Masuk"Tunggu disini!" Kenshi menuju meja konter tiket meninggalkan Mayang yang masih terkesan dengan rupa Tokyo Dome.
Sudah lama sekali ia tidak pernah mengunjungi taman hiburan seperti ini. Mungkin terakhir kali sejak SMP dan setelah kedua orang tuanya mulai bepergian keluar negeri menjalankan bisnisnya, ia tak diijinkan pergi ke tempat seperti itu.
Tak jarang kawan-kawannya mengajaknya pergi, namun keberadaan pak Husen, supir antar jemputnya tentu saja tak mengijinkanny apergi.
"Bagaimana dengan roller coaster?” Tanya Kenshi dalam bahasa Inggris sambil menunjuk langsung ke arah wahana ekstrim itu ketika mereka melewati pemeriksaan tiket.
Mayang langsung membelalakkan matanya.
“Apa? Tidak, tidak, tidak!” Mayang spontan mengangkat tangannya tanda menolak keras sambil terus menggelengkan kepala.
"And then?”
Mayang tanggap mendapat tatapan Kenshi yang menunggu. Jujur saja, semua wahana permainan di tempat itu cukup membuatnya mengernyitkan dahi.
"Itu?" Mayang asal tunjuk.
“Emmm!” Suara dehem itu membuat Mayang menoleh dan mendapati pria itu tersenyum sambil mengusap dagunya.
“Silahkan tertawa!” Sahutnya sedikit kesal. Pria itu pasti menertawakan karena menganggap Bianglala lebih cocok untuk anak-anak.
"Ayo!" Kenshi terlihat berjalan lebih dulu.
Mayang masih berusaha menutupi kegugupannya saat mereka memasuki salah satu kabin dan duduk berhadapan dengan Mayang. Ia masih terlihat was-was dan mencari pegangan kala kabin bergerak.
“Aku hanya mengira, apa nona takut ketinggian?!” Pertanyaan Kenshi itu hanya ditanggapi dengan senyum yang dipaksakan.
“Aku datang ke Jepang naik pesawat, ingatkan?” Sungutnya sambil menutupi kegugupannya. Kenshi terlihat mengangguk lalu sengaja melihat keluar kabin, membiarkan gadis itu menemukan kenyamanan sendiri.
Tak lama Mayang mulai duduk nyaman dan perlahan bergeser ke sisi jendela. Rasa takutnya mulai menghilang tergantikan dengan rasa takjubnya melihat pemandangan di sekitar Tokyo Dome yang bisa ia lihat jelas dari dalam kabin bianglala itu. Keputusannya menaiki bianglala ini sepertinya memang tepat, ia jadi tahu apa saja wahana dan tempat-tempat yang nanti bisa ia sambangi.
Untuk beberapa saat mereka menikmati perjalanan gondola itu dalam sunyi. Tak lupa Mayang mencoba mengabadikannya dalam kamera ponselnya. Ia sempat jengah ketika selfi menyadari sosok yang masih asing ada bersamanya. Kenshi yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya hanya diam dan pura-pura ikut menikmati pemandangan.
Bagi Mayang ini adalah kali pertamanya ia bersama seorang laki-laki yang notabene orang asing di dalam satu ruangan, meski itu hanya sebuah kabin bianglala. Baru beberapa hari ia mengenal pria itu, tapi keberadaannya saat ini sanggup ia terima tanpa alasan. Meski bahasa diantara mereka bercampur namun seperti layaknya kawan.
Mayang masih menganggap Kenshi orang kepercayaan ayahnya jadi tak ada salahnya ia bersikap akrab. Apalagi di negeri asing ini baru Kenshi orang yang ia kenal sekaligus mengerti dengan baik bahasanya, menganggapnya sebagai guide juga bukan ide yang buruk.
“Kenshi!” Serunya pelan. Pria itu sontak menoleh ke arah Mayang heran. Di luar dugaan gadis itu menegurnya lebih dulu.
“Apa kamu sudah lama kenal orang tuaku?”
“Hm, you can say that!” Angguk Kenshi yang duduk tegak sambil melipat kedua tangannya.
“Mereka sudah kuanggap orang tuaku juga, dari negeri sebrang. Kami sering bertemu di restoran hotel. Ayahmu itu pebisnis yang bijaksana.” Terang Kenshi dengan bahasa Indonesia yang hati-hati sambil memperhatikan wajah polos Mayang yang saat itu begitu memperhatikan ucapannya. Mayang sempat terhenyak mendengar pengakuan lelaki itu.
“Begitu, ya! Lalu bagaimana kabar orang tuamu?” Kenshi membalas tatapan Mayang dengan senyum kecilnya membuat Mayang menunduk menghindari tatapannya.
"Mereka dalam keadaan baik dan cukup sibuk.“ Kenshi menanggapi singkat. Ia sebenarnya tak menyangka jika Mayang tiba-tiba menanyakan perihal orang tuanya.
“Oh!” Mayang terlihat hanya mengangguk. Ia masih tak tahu arah pembicaraan ini dan memilih untuk kembali menikmati pemandangan. Berbeda dengan Kenshi yang berharap gadis itu bertanya lagi.
“Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Nona?” Pancing Kenshi. Gadis itu terlihat ragu tapi kemudian menggeleng dan berusaha tersenyum datar. “Bagaimana dengan perjodohan itu?”
Pertanyaan Kenshi membuat Mayang tertegun. Ia tak terduga Kenshi tiba-tiba mengungkit hal itu dan tanpa sadar ia menatap dalam pria itu yang juga menatap ke arahnya.
“Maaf, tapi bagaimana kamu...? Oh, ya, kamu pasti tahu dari orang tuaku, ya?” Tebak Mayang dengan raut muka datar lalu seketika berubah sendu. Kenshi menyadari hal itu.
“Apa ada masalah?” Tanyanya Kenshi.
Mayang hanya menunduk lesu diiringi desahan nafas yang berat.
“Saya pikir kedatangan Nona ke Jepang menandakan persetujuan nona atas perjodohan itu. Apa betul seperti itu?” Lanjut Kenshi menunggu jawaban dari gadis di hadapannya.
“Saya pikir juga, ini masalah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan Anda Tuan Kenshi! Maksudku, ini semua bukan urusan Anda, kan?” Sahut Mayang sembari mendongakkan kepalanya kesal dengan pertanyaan Kenshi yang memburu itu. Hatinya bergejolak mengingat semua hal tentang perjodohan itu.
“Aku, tidak mungkin semudah itu membicarakan hal seperti ini dengan orang lain!” Lanjut Mayang yang tiba-tiba parau lalu segera memalingkan wajahnya keluar jendela, tanpa mempedulikan reaksi Kenshi.
Kenshi yang menyadari ketidaknyamanan gadis itu mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya. Hanya saja kata-kata gadis itu tentang dirinya yang tidak ada hubungannya dengan perjodohan ini cukup mengganggu pikiran jernihnya.
“Orang lain?” Gumamnya tak mengerti. Sesekali dipandanginya gadis itu yang menatap keluar dengan pandangan kosong. Keheningan kembali meliputi kabin hingga gondola sampai kembali ke bawah dan pintu terbuka.
Mayang yang gugup terburu-buru berdiri dan keluar dari pintu gondola tanpa menyadari beberapa anak tangga, membuat tubuhnya langsung oleng seketika.
“Hai, siapa namamu?” Mayang menyambut seorang gadis remaja yang menghampirinya antusias. Minimal menghindarinya salah tingkah tiap kali bersitatap dengan Kenshi dari ujung ruangan yang seolah mengawasinya. “Namaku Mayuri, adik bungsu Kenshi.” Ungkapnya dalam bahasa Inggris dengan suara imut dan ceria. Wajahnya yang sedikit chubby tak menghilangkan kemiripan Mayuri dengan wajah kakak-kakaknya."Hey, you're so cute!" Puji Mayang sambil menyentuh dagu gadis berhijab itu. Kerudung pasmina cerah yang dibelitkan ke leher jenjangnya cukup serasi dengan dress overall putih berenda. Mayang merasa salut, di usianya yang masih belia Mayuri sudah memantapkan diri mengenakan hijab di tengah-tengah keluarga yang heterogen."Kamu juga cantik, oneechan!" Keduanya saling tersenyum, merasakan kenyamanan yang langsung kentara. "Bisakah kamu mengajariku bahasa Inggris, Oneechan!"“Ya, tentu saja. Kapan pun kamu mau, aku akan mengajari dan sering-sering mengobrol denganmu.”“Thank you. Oh ya sis, apa
“Ya, saya mulai menyukainya, kak!“ Mayumi tersenyum cerah mendengar jawaban Mayang.“Apa Kenshi memperlakukanmu dengan baik?”, tanyanya lagi setengah berbisik.“Ya, tentu saja. Kami masih baru saling mengenal, jadi ya...seperti itu?”, jawab Mayang tersenyum malu-malu.“Eeem, it’s OK! Nanti kamu akan terbiasa. Hanya saja kamu harus bersabar, dia juga sebenarnya masih sangat lugu.” Ujar Mayumi lagi diiringi tawanya yang renyah sambil melihat ke arah Kenshi yang tengah bermain dengan anak-anaknya.Mayang hanya tersenyum kaku, tak mengerti apa maksudnya.“Ayo, ambil camilan di sana. Ada juga minuman segar dan koktail. Jangan malu ya. Anggap rumah sendiri!” Wanita itu mengusap jemari lentiknya ke dagu Mayang sebelum berlalu, membuat Mayang hanya mengangguk-angguk malu.Tak berapa lama, seorang wanita baya dengan kimono lengkap cerah mendatangi Mayang. Ia duduk di tempat Mayumi sebelumnya duduk. Entah kenapa, sepertinya ia berada di tempat dimana orang-orang menghampiri dan ingin menanyain
“Selamat datang, Mayang-san!” Suara bernada bas berasal dari seorang laki-laki baya yang berdiri di sebrang meja terlihat memberikan senyum ramah sambil menundukkan badannya. Dari gerak-geriknya yang bersahaja Mayang bisa menebak itu adalah tuan Takeda, ayah Kenshi. Mayang pun membalas dengan menundukkan badannya tanda hormat.Dari cerita papanya semalam, ayah Kenshi termasuk salah satu orang Jepang yang cukup ramah di antara anggota keluarga Kenshi yang lain. Hal itu tentu saja membuat Mayang cukup tenang, karena di rumah itu, ia tak mengenal satu pun dari mereka yang hadir kecuali Kenshi.Tuan Takeda adalah orang pertama yang memutuskan masuk Islam dan mengajak keluarganya untuk juga mengikutinya. Kenshi sendiri adalah orang kedua yang menganut Islam, karena dialah yang paling sering mengantar sang ayah bertandang ke masjid-mesjid di sekitaran Tokyo untuk sekedar bertanya tentang bagaimana kehidupan orang Islam. Ketertarikan itu juga yang membawa Kenshi beberapa tahun belakang menga
“Kita sampai. Ayo!” Ujar Kenshi saat mobil yang mereka tumpangi berhenti.Hari itu Kenshi mengajak Mayang untuk pergi mengunjungi keluarganya di rumah orang tua Kenshi, sebelum acara pernikahan tiba.Mayang menyapu pandangannya keluar mobil.Mobil mereka berada di sebuah halaman luas yang dipagari tanaman dan pepohonan perdu yang telah dimodifikasi menjadi bonsai-bonsai yang unik. Beberapa tanaman mengakar ke dalam tanah dan sebagian lainnya masih berada dalam pot dengan ukiran yang khas.Warna hijau tanaman berdampingan kontras dengan jalanan berwarna hitam legam yang tampak bersih tanpa sehelai daun jatuh. Bisa ditebak sang empunya pasti mempekerjakan ahli taman dan tukang bersih-bersih dengan gaji yang lumayan mahal.Mayang sebenarnya masih canggung untuk bertemu dengan keluarga Kenshi yang memang belum pernah ia temui sejak datang ke negeri Sakura ini. Namun pertemuan ini juga sebagai salah satu media pertemuan dua keluarga yang beberapa hari akan dipersatukan menjadi sebuah kelua
“Kenshi, apa yang kamu lakukan disini? Sebaiknya kamu kembali!” Nyonya Kori tiba-tiba menghadang di depan Kenshi.“Nyonya, saya mohon, jangan terburu-buru!” Sergah Kenshi cepat.“Kami harus segera kembali ke Indonesia, jika tidak, mungkin semua terlambat.” Kory terlihat panik. “Nyonya, tenangkan diri anda dulu. Sekretaris Harita akan menjelaskan semuanya.”Kulihat Nyonya Cory masih ragu."Apa lagi yang harus dijelaskan?" Ungkap wanita itu menarik nafasnya berat.“Anda tenang dulu Nyonya, semua akan baik-baik saja.” Kenshi mencoba meyakinkan sambil menepuk bahu wanita itu. "Saya yakin, Tuan Hadiwijaya mempunyai pandangan yang sama dengan saya. Beliau sudah menemui ayah saya beberapa hari yang lalu."Kory menatap Kenshi tak percaya, namun mau tak mau ia hanya bisa mengikuti saat sekretaris Hirata mengajaknya berbicara di tempat terpisah. Mayang tengah duduk di salah satu bangku lounge saat Kenshi menghampiri. Wajahnya masih terlihat pucat, bibirnya kering, lingkar hitam di sekitar ma
Satu per satu terlihat pesawat lepas landas di bandara Narita. Tatapan Mayang tampak sayu dan kosong saat berada di deretan kursi tunggu. Siang ini, ia akan kembali ke tanah air setelah hampir seminggu ia terbaring di rumah sakit. Sang mama yang berada di sampingnya, masih sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali terlihat berbicara di telpon.Wajah Mayang masih tampak pucat karena belum sepenuhnya pulih selepas menginap di rumah sakit beberapa hari lalu. Namun mereka tetap harus berangkat karena tiket pesawat yang sudah terlanjur dipesan.“Apa masih terasa sakit, sayang?” Sang mama mengusap punggungnya.“Udah gak terlalu, ma!” Sahut Mayang menggeleng dengan suara lemah dan pikirannya yang tak menentu.“Apa mau makan atau minum sesuatu? Biar mama belikan!”Mayang kembali menggeleng. Nafsu makannya belum kembali seperti semula. Hanya pikirannya yang menanggapi pertanyaan mamanya. Akhirnya wanita itu hanya menghela nafasnya berat. Percakapan kemarin dengan Kenshi masih terus terngiang d







