Home / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 11 Rencana Untuk Hazel

Share

BAB 11 Rencana Untuk Hazel

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-25 11:24:14

Malam itu, suasana kafe tidak terlalu ramai. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat, musik pelan mengalun di latar, cukup untuk mengisi keheningan tanpa mengganggu percakapan. Di salah satu sudut, enam orang duduk mengelilingi meja. Lintang, Dion, Raka, Bayu, Arga, dan Kevin. Beberapa gelas minuman sudah setengah kosong. Obrolan mereka awalnya ringan, tidak jauh dari topik biasa, kelas, tugas, hal-hal sepele yang mengisi hari. Namun seperti sesuatu yang memang sudah ditunggu, pembicaraan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 83 Luka

    Liana dan Leyan akhirnya kembali menjauh dari bangku taman. Dua bocah itu kembali sibuk bermain kejar-kejaran sambil membawa gelembung sabun dan bola kecil mereka. Suara tawa mereka sesekali terdengar cukup keras sampai menarik perhatian beberapa orang di taman. Sedangkan di bangku panjang bawah pohon itu, suasana mendadak jauh lebih sunyi. Lintang kecil masih duduk tenang di samping Lintang. Tangannya kecilnya memegang susu vanilla yang tadi diberikan Lintang. Namun sejak tadi anak itu tidak benar-benar meminumnya lagi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah dua adiknya yang bermain. Lalu perlahan ia kembali bicara pelan. “Itu yang didengar mereka…” Lintang sedikit menoleh. “Maksudnya?” Lintang kecil menunduk kecil sekarang. “Yang aku ceritain kemarin sama Om…” Dadanya Lintang langsung terasa tidak enak lagi. “Dia gak suka sama kami…” Suara kecil itu terdengar makin lirih. “…karena kami anak haram.” Lintang membeku. “Anak hasil zina…” lanjut Lintang kecil. Rahang Lintang langsun

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 82 Ke Taman Lagi

    Suasana taman sore itu jauh lebih hidup dibanding kemarin. Beberapa anak kecil bermain di area ayunan. Ada yang bersepeda kecil mengelilingi jalan setapak taman dan suara burung bercampur angin sore membuat suasana terasa tenang. Lintang akhirnya berjalan mendekat ke bangku taman bersama dua bocah kecil yang sejak tadi ribut sendiri di sampingnya. “Pelan-pelan…” Lintang sampai harus menahan langkah Liana yang hampir tersandung sendiri karena terlalu semangat. “Om dateng lagi beneran…” kembali lagi Liana berbicara. “Iya.” Lintang tertawa kecil. “Kan kemarin udah bilang kalau gak sibuk.” Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara sudah sibuk melirik kantong belanja di tangan Lintang sejak tadi. Tatapannya benar-benar fokus. Lintang kecil yang berdiri dekat bangku hanya memperhatikan dua adiknya dengan ekspresi pasrah. “Leyan pasti penasaran makanan…” gumamnya pelan. “Enggak.” Jawaban Leyan terlalu cepat. Liana langsung melotot kecil. “Boong.” Lintang akhirnya duduk di bangku taman

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 81 Tidak Fokus

    Pagi di Bandung masih terasa dingin saat mobil hitam milik Lintang memasuki area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Jam di dashboard mobil bahkan baru menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Masih terlalu pagi untuk jam kerja kantor. Langit terlihat mendung tipis. Udara dingin khas Bandung bercampur aroma kopi dari beberapa kios kecil dekat gedung perkantoran. Sedangkan gedung tinggi Narendra Group cabang Bandung sudah mulai hidup perlahan. Beberapa karyawan terlihat baru datang. Security berjaga di depan pintu utama dan beberapa lampu kantor di lantai atas sudah menyala. Mobil Lintang berhenti pelan di area parkir khusus direksi. Begitu pintu mobil terbuka, security yang sedang berjaga langsung refleks berdiri lebih tegak. “Selamat pagi Pak.” Lintang hanya mengangguk kecil sambil berjalan masuk. Tatapannya tenang, langkahnya pelan dan aura dingin khas dirinya langsung terasa bahkan sejak pertama masuk gedung. Beberapa pegawai yang kebetulan baru datang langsung mel

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 80 Pergolakan Batin

    Suasana depan toko bunga terasa jauh lebih hangat dibanding satu jam lalu. Suara tiga bocah kecil itu terus bercampur dengan percakapan singkat di video call. Sedangkan Lintang masih berdiri diam sambil sesekali memandang layar ponsel di tangan Leyan. Di layar itu Hazel masih terlihat tenang. Sesekali tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya yang berebut bicara. “Bunda nanti kapan pulang lagi?” Tanya Liana sambil memeluk paperbag makanan. Hazel tampak berpikir sebentar. “Belum tau sayang.” “Besok?” tanya Liana lagi. Hazel tersenyum kecil. “Kalau kerjaan Bunda selesai cepat.” Liana langsung manyun tipis. Sedangkan Leyan sudah mulai sibuk menceritakan makanan yang tadi mereka makan. “Aku makan ayam sama bebek.” Hazel langsung mengernyit kecil. “Dua-duanya?” “Iya.” jawab Leyan cepat. “Leyan…” Nada suara Hazel terdengar pasrah bercampur geli. “Nanti sakit perut.” Leyan membusungkan dadanya. “Aku kuat.” Lintang sampai menahan senyum kecil mendengar jawaban itu lagi. Sedan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 79 Tatap Muka

    Lintang masih berdiri di depan toko bunga sambil memandangi tiga bocah kecil di depannya. Lampu toko yang hangat menerpa wajah-wajah kecil itu pelan. Sedangkan langit Bandung sudah mulai benar-benar gelap sekarang. Liana masih memeluk paperbag makanan sambil menatapnya penuh harap. “Nanti kesini lagi kan Om?” Lintang diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil samar. “Kalau Om gak sibuk ya.” Liana langsung sedikit manyun. “Kenapa sibuk terus…” “Karena Om kerja.” jawab Lintang. “Om kerja dimana?” tanya Leyan. Lintang mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah ujung jalan seberang taman. Di sana terlihat gedung tinggi kantor cabang Narendra Group Bandung berdiri cukup mencolok dengan lampu-lampu kantor yang masih menyala. “Di kantor yang ada disana.” Leyan langsung mengikuti arah telunjuknya. Matanya membulat kecil. “Kantor yang gede itu ya Om?” Lintang mengangguk. “Iya.” “WAH…” Leyan tampak benar-benar kagum sekarang. “Itu punya Om?” Lintang tertawa kecil.

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 78 Makan Bersama

    Aroma bebek goreng hangat memenuhi meja mereka. Suara sendok beradu pelan dengan piring bercampur suara ocehan tiga bocah kecil yang tidak pernah benar-benar diam sejak tadi. Leyan jelas jadi yang paling fokus dengan makanan. Bocah itu makan dengan lahap sekali, paha ayam di satu tangan. Sedangkan paha bebek di piringnya sudah mulai habis setengah. “Pelan-pelan.” Lintang sampai tertawa kecil melihatnya. “Nanti keselek.” Leyan langsung menggeleng cepat sambil tetap mengunyah penuh semangat. “Enggak.” Sedangkan Liana justru mulai sibuk sendiri dengan dada ayam goreng pilihannya. Ia mencoba menyuir sendiri. Gagal lalu mencoba lagi, lalu masih gagal. “Kok susah…” Lintang memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya menarik pelan piring kecil itu ke arahnya. “Sini.” Liana langsung mendongak. “Hm?” “Om bantu.” ucap Lintang. Mata bocah kecil itu langsung berbinar. “YEAAY.” Sedangkan Lintang yang duduk di samping adiknya langsung menghela napas kecil. “Makanya belajar makan sendiri

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 20 Confess

    Hari-hari berlalu, satu minggu, lalu dua minggu. Hazel mulai terbiasa dengan hidupnya yang sekarang. Bukan berarti semuanya membaik, karena rasa takut itu masih ada, masih tinggal di dalam dirinya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang saat mendengar langkah kaki terlalu keras

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 19 Trigger dan Perubahan

    Sore hari datang lebih cepat dari yang Hazel sadari. Kelas demi kelas terlewati begitu saja, tanpa benar-benar ia ingat apa yang diajarkan. Semuanya terasa seperti potongan waktu yang kabur, ia hadir, duduk, mencatat, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di sana. Saat akhirnya jam pulang

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 18 Kekosongan dan Konsekuensi

    Pagi itu datang seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sudut kamar dengan lembut. Suara kendaraan dari luar terdengar samar, bercampur dengan aktivitas pagi yang mulai hidup perlahan. Semuanya terasa normal, Hazel sudah bangun sejak beberapa saat

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 17 Kenyataan yang Menyakitkan

    Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status