Share

Bab 7

Author: Lalala
“Bukan aku.” Selina mengeluarkan ponselnya untuk membuktikan diri, “Aku bahkan nggak pernah menghubunginya.”

Nathan tiba-tiba tertawa. Dia menarik Selina dan memeluknya dengan erat, “Selina, apain kamu takut? Mana mungkin aku nggak memercayaimu hanya gara-gara orang luar?”

Selina menatap wajahnya yang tampak menahan emosi hingga agak menegang. Seketika, Selina tak bisa memahami apa yang dipikirkan Nathan.

“Selina, aku pergi memeriksa apa yang sebenarnya terjadi dulu.”

Nathan melepaskannya, lalu ujung jarinya menyapu pipi Selina dan berkata, “Sepertinya malam ini nggak aman. Aku akan menyuruh pengawal untuk mengantarmu balik ke vila. Setelah kamu bangun nanti, semuanya pasti sudah beres.”

Nathan memanggil pengawal dan memastikan sendiri mereka melindungi Selina sampai masuk ke mobil.

Saat pintu mobil tertutup, petir menggelagar di langit, butir-butir air hujan sebesar kacang menghantam kaca hingga berubah menjadi hujan deras yang mengguyur.

Kembang api yang sebelumnya menyala terang di atas kapal pesiar, kini dipadamkan oleh hujan deras, hanya menyisakan beberapa percikan api. Persis seperti ikatan Selina dan Nathan selama delapan belas tahun, padam begitu saja tanpa persiapan.

Dengan terhalang hujan, Selina menatap pria yang berdiri di tengah hujan. Sosoknya segera tertelan kabut air.

Detik berikutnya, tiba-tiba kain hitam menutupi kepalanya. Bau obat yang menyengat memenuhi hidungnya dan kesadarannya langsung hilang.

Sebelum kehilangan kesadaran, tiba-tiba dia teringat tatapan mata Nathan yang dingin saat dirinya naik ke mobil.

Nathan sengaja melakukannya. Sengaja menggunakan kelembutannya untuk membuat dirinya lengah dan tak curiga.

Saat terbangun kembali, Selina sudah memakai pakaian santai sehari-hari. Tangan dan kakinya diikat dengan tali kasar, sementara mulutnya ditutup dengan lakban.

Dalam pandangannya muncul sosok Nathan.

Pria itu hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu memalingkan wajah.

Selina ingin berteriak, ingin menuntut penjelasan, tapi tubuhnya tak bertenaga.

Saat pengawal menyeretnya melewati Nathan, pria itu berkata dengan suara setajam pisau, “Selina, jangan karena dirimu dihancurkan Keluarga Sein, kamu malah menarik Heyli ikut hancur bersamamu.”

Seketika, air mata Selina mengalir deras.

Akhirnya, Nathan mengatakannya.

Ternyata dia memang tak pernah percaya bahwa dirinya keluar dari Keluarga Sein dalam keadaan masih bersih.

Pantas saja dulu, saat mengetahui dirinya hamil, akhirnya bayi itu malah gugur dalam sebuah ‘kecelakaan mobil’.

Ternyata itu bukanlah kecelakaan.

Nathan hanya tak percaya bahwa anak itu adalah darah dagingnya.

Selina menyesal.

Menyesal karena dulu telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan pria itu, tapi yang dirinya dapatkan malah penghinaan dan pengkhianatan. Nathan bahkan tega membunuh anak mereka sendiri.

“Bawa dia ke Keluarga Sein, tukarkan dengan Heyli.”

Kata-kata dingin tanpa belas kasihan itu membuat Selina meronta sekuat tenaga! Tidak! Dia tak mau kembali ke neraka itu!

Namun, tangan dan kakinya ditahan dengan kuat. Dia bahkan tak punya sedikitpun tenaga untuk melawan.

Tepat saat dia hampir benar-benar hancur, tiba-tiba suara Nathan melunak, “Selina, tunggu aku. Aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu.”

Selina memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh.

Saat melihat sosoknya yang semakin jauh karena diseret para pengawal, tiba-tiba Nathan merasa cemas. Dia berteriak, “Tunggu, angkat lengan bajunya.”

Para pengawal segera menurut. Terlihat pergelangan tangan kirinya yang kosong, tidak ada aksesoris.

Seketika, saraf Nathan yang menegang pun mengendur.

Tak ada… tak ada tasbih itu.

Bukan Selina.

Sosok pengganti ini memang sangat mirip dengan Selina, sampai-sampai hampir membuatnya salah mengenali.

Kakeknya pernah bilang bahwa pihak Keluarga Gunawan sudah mengatur kehidupan yang layak untuk keluarga sosok pengganti ini dan wanita ini melakukannya secara sukarela.

Nathan kembali meminta pengawal menampilkan rekaman CCTV dari vila, memperlihatkan Selina yang sedang duduk dengan tenang. Setelah memastikan wanita di layar itu aman, barulah dia membiarkan ‘pengganti’ itu dibawa ke Keluarga Sein.

Namun, Selina yang dikirim ke Keluarga Sein sebagai ‘pengganti’ ini sama sekali tak mengetahui semua ini.

Dengan mata kepalanya sendiri, Selina melihat Heyli keluar dari sana dengan tubuh penuh memar dan pakaian yang compang-camping.

Saat melewatinya, wanita itu menunjukkan senyuman penuh kemenangan. Bibirnya membentuk kata tanpa suara ‘mati saja’.

Setelah itu, dia terhuyung-huyung dan terjatuh ke dalam pelukan Nathan.

“Sayang, jangan takut. Aku datang menjemputmu.”

Sambil menenangkan Heyli dengan lembut, Nathan melepas jasnya dan menyelimutkannya ke tubuhnya. Kemudian menggendongnya dengan sangat hati-hati, lalu pergi dengan mobil tanpa menoleh sedikitpun.

Di belakang mereka, terdengar ‘tang’ pintu besi yang berat tertutup, mengunci Selina sepenuhnya di dalam neraka bernama Keluarga Sein.

Belum sempat tersadar dari keputusasaan yang membuatnya sesak, tiba-tiba sebuah rantai besi menghantam lehernya.

Ujung rantai lainnya berada di tangan Mike Sein, penguasa Keluarga Sein.

Dia memakai kacamata berbingkai emas, lalu menggoyangkan rantai itu dengan tenang dan santai, “Nona Selina, kita bertemu lagi.”

“Dulu saat kusuruh menemaniku satu malam, kamu bersikeras ingin menjaga kesucian demi Nathan, bahkan berani bertaruh dan menerobos formasi siksaan Keluarga Sein.”

Mike terkekeh, “Sayangnya, Nathan tetap mengira kamu sudah dipermainkan olehku. Bahkan anaknya sendiri pun tega dibunuh.”

“Dan kali ini bahkan lebih menarik. Demi wanita lain, dia sendiri yang mengantarkanmu kembali ke tanganku.”

Mike membungkuk, melanjutkan, “Selina, kamu nggak akan bisa kabur lagi kali ini.”

Dia mengulurkan tangan dan mencabut paksa lakban dari mulut Selina. Daya rekat yang kuat membuat kulitnya terasa perih.

Sesaat kemudian, dagu Selina dicengkeram erat. Sebuah pil dingin dimasukkan paksa ke tenggorokannya.

Mike menyeretnya ke sebuah kamar bersih yang hanya berisi sebuah ranjang besar, lalu melemparkan ponsel Selina.

“Sepuluh menit lagi obatnya akan mulai bekerja.”

“Kamu punya sepuluh kesempatan untuk menelepon Nathan. Selama dia bisa datang dalam sepuluh menit, aku akan membiarkanmu pergi.”

“Jangan macam-macam, kamu hanya boleh meneleponnya. Kalau nggak, kamu akan tinggal di sini selamanya.”

Selina merasakan rasa panas yang segera menjalar dari dalam perutnya. Dengan jari-jari yang gemetar, dia menekan nomor yang dirinya hapal di luar kepala.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status