Inicio / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 12 Rencana Penjebakan

Compartir

BAB 12 Rencana Penjebakan

Autor: Adw_Canss781
last update Fecha de publicación: 2026-03-27 08:02:21

Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katanya pelan.

Tidak ada yang langsung menjawab. Raka menatap meja, rahangnya mengeras. Dion masih diam, tapi ekspresinya sudah tidak sama seperti beberapa menit lalu. Ada sisa kecewa yang belum hilang, be
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 122 Rapuh

    Ruangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 121 Pingsan

    Udara pagi Bandung mulai terasa sedikit hangat. Matahari perlahan naik lebih tinggi meski angin masih cukup sejuk berembus di sekitar jalan dekat sekolah TK itu. Hazel masih duduk cukup lama di bawah pohon dekat taman kecil sekolah. Ponselnya tetap dalam keadaan bisu. Beberapa notifikasi dari Rehan Pratama terus masuk sejak tadi. Namun Hazel bahkan sudah tidak punya tenaga mental untuk membukanya lagi. Tatapannya kosong, pikirannya penuh dan dadanya masih terasa sesak setelah percakapan dan pesan-pesan tadi pagi. Dirinya lelah, benar-benar lelah dan mungkin karena terlalu banyak memikirkan semuanya kepalanya mulai terasa berat sejak tadi. Hazel mengusap pelan pelipisnya, lalu perlahan berdiri dari bangku semen itu. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.47 pagi. Masih cukup lama sebelum jam pulang anak-anaknya nanti. Maka Hazel berniat berjalan ke toko bunga milik Miranti sambil menunggu waktu. Perempuan itu mulai melangkah pelan meninggalkan area sekolah. Tas kecilnya tergantung d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 120 Taman Kanak-Kanak

    Pagi di depan sekolah TK itu terasa ramai seperti biasa. Suara anak-anak kecil bercampur dengan obrolan para orang tua yang mengantar terdengar memenuhi halaman sekolah. Beberapa anak masih merengek enggan masuk kelas. Sebagian lagi sudah sibuk berlari kecil menghampiri teman-temannya. Sedangkan Hazel berdiri cukup dekat dari gerbang sekolah sambil memperhatikan tiga anaknya. Hari ini Hazel mengenakan gamis panjang warna dusty pink dengan hijab senada. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin sore. Memar di pipinya juga sudah tertutup cukup rapi dengan concealer dan masker yang masih dipakai. Meski begitu kalau diperhatikan lebih lama sisa lelah di matanya masih terlihat jelas. Setelah sarapan tadi pagi, Hazel langsung mengantar anak-anaknya ke sekolah seperti biasa. Sedangkan Miranti lebih dulu pergi ke toko bunga. Di samping Hazel Leyan masih sibuk mengoceh soal nugget buatan bundanya tadi pagi. “Bunda tadi nuggetnya enak.” Hazel langsung tersenyum kecil sambil mera

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 119 Penyelidikan

    Malam di apartemen Lintang terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Sedangkan jas kerja yang tadi dipakai laki-laki itu bahkan masih tergeletak begitu saja di sofa. Lintang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah. Kaos hitam dan celana training sederhana membuat dirinya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di kantor. Namun wajahnya tetap terlihat lelah. Laki-laki itu berjalan pelan menuju dapur kecil apartemennya. Membuka kulkas, mengambil air mineral lalu kembali duduk di sofa sambil memijat pelan tengkuknya sendiri. Saat suasana mulai tenang seperti itu, bayangan wajah Hazel tadi sore kembali memenuhi pikirannya. Bagaimana perempuan itu menangis diam-diam di bangku taman. Bagaimana dirinya gemetar saat bicara soal perceraian. Bagaimana matanya terlihat benar-benar bingung dan kehilangan arah. Lintang mengembuskan napas panjang pelan. Kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemen. Dadanya masih terasa berat samp

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 118 Berbeda

    Hazel masih duduk diam setelah mendengar penjelasan panjang Lintang tadi. Kepalanya terasa penuh, dirinya bahkan tidak pernah benar-benar berani memikirkan perceraian sejauh itu. Yang ada di pikirannya hanya bertahan, menjalani hari demi hari dan melewati semuanya sendirian sambil berharap keadaan membaik sendiri. Namun sekarang untuk pertama kalinya hidup Hazel terasa seperti memiliki arah lain, meski tetap menakutkan. Tangannya masih saling menggenggam erat di atas pangkuan. Sedangkan matanya terus sesekali mengarah ke anak-anak di depan sana. Leyan kembali heboh karena belalang yang ditangkapnya meloncat ke rambut sendiri. Sedangkan Liana sampai memegangi perut. Lintang berdiri sambil menghela napas kecil melihat dua adiknya terlalu ribut. Pemandangan kecil itu membuat mata Hazel kembali memanas. Semua yang dirinya lakukan selama ini selalu berakhir pada anak-anak. Lintang memperhatikan perempuan itu cukup lama. Semakin dirinya melihat Hazel, semakin kuat keinginannya untuk bena

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 117 Bukan Perempuan Buruk

    Hazel benar-benar merasa dirinya seperti sedang ditelanjangi sekarang. Duduk di bangku taman itu dadanya terasa penuh sesak. Tangannya masih menutupi sebagian wajahnya. Bahu kecilnya sedikit bergetar menahan tangis. Sedangkan Lintang duduk diam di sebelahnya. Laki-laki itu tidak menyela dan tidak mendesak. Tatapannya hanya tertuju pelan ke arah Hazel, yang membuat pertahanan Hazel semakin runtuh. Dirinya sadar satu hal yang sangat menyakitkan. Ternyata selama ini anak-anaknya jauh lebih tahu tentang dirinya daripada yang ia kira. Bahkan orang baru seperti Lintang, malah mengetahui banyak hal yang selama ini mati-matian Hazel sembunyikan sendiri. Hazel perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Matanya merah, pipinya basah oleh air mata. Tatapannya langsung jatuh ke arah tiga anak kecil di depan sana. Leyan sekarang duduk di rumput sambil sibuk menghitung belalang mereka. Sedangkan Liana terus berbicara tanpa henti sambil menunjuk-nunjuk wadah plastik kecil itu. Lintang kecil dudu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 40 Amarah Kevin

    Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status