LOGINSore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul dari deretan rak buku, langkahnya tenang tapi matanya sudah menangkap Melisa dari jauh. Ia melihatnya menunduk serius, sesekali mengangkat alis saat menemukan informasi yang sulit. Hati Lintang berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena gugup, tapi karena ia tahu inilah momen yang tepat untuk mendekat.
Dengan senyum tipis di balik masker, ia melangkah perlahan ke arah meja Melisa. “Hei… kamu lagi kesulitan nyari referensi, ya?”, suaranya terdengar ringan, hampir seperti basa-basi biasa. Melisa menoleh sekejap, sedikit terkejut. “Ah… iya, agak susah nemu referensi yang cocok”, jawabnya santai, mencoba tetap fokus pada laptop. Lintang mencondongkan tubuh sedikit ke arah buku yang dibuka Melisa. “Kalau mau, aku bisa bantu sedikit. Aku lumayan sering nemuin referensi buat tugas-tugas semacam ini”, katanya, nada suaranya hangat tapi santai. Melisa menatapnya sebentar, ragu-ragu. “Hmm… boleh juga sih, tapi…” ia tersenyum tipis, “aku biasanya lebih suka nyari sendiri dulu.” “Ya nggak apa-apa”, balas Lintang santai. “Tapi kalau kamu mau, aku bisa kasih saran, atau kalau ada pertanyaan, tinggal tanya aja. Bisa lebih gampang kalau kita punya kontak.” Melisa terdiam sebentar, sedikit terkejut dengan keberaniannya. “Kontak… maksudmu?” Lintang membuka ponselnya, gesturnya alami, tanpa memaksa. “Nomor HP kamu. Jadi kalau nanti ada hal-hal tentang materi atau tugas yang susah, kamu bisa langsung tanya. Gampang kan?” Melisa mengernyit sebentar, berpikir, tapi kemudian mengangguk pelan. “Ya… oke, boleh”, katanya sambil menuliskan nomor di selembar kertas. Lintang menatap kertas itu sebentar, tersenyum tipis, lalu menyelipkannya ke saku kemejanya. Di balik masker, matanya menyiratkan kepuasan. Langkah pertama berhasil, Melisa memberinya kesempatan untuk lebih dekat, dan ini adalah pintu masuk yang ia perlukan untuk PDKT selanjutnya. “Terima kasih, Kak Lintang”, ucap Melisa sambil tersenyum singkat. Ia tidak terlalu sadar, tapi perhatiannya sedikit terdistraksi dari laptopnya dan Lintang tahu persis efeknya. Sambil berjalan meninggalkan meja Melisa, Lintang berbicara pelan pada dirinya sendiri, hampir seperti berdialog dengan bayangan di apartemennya, 'Bagus… langkah pertama selesai. Sekarang tinggal buat dia merasa nyaman… biar dia mulai terbiasa. Santai, pelan, tapi tetap konsisten. Besok… aku bisa tingkatkan sedikit lagi.' Ia melangkah keluar dari perpustakaan, tetap menjaga jarak tapi matanya sesekali kembali melirik Melisa. PDKT ini bukan sekadar basa-basi, ini adalah awal strategi yang sudah ia rancang dengan cermat. Dan Lintang, seperti biasa, siap menghadapi setiap momen dengan penuh perhitungan. • Sore itu, Lintang kembali ke apartemennya setelah meninggalkan perpustakaan. Tangannya langsung meraih ponsel, membuka chat baru dengan Melisa. Senyum tipis menghiasi wajahnya di balik masker yang sudah ia simpan di meja. “Hai, ini aku…”, tulisnya singkat, diikuti emoticon senyum tipis yang terlihat natural. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Melisa membalas, cukup singkat tapi sopan. “Halo, Kak Lintang. Apa kabar?” Lintang menahan senyum di bibirnya. Ia membaca balasan itu dengan teliti, lalu membalas lagi, “Aku baik. Kamu gimana? Tadi di perpustakaan kelihatan serius banget nyari referensi. Udah ketemu yang cocok?” Percakapan itu terlihat seperti sekadar obrolan tugas, tapi Lintang menambahkan sedikit pertanyaan ringan, seakan ingin tahu lebih banyak tentang Melisa. “Alhamdulillah, udah dapat beberapa. Tapi masih harus nyari lagi sih”, balas Melisa. Lintang mengetik lagi, nada santainya tetap terjaga. “Kamu suka banget ya baca referensi sampai begini. Atau cuma tugas kali ini aja yang bikin sibuk?” Melisa tersenyum tipis lewat chat. “Lumayan sih, biasanya nggak seribet ini. Tapi tugas kali ini banyak yang harus dicari dari jurnal-jurnal online.” Lintang diam sejenak, menimbang kata-kata berikutnya. Lalu ia menambahkan, santai tapi penuh maksud, “Oh, aku ngerti. Kalau nanti ada yang susah, atau perlu bantuan cari referensi, tinggal bilang aja ya. Aku bisa bantu. Lagian aku lumayan sering liat jurnal-jurnal itu juga.” Melisa membalas dengan cepat, sedikit tersipu, “Wah, boleh juga sih. Makasih, Kak Lintang.” Setelah beberapa menit berbincang soal tugas, Lintang mulai menyelipkan pertanyaan ringan tentang Melisa, seakan ingin tahu kebiasaan dan hal-hal kecilnya, “Ngomong-ngomong, pas libur biasanya suka ngapain, Mel? Ada hobi atau tempat favorit di Jakarta?” Balasan Melisa agak lama, tapi akhirnya muncul, “Hmm… biasanya sih suka ke kafe kecil, atau sekadar jalan-jalan ke taman. Aku suka yang sepi dan tenang.” Lintang menulis balasan, matanya menyipit sedikit, membaca informasi itu sebagai “data penting”, “Noted. Keren juga, jadi tau kalau kamu suka tempat yang tenang. Aku juga suka yang sepi… enak buat mikir.” Percakapan itu terus mengalir, halus tapi mengandung banyak informasi. Lintang menanyakan hal-hal kecil lain, makanan favorit, genre film, buku yang disukai. Semua pertanyaan tampak natural, tapi di baliknya, Lintang sedang membangun gambaran utuh tentang Melisa. Ia ingin tahu apa yang membuat Melisa nyaman, apa yang bisa ia gunakan saat PDKT nanti meningkat. Sambil mengetik balasan terakhirnya malam itu, Lintang menatap langit Jakarta dari jendela apartemennya. Ia tersenyum tipis, hampir seperti puas pada strategi yang berjalan mulus, “Bagus… semua berjalan sesuai rencana. Besok… langkah selanjutnya akan lebih halus. Semuanya perlahan, tapi pasti.” Chat dengan Melisa ditutup, tapi Lintang tahu ini baru awal. Informasi kecil yang ia kumpulkan malam itu akan menjadi kunci untuk momen-momen PDKT berikutnya, momen yang akan membuat Melisa semakin merasa nyaman dan tergantung perlahan pada perhatiannya. • Pagi itu, kampus Jakarta dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang tergesa-gesa. Lintang melangkah masuk gerbang dengan tenang, mengenakan masker seperti biasa, kemeja putih yang rapi, dan sepatu hitam mengkilap. Langkahnya ringan tapi pasti, matanya selalu memindai area bukan karena cemas, tapi karena ia ingin memanfaatkan setiap momen untuk melihat Melisa. Di sisi lain, Hazel sedang berada di salah satu gedung fakultas kedokteran, sibuk dengan buku catatan dan laptopnya. Hari itu, ia memilih pakaian sederhana: kemeja biru muda, celana panjang hitam, dan sepatu snickers. Rambutnya digerai biasa, kacamata menempel di hidung, menambah kesan cerdas dan rapi. Ia berjalan sambil membawa beberapa buku ke kelas, sesekali menoleh ke jam di tangannya untuk memastikan tidak terlambat. Lintang, meski melihat Hazel dari jauh, tak terganggu. Fokusnya tetap ke Melisa yang sedang asyik di perpustakaan. Ia berjalan pelan menuju meja Melisa, di mana ia mulai membuka obrolan ringan. “Hai, lagi sibuk ya?”, tanyanya santai, senyum tipis tetap menempel di wajahnya meski dibalik masker. Melisa menoleh sebentar, sedikit tersipu, tapi tersenyum. “Iya, tugas banyak banget hari ini,” jawabnya singkat. Seperti biasa, Lintang menawarkan diri untuk membantu. “Kalau ada yang susah, tinggal bilang aja. Aku bisa bantu cari referensi atau brainstorming bareng.” Melisa mengangguk ringan, tersenyum. Ada rasa nyaman yang mulai ia rasakan seperti ada seseorang yang peduli tanpa terlalu menekan. Meski hatinya tetap tertaut pada pacarnya di luar kampus, perhatian Lintang terasa berbeda. Hangat, tapi juga membuat penasaran. Selama beberapa jam berikutnya, Lintang muncul di beberapa titik strategis, saat Melisa keluar dari ruang perpustakaan, ia tiba-tiba lewat dan menepuk bahunya, pura-pura kebetulan. Di kantin, ia menyapa dengan pertanyaan ringan tentang tugas atau kelas, menyelipkan komentar yang membuat Melisa tersenyum. Saat Melisa tampak kelelahan, ia menawari sebotol air minum, bahkan menanyakan makanan ringan favoritnya. Dalam hati, Lintang tersenyum puas. Semua langkah ini terasa alami, tapi tersusun rapi. Ia mulai memikirkan langkah berikutnya, lokasi yang sempurna untuk konfess. Sebuah sudut taman kampus yang tenang, saat sore menjelang, tempat yang cukup privat tapi tetap romantis. Ia menandai tempat itu di pikirannya, sambil membayangkan momen saat Melisa duduk di bangku taman itu, menatapnya, sedikit penasaran tapi nyaman dengan kehadirannya. Di sisi Melisa, setiap interaksi ringan ini mulai menimbulkan rasa yang sulit dijelaskan. Ia sadar Lintang perhatian padanya, tapi ia juga mencoba menahan diri. “Pacarku tetap prioritas”, gumamnya dalam hati. Namun, di sisi lain, ia mulai menikmati setiap detik PDKT ini, merasakan getaran halus dari perhatiannya, tersenyum pada pesan singkat yang datang di sela-sela kuliah. Hari itu berakhir dengan Lintang kembali ke apartemennya, duduk di dekat jendela, menatap Jakarta dari lantai tinggi. Maskernya sudah dilepas, dan ia mulai bicara sendiri, membayangkan rencana selanjutnya, “Besok… aku bisa hadir sedikit lebih lama di perpustakaan. Aku harus tahu apa yang dia suka, apa yang bikin dia nyaman. Semua harus bertahap. Lokasi konfess sudah siap. Tinggal menunggu momen yang pas. Lintang menutup matanya sebentar, menyusun strategi di kepala. Semua berjalan sesuai rencana, intensitas PDKT meningkat, Melisa mulai merasakan ketertarikan, dan ia sudah siap untuk langkah berikutnya.Minggu pagi di rumah utama keluarga Narendra masih terasa tenang saat Lintang sudah siap berangkat ke Bandung. Jam bahkan belum menunjukkan pukul delapan. Udara Jakarta masih belum terlalu panas, beberapa ART terlihat sibuk merapikan ruang makan. Sedangkan suasana rumah jauh lebih sepi dibanding malam-malam biasanya. Lintang menuruni tangga sambil membawa tas kerja hitam dan koper sedang di tangannya. Pakaiannya santai, kaos abu gelap dipadukan jaket hitam tipis dan celana panjang sederhana. Jauh dari kesan direktur perusahaan besar yang biasanya selalu tampil formal. Di ruang makan, Widya langsung menoleh begitu melihat putranya turun. “Cepet amat.” Lintang menarik kursi sambil tersenyum kecil. “Biar gak kemaleman nyampenya.” Widya langsung menuangkan kopi hangat ke cangkir putranya. Tatapannya masih terlihat seperti ibu yang enggan melepas anaknya pergi meski tahu hanya pindah kota sementara. “Kan besok baru mulai kerja di sana.” “Iya.” Lintang mengambil roti panggang di meja.
Mobil hitam milik Lintang Aksara Narendra akhirnya memasuki halaman rumah utama keluarga Narendra saat langit Jakarta benar-benar gelap. Lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan masuk. Suara tawa dan obrolan sudah terdengar samar bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna di garasi samping rumah besar itu. Rumah keluarga Narendra memang hampir selalu ramai setiap malam menjelang akhir pekan, terutama Jumat malam. Ibunya sangat suka mengumpulkan keluarga besar. Sepupu, Om, Tante, anak-anak kecil. Semua datang silih berganti seperti rumah itu tidak pernah benar-benar sepi dan sejak kecelakaan beberapa tahun lalu… Lintang juga sudah tidak lagi tinggal sendirian di apartemen. Awalnya karena kondisi fisiknya pasca operasi masih harus sering diawasi. Ibunya terlalu khawatir membiarkannya sendiri. Lama-lama Lintang sendiri terbiasa kembali tinggal di rumah utama keluarga mereka. Meski kesibukannya tetap membuat dirinya jarang benar-benar menikmati rumah itu. Ia turun dan mobil sambil
Kehidupan Hazel perlahan mulai menemukan ritmenya kembali, meski melelahkan dan meski sering membuat tubuh dan pikirannya nyaris tumbang. Hazel tetap menjalaninya pelan-pelan. Pagi hari rumah kecil di Jakarta Selatan itu selalu ramai sejak subuh. Suara tangisan bayi, suara mainan jatuh, ocehan kecil yang belum jelas dan langkah Miranti yang mondar-mandir membantu menyiapkan semuanya. Hazel biasanya sudah bangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Kadang karena Leyan terbangun lebih dulu, kadang karena Liana mendadak aktif sendiri di atas kasur dan kadang karena Lintang yang diam-diam sudah duduk bangun memperhatikan dua saudaranya ribut. Hari-hari Hazel sekarang benar-benar penuh. Pagi mengurus bayi, siang kuliah, malam kembali jadi ibu untuk tiga anak kecil yang energinya seperti tidak pernah habis. Tubuhnya sering lelah, lingkar hitam samar di bawah matanya masih belum benar-benar hilang. Kadang pundaknya terasa nyeri karena terlalu sering menggendong anak bergantian dan kadang kepala
Langit di luar apartemen Lintang Aksara Narendra perlahan berubah gelap. Cahaya musim dingin yang sejak siang menggantung pucat kini benar-benar menghilang, digantikan lampu kota Jerman yang menyala dingin di balik jendela besar apartemennya. Sedangkan Lintang masih duduk di tempat yang sama. Laptop di meja sejak tadi tidak disentuh lagi. Kopi di sampingnya sudah dingin dan layar ponselnya masih memperlihatkan foto tiga bayi kecil yang dikirim Kevin beberapa jam lalu. Hari yang awalnya biasa saja berubah kacau total hanya karena tiga foto. Tiga anak kecil yang bahkan tidak tahu keberadaannya mengaduk isi kepalanya seperti ini. Lintang menyandarkan kepala ke sofa perlahan sambil menatap kosong langit-langit apartemen, hanya suara pendingin ruangan dan samar kendaraan dari luar yang terdengar sesekali. Namun isi kepalanya jauh dari tenang. Kalau kalau benar dua bayi itu darah dagingnya, Lintang langsung memejamkan mata rapat dan napasnya terasa berat. Apa yang harus dia lakukan? Per
Hari sudah mulai sore saat Kevin akhirnya berdiri dari karpet ruang tengah. Langit di luar jendela mulai berubah jingga samar. Suasana rumah kecil itu juga perlahan lebih tenang dibanding tadi. Leyan Arvindra sudah mulai mengantuk sambil bersandar di dada ibunya. Sedangkan Lintang kembali sibuk memainkan balok kain dengan ekspresi seriusnya. Kevin merapikan hoodie-nya pelan sambil tersenyum kecil. “Aku pulang dulu ya.” Hazel langsung mengangguk. “Iya Kak, hati-hati.” Namun baru saja Kevin berdiri penuh, tangan kecil mendadak menarik ujung hoodie-nya lagi. “Heh…” Kevin langsung menoleh ke bawah. Liana Naya sedang berdiri sambil berpegangan di pahanya. Matanya bulat menatap Kevin lurus. “Daah…” ocehnya kecil sambil mengangkat kedua tangan. Minta digendong jelas sekali. Hazel langsung menahan tawa. “Liana…” Kevin ikut tertawa kecil lalu refleks mengangkat bayi perempuan itu lagi dan ajaibnya baru beberapa detik dipeluk Kevin, Liana langsung anteng bersandar di bahunya.
Kevin masih diam beberapa detik setelah mendengar nama bayi pertama itu. Tatapannya belum benar-benar lepas dari wajah kecil Lintang Akhsena yang duduk tenang di pangkuan ibunya. Bayi itu bahkan tidak rewel, hanya memperhatikan Kevin dengan mata hazelnya yang terang dan tenang. “Bagus kan namanya?” Hazel Chiara Parameswari tersenyum kecil sambil mengusap rambut putra sulungnya pelan. Kevin langsung cepat-cepat menarik napas kecil lalu mengangguk. “Iya…” Suaranya sedikit tertahan. “Bagus.” Hazel tampak tidak menyadari perubahan kecil di wajah Kevin. Ia justru terlihat jauh lebih hidup saat mulai memperkenalkan anak-anaknya satu per satu. Aura seorang ibu benar-benar terasa kuat sekarang. “Nah…” Hazel menoleh ke arah bayi perempuan yang sejak tadi sibuk berusaha turun dari gendongan Miranti. “…kalau ini anak kedua aku.” Miranti langsung menyerahkan bayi perempuan itu ke pangkuan Hazel dan benar saja baru beberapa detik dipangku, bayi kecil itu langsung bergerak aktif menarik kalung







