Share

50

Author: Tie Sugianto
last update publish date: 2025-11-26 23:26:59

“Saya adalah salah satu orang kepercayaan almarhum suaminya Bu Kanti, namanya Pak Hardyo, saya bertemu beliau sejak saya masih SMP dan karena beliaulah saya tidak jadi putus sekolah. Saya ikut kemana pun beliau pergi dan saya adalah saksi dari jatuh bangunnya beliau membangun usaha sampai mewariskan begitu banyak harta pada istri dan anaknya sekarang. Terlepas dari caranya berbisnis yang kadang menggunakan cara-cara yang di luar nalar, beliau tetap orang baik bagi saya dan orang-orang yang pern
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMI BERSAMA   128

    “Dia sengaja membuat kami miskin mendadak. Kami diusir dari rumah itu.”Seno, si anak manja dan dingin itu sudah berubah menjadi lebih hangat, tapi bukan hanya sikapnya yang berubah, fisiknya juga berubah. Badannya semakin kurus, matanya cekung karena kurang tidur, kelelahan yang dia rasakan juga tampak jelas dari sorot matanya yang sayu.“Tapi wajar sih, semua yang dilakukan Mas Pras ke aku dan Ibu mungkin masih belum ada apa-apanya dibanding apa yang sudah dilakukan Ibuku dulu.”“Berarti rumah ini?”“Ngontrak Mbak, sengaja nyari yang deket rumah sakit biar gampang kalau mau nengokin Ibu. Maaf ya Mbak kalau aku malah minta Mbak yang datang ke sini soalnya lagi ngirit bensin Mbak,” Seno tersenyum malu-malu.“Nggak apa-apa. Mbak yang minta maaf karena jadi ganggu kamu.”“Nggak, hari ini jatah libur aku juga.”“Syukurlah kalau kamu sudah kerja.”“Mas Deko yang ngasih aku kerjaan Mbak, ya… lumayanlah buat bertahan hidup dan nabung dikit-dikit biar bisa lanjut kuliah lagi. Mas Dek

  • SUAMI BERSAMA   127

    “Kenapa harus nyembunyiin ini dari aku? Setelah kepergian Sika, apa aku juga jadi ikutan pergi dan sudah nggak dianggap sebagai sobat lagi?”“Bukan gitu Hen, aku hanya nggak mau kalau ini sampai melebar ke mana-mana. Aku takut kamu kelepasan terus ngomongin semuanya ke Deko.”“Kalau aku ngomong sama dia terus kenapa? Aku rasa Deko harus tahu tentang ini, ada yang nggak beres sama wanita cantik jelita itu.”“Mira cerita apa saja sama kamu?”“Semuanya.”“Semuanya???”“Iya semuanya, termasuk tentang Deko yang udah ungkapin perasaannya ke kamu,” jawab Hendi sambil tersenyum.“Bener-bener si Mira, dia nggak masuk hari ini pasti karena takut aku marahin kan?”“E..e…ee.. jangan asal nuduh gitu dong! Aku yang nggak sengaja baca pesan kamu waktu ponselnya dititip ke aku semalam. Mira nggak masuk karena lagi ribet ngurusin bapaknya.”“Nggak sengaja? Nggak percaya aku!”“Ya…ketidaksengajaan yang setengah disengaja sih. Tar....... aku sebenernya nggak boleh ikut campur masalah hati sih

  • SUAMI BERSAMA   126

    “Sejak kamu saya pindah ke butik kenapa kerjaan kamu jadi nggak beres semua? Terus kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit pada saya?!”“Bu, mohon maaf sebelumnya tapi saya bukan tidak pamit tapi belum pamit, dari semalam sampai detik ini ada beberapa kejadian yang membuat saya belum sempat bertemu langsung dengan Ibu.”“Kenapa sih kamu Tari? Kalau kamu butuh uang bilang terus terang sama saya, berapa pun yang kamu butuhkan saya pasti bantu. Jujur saja sama saya di depan, jangan main belakang seperti ini! Saya bener-bener kecewa sama kamu, saya nggak percaya kamu bisa melakukan ini sama saya!”“Saya melakukan apa ya Bu? Yang saya lakukan adalah belum berpamitan langsung pada Ibu, selain itu saya merasa tidak melakukan apa-apa.”“Kamu habiskan untuk apa uang cash yang kamu ambil dari laci meja kerjanya Lila?”“Uang cash? Dari laci Lila? Bu, maaf tapi apa yang sedang Ibu bicarakan? Saya tidak mengambil apa pun.”Bu Ning mengambil ponselnya dan memintaku melihat video, di sana me

  • SUAMI BERSAMA   125

    “Mir, terima kasih karena semalam kamu sudah menyelamatkan aku ya,” aku memeluk Mira setelah menceritakan semua yang terjadi semalam.“Mbak, kamu harus hati-hati, dia itu…”“Tari…,” panggil Hendi membuat Mira tidak jadi melanjutkan kalimatnya.“Deko dihajar orang tadi Subuh sehabis pulang dari masjid. Sekarang dia dirawat di rumah sakit.”“Ya Allah, pasti kerjaannya Pras,” kataku dengan tangan gemetar, aku teringat lagi kejadian semalam.“Sudah lapor?” tanya Mira.“Sudah, katanya orang-orang itu mau begal motornya Deko.”“Itu pasti akal-akalannya si Pras, nggak mungkin enggak,” kata Mira.“Ini masih dugaan sementara, tunggu Deko pulih dulu biar dia bisa memberi kesaksian tentang kejadian yang sebenarnya. Pulang kantor kita langsung ke rumah sakit ya.” “Siapa yang kasih tahu kamu Hen?”“Temen motoran, tapi.... ada satu hal yang bikin aku nggak habis pikir. Temenku tadi cerita kalau sebenernya dia dilarang keluarganya Deko untuk kasih info tentang kondisinya Deko sama aku. Sa

  • SUAMI BERSAMA   124

    “Kalau rasa yang kamu punya sama Tari itu tulus, kamu nggak akan tega buat nyakitin.”Sosok pengendara motor tiba-tiba muncul sebelum Prasetyo berhasil membawaku pergi, anak buah Prasetyo mengira dia pengguna jalan yang kebetulan lewat, tapi ternyata dia adalah Deko. Dalam keadaan yang membuatku takut sekaligus bersyukur, aku belum berhasil menemukan jawaban tentang bagaimana dua orang ini bisa ada di tempat dan waktu yang sama denganku.“Jangan sok ngerasa di atas angin hanya gara-gara kamu masih diterima dengan baik sama Tari, kamu dan aku itu sama saja karena Tari belum memutuskan dia pilih siapa.”“Aku single, kamu? Kamu mau jadikan Tari istri kedua? Atau.... mau ceraikan istri kamu dan ninggalin anak kamu demi membuktikan kalau kamu serius sama Tari?”“Bukan urusan kamu!!”“Memang bukan, tapi kita sama-sama laki-laki kan? Karena setahuku, yang bangga mengakui dirinya sebagai laki-laki sejati tapi bisanya nyakitin perempuan itu lebih pantas disebut banci sih.”“Punya mulut j

  • SUAMI BERSAMA   123

    “Sekarang lebih baik kamu ikut aku! Tinggalin motor kamu di situ! Biar nanti aku suruh orang buat benerin sekalian nganterin ke rumah kamu kalau semuanya sudah beres,” kata Prasetyo dari mobilnya.“Nggak usah, makasih. Di depan nanti pasti ada kok yang buka.”“Kamu mau jalan sampai berkilo-kilo meter juga nggak bakalan ada Tar. Ini tuh udah masuk daerah pinggirian, nggak akan ada tukang tambal ban yang buka dua puluh empat jam. Udah masuk aja! Sekali-kali nurut bisa nggak sih? Demi kamu juga loh ini.”Aku mulai ragu untuk melanjutkan langkahku setelah mendengar kata-kata Prasetyo tapi aku tidak punya pilihan lain. Setelah semua yang dia lakukan, aku tidak mungkin percaya begitu saja kalau Prasetyo benar-benar berniat baik. “Mikirin apalagi sih kamu? Takut? Apa yang harus ditakutin coba? Tenang aja Tari, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu,” Prasetyo kemudian menghentikan mobilnya beberapa meter di depanku karena aku juga berhenti. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan mendekatik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status