LOGINAndrea berhenti sejenak, menatap wanita yang kini ada di hadapannya, wajahnya merona dan butir air mata membasahi pipinya.
"Kau menangis?" Andrea terkejut, "Apa aku menyakitimu?" Ia segera menyeka air mata itu dari wajah Raya. Raya tersenyum dengan sedikit tawa, ia menggeleng. "Aku bahagia." Ia menatap suaminya. "Aku bahagia akhirnya kau datang." Kini Raya meraihnya dan mengecup bibir Andrea manja. Kecupan itu seperti menyalakan sesuatu, desiran dalam darahnya menjadi lebih cepat, Andrea menginginkan wanita di hadapannya, sangat menginginkannya. Andrea menciumi tangannya terus naik hingga ke bahu, dan mendarat pada bibir lembut Soraya, ia menekankan ciuman dengan kuat dan mendorong Soraya di tempat tidur dan kini ia dengan mantap naik ke atas tubuhnya. Soraya pasrah, ia menikmati setiap sentuhan yang setiap malam menjadi khayalannya. Kini, setelah setahun, malam ini tiba, setelah malam ini dia adalah istri Andrea yang sebenarnya. Tengah malam, Soraya terbangun, percaya tak percaya melihat pria ini tertidur di sampingnya dengan bertelanjang dada. Ia tak bisa berhenti tersenyum. Lalu datang mendekat ke pipinya untuk memberi kecupan. Andrea seketika meraihnya dan memeluk Soraya dalam pelukan. Ia dengan jelas mendengar degup jantung yang juga sama keras seperti milik nya. Sampai Andrea menarik tubuhnya untuk menatap Soraya. "Apa kau sedang menggodaku?" Soraya tersenyum jahil. "Apa kau tergoda?" Andrea memicingkan matanya membalas dengan tatapan nakal. "Kau harus membayar perbuatanmu." Andrea turun untuk menciumi leher Soraya hingga ia tergelitik. "Mas, sudah." Raya mendorongnya dan mata mereka bertemu. Rasanya hangat bisa bertatapan dengan pria yang selalu ditunggunya selama ini. Tanpa malu lagi Raya menciumi bibir pria itu dan memeluk erat pada tubuhnya dengan menempelkan seluruh tubuh yang kini belum mengenakan sehelai kainpun. Hanya selimut besar yang menutupi mereka. "Kau nakal juga rupanya." Andrea tersenyum membelai lembut pipi istrinya yang kini tersenyum sangat manis dengan rambut yang berantakan dan bahu mulus yang tidak tertutup selimut. "Aku baru sadar kau cantik." "Kau memang pria bodoh." Ucap Raya tertawa. Andrea ikut tertawa, "Ya, aku memang bodoh." Setelah malam yang manis, hari-hari seakan berubah seluruhnya. Setiap pagi Raya akan melihat suaminya di samping tempat tidur, sesekali mereka tidur bertiga, dan Andrea memiliki lebih banyak waktu bersama putranya. Kini tugas Andrea bukan hanya menggoda Alex, tapi juga ibunya. Setiap pagi, sebelum pergi kerja Andrea akan mengecup kening istrinya dan mengatakan semua rutinitasnya seharian ini di malam hari. Untuk pertama kali dari sekian purnama, akhirnya Andrea mengeluh dengan pekerjaannya yang melelahkan. Mulai saat ini, Raya adalah istrinya, tempatnya berkeluh kesah dan menempatkan seluruh hasrat yang memang harus ia keluarkan. Semakin hari, ia melihat wanita ini semakin cantik, dan semakin di lihat ia tidak bisa menahan diri untuk mencium istrinya. "Mas, kalo Alex sudah besar gak boleh begitu." Raya kegelian, Andrea selalu menerjangnya di leher, tempat yang sensitif yang selalu membuatnya geli. "Hei kamu anak kecil, jangan cepat besar ya! Dad mau pacaran!" Anak kecil itu menatap ayahnya, "au acalan?" Andrea terkejut menatap Raya dengan heran. "Makanya jangan sembarangan di depan anaknya." Sahut Raya tertawa mengingatkan. "Hei bocah kecil, kamu pintar sekali." Andrea mengangkat putranya lalu menciumi sampai pria kecil itu terkekeh kesenangan bermain dengan ayahnya. Pemandangan seperti ini bagi Raya sangat indah, mulai hari ini semua akan berbeda. Ya, mulai hari ini semua akan berbeda. Tok Tok!! Waktu menunjukan pukul 7 malam, siapa kira-kira yang bertamu. TokTok!! Ketukan itu tak sabaran. Raya segera pergi untuk melihatnya. Raya membuka pintu, dan orang yang di hadapannya ia tak menyangka akan bisa melihatnya secara langsung. "Mana Andrea." Tanya tamu itu cepat. "Untuk apa kamu datang kesini?" "Siapa kamu?" Wanita itu menatap Soraya dari rambut hingga ke kaki. "Aku istrinya Mas Andrea." Wanita itu tertawa tak percaya. "Andrea hanya akan mencintai satu wanita, dan tak pernah ada wanita lain." "Kau salah, ia sudah melupakanmu." Wanita itu menatapnya dengan tajam. "Omong kosong!!" Dia mendorong Raya. "Aku akan mencari anak dan suamiku." "Hei!! Kau tidak bisa ada disini, aku tidak mengizinkanmu." Raya menghalanginya mencoba mendorongnya untuk pergi keluar. "Jangan halangi aku!!" Ia lalu mendorong Raya dan merobos masuk. Larissa melihat suami dan anaknya sedang bermain di ruang tengah. "Alex" putranya yang sangat ia rindukan. Ia tidak percaya Alex sudah sebesar ini. "Kau besar sekali." Larissa meraihnya dari pelukan Andrea yang juga terkejut dengan kehadiran wanita yang masih ada di hatinya walau ia berusaha untuk lupa. Kenapa ia datang? Baru saja ia membuka hatinya untuk Raya. Kenapa harus sekarang? Pertanyaan yang sama terlintas di hati Raya dan Andrea. Wanita itu menggendong Alex yang kini sudah menangis karna tidak mau digendong orang yang tak dikenalnya. "Ini mama Alex, kamu ingat ini mama." "Noo. Mami.. mamii" Alex terus menangis minta untuk di ambil oleh Raya. Raya akan mengambil Alex di pelukannya. Tapi Larissa menatapnya dengan marah dan tidak menyerahkannya. "Ini mama sayang, dia bukan mamamu." "Dia tidak mengenalmu mbak. Bagi Alex hanya aku ibunya. Berikan Alex padaku, kau akan menyakitinya." Alex sudah menangis sampai wajahnya membiru. Raya segera merebutnya dengan paksa, dan langsung tenang di pelukan Raya walau masih terisak. Larissa sangat marah tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Kini ia mengarah pada Andrea dan langsung memeluknya. "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Maaf aku sudah bodoh." Hati Raya seperti di remas, melihat suaminya dipeluk orang lain seperti itu. Andrea juga menatapnya, merasa iba pada Raya yang harus melihat adegan ini. Andrea melepas pelukan Larissa dan mulai bertanya. "Kenapa kamu kembali, seharusnya tidak perlu kembali." Raya cukup puas suaminya mampu berkata seperti itu. "Kau tidak ingin aku kembali? Jadi kau sudah melupakan aku?" Larissa menatapnya dengan sedih dan kecewa, tatapan yang tidak bisa tidak meluluhkan hati Andrea yang jujur saja masih memiliki Larissa di hatinya. Andrea lalu pergi dari sana, ia tidak bisa menyakiti Raya lagi. Larissa mengekor Andrea yang pergi ke ruang kerjanya. "Kenapa kamu kembali. Aku hampir melupakanmu." Ucap Andrea dengan marah. Kini kembali menatap wanita cantik yang selalu ia rindukan. "Tidakkah kau merindukanku? Aku selalu merindukanmu." Andrea tertawa sinis, "Apa yang kamu inginkan. Setelah ini pergilah. Aku tidak ingin menyakiti Raya." "Raya? Wanita itu?" Larissa tertawa meremehkannya. "Apa seleramu menjadi wanita jelek seperti itu?" Bila dibandingkan Larissa, Raya memang tidak se cantik itu, tapi bila dilihat terus menerus, Andrea sadar bahwa Raya membuatnya merasakan rindu.Andrea tertawa pelan, menggenggam tangannya dan menariknya pergi. Mereka naik ke kamar eksklusif keluarga Tamson, lantai tertinggi hotel. Begitu pintu tertutup— Andrea tak bisa menahan diri langsung mencium Soraya kembali, lebih dalam, lebih putus asa. “Aku sangat merindukanmu…” Soraya membalas dengan napas memburu. “Aku menginginkanmu, Mas.” Andrea menuruni leher Soraya dengan ciuman panas, aromanya menabrak seluruh kontrol diri. Tak butuh waktu lama — mereka sudah berada di tempat tidur, melepaskan kerinduan. Setelah malam yang panjang, Soraya terbangun pelan. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota yang masuk melewati tirai besar. Tubuhnya masih hangat, terbungkus dalam selimut tebal. Lalu ia sadar— dirinya berada dalam pelukan Andrea. Lengannya melingkar di pinggang Soraya, napasnya tenang, dalam, damai… seperti seseorang yang akhirnya bisa tidur setelah berhari-hari tersiksa. Soraya menatap wajah itu. Wajah yang biasanya penuh tekanan, kebingungan, rasa bersalah… kini
"Larissa mungkin masa lalu yang selalu aku rindukan sebelumnya,” Andrea berkata pelan, suaranya seperti tertahan sesuatu. Ia terdiam sejenak sebelum meremas tangan Soraya lembut. “Tapi sepertinya semua udah berubah sekarang.”Soraya melepaskan genggaman itu perlahan, matanya merendah.“Aku tidak berani memimpikanmu, Mas. Rasanya masih jelas bagaimana kamu gak pernah melihat aku dan selalu terjebak dalam masa lalu bersama Mbak Larissa. Sekarang saat dia kembali… yang aku rasakan lebih putus asa.”Kata-kata itu menghantam Andrea. Ia kehilangan suara.Ia menepi dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Lampu kota memantul di wajah bersalahnya saat ia menatap Soraya.Tanpa berpikir panjang, Andrea meraih tangan Soraya dan mengecup punggungnya dengan lembut.“Saat ini aku sangat takut, Raya. Aku sangat takut kehilanganmu.”“Mas, apakah kamu benar-benar merasakannya? Apa yang aku rasakan?”Mata mereka bertemu — namun bukan kehangatan yang mereka lihat, melainkan ketakutan dan rasa tak percay
Tidak ada jawaban. Larissa masuk kembali ke rumah dengan wajah panas membara. Rahangnya mengeras, tumit sepatunya menghentak lantai marmer.“Oke kalau ini yang kalian inginkan… jangan kamu pikir aku bodoh. Justru KALIAN yang bodoh.”Ia mendesis panjang, matanya merah karena amarah.Larissa benar-benar kesal, namun pikirannya bekerja cepat.Alex.Anak itu selalu menjadi kelemahan Andrea.Mana mungkin pria itu akan mengabaikanku kalau aku membawa Alex?Ia tersenyum miring.Licik.“Bi Inah!”“Iya nyonyah.”“Mana Alex?”“Alex sudah tidur nyonyah.”Larissa melangkah cepat.“Aku akan bawa dia pergi dari sini.”Inah tersentak dan langsung menahan tangannya dengan panik.“Nyah tolong jangan, nyah.”“Gak usah ikut campur kamu ya.”“Tapi nyah… nanti Nyonya Soraya pasti khawatir. Den Andrea juga…”“Peduli apa aku sama mereka?! Liat! Mereka bisa-bisanya ninggalin aku. Oke kalau kalian mau begini cara mainnya!”Larissa berjalan cepat menuju kamar Alex, napasnya memburu.Begitu masuk, ia langsung m
Soraya tidak peduli lagi pada teriakan Larissa. Ia hanya mengangkat Alex ke gendongannya dan meninggalkan taman, membawa anak itu masuk ke rumah sambil berusaha menenangkannya.Di kamar, Alex masih tersedu-sedu.“Kenapa sih ada Tante jahat itu? Aku gak mau sama Tante jahat.” rengeknya sambil memeluk Soraya erat-erat.Soraya mengusap punggung kecil itu lembut.“Alex, sebenarnya dia adalah Mamamu yang sebenarnya. Aku juga ibumu… tapi kamu lahir dari perutnya.”Alex mengernyit bingung.“Tapi aku gak tau siapa dia.”Soraya menatapnya penuh kasih.“Alex denger Mami boleh?”Anak itu mengangguk kecil, wajahnya masih basah oleh air mata.“Kita harus selalu bersikap baik, dan kamu anak baik, bukan?”Alex mengangguk lagi, kali ini lebih dalam.Sangat menggemaskan dalam kesedihannya.“Mulai sekarang kamu harus berusaha untuk baik dengan Mamamu ya.”Alex menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Tapi aku cuma mau Mami…”Soraya tersenyum, menggenggam pipinya lembut.“Mami di sini, sayang. Gak akan per
Bagus langsung berdiri. Teman-temannya menatap dengan senyum lebar dan tatapan jahil. Terdengar kikikan tertahan dari ujung ruangan. “Silakan, Bu. Saya antar.” Larissa mendesis pelan, melengos dan berjalan cepat ke luar. Bagus mengikuti di belakang dengan senyum penuh kepuasan. Pintu tertutup. Andrea berdiri diam. Nafasnya berat… lalu memegang pelipis yang berdenyut keras. “Andaikan aku belum menyentuh Soraya… mungkin tidak akan serumit ini.” "Ah Tuhan… apa yang harus kulakukan?" Ia menatap ponsel di tangannya. Ingin menghubungi Soraya… tapi lidahnya kelu. Gak mungkin bicara di rumah. Larissa pasti akan mengacau. Andrea mondar-mandir di dalam ruangan, semakin gelisah. Kenapa pria setia sepertiku… harus dapat masalah seperti ini? Di rumah, Alex berlari-lari kecil di taman sambil tertawa riang, tangannya terangkat ke atas. “Aa dulu sayang! Pesawat datang!” Soraya menyuapi anak yang lahap itu. “Aaaa!” Alex berputar-putar, pura-pura jadi pesawat kecil. Soraya be
Resepsionis tersenyum ramah. “Pak Andre tidak pernah tidak lembur sebelumnya, Bu. Tapi sekarang… keliatannya Pak Andre lebih santai. Sudah mulai ambil libur. Wajahnya juga berseri, beberapa waktu ini.” Lalu menambahkan: “Pantas saja… ternyata ibu sudah kembali.” Larissa menyipitkan mata dan tersenyum kecut. “Apa dia terlihat sangat bahagia?” “Iya, Bu.” jawab wanita itu tersenyum. “Kalian tau soal Soraya?” pertanyaan itu lebih terdengar seperti intimidasi. Langsung beberapa staf saling menatap. “Oh… istrinya baru pak Andrea ya, Bu? Pak Andre gak pernah bawa ke kantor sih Bu… bahkan acara gathering pun selalu sendirian.” Lalu dengan suara lirih, yang bikin dada Larissa panas: “Sepertinya… tetap Ibu masih jadi ratu di hati Pak Andrea.” Larissa hanya tersenyum kecut. Pupil matanya mengecil — marah. 'Sialan… Andrea bener-bener udah membuka hati untuk wanita jelek itu. Dan aku gak akan diam aja.' batinnya Larissa memasuki kantor Andrea. Aroma wan







