تسجيل الدخولLiana dan Leyan akhirnya kembali menjauh dari bangku taman. Dua bocah itu kembali sibuk bermain kejar-kejaran sambil membawa gelembung sabun dan bola kecil mereka. Suara tawa mereka sesekali terdengar cukup keras sampai menarik perhatian beberapa orang di taman. Sedangkan di bangku panjang bawah pohon itu, suasana mendadak jauh lebih sunyi. Lintang kecil masih duduk tenang di samping Lintang. Tangannya kecilnya memegang susu vanilla yang tadi diberikan Lintang. Namun sejak tadi anak itu tidak benar-benar meminumnya lagi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah dua adiknya yang bermain. Lalu perlahan ia kembali bicara pelan. “Itu yang didengar mereka…” Lintang sedikit menoleh. “Maksudnya?” Lintang kecil menunduk kecil sekarang. “Yang aku ceritain kemarin sama Om…” Dadanya Lintang langsung terasa tidak enak lagi. “Dia gak suka sama kami…” Suara kecil itu terdengar makin lirih. “…karena kami anak haram.” Lintang membeku. “Anak hasil zina…” lanjut Lintang kecil. Rahang Lintang langsun
Suasana taman sore itu jauh lebih hidup dibanding kemarin. Beberapa anak kecil bermain di area ayunan. Ada yang bersepeda kecil mengelilingi jalan setapak taman dan suara burung bercampur angin sore membuat suasana terasa tenang. Lintang akhirnya berjalan mendekat ke bangku taman bersama dua bocah kecil yang sejak tadi ribut sendiri di sampingnya. “Pelan-pelan…” Lintang sampai harus menahan langkah Liana yang hampir tersandung sendiri karena terlalu semangat. “Om dateng lagi beneran…” kembali lagi Liana berbicara. “Iya.” Lintang tertawa kecil. “Kan kemarin udah bilang kalau gak sibuk.” Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara sudah sibuk melirik kantong belanja di tangan Lintang sejak tadi. Tatapannya benar-benar fokus. Lintang kecil yang berdiri dekat bangku hanya memperhatikan dua adiknya dengan ekspresi pasrah. “Leyan pasti penasaran makanan…” gumamnya pelan. “Enggak.” Jawaban Leyan terlalu cepat. Liana langsung melotot kecil. “Boong.” Lintang akhirnya duduk di bangku taman
Pagi di Bandung masih terasa dingin saat mobil hitam milik Lintang memasuki area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Jam di dashboard mobil bahkan baru menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Masih terlalu pagi untuk jam kerja kantor. Langit terlihat mendung tipis. Udara dingin khas Bandung bercampur aroma kopi dari beberapa kios kecil dekat gedung perkantoran. Sedangkan gedung tinggi Narendra Group cabang Bandung sudah mulai hidup perlahan. Beberapa karyawan terlihat baru datang. Security berjaga di depan pintu utama dan beberapa lampu kantor di lantai atas sudah menyala. Mobil Lintang berhenti pelan di area parkir khusus direksi. Begitu pintu mobil terbuka, security yang sedang berjaga langsung refleks berdiri lebih tegak. “Selamat pagi Pak.” Lintang hanya mengangguk kecil sambil berjalan masuk. Tatapannya tenang, langkahnya pelan dan aura dingin khas dirinya langsung terasa bahkan sejak pertama masuk gedung. Beberapa pegawai yang kebetulan baru datang langsung mel
Suasana depan toko bunga terasa jauh lebih hangat dibanding satu jam lalu. Suara tiga bocah kecil itu terus bercampur dengan percakapan singkat di video call. Sedangkan Lintang masih berdiri diam sambil sesekali memandang layar ponsel di tangan Leyan. Di layar itu Hazel masih terlihat tenang. Sesekali tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya yang berebut bicara. “Bunda nanti kapan pulang lagi?” Tanya Liana sambil memeluk paperbag makanan. Hazel tampak berpikir sebentar. “Belum tau sayang.” “Besok?” tanya Liana lagi. Hazel tersenyum kecil. “Kalau kerjaan Bunda selesai cepat.” Liana langsung manyun tipis. Sedangkan Leyan sudah mulai sibuk menceritakan makanan yang tadi mereka makan. “Aku makan ayam sama bebek.” Hazel langsung mengernyit kecil. “Dua-duanya?” “Iya.” jawab Leyan cepat. “Leyan…” Nada suara Hazel terdengar pasrah bercampur geli. “Nanti sakit perut.” Leyan membusungkan dadanya. “Aku kuat.” Lintang sampai menahan senyum kecil mendengar jawaban itu lagi. Sedan
Lintang masih berdiri di depan toko bunga sambil memandangi tiga bocah kecil di depannya. Lampu toko yang hangat menerpa wajah-wajah kecil itu pelan. Sedangkan langit Bandung sudah mulai benar-benar gelap sekarang. Liana masih memeluk paperbag makanan sambil menatapnya penuh harap. “Nanti kesini lagi kan Om?” Lintang diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil samar. “Kalau Om gak sibuk ya.” Liana langsung sedikit manyun. “Kenapa sibuk terus…” “Karena Om kerja.” jawab Lintang. “Om kerja dimana?” tanya Leyan. Lintang mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah ujung jalan seberang taman. Di sana terlihat gedung tinggi kantor cabang Narendra Group Bandung berdiri cukup mencolok dengan lampu-lampu kantor yang masih menyala. “Di kantor yang ada disana.” Leyan langsung mengikuti arah telunjuknya. Matanya membulat kecil. “Kantor yang gede itu ya Om?” Lintang mengangguk. “Iya.” “WAH…” Leyan tampak benar-benar kagum sekarang. “Itu punya Om?” Lintang tertawa kecil.
Aroma bebek goreng hangat memenuhi meja mereka. Suara sendok beradu pelan dengan piring bercampur suara ocehan tiga bocah kecil yang tidak pernah benar-benar diam sejak tadi. Leyan jelas jadi yang paling fokus dengan makanan. Bocah itu makan dengan lahap sekali, paha ayam di satu tangan. Sedangkan paha bebek di piringnya sudah mulai habis setengah. “Pelan-pelan.” Lintang sampai tertawa kecil melihatnya. “Nanti keselek.” Leyan langsung menggeleng cepat sambil tetap mengunyah penuh semangat. “Enggak.” Sedangkan Liana justru mulai sibuk sendiri dengan dada ayam goreng pilihannya. Ia mencoba menyuir sendiri. Gagal lalu mencoba lagi, lalu masih gagal. “Kok susah…” Lintang memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya menarik pelan piring kecil itu ke arahnya. “Sini.” Liana langsung mendongak. “Hm?” “Om bantu.” ucap Lintang. Mata bocah kecil itu langsung berbinar. “YEAAY.” Sedangkan Lintang yang duduk di samping adiknya langsung menghela napas kecil. “Makanya belajar makan sendiri
Dua bulan berlalu sejak malam itu, untuk orang lain, mungkin dua bulan bukan waktu yang lama. Tapi bagi Hazel, dua bulan terasa seperti bertahun-tahun. Ia tetap menjalani semuanya seperti biasa, kuliah, praktikum, tugas, setidaknya di luar ia terlihat sibuk dan terus menjalani hari seperti biasa. K
Hari-hari Hazel berjalan monoton. Pagi, siang, sore, kelas, tugas dan praktikum. Ia datang paling pagi ke kampus dan pulang saat langit mulai jingga atau gelap. Bukan karena rajin, tapi karena ia tidak ingin terlalu lama berada di kos dengan pikirannya sendiri. Di ruang kuliah, Hazel duduk di poj
Keesokan harinya, Kevin sengaja menghindari kantin fakultasnya sendiri, terlalu ramai dan terlalu berisik. Dan akhir-akhir ini, ia semakin malas mendengar obrolan teman-temannya yang entah kenapa selalu berakhir membahas Hazel, tentang tubuhnya, tentang malam itu dan tentang hal-hal yang semakin me
Di luar café, malam mulai beranjak. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dan menuju parkiran. Lintang menggenggam tangan Melisa sepanjang jalan menuju mobilnya. Tatapan matanya pada perempuan itu terlihat begitu lembut. “Besok aku jemput kamu ke kampus”, ucap Lintang. Senyum di wajah Melisa s







