LOGINSuara derit ranjang kayu yang malang itu berdentum keras saat menahan beban empat orang sekaligus. Akibat gerakan Erina yang terlalu bersemangat dan desakan Dokter Irma yang kehilangan keseimbangan, ketiganya ambruk ke depan, menubruk tubuh Fang Zhe yang memang sudah tersudut di sandaran ranjang. Dalam hitungan milidetik, kamar pribadi yang tadinya dipenuhi atmosfer intimidasi romantis langsung berubah menjadi medan kekacauan yang sangat canggung. 'I-ini...' ungkap dalam hati. Karena Fang Zhe terlentang di atas kasur dengan napas tertahan. Di atasnya, ketiga wanita itu saling tumpang tindih dalam posisi yang benar-benar intim dan acak-acakan. Wajah Erina mendarat tepat di dada bidang Fang Zhe, sementara Dokter Irma separuh menindih kaki pemuda itu dengan rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajah Fang Zhe. Bibi Mei sendiri berada di posisi paling atas, mencoba menahan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua bahu Fang Zhe, membuat jarak wajah mereka hanya tersisa bebera
Mendengar deklarasi kompak yang menggelegar di dalam kamar pribadinya, Fang Zhe benar-benar merasa seolah-olah seluruh fondasi kultivasinya sedang diguncang oleh gempa bumi tingkat tinggi. "K-Kalian..." Fang Zhe terbata. Untuk pertama kalinya, sepasang mata keemasannya bergerak gelisah, menolak untuk menatap langsung ke arah mata ketiga wanita di hadapannya. Rona merah yang awalnya hanya tipis, kini perlahan menjalar dari leher, pipi, hingga ke ujung telinganya. Melihat sang "Tuan Muda" yang tak terkalahkan kini tampak seperti kelinci yang tersudut, Dokter Irma tidak bisa menahan senyum kemenangannya. Mulai melangkah satu senti lebih dekat, hingga Fang Zhe bisa merasakan embusan napasnya yang hangat. "Kenapa, Fang Zhe? Apa kamu tidak bisa memprediksi situasi ini?" goda Dokter Irma, nadanya berbisik manis namun penuh intimidasi. "Atau perlu kami bertiga menciummu sekali lagi agar kau bisa berpikir jernih?" "Jangan... jangan bertindak gegabah," potong Fang Zhe cepat, tangannya ref
Fang Zhe menghentikan langkahnya di tengah lobi toko. Tatapan matanya yang tenang menyapu seluruh karyawannya yang kini menatapnya seolah melihat dewa yang turun dari langit. Seulas senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di wajahnya. "Siska, Tao, Bimo. Aku kembali," ucap Fang Zhe, suaranya yang bariton dan stabil seketika membawa ketenangan magis yang meredam kepanikan di dalam toko. "Jangan biarkan kehadiranku mengganggu urusan toko. Tetap bekerja dan layani para pelanggan dengan baik seperti biasa." "B-Baik, Tuan Muda!" jawab Siska dan Tao serempak, mengusap air mata mereka dengan terburu-buru dan kembali ke pos masing-masing dengan semangat yang mendadak berkobar berkali-kali lipat. Setelah meredam kehebohan di lantai bawah, Fang Zhe melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, diikuti oleh Bibi Mei, Paman Lu, Dokter Irma, dan Erina. Ia mendorong pintu kamar pribadinya, sebuah ruangan yang sangat ia rindukan setelah mendekam selama seminggu di dalam sel batu Penjara Naga
Bibi Mei melonggarkan pelukannya, menatap iba ke arah Erina, lalu beralih menatap keponakannya untuk melihat bagaimana respons pemuda itu. Fang Zhe hanya menghela napas pendek. Ekspresi wajahnya kembali datar, namun tidak ada kilat kemarahan atau dendam di sepasang mata keemasannya. Ia mengulurkan tangannya, menepuk kepala Erina dengan pelan—sebuah gestur sederhana yang seketika membuat tangisan gadis itu agak mereda. "Sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu, aku tidak ingin membahasnya lagi. Lagipula, aku baik baik saja," ucap Fang Zhe dengan nada suara yang tenang namun berwibawa, menyapu bersih semua rasa bersalah yang berkecamuk di antara mereka. Mendengar kalimat itu, Dokter Irma tersenyum lega, sementara Erina perlahan menyeka air matanya meski sesekali masih sesenggukan. Namun, di tengah momen emosional tersebut, Paman Lu yang sejak tadi mengamati situasi mendadak mengerutkan alisnya. Sepasang matanya yang tajam menyapu ke arah gerbang besar Penjara Naga Hitam yang terbu
Kepala Sipir yang mendengar ancaman dingin Fang Zhe tidak berani menunda sedetik pun. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia bergegas membongkar laci mejanya, mengeluarkan gulungan perkamen emas khusus kekaisaran dan sebotol tinta darah spiritual. "B-Baik, Tuan Muda! Hamba urus sekarang juga! Mohon tunggu sebentar!" ucap Kepala Sipir panik, langsung menggoreskan pena bulu dan mengalirkan Qi miliknya untuk mengaktifkan segel hukum penjara. Fang Zhe hanya berdiri bersedekap dada dengan ekspresi acuh tak acuh. Di sampingnya, Faiye masih berusaha mencerna kenyataan bahwa dirinya kini memegang otoritas tertinggi atas ribuan tahanan kejam, sementara Lei Ba menunduk hormat, sadar bahwa hierarki di antara mereka telah bergeser sepenuhnya. Namun, di tengah kesunyian proses administrasi tersebut... BRAAAK! Pintu ruang kerja Kepala Sipir kembali terbuka kasar. Seorang penjaga penjara dengan zirah yang agak berantakan berlari masuk, lalu berlutut dengan napas terengah-engah di hadapan Kep
Faiye dan Lei Ba saling pandang dengan tubuh yang sedikit gemetar. Aura dingin yang mendadak menguar dari tubuh Fang Zhe terasa begitu menekan, jauh lebih mencekam daripada saat pemuda itu menghadapi Han Ling di arena tadi. Sambil melangkah memimpin jalan menuju blok sepuluh, Fang Zhe mencoba meredam kekesalannya terhadap sistem. Matanya menyipit tajam. Paviliun Keberuntungan Langit... ia hampir melupakan sisa-sisa lalat yang mengganggu itu. Untuk membersihkan mereka, ia harus keluar dari tempat ini secepatnya. "Lei Ba," panggil Fang Zhe tiba-tiba, memecah kesunyian lorong bawah tanah. Suaranya datar, namun memiliki penekanan yang kuat. "Y-Ya, Tuan Muda?" Lei Ba langsung menegakkan tubuhnya, menaruh rasa hormat yang mutlak. "Sekarang setelah aku menguasai seluruh blok dan membunuh Han Ling, apakah ada aturan yang memungkinkanku untuk bebas tanpa syarat dan keluar dari Penjara Naga Hitam ini secara legal?" tanya Fang Zhe langsung ke inti tujuannya. Lei Ba tertegun sejenak,
Tersadar jika ia terus diam masalah akan semakin rumit. Fang Zhe akhirnya mulai berbicara.“Cukup.”Satu kata. Tidak keras. Namun cukup dalam. Seolah ada tekanan tak terlihat yang langsung menekan suasana di sekitar mereka.Seketika Erina dan Irma sama-sama terdiam.Dan kini, Fang Zhe melangkah maj
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Karena Tatapan dingin Erina tertuju tepat pada Fang Zhe.“Semalam ini, kau seharusnya beristirahat…” katanya perlahan.“Lalu kenapa kau malah keluar hingga pagi hari?”Nada suaranya tidak keras.Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan.Dua pega
Fang Zhe meludah lagi ke samping, ekspresinya penuh penghinaan."Dokter yang ketakutan adalah dokter yang gagal sebelum bertarung. Jika kau menginginkan putri-mu mati, teruskanlah sandiwara penguasa arogan ini. Tapi jika kau ingin dia hidup, berhentilah menggonggong soal eksekusi!""BRENGSEK! BERAN







