Accueil / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 6 PDKT Semakin Intens

Partager

BAB 6 PDKT Semakin Intens

Auteur: Adw_Canss781
last update Date de publication: 2026-03-21 00:43:53

Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul dari deretan rak buku, langkahnya tenang tapi matanya sudah menangkap Melisa dari jauh. Ia melihatnya menunduk serius, sesekali mengangkat alis saat menemukan informasi yang sulit. Hati Lintang berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena gugup, tapi karena ia tahu inilah momen yang tepat untuk mendekat.

Dengan senyum tipis di balik masker, ia melangkah perlahan ke arah meja Melisa. “Hei… kamu lagi kesulitan nyari referensi, ya?”, suaranya terdengar ringan, hampir seperti basa-basi biasa.

Melisa menoleh sekejap, sedikit terkejut. “Ah… iya, agak susah nemu referensi yang cocok”, jawabnya santai, mencoba tetap fokus pada laptop.

Lintang mencondongkan tubuh sedikit ke arah buku yang dibuka Melisa. “Kalau mau, aku bisa bantu sedikit. Aku lumayan sering nemuin referensi buat tugas-tugas semacam ini”, katanya, nada suaranya hangat tapi santai.

Melisa menatapnya sebentar, ragu-ragu. “Hmm… boleh juga sih, tapi…” ia tersenyum tipis, “aku biasanya lebih suka nyari sendiri dulu.”

“Ya nggak apa-apa”, balas Lintang santai. “Tapi kalau kamu mau, aku bisa kasih saran, atau kalau ada pertanyaan, tinggal tanya aja. Bisa lebih gampang kalau kita punya kontak.”

Melisa terdiam sebentar, sedikit terkejut dengan keberaniannya. “Kontak… maksudmu?”

Lintang membuka ponselnya, gesturnya alami, tanpa memaksa. “Nomor HP kamu. Jadi kalau nanti ada hal-hal tentang materi atau tugas yang susah, kamu bisa langsung tanya. Gampang kan?”

Melisa mengernyit sebentar, berpikir, tapi kemudian mengangguk pelan. “Ya… oke, boleh”, katanya sambil menuliskan nomor di selembar kertas.

Lintang menatap kertas itu sebentar, tersenyum tipis, lalu menyelipkannya ke saku kemejanya. Di balik masker, matanya menyiratkan kepuasan. Langkah pertama berhasil, Melisa memberinya kesempatan untuk lebih dekat, dan ini adalah pintu masuk yang ia perlukan untuk PDKT selanjutnya.

“Terima kasih, Kak Lintang”, ucap Melisa sambil tersenyum singkat. Ia tidak terlalu sadar, tapi perhatiannya sedikit terdistraksi dari laptopnya dan Lintang tahu persis efeknya.

Sambil berjalan meninggalkan meja Melisa, Lintang berbicara pelan pada dirinya sendiri, hampir seperti berdialog dengan bayangan di apartemennya, 'Bagus… langkah pertama selesai. Sekarang tinggal buat dia merasa nyaman… biar dia mulai terbiasa. Santai, pelan, tapi tetap konsisten. Besok… aku bisa tingkatkan sedikit lagi.' Ia melangkah keluar dari perpustakaan, tetap menjaga jarak tapi matanya sesekali kembali melirik Melisa. PDKT ini bukan sekadar basa-basi, ini adalah awal strategi yang sudah ia rancang dengan cermat. Dan Lintang, seperti biasa, siap menghadapi setiap momen dengan penuh perhitungan.

•

Sore itu, Lintang kembali ke apartemennya setelah meninggalkan perpustakaan. Tangannya langsung meraih ponsel, membuka chat baru dengan Melisa. Senyum tipis menghiasi wajahnya di balik masker yang sudah ia simpan di meja.

“Hai, ini aku…”, tulisnya singkat, diikuti emoticon senyum tipis yang terlihat natural.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Melisa membalas, cukup singkat tapi sopan. “Halo, Kak Lintang. Apa kabar?”

Lintang menahan senyum di bibirnya. Ia membaca balasan itu dengan teliti, lalu membalas lagi, “Aku baik. Kamu gimana? Tadi di perpustakaan kelihatan serius banget nyari referensi. Udah ketemu yang cocok?”

Percakapan itu terlihat seperti sekadar obrolan tugas, tapi Lintang menambahkan sedikit pertanyaan ringan, seakan ingin tahu lebih banyak tentang Melisa.

“Alhamdulillah, udah dapat beberapa. Tapi masih harus nyari lagi sih”, balas Melisa.

Lintang mengetik lagi, nada santainya tetap terjaga. “Kamu suka banget ya baca referensi sampai begini. Atau cuma tugas kali ini aja yang bikin sibuk?”

Melisa tersenyum tipis lewat chat. “Lumayan sih, biasanya nggak seribet ini. Tapi tugas kali ini banyak yang harus dicari dari jurnal-jurnal online.”

Lintang diam sejenak, menimbang kata-kata berikutnya. Lalu ia menambahkan, santai tapi penuh maksud, “Oh, aku ngerti. Kalau nanti ada yang susah, atau perlu bantuan cari referensi, tinggal bilang aja ya. Aku bisa bantu. Lagian aku lumayan sering liat jurnal-jurnal itu juga.”

Melisa membalas dengan cepat, sedikit tersipu, “Wah, boleh juga sih. Makasih, Kak Lintang.”

Setelah beberapa menit berbincang soal tugas, Lintang mulai menyelipkan pertanyaan ringan tentang Melisa, seakan ingin tahu kebiasaan dan hal-hal kecilnya, “Ngomong-ngomong, pas libur biasanya suka ngapain, Mel? Ada hobi atau tempat favorit di Jakarta?”

Balasan Melisa agak lama, tapi akhirnya muncul, “Hmm… biasanya sih suka ke kafe kecil, atau sekadar jalan-jalan ke taman. Aku suka yang sepi dan tenang.”

Lintang menulis balasan, matanya menyipit sedikit, membaca informasi itu sebagai “data penting”, “Noted. Keren juga, jadi tau kalau kamu suka tempat yang tenang. Aku juga suka yang sepi… enak buat mikir.”

Percakapan itu terus mengalir, halus tapi mengandung banyak informasi. Lintang menanyakan hal-hal kecil lain, makanan favorit, genre film, buku yang disukai. Semua pertanyaan tampak natural, tapi di baliknya, Lintang sedang membangun gambaran utuh tentang Melisa. Ia ingin tahu apa yang membuat Melisa nyaman, apa yang bisa ia gunakan saat PDKT nanti meningkat.

Sambil mengetik balasan terakhirnya malam itu, Lintang menatap langit Jakarta dari jendela apartemennya. Ia tersenyum tipis, hampir seperti puas pada strategi yang berjalan mulus, “Bagus… semua berjalan sesuai rencana. Besok… langkah selanjutnya akan lebih halus. Semuanya perlahan, tapi pasti.”

Chat dengan Melisa ditutup, tapi Lintang tahu ini baru awal. Informasi kecil yang ia kumpulkan malam itu akan menjadi kunci untuk momen-momen PDKT berikutnya, momen yang akan membuat Melisa semakin merasa nyaman dan tergantung perlahan pada perhatiannya.

•

Pagi itu, kampus Jakarta dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang tergesa-gesa. Lintang melangkah masuk gerbang dengan tenang, mengenakan masker seperti biasa, kemeja putih yang rapi, dan sepatu hitam mengkilap. Langkahnya ringan tapi pasti, matanya selalu memindai area bukan karena cemas, tapi karena ia ingin memanfaatkan setiap momen untuk melihat Melisa.

Di sisi lain, Hazel sedang berada di salah satu gedung fakultas kedokteran, sibuk dengan buku catatan dan laptopnya. Hari itu, ia memilih pakaian sederhana: kemeja biru muda, celana panjang hitam, dan sepatu snickers. Rambutnya digerai biasa, kacamata menempel di hidung, menambah kesan cerdas dan rapi. Ia berjalan sambil membawa beberapa buku ke kelas, sesekali menoleh ke jam di tangannya untuk memastikan tidak terlambat.

Lintang, meski melihat Hazel dari jauh, tak terganggu. Fokusnya tetap ke Melisa yang sedang asyik di perpustakaan. Ia berjalan pelan menuju meja Melisa, di mana ia mulai membuka obrolan ringan.

“Hai, lagi sibuk ya?”, tanyanya santai, senyum tipis tetap menempel di wajahnya meski dibalik masker.

Melisa menoleh sebentar, sedikit tersipu, tapi tersenyum. “Iya, tugas banyak banget hari ini,” jawabnya singkat.

Seperti biasa, Lintang menawarkan diri untuk membantu. “Kalau ada yang susah, tinggal bilang aja. Aku bisa bantu cari referensi atau brainstorming bareng.”

Melisa mengangguk ringan, tersenyum. Ada rasa nyaman yang mulai ia rasakan seperti ada seseorang yang peduli tanpa terlalu menekan. Meski hatinya tetap tertaut pada pacarnya di luar kampus, perhatian Lintang terasa berbeda. Hangat, tapi juga membuat penasaran.

Selama beberapa jam berikutnya, Lintang muncul di beberapa titik strategis, saat Melisa keluar dari ruang perpustakaan, ia tiba-tiba lewat dan menepuk bahunya, pura-pura kebetulan. Di kantin, ia menyapa dengan pertanyaan ringan tentang tugas atau kelas, menyelipkan komentar yang membuat Melisa tersenyum. Saat Melisa tampak kelelahan, ia menawari sebotol air minum, bahkan menanyakan makanan ringan favoritnya.

Dalam hati, Lintang tersenyum puas. Semua langkah ini terasa alami, tapi tersusun rapi. Ia mulai memikirkan langkah berikutnya, lokasi yang sempurna untuk konfess. Sebuah sudut taman kampus yang tenang, saat sore menjelang, tempat yang cukup privat tapi tetap romantis. Ia menandai tempat itu di pikirannya, sambil membayangkan momen saat Melisa duduk di bangku taman itu, menatapnya, sedikit penasaran tapi nyaman dengan kehadirannya. Di sisi Melisa, setiap interaksi ringan ini mulai menimbulkan rasa yang sulit dijelaskan. Ia sadar Lintang perhatian padanya, tapi ia juga mencoba menahan diri. “Pacarku tetap prioritas”, gumamnya dalam hati. Namun, di sisi lain, ia mulai menikmati setiap detik PDKT ini, merasakan getaran halus dari perhatiannya, tersenyum pada pesan singkat yang datang di sela-sela kuliah.

Hari itu berakhir dengan Lintang kembali ke apartemennya, duduk di dekat jendela, menatap Jakarta dari lantai tinggi. Maskernya sudah dilepas, dan ia mulai bicara sendiri, membayangkan rencana selanjutnya, “Besok… aku bisa hadir sedikit lebih lama di perpustakaan. Aku harus tahu apa yang dia suka, apa yang bikin dia nyaman. Semua harus bertahap. Lokasi konfess sudah siap. Tinggal menunggu momen yang pas.

Lintang menutup matanya sebentar, menyusun strategi di kepala. Semua berjalan sesuai rencana, intensitas PDKT meningkat, Melisa mulai merasakan ketertarikan, dan ia sudah siap untuk langkah berikutnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 140 Tekanan

    Suasana ruang rawat itu benar-benar berubah jauh lebih hidup sejak kedatangan. Kalau sebelumnya ruangan dipenuhi ketegangan dan percakapan berat, sekarang justru sesekali terdengar tawa kecil. Bahkan Hazel yang tadi masih terlihat pucat dan murung, perlahan mulai lebih rileks. Sedangkan Lintang terlihat semakin pasrah menghadapi tingkah kakaknya. Semakin lama Levian justru semakin nyaman duduk di ruangan itu. Laki-laki tersebut bahkan sudah makan tempe goreng entah berapa potong sambil sesekali mengomentari rasa masakan Miranti. “Ini enak banget tante serius.” Miranti sampai tertawa kecil. “Kalau suka nanti saya bawain lagi.” Levian langsung menunjuk dirinya sendiri penuh semangat. “Nah ini baru tante idaman.” Lintang langsung melirik tajam. “Lo niat pindah keluarga ya?” Levian malah santai menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau makanannya enak kenapa enggak.” Lintang benar-benar menghela napas pasrah sekarang. Sedangkan beberapa detik kemudian, Levian tiba-tiba mendekat sedik

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 139 Tamu Tak di Undang

    Suasana ruangan yang tadi tenang perlahan berubah lebih hangat setelah Hazel bangun. Miranti langsung duduk lebih dekat di sisi ranjang sambil mengusap pelan kepala Hazel yang masih sedikit berantakan karena tidur. “Ibu bawain sarapan…” Suaranya lembut sekali. Hazel yang masih setengah sadar mengangguk kecil pelan. Tatapannya sesekali bergerak ke arah Lintang yang masih duduk di sofa sambil memegang piring makan. Melihat laki-laki itu masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin Hazel langsung sadar. Lintang benar-benar belum pulang. Belum istirahat dengan layak, bahkan mungkin belum mandi sejak kemarin sore. Hal itu membuat dada Hazel terasa sedikit tidak enak. Sedangkan Lintang sendiri pura-pura biasa saja sambil melanjutkan makan. “Pusingnya masih?” Hazel menggeleng pelan. “Udah agak mendingan…” Baru saja suasana mulai terasa tenang, tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tok. Tok. Lintang otomatis mengangkat wajah. “Masuk.” Pintu ruangan terbuka, dan detik berikutnya masukl

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 138 Pengakuam III

    Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Miranti tadi selesai. Pagi semakin naik, cahaya matahari perlahan memenuhi sudut ruangan. Namun suasana di dalam sana justru terasa semakin berat. Di atas ranjang, Hazel masih tertidur tenang. Perempuan itu sama sekali tidak tahu bahwa masa lalunya sedang dibicarakan begitu dalam beberapa meter dari tempatnya berbaring. Sedangkan di sofa dekat jendela Lintang masih duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai. Setelah semua pengakuan tadi, rasanya dadanya justru semakin sesak. Sekarang tidak ada lagi yang ditutupi dari Miranti. Laki-laki itu akhirnya menarik napas panjang pelan sebelum kembali bicara. “Saya sekarang cuma nunggu kesiapan Hazel.” Tatapannya perlahan bergerak ke arah ranjang. “Kalau dia udah siap semuanya tinggal jalan aja dari sini.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun dari cara laki-laki itu bicara jelas terlihat dirinya sudah mempersiapkan semuanya. Bukti, pengacara, visum dan pengawa

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 137 Pengakuan II

    Ruangan VVIP itu terasa begitu sunyi setelah pengakuan Lintang tadi. Cahaya matahari pagi masih masuk samar dari balik tirai putih. Suara monitor detak jantung terdengar pelan di dekat ranjang tempat Hazel tertidur. Sedangkan di sofa dekat jendela Miranti masih duduk membeku. Wajah perempuan paruh baya itu pucat. Tatapannya tidak lepas dari Lintang sedikit pun. Otaknya masih berusaha mencerna semua pengakuan laki-laki di depannya sekarang. Sedangkan Lintang duduk dengan kepala sedikit menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat. Air mata yang tadi jatuh masih menyisakan bekas merah di matanya. Namun laki-laki itu tetap melanjutkan semuanya. Dia sadar kalau pagi ini dirinya berhenti, mungkin dirinya tidak akan pernah punya keberanian lagi untuk bicara. “Kehidupan saya juga gak baik setelah kejadian malam itu…” Suaranya rendah dan serak. Miranti perlahan menahan napas. Sedangkan Lintang kembali bicara sambil menatap kosong ke arah lantai. “Saya juga kehilangan banyak hal.” Tatapann

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 136 Pengakuan

    Ruangan VVIP itu kembali dipenuhi suasana tenang setelah cerita panjang Miranti tadi. Di atas ranjang— Hazel masih tertidur lelap karena pengaruh obat. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Sedangkan di sofa dekat jendela, Lintang duduk diam sambil mendengarkan setiap cerita Miranti tanpa memotong sedikit pun. Tatapan laki-laki itu semakin lama semakin berat. Miranti sendiri sempat diam beberapa detik. Tangannya meremas pelan ujung jilbab yang dikenakannya. Lalu perempuan itu kembali bicara pelan. “Untungnya… orang tua Hazel dari awal memang udah nyiapin semuanya buat masa depan dia.” Lintang mengangkat wajah perlahan. Tatapannya masih fokus mendengarkan. Miranti tersenyum kecil pahit. “Hazel sebenarnya dulu gak tau apa-apa soal itu. Dia pikir setelah orang tuanya meninggal… ya hidupnya biasa aja.” Tatapan perempuan itu bergerak ke arah Hazel di ranjang. “Apalagi waktu Leyan sakit…” Nada suaranya mulai melemah lagi mengingat masa itu. “Ha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 135 Perintah

    Lorong VVIP rumah sakit itu terasa semakin sunyi malam ini. Lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang tubuh Lintang dan Damar yang berdiri saling berhadapan. Di kejauhan hanya terdengar langkah pelan perawat yang sesekali lewat. Sedangkan wajah Lintang terlihat jauh lebih dingin sekarang setelah mendengar semua laporan tentang Rehan Pratama. Tangannya masih memegang map hitam itu erat. Saatembaca isi laporan semakin terasa jelas betapa menjijikkannya laki-laki itu. Memukul istri, memeras uang, berjudi dan menyewa perempuan. Ironisnya orang seperti itu justru terus menghina Hazel seakan perempuan itu paling hina di hidupnya. Lintang akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah Damar. “Pantau terus.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun justru karena terlalu tenang, ucapan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Damar langsung mengangguk kecil. “Baik pak.” Lintang melanjutkan lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kalau perlu videokan semu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status