Share

Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri
Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri
Author: Lalala

Bab 1

Author: Lalala
Hari di mana Selina menyeret kakinya yang terluka kembali ke kampus, dia malah tak sengaja menyaksikan sebuah lamaran besar-besaran.

Jalan dari gerbang kampus menuju area asrama dipenuhi mawar putih. Di tengahnya terbentang karpet berwarna biru jernih, bagaikan pantulan cahaya danau yang dihancurkan menjadi serpihan.

Hayle berdiri di ujung karpet dengan gaun putih, terlihat anggun bagaikan angsa putih.

Dan pria yang sedang berlutut dengan satu kaki adalah Nathan, pria yang katanya sedang pergi ke Erop untuk urusan bisnis.

Dengan memakai masker, Selina berdiri tersembunyi di antara kerumunan. Dia menyaksikan keduanya berpelukan dan berciuman mesra. Rasanya seperti ada sebongkah es di dalam dadanya, dinginnya terasa menusuk.

Pria yang tadi malam masih berbisik ingin ‘habis-habisan di tubuhmu’, kini malah tengah memohon dengan wajah penuh ketulusan agar wanita lain bersedia menerima cintanya.

Baru saat inilah, Selina tersadar. Ternyata Nathan tak pernah berniat membiarkannya tampil di hadapan publik.

Kencan mereka selalu dilakukan larut malam dan hubungan mereka tak pernah diumumkan kepada dunia luar.

Tiga tahun lalu, Selina pernah pergi.

Keluarga Gunawan dan orang-orang sekitar mereka yang mengetahui hubungan keduanya selalu mengatakan bahwa seorang yatim piatu seperti dirinya, yang bahkan tak mengenyam bangku kuliah, tak pantas berdiri di sisi putra mahkota Keluarga Gunawan Kota Hosin.

Nathanlah yang menggunakan seluruh koneksinya dan mencari Selina tanpa tidur selama tujuh hari.

Pada akhirnya, Nathan berhasil membawanya kembali.

Selina masih mengingat wajah Nathan saat itu. Kesunyian yang mematikan bercampur dengan rasa sakit, sementara suaranya bergetar saat berbicara, “Selina, kamu mau membawa nyawaku kabur ke mana?”

Nathan bahkan menyuruh anak buahnya mencambuk dirinya sendiri sebanyak 99 kali. Dengan mata yang berbinar penuh harapan, dia menatap Selina dan berkata,

“Selina, ini salahku karena membuatmu merasa nggak aman. Aku pantas dihukum.”

Melihat punggung Nathan yang berlumuran darah, hati Selina sangat sakit hingga air matanya menetes.

Pada saat itulah, Nathan memberinya kartu izin tinggal permanen di Negara Wiras, serta bukti akses ke sebuah jalur penerbangan pribadi.

“Selina, aku dilarang masuk ke Wiras seumur hidup. Kalau aku mengkhianatimu, anggap saja ini hukuman darimu, agar aku nggak bisa bertemu denganmu lagi selamanya.”

Saat menerimanya, Selina ditarik erat ke dalam pelukannya, seolah ingin menyatukan wanita itu ke dalam tubuhnya, “Selina, aku nggak akan pernah membiarkanmu menggunakannya seumur hidup ini.”

Namun kini, pengkhianatan ini terpampang nyata di depan matanya.

Ternyata, dirinyalah yang bodoh selama ini.

Dengan pikiran kacau, Selina berjalan menuju vila yang menjadi kantor Nathan.

Namun, belum sempat menuntut penjelasan, dia lebih dulu mendengar suara sahabat-sahabat Nathan dari dalam, “Selamat, Kak Nathan! Akhirnya berhasil mendapatkan wanita pujaanmu.”

Nathan yang sudah agak mabuk tiba-tiba menajamkan tatapannya.

“Siapapun nggak boleh membicarakan ini. Kalau sampai Selina tahu….”

Gelas di tangannya dihantamkan keras ke atas meja. Semua sahabatnya langsung terdiam, tapi salah satu dari mereka tetap bertanya dengan hati-hati, “Kak Nathan, kakekmu terus mendesakmu untuk menikah. Bagaimana kalau kamu sekalian membuat surat menikah yang asli dengan Selina saja?”

Darah di tubuh Selina seolah mengalir terbalik. Tanpa sadar, dia menahan napasnya.

Lalu, dia melihat Nathan menajamkan senyuman tipis, lalu melemparkan sebuah surat menikah ke atas meja dan melanjutkan, “Kakekku sangat menyukai Hayle, bahkan memberikannya warisan keluarga.”

Selina terdiam, telinganya terasa berdengung.

Nathan dan Hayle sudah membuat surat menikah?

Lalu, apa arti surat menikah yang selama ini ada di tangannya?

Sahabat Nathan pun ikut tercengang dan mengambil surat itu, lalu bertanya, “Lalu bagaimana dengan Selina?”

Nathan menyimpan surat menikah itu ke dalam brankas, lalu menggoyangkan gelas anggur merah di tangannya cukup lama, baru menjawab,

“Dulu, saat mengurus surat menikah dengan Selina, kakek sudah lebih dulu mengotak-atik dokumenku. Jadi, surat menikah itu memang nggak mungkin asli.”

Nathan mengatakannya dengan begitu tenang, “Aku terpaksa membuat surat menikah untuk membuat Selina percaya dan menyerahkan hatinya padaku. Sifat Selina terlalu keras. Dia nggak cocok menjadi nyonya Keluarga Gunawan. Aku cukup memanjakannya saja.”

Tatapan sahabatnya menjadi rumit.

“Kak Nathan, Kak Selina bukan orang yang mudah dihadapi. Bagaimana kalau dia… pergi lagi setelah tahu semuanya?”

Tatapan Nathan menjadi tajam, “Kalau begitu, jangan pernah biarkan dia tahu. Suruh Jimmy mengawasinya dengan ketat.”

Selina tertawa tanpa suara. Tenggorokannya terasa begitu pahit.

Ternyata setiap kali dirinya diprovokasi dan terluka karena Jimmy, itu semua adalah perintah Nathan.

Pantas saja dalam perjalanan ke kampus hari ini, Jimmy seperti orang gila terus menghalangi jalannya. Karena berusaha melepaskan diri darinya, luka di kakinya menjadi semakin parah.

Ternyata, Nathan takut dirinya kembali ke kampus dan menyaksikan lamaran ini.

Belum sempat pulih dari kenyataan yang begitu menyayat hati, Selina kembali mendengar sahabat Nathan menanyakan pertanyaan yang juga ingin dirinya ketahui.

“Kak Nathan, siapa sebenarnya yang kamu cintai?”

Seolah teringat sesuatu, tatapan Nathan menjadi lebih lembut, lalu menjawab, “Tentu saja Selina, tapi selama tiga tahun ke depan, aku juga harus mencurahkan seluruh perhatianku pada Hayle.”

Ujung jarinya mengusap bibir gelas, lalu melanjutkan, “Hayle terlalu polos. Dia seperti Selina saat berusia 18 tahun. Kalau waktu itu nggak menerobos Keluarga Sein demi menyelamatkanku, seharusnya Selina juga bisa seanggun itu.”

“Aku nggak mungkin membesarkan Selina dari awal lagi, jadi lebih baik pelihara Hayle saja. Dengan begitu, aku juga nggak punya penyesalan lagi pada Selina.”

Sahabatnya terdiam sambil meneguk anggur merah, lalu kembali bertanya, “Kak Nathan, jujur saja. Kamu masih mempermasalahkan tiga hari tiga malam yang dihabiskan Selina di Keluarga Sein demi menyelamatkanmu?”

Hati Selina semakin tenggelam.

Tiga hari tiga malam di kediaman Keluarga Sein memang bagaikan mimpi buruk.

Tak ada seorangpun yang percaya bahwa Selina keluar dalam keadaan bersih, hanya Nathan yang mengaku memercayainya. Kemudian di banyak malam berikutnya, Nathan menyapu air matanya dengan ciuman sambil berbisik, “Selinaku yang paling bersih.”

Kali ini, Nathan tak menjawab. Dia hanya meneguk habis anggur merahnya.

Diamnya adalah jawaban yang paling kejam.

Selina memejamkan matanya, membiarkan air mata menetes begitu saja.

Nathan tak pernah memercayainya, bahkan jijik padanya….

Suara serak Nathan kembali terdengar, “Pernikahan tujuh hari lagi harus dirahasiakan dari Selina. Lebih baik buat dia mengalami kecelakaan sampai terluka, biar dia bisa dirawat di rumah sakit sebentar.”

Akhirnya, pertahanan di hati Selina pun putus.

Ucapan Nathan bagaikan pisau tajam yang menancap tepat di bagian terdalam jantungnya.

Ternyata rasa sakit dan luka yang dirinya alami selama ini, bagi Nathan sudah berubah menjadi alat yang bisa dimanfaatkan dan cara untuk mengendalikannya.

Bzz….

Ponselnya menerima tiga pesan sekaligus.

Satu dari Hayle, lengkap dengan foto surat menikah dan stiker yang ceria.

[Selina, akhirnya aku dan pria pujaanku sudah resmi bersama! Lihat, ini surat menikah kami~]

Satu dari Nathan, [Selina, aku merindukanmu. Setelah urusan di sini selesai, aku akan pulang menemanimu.]

Satu lagi dari dosen, [Selina, kamu benar-benar mau melepaskan tawaran dari akademi musik di Wiras? Bakatmu nggak seharusnya terkubur begitu saja. Aku harap kamu bisa mempertimbangkannya lagi.]

Selina menatap foto surat menikah itu, lalu membaca pesan ‘aku merindukanmu’ dari Nathan.

Rasanya seperti sebuah tamparan keras yang menghantam wajahnya, mengejek segala kebodohan yang selama ini dirinya lakukan.

Tiba-tiba, Selina teringat panggilan samar yang pernah diucapkan Nathan di atas ranjang waktu itu. Ternyata panggilan ‘Hei’ yang dia dengar bukan sedang memanggilnya, melainkan memanggil ‘Hayle’.

Rasa sakit menjalar hebat di dadanya, hingga membuat jarinya mulai gemetar.

Perlahan, Selina membuka obrolan itu dan mulai membalasnya….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status