LOGIN"Maaf ya kak, bikin kamu nunggu lama," sapa Gisel dengan nada sedikit tidak enak. Persiapannya tadi sempat molor beberapa menit.Bhaskar yang duduk di balik kemudi mengenakan setelan jas formal lengkap dengan dasi rapi menoleh pelan. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis."Santai saja, Gisel. Nungguin perempuan siap-siap apalagi untuk acara penting itu memang sudah jadi kewajiban seorang laki-laki. Saya paham."Gisel mendengus pelan, lalu menunduk memeriksa penampilannya sendiri."Ngomong-ngomong... penampilanku malam ini gimana? Kelihatan berlebihan nggak atau udah pas?"Bhaskar tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam sejenak, menoleh sepenuhnya ke arah Gisel, lalu mengamati penampilan perempuan di sampingnya dari atas sampai bawah dengan tatapan lekat. Cukup lama ia terdiam dalam posisi itu, membuat jantung Gisel tanpa sadar berdegup sedikit lebih kencang karena penasaran.Melihat Bhaskar yang tak kunjung bersuara, bibir Gisel perlahan mengerucut, hampir menunjukkan ekspr
Di perjalanan pulang, Gisel duduk diam di samping Bhaskar. Setelah kejadian tadi, ia ingin menenangkan pikirannya sebelum kembali menghadapi urusan lain."Minggu depan jadwal sidang putusan perceraian kamu, kan?" tanya Bhaskar.Gisel menoleh. "Iya. Tinggal menunggu keputusan aja.""Semoga semuanya berjalan lancar.""Amin." Gisel tersenyum tipis.Bhaskar kembali memperhatikan jalan. Beberapa saat kemudian, ia melirik Gisel yang masih terdiam."Kamu mau langsung pulang atau ada tempat yang ingin kamu datangi?"Gisel hendak menjawab, tetapi tiba-tiba teringat sesuatu. "Kak, bisa antar aku ke butik sebentar?""Boleh. Ada yang mau kamu beli?""Besok malam ada acara ulang tahun perusahaan. Aku belum menyiapkan gaun untuk acara itu karena beberapa hari ini sibuk bolak-balik ke rumah sakit."Bhaskar mengangguk. "Kamu mau ke butik mana?""Cari yang dekat sini aja, Kak.""Kalau begitu, kita ke butik langganan Mama saya. Letaknya tidak jauh dari sini. Saya juga sering mengantar Mama saya ke sana
Langkah Gisel yang baru keluar dari ruang sidang mendadak terhenti ketika terdengar suara benturan keras dari arah area parkir. Suara seorang pria yang sedang marah menyusul beberapa saat kemudian, membuat orang-orang di sekitar tempat itu berkerumun.“Dasar anak tidak tahu diri!”Gisel langsung mengenali suara itu. Ia mengangkat sedikit ujung roknya dan bergegas menuju kerumunan, khawatir sesuatu yang buruk sedang terjadi.Begitu berhasil menerobos beberapa orang, Gisel langsung tertegun melihat pemandangan di hadapannya.Irawan berdiri dengan wajah merah padam dan napas memburu. Sementara itu, Arash terduduk di aspal dengan sudut bibir berdarah dan pelipis lebam. Kemejanya kusut, bahkan bagian bahunya tampak koyak. Pria itu tidak berusaha melawan atau membalas pukulan papanya. Ia hanya diam dengan pandangan kosong.Bhaskar bersama dua petugas kepolisian berusaha menahan Irawan agar tidak kembali menyerang Arash.“Sudah, Om! Tolong berhenti!” seru Bhaskar sambil menahan tubuh Irawan
Tok! Tok! Tok!“Menimbang seluruh bukti dan keterangan yang telah disampaikan selama persidangan, majelis hakim menyatakan Terdakwa I, Hendra Wijaya, terbukti bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan berencana dan kejahatan yang melibatkan senjata. Oleh karena itu, terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.“Terdakwa II, Retno Saraswati, terbukti bersalah karena dengan sengaja membantu pelaku kejahatan, menghalangi penyidikan, dan menyembunyikan pelaku. Oleh karena itu, terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.”Ketukan palu hakim menandai berakhirnya persidangan yang telah lama dinantikan. Setelah melalui proses hukum yang panjang, Hendra dan Retno akhirnya menerima hukuman atas perbuatan mereka.Di deretan kursi, Irawan duduk di samping Gisel dan Bhaskar. Wajahnya terlihat tegang, sementara pandangannya tertuju pada kedua terdakwa. Tak jauh dari sana, Arash berdiri terpaku menyaksikan mamanya menerima vonis.Retno tertunduk. Bahunya bergetar menahan t
Pukul sepuluh pagi, ruang rapat utama mulai dipenuhi ketegangan. Rapat ini akan menentukan apakah Arash masih bisa mempertahankan jabatannya sebagai direktur utama atau harus melepaskan jabatan tersebut.Arash duduk di ujung meja rapat yang panjang. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia hampir tidak tidur semalaman. Beberapa dokumen pembelaan diri dan laporan keuangan tergeletak di hadapannya. Semua itu sudah ia siapkan untuk menghadapi rapat pagi ini.Namun ia tahu, dokumen pembelaan yang disiapkannya belum tentu bisa menyelamatkan posisinya. Kini, ia hanya bisa menunggu keputusan Dewan Komisaris.Pintu ruang rapat terbuka. Pak Soedjarwo masuk bersama tiga anggota Dewan Komisaris lainnya, disusul Pak Johan dan Gisel yang kini mengenakan setelan jas abu-abu gelap.Pandangan Gisel sempat bertemu dengan Arash sebelum ia berjalan menuju kursinya. Tak ada sapaan di antara mereka. Keduanya segera mengalihkan pandangan, bersiap menghadapi rapat yang akan menentukan nasib Ara
“Dengar baik-baik, Mas. Aku tidak akan membatalkan perceraian ini, apalagi kembali tinggal bersamamu. Jadi, berhenti berharap aku akan menyerah hanya karena kamu merasa masih punya kuasa atas hidupku.” Senyum di wajah Arash perlahan menghilang. Ia tidak menyangka Gisel akan menolak tawarannya begitu saja, padahal ia sudah menjadikan proyek yang penting bagi perempuan itu sebagai alat untuk menekannya. "Kamu pikir ini permainan, Gisel? Papa masih koma di rumah sakit, sementara perusahaan sedang menghadapi masalah. Kalau aku tidak menyetujui kelanjutan proyek itu, pekerjaan akan terhambat dan perusahaan bisa mengalami kerugian besar. Kamu masih mau mempertahankan keputusan cerai itu meskipun akibatnya bisa merugikan perusahaan papa kamu sendiri?" Gisel menatap Arash tanpa gentar. Ia tidak percaya pria itu masih berani membawa nama papanya untuk membenarkan tindakannya. “Kalau kamu sampai menghancurkan perusahaan ini hanya demi memaksaku kembali, silakan! Tapi jangan pernah berpikir







