Share

2. Malam Pertama

Author: Jayashree
last update Last Updated: 2023-06-21 21:02:44

Pernikahan sebelumnya bersama Larissa adalah impiannya. Ia sudah mencintai Larissa sejak lama sekali, sampai suatu hari, ia menemukan Larissa patah hati dan berhasil meluluhkan wanita itu, bahkan mempersuntingnya.

Bagi Andrea, Larissa adalah cinta pertama, dan terakhir.

Kini, Soraya sudah menjadi istrinya selama setahun, tapi di hatinya tidak pernah ada nama itu, melihatnya dengan tulus menjadi ibu sambung Alex dan mengurusnya lebih baik, Andrea mulai sadar, ia harusnya bisa melanjutkan hidup, dan bahagia seperti sekarang Larissa juga pasti sudah bahagia bersama pria yang membawanya lari, sampai tega meninggalkan putranya yang saat itu baru berusia 7 bulan.

Soraya, wanita malang itu terpaksa menikahi Andrea karena ibunya, Lisa Tamson yang sudah membiayai semua pengobatan ibu Soraya yang bahkan masih berjalan sampai hari ini.

Bagi Andrea, Ibu Hera sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, melihat ibu asuhnya selama ini terkapar ia pun tidak bisa diam saja. Ibu Hera adalah sahabat Nyonya Tamson, tapi mereka tidak dikaruniai keberuntungan yang sama, namun memiliki kemalangan yang sama. Menjadi janda yang ditinggal mati suaminya.

Lisa bisa menikah dengan pengusaha sukses, tapi suaminya meninggal saat Andrea baru berusia 5 tahun. Ia dengan keras memperhatankan perusahaan suaminya, dan sejak saat itu ia mengajak Hera untuk mengasuh Andrea, dan menjadikannya kepala asisten rumah tangga, karna kesibukannya di perusahaan. Dan saat mengandung anak keduanya, Hera juga kehilangan suaminya yang tiba-tiba meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal.

Lisa dan Hera, menjadi sahabat yang erat, mereka membagi keluh kesah masing-masing. Begitupun Andrea, sebenarnya ia sudah mengenal Soraya sejak mereka masih anak-anak, tapi kedua anak ini sama-sama saling tak peduli.

Pagi itu, hari dimana semua cerita ini akan bermulai, matahari seolah memberkati Soraya yang akan mencari pekerjaan setelah kelulusannya dari sebuah universitas, ibunya sangat ingin ia menjadi sarjana dan mendapat pekerjaan yang layak.

Tapi bagai petir di siang bolong, Ibu Hera pingsan dan masuk ke rumah sakit. Nyonya Tamson sendiri yang mengantarnya. Tapi Ibu Hera tidak juga terbangun dan hanya Raya dan kakanya Dian yang menjaga ibu mereka. Dokter mendiagnosis bahwa ibunya sudah gagal ginjal akut dan harus selalu melakukan cuci darah.

Raya melihat biaya administrasi, biaya yang harus bicarakan sekitar 3 juta rupiah untuk sekali cuci darah, dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Dan ibunya harus cuci darah dua minggu sekali. Sejak hari itulah Nyonya Tamson menanggung biaya pengobatan Ibu Hera.

Tapi dengan satu syarat, Soraya harus bersedia menjadi ibu sambung dari cucunya, Alex. Sama saja bahwa ia harus menikah dengan putranya, Andrea. Selama ini Lisa sangat menyukai gadis muda yang cerdas itu. Tapi Andrea tidak pernah mendengarkan. Kali ini, Alex membutuhkan seorang ibu, ini adalah alasan yang bagus untuk menjadikan Soraya sebagai anak mantunya.

Atas semua kebaikan Nyonya Tamson, Soraya pun menerima, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan ibunya. Sejak hari itu, tugasnya adalah mengurus kebutuhan rumah tangga, mengatur semua para asisten rumah tangga seperti yang ibunya sudah lakukan sejak lama, yang kini hanya bisa istirahat di rumah dan melakukan pekerjaan ringan.

Tapi seberjalannya waktu, Raya menginginkan Andrea untuk menganggapnya sebagai seorang istri. Walau pria itu selalu acuh ia berusaha keras melayani dan mencuri perhatian dengan kelembutannya. Tapi semua itu nihil, Andrea sama sekali tidak peduli, dalam hatinya hanya ada Larissa. Cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir menurutnya.

Andaikan bukan karna Alex, ia pasti tidak akan menikah lagi.

Soraya pun akhirnya menyerah, ia mencurahkan semua kasih sayang, hanya untuk Alex. Membesarkannya seperti putranya sendiri, setiap perkembangannya membuat hatinya terharu, begitupun Alex, ia tidak bisa lepas dari Mami nya, Soraya.

"Kamu juga berhak bahagia, Andrea." Ucap Andrea pada dirinya sendiri.

Ia tidak lagi bisa fokus bekerja, bayang senyuman di bibir Soraya sudah kembali merampas akalnya. Setahun ia tidak tertarik sama sekali, tapi entah kenapa kali ini ia sangat menginginkan wanita itu. Wanita yang selama setahun ini sudah menjadi istrinya dan ia tidak pernah sama sekali menyenntuhnya. Betapa bodoh.

Bahkan mendekap tangannya. Ia baru saja melakukannya di kamar putranya barusan. Percuma ia sekeras apapun berkonsentrasi, yang ia inginkan saat ini hanya, Raya. Lebih baik pergi kesana sekarang juga.

Tok Tok!!

Soraya terkejut setengah mati. Bukankah ia bilang akan datang setelah bekerja? Bukankah ini bahkan belum 15 menit berlalu? Ia gugup kakinya lemas tapi ia memaksa untuk berjalan dengan ragu.

Ceklek! Pintu itu terbuka sendiri.

"Raya, apa kau sudah tidur?" Andrea langsung membuka kamar istrinya dan mendapatkan Raya mematung.

"Apa kau sudah selesai?" Tanyanya gugup sekali.

Andrea mengangguk, ia lalu menutup pintu. Jantung Soraya seperti mau copot berbarengan dengan pintu yang tertutup.

Andrea melihatnya sangat berbeda. Malam ini Soraya sangat cantik, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Apa karna Andrea mulai sering memikirkannya?

Tatapan mata Soraya tidak bisa lepas dari pria yang kini menghampirinya. "Ada apa kenapa melihatku begitu?"

"Apa kau benar-benar datang untukku?" Soraya masih tidak percaya akhirnya Andrea membuka hati untuknya.

Andrea tersenyum ramah. Menggandeng tangan Soraya untuk duduk di tepi tempat tidur.

"Apa selama ini kau menungguku?"

Rasanya tidak siap Raya terus bertatap dengan suaminya sendiri, ia jadi terus menunduk. "Ya, awalnya. Tapi aku sudah lama tidak memikirkan itu."

"Apa kali ini pun sudah tidak memikirkannya?"

Soraya menghela nafas putus asa. "Aku selalu kecewa selama setahun ini, tapi aku tidak ingin terus begitu, jadi aku melupakannya. Walau hatiku selalu ingin ada keajaiban dalam dirimu."

Andrea mengambil salah satu tangan Raya untuk menggenngamnya. "Maaf" katanya dengan tulus dan di balas anggukan oleh Raya.

"Raya.." Kini Andrea mengangkat dagu Raya untuk langsung melihat kedalam kedua netranya.

"Apa aku boleh menjadikanmu istriku yang sebenarnya?"

Pertanyaan itu hanya membuat Raya menjadi tersipu. Kenapa dia harus bertanya, selama ini pun Raya adalah istri yang selalu menunggunya. Tapi bagi Andrea, ia harus meminta kerelaan, karna selama ini ia sudah melakukan kesalahan yang berat untuk Raya.

"Tentu."

Andrea kembali tersenyum, melihat suaminya seperti ini, Raya seperti bermimpi. Andrea mengelus lembut wajahnya, "Maaf membuatmu terus menunggu. Aku akan berusaha untuk bahagia bersamamu mulai sekarang."

Hati Raya dipenuhi rasa haru, dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya, membuatnya mematung.

Wajah terkejut Raya membuat Andrea tertawa, "Apa kau gugup?"

Raya merasakan pipinya memanas, dengan ragu ia menjawab, "Aku menyukainya."

Andrea tersenyum, meraih dagunya untuk kembali mengecup bibir indah Raya dan melumatnya lembut dengan perlahan.

Raya menutup matanya merasakan setiap sentuhan dan air mata merembes dari kelopak matanya. 'Aku harap ini kenyataan, aku harap aku tidak akan terbangun dari mimpi indah ini.' Batin Raya, yang meraih kedua pipi Andrea untuk menekan ciumannya, merasakan deru nafas yang mulai sesak karna perasaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SORAYA : Istri Pengganti   13. Kehadiranmu

    Andrea tertawa pelan, menggenggam tangannya dan menariknya pergi. Mereka naik ke kamar eksklusif keluarga Tamson, lantai tertinggi hotel. Begitu pintu tertutup— Andrea tak bisa menahan diri langsung mencium Soraya kembali, lebih dalam, lebih putus asa. “Aku sangat merindukanmu…” Soraya membalas dengan napas memburu. “Aku menginginkanmu, Mas.” Andrea menuruni leher Soraya dengan ciuman panas, aromanya menabrak seluruh kontrol diri. Tak butuh waktu lama — mereka sudah berada di tempat tidur, melepaskan kerinduan. Setelah malam yang panjang, Soraya terbangun pelan. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota yang masuk melewati tirai besar. Tubuhnya masih hangat, terbungkus dalam selimut tebal. Lalu ia sadar— dirinya berada dalam pelukan Andrea. Lengannya melingkar di pinggang Soraya, napasnya tenang, dalam, damai… seperti seseorang yang akhirnya bisa tidur setelah berhari-hari tersiksa. Soraya menatap wajah itu. Wajah yang biasanya penuh tekanan, kebingungan, rasa bersalah… kini

  • SORAYA : Istri Pengganti   12. Makan Malam

    "Larissa mungkin masa lalu yang selalu aku rindukan sebelumnya,” Andrea berkata pelan, suaranya seperti tertahan sesuatu. Ia terdiam sejenak sebelum meremas tangan Soraya lembut. “Tapi sepertinya semua udah berubah sekarang.”Soraya melepaskan genggaman itu perlahan, matanya merendah.“Aku tidak berani memimpikanmu, Mas. Rasanya masih jelas bagaimana kamu gak pernah melihat aku dan selalu terjebak dalam masa lalu bersama Mbak Larissa. Sekarang saat dia kembali… yang aku rasakan lebih putus asa.”Kata-kata itu menghantam Andrea. Ia kehilangan suara.Ia menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Lampu kota memantul di wajah bersalahnya saat ia menatap Soraya.Tanpa berpikir panjang, Andrea meraih tangan Soraya dan mengecup punggungnya dengan lembut.“Saat ini aku sangat takut, Raya. Aku sangat takut kehilanganmu.”“Mas, apakah kamu benar-benar merasakannya? Apa yang aku rasakan?”Mata mereka bertemu — namun bukan kehangatan yang mereka lihat, melainkan ketakutan dan rasa tak percay

  • SORAYA : Istri Pengganti   11. Menculik

    Tidak ada jawaban. Larissa masuk kembali ke rumah dengan wajah panas membara. Rahangnya mengeras, tumit sepatunya menghentak lantai marmer.“Oke kalau ini yang kalian inginkan… jangan kamu pikir aku bodoh. Justru KALIAN yang bodoh.”Ia mendesis panjang, matanya merah karena amarah.Larissa benar-benar kesal, namun pikirannya bekerja cepat.Alex.Anak itu selalu menjadi kelemahan Andrea.Mana mungkin pria itu akan mengabaikanku kalau aku membawa Alex?Ia tersenyum miring.Licik.“Bi Inah!”“Iya nyonyah.”“Mana Alex?”“Alex sudah tidur nyonyah.”Larissa melangkah cepat.“Aku akan bawa dia pergi dari sini.”Inah tersentak dan langsung menahan tangannya dengan panik.“Nyah tolong jangan, nyah.”“Gak usah ikut campur kamu ya.”“Tapi nyah… nanti Nyonya Soraya pasti khawatir. Den Andrea juga…”“Peduli apa aku sama mereka?! Liat! Mereka bisa-bisanya ninggalin aku. Oke kalau kalian mau begini cara mainnya!”Larissa berjalan cepat menuju kamar Alex, napasnya memburu.Begitu masuk, ia langsung m

  • SORAYA : Istri Pengganti   10. Terabai

    Soraya tidak peduli lagi pada teriakan Larissa. Ia hanya mengangkat Alex ke gendongannya dan meninggalkan taman, membawa anak itu masuk ke rumah sambil berusaha menenangkannya.Di kamar, Alex masih tersedu-sedu.“Kenapa sih ada Tante jahat itu? Aku gak mau sama Tante jahat.” rengeknya sambil memeluk Soraya erat-erat.Soraya mengusap punggung kecil itu lembut.“Alex, sebenarnya dia adalah Mamamu yang sebenarnya. Aku juga ibumu… tapi kamu lahir dari perutnya.”Alex mengernyit bingung.“Tapi aku gak tau siapa dia.”Soraya menatapnya penuh kasih.“Alex denger Mami boleh?”Anak itu mengangguk kecil, wajahnya masih basah oleh air mata.“Kita harus selalu bersikap baik, dan kamu anak baik, bukan?”Alex mengangguk lagi, kali ini lebih dalam.Sangat menggemaskan dalam kesedihannya.“Mulai sekarang kamu harus berusaha untuk baik dengan Mamamu ya.”Alex menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Tapi aku cuma mau Mami…”Soraya tersenyum, menggenggam pipinya lembut.“Mami di sini, sayang. Gak akan per

  • SORAYA : Istri Pengganti   9. Hampir Gila

    Bagus langsung berdiri. Teman-temannya menatap dengan senyum lebar dan tatapan jahil. Terdengar kikikan tertahan dari ujung ruangan. “Silakan, Bu. Saya antar.” Larissa mendesis pelan, melengos dan berjalan cepat ke luar. Bagus mengikuti di belakang dengan senyum penuh kepuasan. Pintu tertutup. Andrea berdiri diam. Nafasnya berat… lalu memegang pelipis yang berdenyut keras. “Andaikan aku belum menyentuh Soraya… mungkin tidak akan serumit ini.” "Ah Tuhan… apa yang harus kulakukan?" Ia menatap ponsel di tangannya. Ingin menghubungi Soraya… tapi lidahnya kelu. Gak mungkin bicara di rumah. Larissa pasti akan mengacau. Andrea mondar-mandir di dalam ruangan, semakin gelisah. Kenapa pria setia sepertiku… harus dapat masalah seperti ini? Di rumah, Alex berlari-lari kecil di taman sambil tertawa riang, tangannya terangkat ke atas. “Aa dulu sayang! Pesawat datang!” Soraya menyuapi anak yang lahap itu. “Aaaa!” Alex berputar-putar, pura-pura jadi pesawat kecil. Soraya be

  • SORAYA : Istri Pengganti   8. Kami Tidak Bercerai

    Resepsionis tersenyum ramah. “Pak Andre tidak pernah tidak lembur sebelumnya, Bu. Tapi sekarang… keliatannya Pak Andre lebih santai. Sudah mulai ambil libur. Wajahnya juga berseri, beberapa waktu ini.” Lalu menambahkan: “Pantas saja… ternyata ibu sudah kembali.” Larissa menyipitkan mata dan tersenyum kecut. “Apa dia terlihat sangat bahagia?” “Iya, Bu.” jawab wanita itu tersenyum. “Kalian tau soal Soraya?” pertanyaan itu lebih terdengar seperti intimidasi. Langsung beberapa staf saling menatap. “Oh… istrinya baru pak Andrea ya, Bu? Pak Andre gak pernah bawa ke kantor sih Bu… bahkan acara gathering pun selalu sendirian.” Lalu dengan suara lirih, yang bikin dada Larissa panas: “Sepertinya… tetap Ibu masih jadi ratu di hati Pak Andrea.” Larissa hanya tersenyum kecut. Pupil matanya mengecil — marah. 'Sialan… Andrea bener-bener udah membuka hati untuk wanita jelek itu. Dan aku gak akan diam aja.' batinnya Larissa memasuki kantor Andrea. Aroma wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status