ログイン
Uugghhh."
Ringisan lirih terdengar seiring Ivana perlahan membuka matanya. Sesaat dia terdiam. Ingatannya coba mengumpulkan memori mengenai apa yang terjadi semalam. Tangannya memijat kepala yang terasa pusing. Dia mendengus tidak suka dengan sinar mentari yang mengganggu tidurnya. Ketika dia menggerakkan tubuh. Saat itulah dia merasa nyeri luar biasa di area pribadi. Juga sakit di sekujur badan. Ivana lantas menoleh. Ekspresi wajahnya berubah. Ia terkejut luar biasa, mendapati Zack Alejandro ada di ranjangnya. Tidur pulas dengan tubuh hanya tertutup selimut dari pinggang ke bawah. "Ini gila!" Gumam Ivana pelan. Zack Alejandro adalah bodyguardnya. Lelaki berparas tampan yang selalu mengekorinya ke mana-mana. "Ini tidak mungkin! Tidak mungkin. Bagaimana bisa!" Ivana menggigit bibir, panik. Kepalanya sibuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi. "Apanya yang tidak mungkin, Nona?" Mata cantik Ivana melebar. Zack bangun. Tubuhnya masih sama polos dengannya. Tapi ekspresi pria itu tetap datar dan dingin macam biasa. Padahal semalam .... "Kenapa kamu ada di sini?" Jerit Ivana dengan jantung berdebar kencang. Di mana pria bayaran itu. Kenapa dia justru berakhir di kasur yang sama bersama Zack. Ivana mendadak diam, dia coba menggali ingatannya soal kejadian semalam. Frustrasi karena didesak menikah oleh ayahnya. Ivana justru punya ide untuk menikah dengan lelaki bayaran. Dia minta Kelly, temannya untuk mencarikan pria tampan dengan tubuh bagus. Dia akan gunakan alasan sudah pernah tidur bersama untuk menggagalkan pernikahannya dengan Evan Brown. Sambil menunggu Kelly, Ivana minum. Tidak disangka dia malah mabuk. Saat Kelly membawanya ke kamar, Ivana sudah setengah sadar. Sang teman hanya bilang, kalau pria bayaran itu sudah menunggunya di kamar. Ketika Ivana masuk kamar, dia memang menemukan seorang pria di sana. Tidak tahu siapa yang mulai lebih dulu, yang jelas Ivana tidak terlalu ingat wajah pria yang telah bercinta dengannya. Satu yang pasti pria itu sangat pandai memanjakannya di ranjang. Lelaki itu sangat mengagumkan dalam penilaian Ivana. "Dari pada Nona tidur dengan lelaki bayaran tidak dikenal. Bukankah lebih baik melakukannya dengan saya?" Zack membalas enteng pertanyaan Ivana. Secara tidak langsung mengakui kalau semalam mereka telah melakukan hal tersebut. "Lebih baik apanya? Tidak! Pergi! Pergi kamu! Pergi!" Pekik Ivana histeris. Dia coba menyangkalnya. Ivana tidak bisa menerima ini. Dia tidak percaya kalau lelaki yang mengambil mahkotanya. Yang dia puji mengagumkan adalah bodyguardnya sendiri. "Tunggu dulu, kamu sengaja melakukan ini? Kamu mau ambil kesempatan ketika aku mabuk semalam?" Tatapan Zack berubah dingin. "Pria itu berbahaya, Nona. Dia punya motif tersembunyi. Saya hanya berusaha melindungi Nona." "Dia itu pilihan Kelly. Dia temannya. Mana mungkin punya niat jahat. Kamu jangan mengada-ngada!" Zack hanya diam. Sangat paham dengan karakter nonanya. Susah diubah sudut pandangnya. "Heh! Kamu ngapain?" Ivana melotot ketika Zack dengan santai turun dari kasur. Tanpa mengenakan apapun. "Mandi." Mode irit bicara Zack kumat. "Pakai baju dulu!" Zack tidak menjawab, dia hanya terus masuk kamar mandi. Acuh ketika Ivana memejamkan mata. Detik setelahnya mata Ivana berkaca-kaca. Bagaimana bisa dia justru tidur dengan bodyguardnya. Lelaki yang sudah dua tahun mengikuti langkahnya. Ivana seolah tidak punya harga diri. Dia bisa dianggap tidak laku, sampai harus tidur dengan pengawalnya sendiri. Apa yang membuat Ivana makin muram, Zack kemungkinan mata-mata ayahnya. "Bagaimana ini?" Gumamnya penuh keputusasaan. "Nona begitu takut disuruh menikah dengan Tuan Brown. Tapi malah mengambil langkah seperti ini. Jika hanya sekedar menikah, kenapa tidak menikah dengan saya saja?" Zack telah selesai membersihkan diri. Pria itu tampak segar, aroma sabun juga sisa wangi parfum Zack membuat Ivana merona. Sekilas dia bisa mengingat dirinya memeluk erat tubuh Zack sepanjang permainan. Ivana menggelengkan kepala, lalu mendelik. "Itu tidak mungkin!" Tolaknya tanpa ragu. "Jadi Nona pilih menikah dengan Tuan Brown, meski Anda sudah tidur dengan saya?" Zack berdiri di hadapan Ivana, tangannya terlipat di dada. Lengan kekarnya meronta di balik kain kemeja. Lagi-lagi bayangan pria itu mendekapnya hangat muncul di benak Ivana. Perempuan itu mengumpat, kenapa pria itu jadi begitu protektif waktu di ranjang. Tidak, Zack memang selalu demikian. Selalu melindunginya di manapun, kapanpun, juga dalam kondisi apapun. "Bukan urusanmu! Ingat, aku belum menerima pernikahan itu!" Balas Ivana galak. Kepalanya serasa mau meledak. "Tuan Brown akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan Anda," ucap Zack masih dengan tatapan terkunci pada Ivana. Wanita itu lekas menaikkan selimut untuk menutup bagian dadanya. Wajahnya memerah mendapati Zack masih memandangnya. "Aku akan lakukan apa pun untuk mencari jalan keluar. Perusahaanku, tidak akan kubiarkan jatuh padanya. Aku juga tidak mau berakhir jadi istrinya," balas Ivana sambil mengepalkan tangan. "Kalau begitu menikah saja dengan saya," kata Zack lagi. "Zack Alejandro, itu tidak mungkin. Kita tidak bisa bersama!" Emosi Ivana meledak. Zack terdiam sesaat, sebelum kembali bicara. "Dengar Nona, tidak peduli yang Nona katakan. Semua tidak mengubah fakta kalau semalam kita telah melakukannya." "Kamu mengancamku?" Ivana menggeram meski wajahnya kembali merona. "Saya mana berani mengancam Nona. Saya hanya mengingatkan." Ada sindiran dalam tajam ucapan Zack. "Diam kamu! Jangan bicara lagi! Semua gara-gara kamu! Rencanaku kacau!" Zack pilih diam jika sang nona sudah mulai marah. Keheningan menyapa keduanya, sampai dering ponsel Ivana membuyarkan segalanya. "Iya, Kelly. Ada apa?" Raut wajah Ivana berubah panik. "Aku akan kembali ke kantor sekarang juga. Jangan biarkan Evan Brown melakukan apapun sampai aku datang."Suasana heboh mewarnai ruangan di instalasi gawat darurat tempat Paula berdinas. Ivana dibawa ke sana dalam keadaaan berlumur darah dan setengah sadar. Begitu sampai di sana pertolongan langsung diberikan. "Hubungi dokter kandungan. Sepertinya dia harus melahirkan." Tak berapa lama Paula datang bersama dengan Zack. Keduanya sama-sama seperti ingin makan orang. Apalagi Zack. Namun begitu melihat keadaan Ivana. Semua kemarahan pudar, berganti kepanikan tidak terkira. Paula dengan cepat memeriksa. Ekspresinyaa berubah cemas. "Ivana! Tetap sadar!" Serunya pada Ivana yang kesadarannya memang timbul tenggelam. "Tidak bisa, Dok. Rasanya berat," balas Ivana lemah. "Na, tetap bersamaku." Genggaman hangat tangan Zack membuat Ivana tersenyum. "Hai, mantanmu yang lakukan ini," adunya tanpa sadar. "Oke, nanti aku balas. Sekarang jangan tidur dulu." Zack menepi ketika Paula mengkodenya. Mereka bicara serius untuk beberapa waktu. Sampai keputusan final diambil. Ivana segera di dorong ke rua
Beberapa bulan kemudian."Damian gila! Bagaimana bisa dia menikah dengan Citra, cucunya Agam."Briana mengomel sepanjang perjalanan pulang ke Casa Celeste. Keluarga besar itu baru saja turun dari pesawat setelah menghadiri pernikahan Damian."Kalau sudah jodoh mau bagaimana?" Vin menenangkan sang istri yang sejak tadi ngereog tidak karuan."Jodoh dari mananya. Jelas-jelas dia manfaatin Citra. Awas saja, pengen kubejek-bejek tu anak. Anak orang lain, mungkin aku tidak masalah. Tapi ini cucunya Agam." Briana masih lanjut mengomel.Yang lain hanya diam mendengarkan. Terutama Ivana. Dia cukup lelah setelah perjalanan lumayan jauh antara Jakarta Milan.Ditambah usia kandungannya sudah masuk tujuh bulan. Pinggangnya mulai pegal dan kakinya lebih cepat merasa letih jika beraktivitas."Damian tidak memanfaatkan Citra. Lebih tepatnya mereka saling memanfaatkan," celetuk Dominic. Pria yang memang pandai menilai gelagat seseorang."Apa maksudnya itu?" Sambar Dira. Wajahnya terlihat senang, dia b
"Mau ngomong apa kamu?" Nada sengak dan muak tersirat dalam pertanyaan Zack. Sedang Damian, dia hanya bisa menghela napas. Memang salahnya, terlalu berharap pada Ivana. Padahal dia sendiri yang telah menyakiti hati perempuan itu. "Aku cuma mau bilang maaf sudah mengacau. Tapi mulai sekarang kamu bisa tenang. Aku tidak akan mengganggu Ivana lagi. Besok aku akan pergi" "Aku akan join buat ngurus salah satu bank milik Oma yang di Jakarta. Sekaligus bantuin Tante Dira buat ngawasin simbahmu." Zack mengerutkan dahi. "Mau kabur lagi?" Tudingnya tanpa basa basi. Damian menghela napas lelah. "Aku bisa apa. Dua kali patah hati pada perempuan yang sama. Kalau bisa aku pilih amnesia soal dia." Zack tertawa heboh. "Semoga terjadi. Lupakan istriku, tapi skill dan kemampuan jangan." Damian memutar bola matanya bosan. Dia benci jika Zack sudah bersikap demikian. Sok bijak, sok percaya diri. Padahal dia pun lebih kurang sama dengan dirinya. Pernah menyakiti hati perempuan. "Tidak menunggu pern
"MN GRUP bangkrut."Ivana terbelalak sebelum menerima tablet dari Zack. Di mana berita soal kehancuran Moonstone Grup terpampang di sana."Jadi ini benar?" Gumam Ivana dengan mata bergulir cepat membaca berita."Meredith dan Amelia sepertinya sedang melarikan diri dari debt collector yang menagih utang mereka. Evan Brown juga tidak peduli lagi pada mereka. Gosip terbarunya, dia akan segera menikah dengan putri pengusaha dari kota sebelah."Zack menambahkan selepas meminum kopinya. Keduanya memutuskan mampir ke La Barka. Setelah kejadian mereka hampir menabrak orang, yang tak lain adalah Meredith dan Amelia.Tampilan keduanya berantakan, lusuh juga kumal. Tak terlihat lagi gaya sosial kelas atas yang dulunya identik dengan mereka. Baju mewah keluaran butik ternama dengan perhiasan berkilau menghiasi.Meredith dan Amelia dilempar kembali ke tempat asal mereka. Miskin dan kumuh. Saat hampir ditabrak mobil Zack, kedua orang itu langsung lari terbirit-birit, tampak ketakutan."Wah, itu ber
Ucapan Serena membuat Ivana kembali berlari ke tempat Luis. Dia harus tahu kebenarannya atau dia akan makin gila. "Luis Hugo! Luis Hugo! Di mana kamu!"Tiap ruangan yang dia buka, Ivana tidak menemukan Luis di sana. Mereka menggeleng tiap kali ditanya di mana pria itu berada. "Kalau Dokter Paula?""Oh, dia sudah kembali ke rumah sakit. Katanya ada operasi caesar darurat."Ivana lemas di tempatnya berdiri. "Luis di mana?"Yang ditanya tampak mengerutkan dahi. "Dia sepertinya sedang keluar."Habis sudah harapan Ivana untuk mencari tahu siapa ayah bayinya. Saking lelahnya mencari, Ivana pilih rebahan di sofa depan ruangan Max.Ivana hampir terpejam ketika suara Zack membuatnya kembali terjaga."Kenapa tiduran di sini?""Zack aku mau ngomong sesuatu.""Aku juga. Aku tadi konsul sama dokter Paula. Katanya kamu belum bisa melakukan perjalanan jarak jauh. Aku sudah bilang cuma tiga jam, tapi dia bilang jangan dulu."c"Resikonya besar untuk kandunganmu. Masih kecil dan sangat rawan kegugura
"Bagaimana keadaannya?"Zack bertanya pada Paula begitu dia kembali ke ruangan tempat Ivana dirawat. Paula ingin sekali memaki Zack, tapi tidak berani."Dia terus memintaku melakukan aborsi."Bola mata Zack melebar tidak percaya. "Jangan pernah lakukan itu padanya. Dia mengandung anakku, darah dagingku.""Kalau begitu beritahu dia. Kalau kamu ayah bayinya. Jika kamu terus menyembunyikannya, psikisnya akan tertekan. Itu tidak baik untuk kandungannya.""Jika demikian, tanpa aku melakukan aborsipun, istrimu sedang on the way membunuh janinnya sendiri." Paula mengulangi ceramahnya.Makin syok Zack dibuatnya. Dia ingin memberitahu Ivana, tapi dia mau menunggu sampai mereka pulang. Keadaan sudah aman jadi mereka bisa kembali ke The Crystal.Zack terdiam di tempatnya untuk beberapa waktu, sampai pintu di depannya terbuka. Ivana muncul dengan wajah pucat, juga tubuh terlihat lemas."Ivana, kamu mau apa?""Aku mau pulang ...."Kalimat Ivana menggantung di udara. Pulang? Mau pulang ke mana dia.







