Share

07. Kaget

Author: HaniHadi_LTF
last update Last Updated: 2025-10-13 10:54:22

"Hanya bercanda. Aku ikut prihatin," ralat Wulan, merangkul Gandes.

Ryan menyandarkan tubuhnya. Pikiran malam pertama Gandes masih menggayut, membuat dadanya makin terhimpit.

Sementara Werda hanya bisa menggenggam jemari Gandes.

Mata Gandes mengaca. Terlebih saat melihat Ryan yang hanya diam.

"Kalau kamu pingin nangis, nangislah, aku siap kamu peluk." Akhirnya Werda bicara.

Tangisan pun terdengar dari Gandes yang memeluk Wulan. Werda ikut memeluknya, seolah menyatukan air mata mereka bertiga.

Rendi, Sandi yang tahu Ryan juga tersiksa, menggenggam jari sahabatnya itu.

"Kalian yang sabar ya," hibur Rendi.

Beberapa mahasiswa dan mahasisiwi yang datang di kantin menatap. Ada yang bertanya pada temannya, ada yang hanya menggeleng.

"Kamu... tak apa-apa, Gandes?" tanya Ryan pelan, saat ia mendekat.

Semua mengurai pelukan. Gandes menatap Ryan sedih, lalu menggeleng. Matanya memanas. Tanpa kata, air mata mulai mengalir lagi, membasahi pipi. Ia merasa begitu lelah, lelah secara fisik dan emosional, seakan dunia menimpanya sekaligus.

Ryan cepat mengambil tisu, memberikan pada Gandes untuk menyeka airmatanya. "Kita pasti bisa melewati ini, Gandes. Percayalah, nanti ada jalan untuk kita. Aku yakin," bisiknya menenangkan. Mata Ryan sudah buram.

Gandes hanya menatapnya, bibirnya gemetar, rindu dan penyesalan ingat ciuman Jati, bercampur aduk. Ada sesuatu di mata Ryan yang membuatnya ingin melupakan sejenak semua masalah.  Tatapan hangat, lembut, dan penuh pengertian. Ryan menyalin rindu Gandes, mengisyaratkan bahwa ia juga merasakan kehilangan itu, hanya saja ia memilih diam. Tak tahu harus berbuat apa.

"Tapi kamu belum itu,.... kan?" tanya Wulan.

"Wulan,.." tegur Rendi sambil menatap Ryan. Dia tahu Wulan selalu bicara blak-blakan. Mereka adalah murid terbaik dari SMA boarding scool yang sejak kelas IX sudah akrap karena sering bersama mewakili sekolah mereka di berbagai evend, dan sama-sama diterima di UGM walau jurusan mereka beda, kecuali Gandes dan Ryan yang mengambil ekonomi.

"Kenapa kita nggak kembali ke masa-masa SMA saja? Rasanya saat itu kita hanya punya tawa," kenang Wendra.

"Iya,.. termasuk nganter Gandes sama Ryan yang ketemuan di pasar, lalu kita sama-sama dipanggil ke guru BK."

Tawa kecil sejenak terdengar di sela mereka makan.

"Kalau mau, aku antar pulang. Nanti turun di tikungan rumah itu saja, biar uangmu nggak habis," lanjut Ryan setelah beberapa detik hening.

Gandes mengangguk, suara seraknya nyaris tak terdengar. "Iya... setelah Mama tak ada, aku nggak tahu nasib kuliahku, Ryan," katanya lirih, menatap tangan Ryan yang masih menaruh tisu di meja.

"Bener juga sih kamu, walau kamu tak bayar uang kuliah, dan dapat uang KIP. Itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kalau tidak ada uang tambahan," lanjut Wulan.

"Gampang, ada Sandy, Werda sama Wulan yang mau ngucurkan dana untuk kamu," gurau Rendi, "kalau aku, sama aja dengan kamu, Ryan,..kita sama-sama bisa masuk sekolah elit itu karena beasiswa anak yatim dan tahfiz. Sekarang pun, kita sama-sama ngandalin KIP."

Mereka lalu tergelak. Sebelum Ryan menatap sosok yang mondar mandir di dekat kampus.

"Ryan, kamu kenapa?" tanya Sandi.

"Enggak, nggak apa-apa," ucap Ryan lalu pindah tempat duduk agar Gandes tak terlihat jelas dari sebrang.

"Pada kepikiran enggak, kira-kira Tante Kanaya ke mana?" tanya Wulan.

Sandi menatap Wulan sebelum bicara. "Aku juga kepikiran soal itu. "

"Tapi kalau kamu mau, kamu bisa minta Papi kamu bantu nyelidiki. Koneksi beliau luas, bisa lewat orang-orang di dinas. Kalau Tante Kanaya ketemu, Gandes bisa tenang, pernikahan itu bisa dibatalkan, dia bisa bebas dari semuanya."

"Rendi..." Werda menatapnya lembut, mencoba menenangkan. "Jangan terlalu terburu-buru ngomong begitu."

"Tapi kan memang begitu, Wer. Kalau Tante Kanaya ditemukan dan bisa balik ke Om itu, Gandes bisa bebas," sambung Rendi. "Aku cuma nggak habis pikir kenapa orang sebaik Mama kamu bisa hilang tanpa jejak."

Gandes menunduk, suaranya serak. "Aku takut,... takut kalau Mama dalam bahaya."

Sandi menatap Gandes. "Tenang. Aku bakal coba bicara sama Papi. Tapi mungkin nggak gampang, karena belakangan beliau juga banyak urusan. Aku aja jarang ketemu. Mau ngomong di telpon juga nggak enak. Tapi aku janji, aku usahakan."

"Mami Sandi tuh baik banget ke kamu," ucap Wendra, "bahkan kamu aja sering dikirimi baju bermerk. Minta tolong aja sama mami kamu, San."

Selintas Ryan menunduk. Gandes yang mengerti Ryan pernah bilang cemburu pada Sandi, menatapnya.

Sandi mengangguk pelan setelah sebentar menatap Ryan dengan tak enak hati. "Mami memang suka kamu, Gandes. Dia bilang kamu itu anak cantik dan sopan. Mungkin juga kerena efek dia ingin punya anak cewek. Pas tahu kamu kena masalah ini aja, beliau jadi sedih. Dia bilang ke aku, sebagai teman, jangan pernah ningglian kamu."

"Kalau begitu, pasti beliau mau bantu," potong Wulan cepat. "Nggak mungkin Mami kamu cuek."

Sandi menarik napas panjang. "Aku akan coba bicara pelan-pelan. Papi nggak suka kalau urusan keluarga dibawa keluar, tapi kali ini beda. Ini soal nyawa, soal orang hilang."

Suasana hening sesaat. Suara piring bertabrakan dari dapur kantin terdengar samar. Gandes menggenggam ujung jilbabnya. "Aku cuma pengin Mama pulang. Aku nggak kuat. Rasanya kayak semua hal di sekitarku runtuh. Aku khawatir banget."

Sandi menepuk bahu Ryan pelan. "Kita bantu bareng-bareng. Gandes nggak sendiri. Benar kan Ryan?"

Ryan tersenyum mengengangguk.

Gandes menatap mereka satu per satu, air mata menggenang lagi di pelupuknya. "Terima kasih. Aku beruntung punya kalian."

Ryan berdiri setelah melihat yang ia curigai tak terlihat. "Ayo, aku antar kamu pulang."

"Mampir di kosku duluh, ya, Yan."

Ryan mengangguk.

Mereka berjalan keluar kantin beriringan. Hinggah semua temannya menghilang di parkiran.

Gandes dan Ryan berjalan bersisian. Sesekali mata mereka salin menatap lalu menunduk, seolah mereka bicara dalam diam. Hinggah saat mereka menuju sepeda motor Ryan, mata Gandes terbelalak.

"Jati..." bisik Ryan, hampir tak terdengar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   123, Perayaan tahun baru

    Siang itu Kanaya berfikir keras, bagaimana caranya ia bisa mengajak Jati berhubungan.Dengan memakai lingerie merah maroon, ia mondar mandir menimbang."Jika aku memakai cara obat, apa itu tidak berbahaya bagi Jati? Bagaimanapun juga, aku mengkhawatirkannya. Mau bagaimana lagi jika sampai hari ini aku tak berhasil mengajaknya tidur, aku takut, kapan-kapan bahkan tak ada kesempatan." Kanaya terus berfikir."Mas, sudah siang, apa kamu ngak ingin tidur siang? Aku lihat kamu tadi mencoba jalan ke taman komplek resort ini, " ucap Kanaya dengan mendekati Jati yang masih menata nafasnya setelah jalan beberapa meter dari resort yang mereka tempati.Air yang diberikan Kanaya sampai diminumnya tandas."Ramai ya di taman, orang pada ngrayain tahun baru?"Jati mengangnguk. "Kita bisa ngrayain berdua," ucap Kanaya berbisik."Ya Allah, ada apa dengan tubuhku ini, baru juga melangkah sedekat itu aku sudah lemas begini?" batin Jati. "Aku harus mencari cara bagaimana aku bisa segera kembali, lalu pe

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   122. Kejutan tahun baru

    Paginya. Pagi sekali Kanaya sudah memesan makanan dan dandan cantik.Jati yang bangun kesiangan setelah sholat Subuh, sedikit kaget."Aku siapkan gulai kambing untukmu, biar kamu cepat pulih."Jati bangun, menakan makanan yang memang kesukaannya itu.Sepanjang mereka makan, Kanaya yang memakai Busana dengan dada rendah itu berkali-kali menatapnya.Saat Jati mengambil air minum, Kanaya memeluknya dari belakang. "Sekarang kamu milikku," ucapnya pelan.Jati berdiri kaku. "Aku masih butuh istirahat.Kanaya mendengus sambil membatin. "Kenapa aku merasa aneh? Apakah Jati beneran lupa ingatan? Lalu semalam, apa benar dia cuma dari luar, kenapa aku merasa heran kenapa handphone aku yang biasanya selalu aku letakkan terbalik, pagi tadi ghak terbalik?"Kanaya segera memeriksa handphonenya, dari chat WA sampai percakapan WA. "Tidak ada yangencurigakan, " guman Kanaya.Smentara pagi sekali, Maheswari sudah bersiap pergi."Gandes, kamu bareng Ibu ke kampus?""Memangnya Kanjeng Ibu ke mana?""Ping

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   121. Mas?

    Maheswari muncul dari lorong, mengenakan mukena putihnya. Wajah perempuan itu resah walau sudah dapat khabar Jati selamat. "Kanjeng Ibu..."Maheswari menoleh. “Kamu sudah bangun jam segini?”Gandes mengacungkan ponsel, menahan Maheswari sebelum melangkah. “Tunggu. Mas Jati,” kata Gandes lirih. “Telepon.”Maheswari terdiam sejenak. Ia menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Matanya telah buram. “Assalamualaikum, Le," "ucapMaheswari sambil melangkah ke musala di sudut rumah. Karpet hijau terbentang rapi, aroma kayu dan wangi lavender bercampur. Ia duduk bersila, ponsel diletakkan di pangkuan. “Bagaimana khabarmu?” tanya Maheswari tenang, namun bergetar halus.Di seberang sana, Jati terdiam sesaat. Napasnya terdengar, berat. “Bu…”“Iya, Le.” Senyum kecil terbit tanpa Maheswari sadari. “Alhamdulillah, kamu selamat.”“Alhamdulullah, Bu."“Aku pikir aku telah kehilangan kamu.”"Jika aku pergi, siapa yang akan menjaga jagoanku kelak, Bu? "Maheswari menutup mata. Tangannya salin mere

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   120. Obat Kangen

    Nomor Gandes terlintas. Jari menekan layar, lalu berhenti. Tubuh terasa berat. Kepala kembali berdenyut, seolah ada palu kecil mengetuk pelan dari dalam.Jati menghembuskan napas, meletakkan ponsel terbalik. Ia memejamkan mata, mencoba merapikan pikiran. Angin laut masuk samar. Sunyi kamar seperti menunggu sesuatu terjadi.Pintu terbuka.Kanaya masuk membawa nampan. Asap tipis mengepul, aroma daging bercampur bumbu kacang menguar hangat."Kanaya, aku kan sudahakan sore tadi."“Aku bawakan sate kambing. Hanya untuk dimakan biasa, nggak usah nasi."Jati mengingat kebiasaannya bersama Kanaya duluh. “Sate?”“Setengah matang kesukaan kamu,” jawab Kanaya cepat, matanya berbinar. “Bagus buat pemulihan. Biar staminamu cepat balik.”Ia meletakkan nampan meja kecil. Tusuk sate berkilat, daging merah kecokelatan masih tampak juicy. Sambal kecap terpisah, irisan bawang dan cabai rapi.Jati mengerling. “Setengah matang sengaja ya?”Kanaya tersenyum. Senyum yang tak sepenuhnya main-main. Ia mendeka

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   119. Buntung rokok

    Pagi sekali."Anda bisa pulang hari ini. Soal ingatan, akan segera berangsur baik, Ibu pasti membantu Anda mengingatnya. Setidaknya secara fisik hanya lecet sedikit. Namun, sebaiknya Anda memeriksakan diri di rumah sakit besar, peralatan di sini kurang memadai." Dokter Budi tersenyum ramah."Baik, Dok. Terimakasih banyak.""Sama-sama, Pak."“Syukurlah, kita pulang hari ini,” ujar Kanaya pelan, namun tegas.Jati menatap. “Pulang ke mana?”“Ke tempat yang tenang dulu. Tubuhmu belum siap perjalanan jauh.”“Aku baik-baik saja."Kanaya tersenyum tipis. “Kalau begitu, anggap saja aku egois. Aku ingin kamu pulih tanpa gangguan. Baru setelah itu kita kembali ke kota dan memeriksakan kamu di rumah sakit besar."Jati menghela napas. Kepala masih berat. Otot terasa seperti baru selesai perang panjang. Dia tahu ada sesuatu di balik rencana Kanaya. Namun ia berusaha sabar sampai kondisi tubuhnya tak lagi lemah.“Kamu bisa istirahat total, nanti aku telpon komandan kamu, bilang kalau kamu baik-baik

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   118. Istri?

    Tangannya bergetar. Map hampir terlepas. Dunia seolah berhenti bergerak.Kanaya menutup map. Dadanya berdegup gelisah saat tahu apa isi map itu. Pandangan kembali ke arah ruang Jati. Pikiran berputar cepat, menyusun kemungkinan yang ingin ia lakukan."Saya mau ke ruang suami saya," ucap Kanaya gelisah."Iya, Bu. Mudah-mudahan tidak ada masalah. Soalnya...""Soalnya apa, Dok?""Teman saya yang menangani Pak Jati, bilang, ada kemungkinan Pak Jati akan amnesia walau tidak permanen. Ibu harus terus mendampinginya.""Amnesia?" guman Kanaya. Ada kecemasan, namun segera terselip senyum.Mereka melangkah keluar ruangan. Belum sampai, di ruangannya, Jati sudah menggerakkan tangannya."Gandes... " bisik Jati berusaha bangun.“Pak, dengar saya dulu. Jangan bangun mendadak." Suster jaga panik. Tangannya menahan bahu Jati yang bergerak gelisah.Pria itu membuka mata perlahan. Cahaya lampu membuatnya menyipit. Tenggorokan kering. Dada terasa berat, seperti tertindih batu.“A… air,” ucapnya serak.Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status