로그인Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena
Sementara Lintang masih berada di lorong rumah sakit, suasana di dalam ruang rawat justru berubah jauh lebih tenang. Levian duduk santai di sofa panjang sambil memperhatikan tiga anak kecil yang sekarang mulai sibuk sendiri. Leyan sedang makan camilan yang tadi dibelikan Levian. Sedangkan Liana sibuk memainkan gantungan boneka kecil di tas sekolahnya. Sementara Lintang kecil duduk lebih diam dibanding dua adiknya. Dan makin lama melihat mereka, pikiran Levian makin dipenuhi rasa aneh. Tiga anak ini terlalu nyaman dengan adiknya. Nyaman sampai terasa seperti keluarga sungguhan. Akhirnya laki-laki itu memutuskan bertanya langsung. “Kenapa kalian panggil Lintang ayah? Apa dia ayah kalian?” Pertanyaan itu membuat dua anak kecil langsung menoleh bersamaan. Sedangkan Lintang kecil menjawab lebih dulu pelan. “Bukan.” Jawabannya singkat. Namun sebelum Levian sempat lanjut Liana langsung menyahut polos. “Soalnya ayah Lintang baik. Gak kayak ayah tiri kami.” Detik itu senyum santai di wa
Setelah pemeriksaan luka luar selesai dilakukan ruangan visum itu kembali hening beberapa saat. Hazel masih duduk di atas bed pemeriksaan sambil memegangi ujung cardigan rumah sakit yang tadi dipakaikan perawat untuk menutupi tubuhnya kembali. Matanya sedikit kosong, proses tadi terasa jauh lebih berat secara mental dibanding rasa sakit fisiknya. Melihat memar-memar di tubuhnya difoto, diukur, dicatat satu per satu. Itu seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini dirinya coba abaikan. Sedangkan dokter perempuan di depannya masih menulis beberapa catatan tambahan di berkas visum. Perawat lain mulai membantu membereskan alat dokumentasi medis. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya kembali mendekat ke arah Hazel dengan nada yang tetap lembut dan profesional. “Bu Hazel, pemeriksaan luka luar sudah selesai.” Hazel mengangguk kecil pelan. Namun dokter melanjutkan lagi sambil membuka lembar pemeriksaan berikutnya. “Nanti saya juga akan mencatat keluhan nyeri ibu secara detail.”
Suasana yang tadi sempat hangat kembali berubah pelan setelah pertanyaan Lintang terdengar. “Kamu udah siap mau visum?” Kalimat itu terasa menggantung cukup lama di udara. Di atas ranjang, Hazel terlihat menundukkan wajahnya perlahan. Jemarinya kembali saling menggenggam di atas selimut. Ragu itu masih ada, takut itu juga belum hilang. Dia tahu setelah visum dilakukan, langkah berikutnya mungkin akan semakin jauh. Sedangkan Miranti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan. Perempuan itu mendekat sedikit lalu duduk di sisi ranjang Hazel. Tangannya mengusap lengan Hazel lembut. “Ibu tau kamu takut…” Nada suaranya hangat. “Namun apa kamu mau hidupmu jadi seperti ini terus?” Hazel langsung diam. Tatapannya turun makin dalam. Karena ucapan itu tepat sekali mengenai hatinya dan di saat suasana mulai terasa berat, suara kecil polos tiba-tiba terdengar. “Visum itu apa?" Semua mata langsung beralih ke Liana Naya Parameswari. Anak perempuan itu berdiri sambil memiringkan kepalanya
Ruangan itu kembali ramai oleh suara anak-anak setelah obrolan absurd tentang direktur utama tadi. Hazel yang sejak tadi lebih banyak mendengar akhirnya tersenyum kecil sambil membuka kedua tangannya ke arah anak-anak. “Gimana sekolahnya tadi?” Tatapannya bergantian ke tiga anak itu. “Gak nakal kan?” Leyan langsung menjawab paling cepat sambil menggeleng heboh. “Nggak dong bunda.” Nada suaranya penuh keyakinan. Seperti sudah hafal pola saudara kembarnya, Liana langsung memutar mata kecilnya. “Ih… Kamu bikin nangis Sella tadi.” Seketika kepala Miranti langsung menoleh cepat ke arah Leyan. “Kamu bikin nangis Sella lagi?” Nada suaranya sudah seperti nenek yang capek menghadapi cucu usil. Sedangkan Leyan langsung refleks membela diri. “Dia duluan kok! Masa buku tulisku dicoret-coret sama dia. Ya aku bales lah.” Di sisi lain Lintang kecil yang sejak tadi tenang akhirnya ikut bicara pelan. “Dia balasnya di soal dari bu guru yang udah dijawab.” Detik itu Hazel langsung memejamkan ma
Setelah percakapan panjang itu, suasana ruangan sempat kembali hening cukup lama. Hazel masih diam sambil memikirkan semua cerita Levian Ankara Narendra tadi. Meski dirinya pernah mendengar sedikit cerita tentang kecelakaan Lintang langsung dari laki-laki itu sendiri. Hazel tidak pernah tahu situasinya ternyata separah itu. Yang dia tahu hanya garis besar kecelakaan, cedera berat dan pemulihan panjang. Namun detail tentang bagaimana Lintang hampir kehilangan nyawanya, bagaimana keluarganya hancur melihat kondisinya dan bagaimana laki-laki itu menghadapi vonis sulit memiliki keturunan, semuanya baru benar-benar terasa nyata sekarang. Sedangkan Miranti sejak tadi hanya diam. Perempuan itu sesekali melirik Hazel pelan. Semakin lama hubungan hidup Hazel dan Lintang terasa semakin rumit dan tepat saat suasana mulai terlalu tenggelam dalam pikiran masing-masing pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah kecil langsung terdengar masuk lebih dulu. “Bundaaaaa…” Detik berikutnya tiga an
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany
Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid







