Share

BAB 105 Kantor

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 20:30:54

Lift terus bergerak naik menuju lantai atas gedung Narendra Group cabang Bandung. Suara mesin lift terdengar halus. Lampu angka digital terus berubah dari bawah ke atas. Sedangkan tiga anak kecil di dalam lift jelas masih belum berhenti kagum.

Liana bahkan beberapa kali melihat pantulan dirinya sendiri di dinding lift mengilap sambil tertawa kecil. “Ayah…”

“Hm?”

“Kalau ngomong disini suaranya bagus.” Lalu anak itu sengaja mencoba lagi. “Halo…” Suaranya memantul kecil di dalam lift.

Leya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 124 Semua Luka

    Suasana di dalam ruang rawat itu perlahan mulai lebih tenang. Meski mata Hazel masih terlihat sembab, napas perempuan itu sudah jauh lebih stabil dibanding tadi. Sedangkan Lintang masih berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel Hazel di tangannya. Tatapan laki-laki itu sesekali jatuh pada layar ponsel yang terus dipenuhi panggilan dan pesan dari Rehan Pratama. Namun untuk sementara Lintang memilih mengabaikannya dulu. Fokusnya sekarang hanya satu, Hazel. Laki-laki itu akhirnya kembali duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya mengarah pada Hazel yang terlihat masih sangat lelah. “Anak-anak pulang jam berapa?” Hazel yang tadi sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. “Jam sepuluh biasanya…” Suaranya masih terdengar pelan dan lemas. Lintang langsung melirik jam di tangannya. Pukul 09.40 pagi. Berarti sekitar dua puluh menit lagi anak-anak akan selesai sekolah. Lintang mengangguk kecil pelan. “Ya udah.” Nada suaranya tetap tenang. “Nanti kalau ibu datang… aku yang jemput anak-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 123 Password

    Ruangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 122 Rapuh

    Ruangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 121 Pingsan

    Udara pagi Bandung mulai terasa sedikit hangat. Matahari perlahan naik lebih tinggi meski angin masih cukup sejuk berembus di sekitar jalan dekat sekolah TK itu. Hazel masih duduk cukup lama di bawah pohon dekat taman kecil sekolah. Ponselnya tetap dalam keadaan bisu. Beberapa notifikasi dari Rehan Pratama terus masuk sejak tadi. Namun Hazel bahkan sudah tidak punya tenaga mental untuk membukanya lagi. Tatapannya kosong, pikirannya penuh dan dadanya masih terasa sesak setelah percakapan dan pesan-pesan tadi pagi. Dirinya lelah, benar-benar lelah dan mungkin karena terlalu banyak memikirkan semuanya kepalanya mulai terasa berat sejak tadi. Hazel mengusap pelan pelipisnya, lalu perlahan berdiri dari bangku semen itu. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.47 pagi. Masih cukup lama sebelum jam pulang anak-anaknya nanti. Maka Hazel berniat berjalan ke toko bunga milik Miranti sambil menunggu waktu. Perempuan itu mulai melangkah pelan meninggalkan area sekolah. Tas kecilnya tergantung d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 120 Taman Kanak-Kanak

    Pagi di depan sekolah TK itu terasa ramai seperti biasa. Suara anak-anak kecil bercampur dengan obrolan para orang tua yang mengantar terdengar memenuhi halaman sekolah. Beberapa anak masih merengek enggan masuk kelas. Sebagian lagi sudah sibuk berlari kecil menghampiri teman-temannya. Sedangkan Hazel berdiri cukup dekat dari gerbang sekolah sambil memperhatikan tiga anaknya. Hari ini Hazel mengenakan gamis panjang warna dusty pink dengan hijab senada. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin sore. Memar di pipinya juga sudah tertutup cukup rapi dengan concealer dan masker yang masih dipakai. Meski begitu kalau diperhatikan lebih lama sisa lelah di matanya masih terlihat jelas. Setelah sarapan tadi pagi, Hazel langsung mengantar anak-anaknya ke sekolah seperti biasa. Sedangkan Miranti lebih dulu pergi ke toko bunga. Di samping Hazel Leyan masih sibuk mengoceh soal nugget buatan bundanya tadi pagi. “Bunda tadi nuggetnya enak.” Hazel langsung tersenyum kecil sambil mera

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 119 Penyelidikan

    Malam di apartemen Lintang terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Sedangkan jas kerja yang tadi dipakai laki-laki itu bahkan masih tergeletak begitu saja di sofa. Lintang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah. Kaos hitam dan celana training sederhana membuat dirinya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di kantor. Namun wajahnya tetap terlihat lelah. Laki-laki itu berjalan pelan menuju dapur kecil apartemennya. Membuka kulkas, mengambil air mineral lalu kembali duduk di sofa sambil memijat pelan tengkuknya sendiri. Saat suasana mulai tenang seperti itu, bayangan wajah Hazel tadi sore kembali memenuhi pikirannya. Bagaimana perempuan itu menangis diam-diam di bangku taman. Bagaimana dirinya gemetar saat bicara soal perceraian. Bagaimana matanya terlihat benar-benar bingung dan kehilangan arah. Lintang mengembuskan napas panjang pelan. Kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemen. Dadanya masih terasa berat samp

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 40 Amarah Kevin

    Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status