. Seketika itu juga, beberapa pasang mata dari para pelanggan kaya yang sedang memilih barang di sudut-sudut toko langsung tertuju padanya. Alis mereka mengernyit serentak, memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya, kebingungan, dan rasa ingin tahu yang membuncah. "Pengumpul Roh? Apakah telingaku tidak salah dengar?" bisik seorang pria paruh baya berjubah brokat merah yang dikenal sebagai saudagar kaya dari luar penjara. "Ranah Pengumpul Roh di dalam Penjara Naga Hitam ini bisa dihitung dengan jari sebelah tangan! Siapa pria berjubah hitam itu? Apakah dia salah satu penguasa blok? Katanya semuanya terbunuh ketika melawan penguasa blok baru itu?" sahut kultivator lain di sebelahnya, menatap punggung Fang Zhe dengan pandangan menyelidik. "Heh, apa dia Fang Z
Tersadar jika ia terus diam masalah akan semakin rumit. Fang Zhe akhirnya mulai berbicara.“Cukup.”Satu kata. Tidak keras. Namun cukup dalam. Seolah ada tekanan tak terlihat yang langsung menekan suasana di sekitar mereka.Seketika Erina dan Irma sama-sama terdiam.Dan kini, Fang Zhe melangkah maj
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Karena Tatapan dingin Erina tertuju tepat pada Fang Zhe.“Semalam ini, kau seharusnya beristirahat…” katanya perlahan.“Lalu kenapa kau malah keluar hingga pagi hari?”Nada suaranya tidak keras.Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan.Dua pega
erIrma masih menatap Fang Zhe tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus sampai ke dalam pikirannya. “Fang Zhe…” katanya pelan. “Ilmu medis seperti itu… kau benar-benar hanya ‘pernah belajar beberapa kali’?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Dan kau belajar dari mana?” Ruanga







