LOGINPagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang berbeda dari Lintang, ia tidak memakai masker seperti biasanya untuk menutupi sebagian wajahnya, tatapannya tetap tajam, mata hitam legam mengamati sekeliling.
Di sudut kantin, ia melihat Melisa duduk sendirian, membuka laptop dan beberapa buku di depannya. Lintang menelan napas sebentar, lalu melangkah pelan mendekat. “Hai, Melisa,” sapanya ringan, senyum tipis terlihat meski masker menutupi sebagian wajahnya. Melisa menoleh, sedikit tersipu, tapi mengangkat kepala. “Oh… hai, Kak Lintang. Pagi.” “Aku cuma ingin memastikan, kamu ingat janji sore ini kan? Nanti kita bertemu di taman setelah kelas terakhirmu”, kata Lintang, suaranya hangat tapi tenang. Ia sengaja menambah sedikit nada santai, agar obrolan terasa alami. Melisa tersenyum pelan. “Iya, ingat kok. Aku siap.” Lintang mengangguk. “Bagus. Kalau ada yang perlu disiapkan atau ditanyakan soal tempatnya, kabari aku ya.” Melisa tersenyum lagi, menutup laptopnya. “Siap, Kak.” Percakapan itu sederhana, namun di baliknya, Lintang diam-diam merasakan senyum kecil Melisa tanda awal bahwa perhatian dan rasa penasaran mulai muncul. Obrolan selesai, Lintang berpamitan, melangkah keluar kantin sambil menyesuaikan arah langkahnya menuju kelas berikutnya. • Sore itu, langit berwarna oranye keemasan. Hazel baru saja keluar dari gedung fakultas kedokteran, ia memutuskan untuk memakai rok hari itu. Ia berjalan santai menuju taman kampus, menikmati suasana sore, namun tanpa sengaja tersandung ujung roknya sendiri saat menuruni lima anak tangga kecil di dekat taman. Tubuhnya terduduk, kaki terkilir, dan rasa sakit membuatnya menahan diri. Tak jauh dari situ, Lintang yang berjalan ke arah taman. Ia melihat seorang wanita duduk di tangga, tampak kesakitan dan berusaha bangkit. Ia tidak mengenal wanita itu. “Hmm…”, gumam Lintang pada diri sendiri, menimbang cepat. Niat awalnya melewati wanita itu, tapi hati nuraninya memaksa. “Ya sudah, bantu saja.” Lintang mendekat, menunduk, dan dengan hati-hati menawarkan tangan untuk menopang wanita itu. “Eh eh pelan-pelan… jangan dipaksakan dulu. Aku bantu kamu berdiri”, katanya dengan nada lembut tapi yakin. Hazel menoleh sekilas, melihat sosok tinggi, tegas, tampan, mata hitamnya menatap dengan penuh perhatian. Ia mengangguk, mencoba berdiri sambil menahan sakit, tapi tidak tahu siapa orang ini. Ia sama sekali belum mengenal Lintang. Sementara itu, di dekat taman, Melisa sudah menunggu, melihat dari jauh. Ia tak bisa mengalihkan pandangan saat melihat Lintang membungkuk menolong wanita yang tersandung. Detik itu menimbulkan rasa kesal dan iri, meski belum sepenuhnya ia sadari. Lintang melepas pegangan tangan Hazel setelah memastikan ia bisa berdiri dengan stabil di bangku dekat tangga, tapi sesaat kemudian Hazel terlihat kesulitan mengatur langkahnya. Badannya sedikit terhuyung, kakinya masih terasa sakit akibat keseleo. Tanpa pikir panjang, Lintang segera meraih bahu Hazel, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Hawa sore terasa hangat, namun dalam detik itu rasanya waktu seakan melambat. Mata Hazel dan Lintang bertemu. Lintang menatap cukup lama, matanya hitam tajam namun lembut, tertuju pada wajahnya, bibir mungil pink alami, wajah yang simetris, rambut kecoklatan, hidung mancung, bulu mata yang lentik, alis yang rapi, serta yang palong menyita perhatian Lintang yaitu matanya, warnanya sangat unik, memantulkan cahaya matahari sore. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menandai wajah ini dalam ingatannya, namun ia segera sadar dan memutus tatapannya, berpaling sejenak, menahan perasaan aneh yang muncul. Hazel, di sisi lain, merasakan dadanya berdetak lebih cepat. Mata mereka sempat bertemu, dan perasaan aneh, antara penasaran dan gugup mengguncang dirinya. Ia menggigit bibir bawahnya, menenangkan diri sambil tetap menopang tubuhnya. Lintang mencondongkan tubuh sedikit, menatap Hazel dengan perhatian. “Kamu… mau kemana?” tanyanya, suaranya tetap tenang di balik masker. Hazel menelan napas, sedikit terkejut. “Eh… aku… aku mau pulang… ke kost ku”, jawabnya hati-hati. “Kostmu…? Boleh tahu di mana?” Lintang bertanya lagi, matanya tetap waspada melihat langkah Hazel yang pincang. “Tidak begitu jauh dari sini… biasanya aku jalan kaki”, jawab Hazel, tersenyum tipis. Lintang menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada yakin, “Kamu tidak mungkin jalan kaki sampai sana dengan kaki seperti ini.” Ia mencondongkan tubuh untuk menopang Hazel kembali, tangannya sigap menahan tubuh wanita itu agar tidak terhuyung lagi. Setelah memastikan Hazel agak stabil, Lintang bertanya lagi, suara lembut tapi ingin tahu lebih banyak, “Boleh aku tahu namamu?” Hazel menatap sejenak, ragu-ragu, lalu tersenyum tipis. “Hazel… Hazel Chiara Parameswari”, jawabnya lirih, masih menahan sakit. Lintang mengangguk, tersenyum tipis di balik masker. “Hazel… oke. Aku akan membantumu sampai kamu dapat taksi.” Ia kemudian memapah Hazel perlahan ke tepi jalan, menyiapkan langkah untuk memanggil taksi. Sore itu, kedekatan singkat mereka terasa begitu nyata, meski sama-sama belum saling mengenal lebih jauh. Dengan cepat, Lintang memanggil taksi, menunggu hingga kendaraan itu berhenti di depan mereka. Ia membantu Hazel masuk ke dalam mobil, memastikan ia duduk dengan aman, tas dan buku-bukunya diletakkan di samping. Setelah Hazel aman duduk di dalam taksi, Lintang berbalik ternyata disana sudah ada Melisa yang dari tadi menonton dari kejauhan. Dengan langkah cepat, ia bergegas mendekati Melisa, niatnya ingin menyapanya, mungkin sedikit bercanda atau memberi penjelasan soal janji bertemu sore ini. Namun, Melisa sudah lebih dulu sadar akan kehadirannya. Dengan gerak tubuh yang tegas, dia menunduk sebentar, menahan napas, lalu tanpa menoleh lagi, dia berbalik dan lari meninggalkan Lintang, langsung menaiki taksi yang baru datang dari arah lain. Lintang berdiri terpaku sejenak, menatap taksi yang mulai menjauh. Sangat jelas terlihat ekspresi wajahnya, matanya yang tajam menampakkan ketegangan dan kekesalan. Bibirnya menekuk tipis, rahangnya mengeras. “Astaga…”, gumamnya pelan, suaranya penuh frustrasi. Tangannya mengepal, menahan dorongan emosi yang mendidih di dalam dada. Setelah Melisa pergi meninggalkannya, Lintang mencoba menghubungi sekali, dua kali, berkali-kali. Telepon berdering, chat dikirim, tapi tak ada satu pun yang dibalas. Setiap nada dering yang berakhir tanpa jawaban seperti menambah bara di dalam dada Lintang. “Kenapa… kenapa harus begini?”, gumamnya pelan, suara itu penuh frustrasi. Ia menatap layar ponselnya, melihat nomor yang sebelumnya aktif, kini seakan memutus hubungan begitu saja. Bahkan terakhir kali ia menelepon, mengirim chat, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Lintang menepuk wajahnya dengan satu tangan, mencoba menenangkan diri, tapi emosi justru semakin memuncak. Ia mulai mengingat kembali sore tadi, kejadian saat dia membantu seorang wanita yang keseleo di tangga kampus. Ia menahan napas, matanya menatap kosong ke arah luar jendela, tapi benak dan emosinya terus memutar-mutar adegan itu. “Kenapa aku harus menolong dia? Kenapa aku tidak bisa diam saja…?”, pikirnya, suara hatinya hampir pecah. Dan tiba-tiba, rasa kesal itu menemukan sasaran, Hazel. Sosok wanita yang tak ia kenal, yang tadi berada di tangga itu, yang membuatnya tidak bisa fokus, yang tanpa sadar mengacaukan rencananya dengan Melisa. Benih kebencian itu mulai muncul secara halus, tapi nyata. Ia menyalahkan Hazel dalam hati, menganggap bahwa wanita itu menjadi penyebab kegagalannya hari ini. Dalam pikirannya, semua frustrasi, semua rasa marah, semua perasaan yang tak terkendali diletakkan pada Hazel, padahal ia sendiri yang tak bisa menahan diri untuk menolong. Lintang mengepalkan tangannya, menatap kosong ke luar jendela, matanya yang tajam menampakkan campuran emosi, frustasi, marah, dan rasa dendam yang mulai berubah menjadi tekad dingin. Tanpa sadar, ia mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu untuk memastikan bahwa kesalahan yang ia rasakan hari ini tidak akan terulang lagi. Lintang duduk diam, membiarkan benih kebencian itu tumbuh perlahan, benih yang suatu hari akan menentukan langkah-langkahnya selanjutnya, termasuk terhadap Hazel, sosok yang tak sengaja masuk ke hidupnya, dan tanpa sadar, mulai menjadi sasaran emosinya. • Hazel akhirnya sampai di depan pintu kostannya. Nafasnya masih berat, kaki yang keseleo membuat setiap langkah terasa menyiksa. Dengan sigap, ia memasukkan kunci dan membuka pintu, menutupnya perlahan agar suara langkahnya tidak terlalu terdengar oleh penghuni lain. Begitu masuk, ia menurunkan tasnya ke lantai, dan dengan hati-hati menyingkirkan sepatunya. Kaki yang keseleo membuatnya harus duduk sejenak di tepi ranjang, menatap lantai dengan rasa lelah yang dalam. Ia menatap sekeliling kamar kostnya yang sederhana, meja belajar penuh buku, beberapa foto kecil orang tuanya yang ia pajang di rak, serta bunga yang masih tersisa dari warisan ibunya. Segera, Hazel merebahkan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar, membiarkan diri sejenak melupakan hari yang panjang dan melelahkan. Rasa sakit di kaki masih terasa, namun Hazel menahan diri. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, sambil mengingat sejenak kejadian di kampus tadi. Ada rasa lega karena bisa membantu orang lain, tapi tubuhnya meminta istirahat. Perlahan, matanya menatap sekilas bunga yang tersisa di meja, bunga-bunga yang menjadi pengingat ibunya, pengingat kekuatan dan keceriaan yang dulu selalu ia pelajari. Hari itu berakhir dalam kesunyian kamar, Hazel menahan rasa sakit, tapi sekaligus merasakan kehangatan kecil dari dirinya sendiri, ia masih mampu bertahan, masih mampu menghadapi hari yang berat. Meski kaki keseleo dan lelah mendera, Hazel tetap tersenyum tipis, mengingatkan diri bahwa besok adalah hari baru, dengan tantangan dan cerita yang belum tentu sama dengan hari ini.Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena
Sementara Lintang masih berada di lorong rumah sakit, suasana di dalam ruang rawat justru berubah jauh lebih tenang. Levian duduk santai di sofa panjang sambil memperhatikan tiga anak kecil yang sekarang mulai sibuk sendiri. Leyan sedang makan camilan yang tadi dibelikan Levian. Sedangkan Liana sibuk memainkan gantungan boneka kecil di tas sekolahnya. Sementara Lintang kecil duduk lebih diam dibanding dua adiknya. Dan makin lama melihat mereka, pikiran Levian makin dipenuhi rasa aneh. Tiga anak ini terlalu nyaman dengan adiknya. Nyaman sampai terasa seperti keluarga sungguhan. Akhirnya laki-laki itu memutuskan bertanya langsung. “Kenapa kalian panggil Lintang ayah? Apa dia ayah kalian?” Pertanyaan itu membuat dua anak kecil langsung menoleh bersamaan. Sedangkan Lintang kecil menjawab lebih dulu pelan. “Bukan.” Jawabannya singkat. Namun sebelum Levian sempat lanjut Liana langsung menyahut polos. “Soalnya ayah Lintang baik. Gak kayak ayah tiri kami.” Detik itu senyum santai di wa
Setelah pemeriksaan luka luar selesai dilakukan ruangan visum itu kembali hening beberapa saat. Hazel masih duduk di atas bed pemeriksaan sambil memegangi ujung cardigan rumah sakit yang tadi dipakaikan perawat untuk menutupi tubuhnya kembali. Matanya sedikit kosong, proses tadi terasa jauh lebih berat secara mental dibanding rasa sakit fisiknya. Melihat memar-memar di tubuhnya difoto, diukur, dicatat satu per satu. Itu seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini dirinya coba abaikan. Sedangkan dokter perempuan di depannya masih menulis beberapa catatan tambahan di berkas visum. Perawat lain mulai membantu membereskan alat dokumentasi medis. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya kembali mendekat ke arah Hazel dengan nada yang tetap lembut dan profesional. “Bu Hazel, pemeriksaan luka luar sudah selesai.” Hazel mengangguk kecil pelan. Namun dokter melanjutkan lagi sambil membuka lembar pemeriksaan berikutnya. “Nanti saya juga akan mencatat keluhan nyeri ibu secara detail.”
Suasana yang tadi sempat hangat kembali berubah pelan setelah pertanyaan Lintang terdengar. “Kamu udah siap mau visum?” Kalimat itu terasa menggantung cukup lama di udara. Di atas ranjang, Hazel terlihat menundukkan wajahnya perlahan. Jemarinya kembali saling menggenggam di atas selimut. Ragu itu masih ada, takut itu juga belum hilang. Dia tahu setelah visum dilakukan, langkah berikutnya mungkin akan semakin jauh. Sedangkan Miranti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan. Perempuan itu mendekat sedikit lalu duduk di sisi ranjang Hazel. Tangannya mengusap lengan Hazel lembut. “Ibu tau kamu takut…” Nada suaranya hangat. “Namun apa kamu mau hidupmu jadi seperti ini terus?” Hazel langsung diam. Tatapannya turun makin dalam. Karena ucapan itu tepat sekali mengenai hatinya dan di saat suasana mulai terasa berat, suara kecil polos tiba-tiba terdengar. “Visum itu apa?" Semua mata langsung beralih ke Liana Naya Parameswari. Anak perempuan itu berdiri sambil memiringkan kepalanya
Ruangan itu kembali ramai oleh suara anak-anak setelah obrolan absurd tentang direktur utama tadi. Hazel yang sejak tadi lebih banyak mendengar akhirnya tersenyum kecil sambil membuka kedua tangannya ke arah anak-anak. “Gimana sekolahnya tadi?” Tatapannya bergantian ke tiga anak itu. “Gak nakal kan?” Leyan langsung menjawab paling cepat sambil menggeleng heboh. “Nggak dong bunda.” Nada suaranya penuh keyakinan. Seperti sudah hafal pola saudara kembarnya, Liana langsung memutar mata kecilnya. “Ih… Kamu bikin nangis Sella tadi.” Seketika kepala Miranti langsung menoleh cepat ke arah Leyan. “Kamu bikin nangis Sella lagi?” Nada suaranya sudah seperti nenek yang capek menghadapi cucu usil. Sedangkan Leyan langsung refleks membela diri. “Dia duluan kok! Masa buku tulisku dicoret-coret sama dia. Ya aku bales lah.” Di sisi lain Lintang kecil yang sejak tadi tenang akhirnya ikut bicara pelan. “Dia balasnya di soal dari bu guru yang udah dijawab.” Detik itu Hazel langsung memejamkan ma
Setelah percakapan panjang itu, suasana ruangan sempat kembali hening cukup lama. Hazel masih diam sambil memikirkan semua cerita Levian Ankara Narendra tadi. Meski dirinya pernah mendengar sedikit cerita tentang kecelakaan Lintang langsung dari laki-laki itu sendiri. Hazel tidak pernah tahu situasinya ternyata separah itu. Yang dia tahu hanya garis besar kecelakaan, cedera berat dan pemulihan panjang. Namun detail tentang bagaimana Lintang hampir kehilangan nyawanya, bagaimana keluarganya hancur melihat kondisinya dan bagaimana laki-laki itu menghadapi vonis sulit memiliki keturunan, semuanya baru benar-benar terasa nyata sekarang. Sedangkan Miranti sejak tadi hanya diam. Perempuan itu sesekali melirik Hazel pelan. Semakin lama hubungan hidup Hazel dan Lintang terasa semakin rumit dan tepat saat suasana mulai terlalu tenggelam dalam pikiran masing-masing pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah kecil langsung terdengar masuk lebih dulu. “Bundaaaaa…” Detik berikutnya tiga an
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Lintang masih memandang ke arah jalan tempat gadis itu menghilang beberapa detik lebih lama. Langkahnya ringan, cepat, seolah-olah kejadian tadi hanyalah hal kecil baginya. “Dia anak yang hebat”, kata wanita itu tiba-tiba. Lintang kembali menoleh pada ibunya. “Mom tidak tanya namanya?” Wanita
Kabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan kebun teh yang luas ketika Hazel Chiara Parameswari berdiri di tepi jalan setapak yang membelah perkebunan milik keluarganya. Udara Bandung selalu terasa berbeda baginya, lebih dingin, lebih tenang, dan entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya







