FAZER LOGINRuangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j
Udara pagi Bandung mulai terasa sedikit hangat. Matahari perlahan naik lebih tinggi meski angin masih cukup sejuk berembus di sekitar jalan dekat sekolah TK itu. Hazel masih duduk cukup lama di bawah pohon dekat taman kecil sekolah. Ponselnya tetap dalam keadaan bisu. Beberapa notifikasi dari Rehan Pratama terus masuk sejak tadi. Namun Hazel bahkan sudah tidak punya tenaga mental untuk membukanya lagi. Tatapannya kosong, pikirannya penuh dan dadanya masih terasa sesak setelah percakapan dan pesan-pesan tadi pagi. Dirinya lelah, benar-benar lelah dan mungkin karena terlalu banyak memikirkan semuanya kepalanya mulai terasa berat sejak tadi. Hazel mengusap pelan pelipisnya, lalu perlahan berdiri dari bangku semen itu. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.47 pagi. Masih cukup lama sebelum jam pulang anak-anaknya nanti. Maka Hazel berniat berjalan ke toko bunga milik Miranti sambil menunggu waktu. Perempuan itu mulai melangkah pelan meninggalkan area sekolah. Tas kecilnya tergantung d
Pagi di depan sekolah TK itu terasa ramai seperti biasa. Suara anak-anak kecil bercampur dengan obrolan para orang tua yang mengantar terdengar memenuhi halaman sekolah. Beberapa anak masih merengek enggan masuk kelas. Sebagian lagi sudah sibuk berlari kecil menghampiri teman-temannya. Sedangkan Hazel berdiri cukup dekat dari gerbang sekolah sambil memperhatikan tiga anaknya. Hari ini Hazel mengenakan gamis panjang warna dusty pink dengan hijab senada. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin sore. Memar di pipinya juga sudah tertutup cukup rapi dengan concealer dan masker yang masih dipakai. Meski begitu kalau diperhatikan lebih lama sisa lelah di matanya masih terlihat jelas. Setelah sarapan tadi pagi, Hazel langsung mengantar anak-anaknya ke sekolah seperti biasa. Sedangkan Miranti lebih dulu pergi ke toko bunga. Di samping Hazel Leyan masih sibuk mengoceh soal nugget buatan bundanya tadi pagi. “Bunda tadi nuggetnya enak.” Hazel langsung tersenyum kecil sambil mera
Malam di apartemen Lintang terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Sedangkan jas kerja yang tadi dipakai laki-laki itu bahkan masih tergeletak begitu saja di sofa. Lintang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah. Kaos hitam dan celana training sederhana membuat dirinya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di kantor. Namun wajahnya tetap terlihat lelah. Laki-laki itu berjalan pelan menuju dapur kecil apartemennya. Membuka kulkas, mengambil air mineral lalu kembali duduk di sofa sambil memijat pelan tengkuknya sendiri. Saat suasana mulai tenang seperti itu, bayangan wajah Hazel tadi sore kembali memenuhi pikirannya. Bagaimana perempuan itu menangis diam-diam di bangku taman. Bagaimana dirinya gemetar saat bicara soal perceraian. Bagaimana matanya terlihat benar-benar bingung dan kehilangan arah. Lintang mengembuskan napas panjang pelan. Kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemen. Dadanya masih terasa berat samp
Hazel masih duduk diam setelah mendengar penjelasan panjang Lintang tadi. Kepalanya terasa penuh, dirinya bahkan tidak pernah benar-benar berani memikirkan perceraian sejauh itu. Yang ada di pikirannya hanya bertahan, menjalani hari demi hari dan melewati semuanya sendirian sambil berharap keadaan membaik sendiri. Namun sekarang untuk pertama kalinya hidup Hazel terasa seperti memiliki arah lain, meski tetap menakutkan. Tangannya masih saling menggenggam erat di atas pangkuan. Sedangkan matanya terus sesekali mengarah ke anak-anak di depan sana. Leyan kembali heboh karena belalang yang ditangkapnya meloncat ke rambut sendiri. Sedangkan Liana sampai memegangi perut. Lintang berdiri sambil menghela napas kecil melihat dua adiknya terlalu ribut. Pemandangan kecil itu membuat mata Hazel kembali memanas. Semua yang dirinya lakukan selama ini selalu berakhir pada anak-anak. Lintang memperhatikan perempuan itu cukup lama. Semakin dirinya melihat Hazel, semakin kuat keinginannya untuk bena
Hazel benar-benar merasa dirinya seperti sedang ditelanjangi sekarang. Duduk di bangku taman itu dadanya terasa penuh sesak. Tangannya masih menutupi sebagian wajahnya. Bahu kecilnya sedikit bergetar menahan tangis. Sedangkan Lintang duduk diam di sebelahnya. Laki-laki itu tidak menyela dan tidak mendesak. Tatapannya hanya tertuju pelan ke arah Hazel, yang membuat pertahanan Hazel semakin runtuh. Dirinya sadar satu hal yang sangat menyakitkan. Ternyata selama ini anak-anaknya jauh lebih tahu tentang dirinya daripada yang ia kira. Bahkan orang baru seperti Lintang, malah mengetahui banyak hal yang selama ini mati-matian Hazel sembunyikan sendiri. Hazel perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Matanya merah, pipinya basah oleh air mata. Tatapannya langsung jatuh ke arah tiga anak kecil di depan sana. Leyan sekarang duduk di rumput sambil sibuk menghitung belalang mereka. Sedangkan Liana terus berbicara tanpa henti sambil menunjuk-nunjuk wadah plastik kecil itu. Lintang kecil dudu
Hari-hari berlalu, satu minggu, lalu dua minggu. Hazel mulai terbiasa dengan hidupnya yang sekarang. Bukan berarti semuanya membaik, karena rasa takut itu masih ada, masih tinggal di dalam dirinya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang saat mendengar langkah kaki terlalu keras
Sore hari datang lebih cepat dari yang Hazel sadari. Kelas demi kelas terlewati begitu saja, tanpa benar-benar ia ingat apa yang diajarkan. Semuanya terasa seperti potongan waktu yang kabur, ia hadir, duduk, mencatat, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di sana. Saat akhirnya jam pulang
Pagi itu datang seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sudut kamar dengan lembut. Suara kendaraan dari luar terdengar samar, bercampur dengan aktivitas pagi yang mulai hidup perlahan. Semuanya terasa normal, Hazel sudah bangun sejak beberapa saat
Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya







