Share

Bab 8

Author: Lalala
Panggilan pertama, hanya nada dering yang monoton.

Panggilan kedua, ketiga… hingga panggilan kesembilan, tetap tak ada yang mengangkat.

Mike berdiri di samping sambil menyilangkan tangan, dengan senyuman puas yang terukir di sudut bibirnya.

Hati Selina perlahan tenggelam ke dasar jurang.

Pada panggilan kesepuluh, akhirnya telepon itu tersambung.

Selina hampir berteriak histeris, “Kakak, cepat datang selamatkan aku! Mike meracuniku….”

Panggilan ‘kakak’ itu adalah kode rahasia di antara mereka.

Mereka pernah berjanji, selama Selina memanggilnya kakak, Nathan akan tahu bahwa situasinya genting dan akan segera menyelamatkannya secepat mungkin.

Namun, suara yang terdengar dari seberang telepon bukanlah kepanikan seperti yang dibayangkan. Sebaliknya, suara Nathan malah terdengar dipenuhi kegembiraan yang sulit disembunyikan,

“Sayang, kamu hamil? Bagus sekali!”

Kemudian, disusul dengan suara manja Heyli yang terdengar menahan tangis, “Sayang, tadi aku ketakutan setengah mati. Tiba-tiba perutku sakit….”

“Jangan takut, aku akan segera membawamu ke rumah sakit.”

Suara Nathan dipenuhi kecemasan.

“Lalu, bagaimana dengan Nona Selina….”

“Sayang, yang paling penting sekarang adalah kamu dan anak kita. Jangan pikirkan yang lain.”

“Lalu, bagaimana dengan pernikahan kita….”

“Tentu saja tetap dilangsungkan sesuai rencana.”

“Aduh, jariku nggak sengaja menekan tombolnya. Aku tutup dulu, ya.”

Nada sibuk berbunyi, bagaikan pisau tumpul berkarat yang menebas habis sisa-sisa harapan terakhir Selina.

Mike terkekeh mengejek, mengambil ponselnya sendiri dan menelepon nomor Nathan.

Nathan mengangkatnya dalam hitungan detik, suaranya terdengar dingin dan kesal, “Mike, orangnya sudah kuserahkan padamu. Jangan ganggu aku lagi!”

Mike menyalakan pengeras suara ke volume paling keras, lalu tersenyum dan berkata, “Oh? Kalau begitu, aku bisa bebas melakukan apa saja pada orang ini dong.”

“Permainkan sampai matipun jangan ganggu aku lagi!” Teriakan marah Nathan bercampur dengan jeritan Heyli.

“Heyli! Kamu kenapa….”

Telepon langsung terputus.

Tangan Mike yang terasa menjijikkan mengusap pipi Selina. Selina langsung memalingkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat karena rasa jijik.

“Dengar sendiri, ‘kan? Seharusnya kamu sudah mati rasa kali ini.”

Selina memungut ponselnya sendiri, lalu menekan nomor itu sekali lagi.

Hanya ada satu pikiran di dalam hatinya, Nathan, angkat teleponnya.

Saat suara operator yang dingin berbunyi, “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif,” hati Selina benar-benar jatuh ke dalam jurang tak berdasar.

Nathan mematikan ponselnya.

Menatap layar ponsel yang meredup, Selina tertawa hingga air matanya membasahi seluruh wajahnya.

Ternyata, inilah cinta yang selalu diucapkan oleh Nathan.

Saat dirinya sedang berjuang setengah mati di ambang neraka, Nathan malah sedang merayakan kehadiran nyawa baru bersama wanita lain.

Dalam keadaan setengah sadar, Selina seakan melihat Nathan saat dirinya berusia tujuh tahun, saat pria itu menyelamatkannya dari segerombolan anjing liar.

Mata remaja itu berbinar seperti bintang. Dia menyodorkan beberapa roti untuknya, “Makanlah yang kenyang. Setelah itu kita usir mereka, lalu aku membawamu pulang.”

Waktu berlalu hingga Selina berusia enam belas tahun. Nathan mengusir semua anak laki-laki yang berusaha mendekatinya. Dengan tatapan penuh kesombongan, dia berkata, “Berani-beraninya kalian mengejar wanitaku.”

Lalu, adegannya berubah.

Pria yang pernah berjanji akan mencintainya selama sepuluh ribu tahun itu, kini sedang berlutut dengan satu kaki, menyodorkan cincin berlian pada wanita lain.

Semua perlawanan yang selama ini dirinya lakukan tiba-tiba terasa tak berdaya.

Sensasi panas di dalam tubuhnya semakin membakar. Hingga saat menatap wajah Mike yang tampak sok suci itu pun, anehnya dirinya mulai merasa terbuai.

Selina menggigit lengannya sekuat tenaga. Rasa sakit membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Mike memegang sebuah stopwatch.

Suara hitungan mundur terdengar jelas, 10, 9… 1.

Brak!

Terdengar suara pintu didobrak.

Sekelompok pria berpakaian hitam menerobos masuk, membuat Mike pingsan dengan satu pukulan.

Dengan bantuan cahaya lampu yang redup, Selina menatap ke arah pria bertubuh tinggi dan kurus yang memimpin.

Setelah berjalan mendekat, barulah wajahnya yang rupawan terlihat jelas.

Entah kenapa, wajah itu terasa begitu familiar.

Suara pria itu terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.

“Selina, aku tunanganmu. Kakakmu menyuruhku datang menjemputmu pulang. Selina?”

“Selina, kamu baik-baik saja?”

“Bos, kalau obat ini nggak segera ditangani… dia bisa mengalami efek yang cukup parah,” ujar anak buah dengan cemas.

Selina merasa tangannya seperti diselipkan sebuah benda yang dingin.

Pria di hadapannya masih membujuknya dengan lembut, “Selina, aku tunanganmu. Begitu kita pulang, kita akan menikah. Aku datang menyelamatkanmu sekarang….”

Selina hanya merasa dirinya hampir meleleh karena gelombang panas yang terus mengamuk di dalam tubuhnya. Dia tak mampu lagi mendengar dengan jelas dan reflek merangkul pria di hadapannya.

Semuanya berjalan dengan begitu saja setelahnya.

Saat kesadarannya masih menyisakan sedikit kejernihan, Selina berkata dalam hati, Nathan, kita tak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi.

Saat tersadar kembali dalam keadaan linglung, Selina menyadari pemandangan di kedua sisi bergerak mundur dengan sangat cepat.

Lalu, dia baru sadar bahwa dirinya sedang digendong seseorang sambil berjalan.

Begitu melihatnya membuka mata, pria itu menundukkan kepala dan menyelipkan sebuah remote ke telapak tangannya, lalu berkata, “Selina, tekan ini. Setelah itu, kamu nggak akan punya hubungan apapun lagi dengan semua yang ada di tempat ini.”

Selina menatap remote itu dengan linglung. Di bawah tatapan pria yang terus memberinya semangat, akhirnya ujung jarinya menekannya.

Pria itu terkekeh pelan, “Sudah.”

Tangan besarnya mengambil remote itu dan membuangnya begitu saja, lalu menepuk lembut kepalanya, “Tenang saja, semua yang kamu perlukan sudah kubawa.”

“Ponselmu sudah dikirim ke orang itu.”

Pria itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ada semua hal yang seharusnya dia ketahui di dalam.”

Selina mengangguk. Ada terlalu banyak pertanyaan di kepalanya, tapi bahkan bernapas saja membuat tenggorokannya terasa sakit. Jadi, dia memilih diam.

Yang tak dia ketahui, tepat saat dirinya menekan remote itu, dua kobaran api membumbung tinggi ke udara.

Satu adalah markas Keluarga Sein.

Satu lagi adalah vila tempat dirinya dan Nathan pernah tinggal bersama.

Sementara di jalur penerbangan pribadi yang dulu disiapkan Nathan untuknya, pesawat menuju Wiras akan jatuh ke laut dalam waktu sepuluh menit.

Saat pria itu menggendong Selina naik ke pesawat pribadi dan dengan hati-hati membaringkannya di kursi, terdengar suara lembutnya membujuk, “Jangan takut, kita sudah pulang.”

Selina pun memejamkan matanya perlahan.

Nathan… kelak kamu mau menikah atau punya anak, semuanya sudah tak ada hubungannya lagi denganku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status