Beranda / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 7 Insiden di Tangga

Share

BAB 7 Insiden di Tangga

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-03-22 12:36:52

Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang berbeda dari Lintang, ia tidak memakai masker seperti biasanya untuk menutupi sebagian wajahnya, tatapannya tetap tajam, mata hitam legam mengamati sekeliling.

Di sudut kantin, ia melihat Melisa duduk sendirian, membuka laptop dan beberapa buku di depannya. Lintang menelan napas sebentar, lalu melangkah pelan mendekat.

“Hai, Melisa,” sapanya ringan, senyum tipis terlihat meski masker menutupi sebagian wajahnya.

Melisa menoleh, sedikit tersipu, tapi mengangkat kepala. “Oh… hai, Kak Lintang. Pagi.”

“Aku cuma ingin memastikan, kamu ingat janji sore ini kan? Nanti kita bertemu di taman setelah kelas terakhirmu”, kata Lintang, suaranya hangat tapi tenang. Ia sengaja menambah sedikit nada santai, agar obrolan terasa alami.

Melisa tersenyum pelan. “Iya, ingat kok. Aku siap.”

Lintang mengangguk. “Bagus. Kalau ada yang perlu disiapkan atau ditanyakan soal tempatnya, kabari aku ya.”

Melisa tersenyum lagi, menutup laptopnya. “Siap, Kak.”

Percakapan itu sederhana, namun di baliknya, Lintang diam-diam merasakan senyum kecil Melisa tanda awal bahwa perhatian dan rasa penasaran mulai muncul. Obrolan selesai, Lintang berpamitan, melangkah keluar kantin sambil menyesuaikan arah langkahnya menuju kelas berikutnya.

•

Sore itu, langit berwarna oranye keemasan. Hazel baru saja keluar dari gedung fakultas kedokteran, ia memutuskan untuk memakai rok hari itu. Ia berjalan santai menuju taman kampus, menikmati suasana sore, namun tanpa sengaja tersandung ujung roknya sendiri saat menuruni lima anak tangga kecil di dekat taman. Tubuhnya terduduk, kaki terkilir, dan rasa sakit membuatnya menahan diri. Tak jauh dari situ, Lintang yang berjalan ke arah taman. Ia melihat seorang wanita duduk di tangga, tampak kesakitan dan berusaha bangkit. Ia tidak mengenal wanita itu.

“Hmm…”, gumam Lintang pada diri sendiri, menimbang cepat. Niat awalnya melewati wanita itu, tapi hati nuraninya memaksa. “Ya sudah, bantu saja.”

Lintang mendekat, menunduk, dan dengan hati-hati menawarkan tangan untuk menopang wanita itu. “Eh eh pelan-pelan… jangan dipaksakan dulu. Aku bantu kamu berdiri”, katanya dengan nada lembut tapi yakin.

Hazel menoleh sekilas, melihat sosok tinggi, tegas, tampan, mata hitamnya menatap dengan penuh perhatian. Ia mengangguk, mencoba berdiri sambil menahan sakit, tapi tidak tahu siapa orang ini. Ia sama sekali belum mengenal Lintang.

Sementara itu, di dekat taman, Melisa sudah menunggu, melihat dari jauh. Ia tak bisa mengalihkan pandangan saat melihat Lintang membungkuk menolong wanita yang tersandung. Detik itu menimbulkan rasa kesal dan iri, meski belum sepenuhnya ia sadari.

Lintang melepas pegangan tangan Hazel setelah memastikan ia bisa berdiri dengan stabil di bangku dekat tangga, tapi sesaat kemudian Hazel terlihat kesulitan mengatur langkahnya. Badannya sedikit terhuyung, kakinya masih terasa sakit akibat keseleo. Tanpa pikir panjang, Lintang segera meraih bahu Hazel, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Hawa sore terasa hangat, namun dalam detik itu rasanya waktu seakan melambat.

Mata Hazel dan Lintang bertemu. Lintang menatap cukup lama, matanya hitam tajam namun lembut, tertuju pada wajahnya, bibir mungil pink alami, wajah yang simetris, rambut kecoklatan, hidung mancung, bulu mata yang lentik, alis yang rapi, serta yang palong menyita perhatian Lintang yaitu matanya, warnanya sangat unik, memantulkan cahaya matahari sore. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menandai wajah ini dalam ingatannya, namun ia segera sadar dan memutus tatapannya, berpaling sejenak, menahan perasaan aneh yang muncul.

Hazel, di sisi lain, merasakan dadanya berdetak lebih cepat. Mata mereka sempat bertemu, dan perasaan aneh, antara penasaran dan gugup mengguncang dirinya. Ia menggigit bibir bawahnya, menenangkan diri sambil tetap menopang tubuhnya.

Lintang mencondongkan tubuh sedikit, menatap Hazel dengan perhatian. “Kamu… mau kemana?” tanyanya, suaranya tetap tenang di balik masker.

Hazel menelan napas, sedikit terkejut. “Eh… aku… aku mau pulang… ke kost ku”, jawabnya hati-hati.

“Kostmu…? Boleh tahu di mana?” Lintang bertanya lagi, matanya tetap waspada melihat langkah Hazel yang pincang.

“Tidak begitu jauh dari sini… biasanya aku jalan kaki”, jawab Hazel, tersenyum tipis.

Lintang menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada yakin, “Kamu tidak mungkin jalan kaki sampai sana dengan kaki seperti ini.” Ia mencondongkan tubuh untuk menopang Hazel kembali, tangannya sigap menahan tubuh wanita itu agar tidak terhuyung lagi.

Setelah memastikan Hazel agak stabil, Lintang bertanya lagi, suara lembut tapi ingin tahu lebih banyak, “Boleh aku tahu namamu?”

Hazel menatap sejenak, ragu-ragu, lalu tersenyum tipis. “Hazel… Hazel Chiara Parameswari”, jawabnya lirih, masih menahan sakit.

Lintang mengangguk, tersenyum tipis di balik masker. “Hazel… oke. Aku akan membantumu sampai kamu dapat taksi.”

Ia kemudian memapah Hazel perlahan ke tepi jalan, menyiapkan langkah untuk memanggil taksi. Sore itu, kedekatan singkat mereka terasa begitu nyata, meski sama-sama belum saling mengenal lebih jauh.

Dengan cepat, Lintang memanggil taksi, menunggu hingga kendaraan itu berhenti di depan mereka. Ia membantu Hazel masuk ke dalam mobil, memastikan ia duduk dengan aman, tas dan buku-bukunya diletakkan di samping.

Setelah Hazel aman duduk di dalam taksi, Lintang berbalik ternyata disana sudah ada Melisa yang dari tadi menonton dari kejauhan. Dengan langkah cepat, ia bergegas mendekati Melisa, niatnya ingin menyapanya, mungkin sedikit bercanda atau memberi penjelasan soal janji bertemu sore ini. Namun, Melisa sudah lebih dulu sadar akan kehadirannya. Dengan gerak tubuh yang tegas, dia menunduk sebentar, menahan napas, lalu tanpa menoleh lagi, dia berbalik dan lari meninggalkan Lintang, langsung menaiki taksi yang baru datang dari arah lain.

Lintang berdiri terpaku sejenak, menatap taksi yang mulai menjauh. Sangat jelas terlihat ekspresi wajahnya, matanya yang tajam menampakkan ketegangan dan kekesalan. Bibirnya menekuk tipis, rahangnya mengeras.

“Astaga…”, gumamnya pelan, suaranya penuh frustrasi. Tangannya mengepal, menahan dorongan emosi yang mendidih di dalam dada.

Setelah Melisa pergi meninggalkannya, Lintang mencoba menghubungi sekali, dua kali, berkali-kali. Telepon berdering, chat dikirim, tapi tak ada satu pun yang dibalas. Setiap nada dering yang berakhir tanpa jawaban seperti menambah bara di dalam dada Lintang.

“Kenapa… kenapa harus begini?”, gumamnya pelan, suara itu penuh frustrasi. Ia menatap layar ponselnya, melihat nomor yang sebelumnya aktif, kini seakan memutus hubungan begitu saja. Bahkan terakhir kali ia menelepon, mengirim chat, nomor itu sudah tidak aktif lagi.

Lintang menepuk wajahnya dengan satu tangan, mencoba menenangkan diri, tapi emosi justru semakin memuncak. Ia mulai mengingat kembali sore tadi, kejadian saat dia membantu seorang wanita yang keseleo di tangga kampus. Ia menahan napas, matanya menatap kosong ke arah luar jendela, tapi benak dan emosinya terus memutar-mutar adegan itu. “Kenapa aku harus menolong dia? Kenapa aku tidak bisa diam saja…?”, pikirnya, suara hatinya hampir pecah.

Dan tiba-tiba, rasa kesal itu menemukan sasaran, Hazel. Sosok wanita yang tak ia kenal, yang tadi berada di tangga itu, yang membuatnya tidak bisa fokus, yang tanpa sadar mengacaukan rencananya dengan Melisa. Benih kebencian itu mulai muncul secara halus, tapi nyata. Ia menyalahkan Hazel dalam hati, menganggap bahwa wanita itu menjadi penyebab kegagalannya hari ini. Dalam pikirannya, semua frustrasi, semua rasa marah, semua perasaan yang tak terkendali diletakkan pada Hazel, padahal ia sendiri yang tak bisa menahan diri untuk menolong.

Lintang mengepalkan tangannya, menatap kosong ke luar jendela, matanya yang tajam menampakkan campuran emosi, frustasi, marah, dan rasa dendam yang mulai berubah menjadi tekad dingin. Tanpa sadar, ia mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu untuk memastikan bahwa kesalahan yang ia rasakan hari ini tidak akan terulang lagi.

Lintang duduk diam, membiarkan benih kebencian itu tumbuh perlahan, benih yang suatu hari akan menentukan langkah-langkahnya selanjutnya, termasuk terhadap Hazel, sosok yang tak sengaja masuk ke hidupnya, dan tanpa sadar, mulai menjadi sasaran emosinya.

•

Hazel akhirnya sampai di depan pintu kostannya. Nafasnya masih berat, kaki yang keseleo membuat setiap langkah terasa menyiksa. Dengan sigap, ia memasukkan kunci dan membuka pintu, menutupnya perlahan agar suara langkahnya tidak terlalu terdengar oleh penghuni lain.

Begitu masuk, ia menurunkan tasnya ke lantai, dan dengan hati-hati menyingkirkan sepatunya. Kaki yang keseleo membuatnya harus duduk sejenak di tepi ranjang, menatap lantai dengan rasa lelah yang dalam. Ia menatap sekeliling kamar kostnya yang sederhana, meja belajar penuh buku, beberapa foto kecil orang tuanya yang ia pajang di rak, serta bunga yang masih tersisa dari warisan ibunya. Segera, Hazel merebahkan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar, membiarkan diri sejenak melupakan hari yang panjang dan melelahkan.

Rasa sakit di kaki masih terasa, namun Hazel menahan diri. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, sambil mengingat sejenak kejadian di kampus tadi. Ada rasa lega karena bisa membantu orang lain, tapi tubuhnya meminta istirahat. Perlahan, matanya menatap sekilas bunga yang tersisa di meja, bunga-bunga yang menjadi pengingat ibunya, pengingat kekuatan dan keceriaan yang dulu selalu ia pelajari.

Hari itu berakhir dalam kesunyian kamar, Hazel menahan rasa sakit, tapi sekaligus merasakan kehangatan kecil dari dirinya sendiri, ia masih mampu bertahan, masih mampu menghadapi hari yang berat. Meski kaki keseleo dan lelah mendera, Hazel tetap tersenyum tipis, mengingatkan diri bahwa besok adalah hari baru, dengan tantangan dan cerita yang belum tentu sama dengan hari ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 137 Pengakuan II

    Ruangan VVIP itu terasa begitu sunyi setelah pengakuan Lintang tadi. Cahaya matahari pagi masih masuk samar dari balik tirai putih. Suara monitor detak jantung terdengar pelan di dekat ranjang tempat Hazel tertidur. Sedangkan di sofa dekat jendela Miranti masih duduk membeku. Wajah perempuan paruh baya itu pucat. Tatapannya tidak lepas dari Lintang sedikit pun. Otaknya masih berusaha mencerna semua pengakuan laki-laki di depannya sekarang. Sedangkan Lintang duduk dengan kepala sedikit menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat. Air mata yang tadi jatuh masih menyisakan bekas merah di matanya. Namun laki-laki itu tetap melanjutkan semuanya. Dia sadar kalau pagi ini dirinya berhenti, mungkin dirinya tidak akan pernah punya keberanian lagi untuk bicara. “Kehidupan saya juga gak baik setelah kejadian malam itu…” Suaranya rendah dan serak. Miranti perlahan menahan napas. Sedangkan Lintang kembali bicara sambil menatap kosong ke arah lantai. “Saya juga kehilangan banyak hal.” Tatapann

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 136 Pengakuan

    Ruangan VVIP itu kembali dipenuhi suasana tenang setelah cerita panjang Miranti tadi. Di atas ranjang— Hazel masih tertidur lelap karena pengaruh obat. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Sedangkan di sofa dekat jendela, Lintang duduk diam sambil mendengarkan setiap cerita Miranti tanpa memotong sedikit pun. Tatapan laki-laki itu semakin lama semakin berat. Miranti sendiri sempat diam beberapa detik. Tangannya meremas pelan ujung jilbab yang dikenakannya. Lalu perempuan itu kembali bicara pelan. “Untungnya… orang tua Hazel dari awal memang udah nyiapin semuanya buat masa depan dia.” Lintang mengangkat wajah perlahan. Tatapannya masih fokus mendengarkan. Miranti tersenyum kecil pahit. “Hazel sebenarnya dulu gak tau apa-apa soal itu. Dia pikir setelah orang tuanya meninggal… ya hidupnya biasa aja.” Tatapan perempuan itu bergerak ke arah Hazel di ranjang. “Apalagi waktu Leyan sakit…” Nada suaranya mulai melemah lagi mengingat masa itu. “Ha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 135 Perintah

    Lorong VVIP rumah sakit itu terasa semakin sunyi malam ini. Lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang tubuh Lintang dan Damar yang berdiri saling berhadapan. Di kejauhan hanya terdengar langkah pelan perawat yang sesekali lewat. Sedangkan wajah Lintang terlihat jauh lebih dingin sekarang setelah mendengar semua laporan tentang Rehan Pratama. Tangannya masih memegang map hitam itu erat. Saatembaca isi laporan semakin terasa jelas betapa menjijikkannya laki-laki itu. Memukul istri, memeras uang, berjudi dan menyewa perempuan. Ironisnya orang seperti itu justru terus menghina Hazel seakan perempuan itu paling hina di hidupnya. Lintang akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah Damar. “Pantau terus.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun justru karena terlalu tenang, ucapan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Damar langsung mengangguk kecil. “Baik pak.” Lintang melanjutkan lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kalau perlu videokan semu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 134 Tentang Rehan

    Tangis Hazel belum benar-benar berhenti. Perempuan itu masih menunduk di atas ranjang rumah sakit sambil memegang erat selimut di pangkuannya. Bahu kecilnya sesekali bergetar pelan. Sedangkan suasana ruangan terasa begitu tenang malam itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat semuanya terasa lebih hening. Suara pendingin ruangan terdengar samar, dari luar jendela lampu kota Bandung masih menyala terang. Namun di dalam sana isi hati Hazel justru terasa jauh lebih berisik dibanding apa pun. Semua ucapan Lintang Aksara Narendra sejak tadi terus memukul kesadarannya perlahan. Tentang anak-anak, tentang dirinya sendiri dan tentang hidup yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Padahal yang ia pertahankan justru perlahan menghancurkan dirinya. Sedangkan Lintang masih duduk di sofa dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel diam-diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, justru sekarang jauh lebih lembut. Laki-laki itu tahu Hazel sebenarnya sudah terlalu lelah untuk terus melawan semuanya

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 133 Hidup dalam Ketakutan

    Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 132 Rumah Sakit Lagi

    Malam mulai turun saat mobil Lintang memasuki area parkir rumah sakit. Lampu-lampu gedung menyala terang di tengah langit Bandung yang mulai gelap. Udara malam terasa lebih dingin dibanding siang tadi. Sedangkan di dalam mobil suasana justru cukup ramai. Leyan sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu ibunya lagi. “Bunda pasti udah sembuh…” Sedangkan Liana sibuk merapikan bando kecil di rambutnya sendiri. “Aku tadi udah mandi loh… Biar bunda lihat aku cantik.” Dan di kursi belakang Lintang kecil duduk tenang sambil memeluk tas kecilnya. Meski anak itu masih lebih diam, wajahnya sudah tidak semurung siang tadi. Begitu mobil berhenti Lintang langsung turun lalu membukakan pintu untuk mereka. “Nah pelan-pelan.” Leyan langsung turun paling cepat. Sedangkan Liana otomatis menggenggam tangan Lintang sambil berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Sementara Lintang kecil berjalan di sisi lain laki-laki itu. Entah sejak kapan tiga anak kecil tersebut sudah seperti terbiasa berada di dek

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status