تسجيل الدخولHari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam dalam kesibukannya. Namun kali ini semuanya jauh lebih berat. Usia kandungannya sudah memasuki lebih dari tiga bulan, sekitar empat belas minggu. Dan karena ia mengandung kembar tiga, tubuhnya berubah lebih cepat dibanding kehamilan biasa. Perut Hazel sudah mulai terlihat meski belum terlalu jelas jika diperhatikan sekilas. Ukurannya bahkan lebih mirip orang yang hamil empat atau lima bulan. Karena itu sekarang Hazel hampir selalu mengenakan sweater longgar, cardigan besar, atau kemeja oversize. Untungnya teman-temannya tidak terlalu curiga, mereka hanya menganggap Hazel memang belum benar-benar pulih sejak beberapa waktu lalu. Apalagi sejak November, Hazel memang terlihat lebih mudah lel
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang sedang memegang gelas es teh manis berhenti sesaat. Perasaan aneh kembali muncul seperti deja vu. Karena semalam untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membuka freezer di rumah orang tuanya tengah malam dan mengambil satu cup besar es krim, bahkan ia menghabiskannya sendiri. Padahal sejak kecil ia tidak pernah suka es krim. Ia tidak suka rasa terlalu manis, terlalu dingin, terlalu enek. Dulu ibunya sering memaksa membelikannya berbagai macam rasa, tapi selalu berakhir tidak dimakan. Namun semalam berbeda, ia tiba-tiba sangat ingin. Dan sekarang, Hazel juga menginginkan hal yang sama. Lintang mengerutkan kening tipis. Beberapa hari terakhir memang banyak hal aneh terjadi padanya. Ia tiba-
Miranti sempat mencari Hazel ke parkiran fakultas kedokteran. Biasanya Hazel menunggu di sana, hanya saja hari itu Hazel tidak ada. Miranti pun turun lagi dan berjalan ke arah gerbang kampus. Baru beberapa langkah, matanya langsung menemukan Hazel yang sedang berdiri dekat pos satpam. Hazel berdiri sambil memegang plastik rujak buah di tangannya dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wajah Hazel terlihat sedikit lebih hidup. Masih pucat, masih lelah, tapi ada binar kecil di matanya. Miranti langsung menghampirinya. “Kamu dari mana? Mama cari di parkiran tadi.” Hazel menoleh. “Oh... tadi beli ini” katanya pelan sambil sedikit mengangkat plastik rujaknya. Miranti melihat isi rujak itu, lalu tanpa sadar tersenyum lega. “Tumben.” “Aku tiba-tiba pengen.” jelas Hazel yang wajahnya benar-benar sumringah hanya karena makan rujak. Miranti tersenyum lembut. “Bagus kalau sudah mau makan.” Hazel mengangguk kecil. “Tadi ada bapak-bapak lewat jualan di depan.” Miranti ter
Setelah mengantar Hazel ke kampus keesokan paginya, Miranti tidak langsung pulang. Ia langsung memutar arah menuju perumahan yang kemarin sore ia datangi. Saat sampai di perumahan, yang dilihat pertama oleh Miranti, perumahan itu ternyata cukup tenang. Jalannya masih bersih dan sepi, beberapa rumah masih terlihat baru dan belum ditempati. Di dekat gerbang ada kantor pemasaran kecil, Miranti masuk ke sana. Di dalam, ia disambut oleh seorang marketing perumahan. “Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Miranti tersenyum ramah. “Saya mau tanya, masih ada rumah kosong?” “Masih, Mbak. Tapi tinggal dua unit lagi”, jawab marketing. Miranti sedikit terkejut. “Padahal kemarin sepertinya masih beberapa ya?” Marketing itu tersenyum. “Iya, kemarin dua unit baru saja terjual.” Marketing itu lalu mengambil brosur dan memperlihatkannya pada Miranti. Ia menjelaskan ukuran rumah, luas tanah, bahan bangunan, dan fasilitas di dalam perumahan itu. Rumah yang ditawarkan memang tidak
Malam itu di kost, Hazel sedang duduk di kasur sambil bersandar ke dinding. Di sampingnya ada bungkus camilan yang tadi dibeli di minimarket dan satu es krim yang belum sempat ia habiskan. Sementara Miranti duduk di lantai sambil memainkan ponselnya. Beberapa detik kemudian, wajah Miranti sedikit berubah seperti menemukan sesuatu. “Hazel.” “Hm?”, sahut Hazel. Miranti menatap Hazel. “Ibu tadi nemu rumah yang cocok buat kamu.” Hazel menoleh pelan. “Rumah?” Miranti mengangguk lalu mendekat, memperlihatkan layar ponselnya. “Itu, perumahan baru dan sepertinya masih ada beberapa rumah kosong.” Hazel melihat foto-foto rumah di layar. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup bagus. Minimal jauh lebih nyaman daripada kost sempit yang sekarang. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, ruang tamu, dan halaman depan yang meski kecil tetap cukup. “Di mana?”, tanyanya. Miranti kembali menjelaskan.“Nggak terlalu jauh dari kampus. Paling sekitar lima kilometer.” Hazel k
Setelah selesai menemani Melisa berbelanja, mereka memutuskan makan malam sekalian di mall, tentu saja Melisa yang memilih tempatnya. Ia memilih restoran steak yang cukup mahal, salah satu restoran favoritnya setiap pergi bersama Lintang. Begitu mereka duduk, Melisa langsung memesan banyak, steak wagyu, mashed potato, pasta, salad, dan minuman. Lintang sejak tadi hanya menurut, pikirannya masih terasa kacau sejak sore, ia berusaha terlihat biasa saja di depan Melisa. Sampai akhirnya makanan datang, aroma daging, mentega, dan saus hangat langsung memenuhi meja. Melisa yang sejak tadi antusias langsung tersenyum. “Kelihatan enak banget...”, katanya sambil mengambil ponselnya sebentar untuk memotret makanan. Sementara Lintang justru langsung menegang. Begitu mencium aroma steak itu, perutnya tiba-tiba terasa mual, sangat mual. Ia mencoba menahannya, menarik napas pelan, namun yang ia rasakan justru semakin parah. Bau daging dan mentega itu terasa terlalu menyengat. Wajahnya perlaha







