تسجيل الدخولPagi di depan sekolah TK itu terasa ramai seperti biasa. Suara anak-anak kecil bercampur dengan obrolan para orang tua yang mengantar terdengar memenuhi halaman sekolah. Beberapa anak masih merengek enggan masuk kelas. Sebagian lagi sudah sibuk berlari kecil menghampiri teman-temannya. Sedangkan Hazel berdiri cukup dekat dari gerbang sekolah sambil memperhatikan tiga anaknya. Hari ini Hazel mengenakan gamis panjang warna dusty pink dengan hijab senada. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding kemarin sore. Memar di pipinya juga sudah tertutup cukup rapi dengan concealer dan masker yang masih dipakai. Meski begitu kalau diperhatikan lebih lama sisa lelah di matanya masih terlihat jelas. Setelah sarapan tadi pagi, Hazel langsung mengantar anak-anaknya ke sekolah seperti biasa. Sedangkan Miranti lebih dulu pergi ke toko bunga. Di samping Hazel Leyan masih sibuk mengoceh soal nugget buatan bundanya tadi pagi. “Bunda tadi nuggetnya enak.” Hazel langsung tersenyum kecil sambil mera
Malam di apartemen Lintang terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Sedangkan jas kerja yang tadi dipakai laki-laki itu bahkan masih tergeletak begitu saja di sofa. Lintang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah. Kaos hitam dan celana training sederhana membuat dirinya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di kantor. Namun wajahnya tetap terlihat lelah. Laki-laki itu berjalan pelan menuju dapur kecil apartemennya. Membuka kulkas, mengambil air mineral lalu kembali duduk di sofa sambil memijat pelan tengkuknya sendiri. Saat suasana mulai tenang seperti itu, bayangan wajah Hazel tadi sore kembali memenuhi pikirannya. Bagaimana perempuan itu menangis diam-diam di bangku taman. Bagaimana dirinya gemetar saat bicara soal perceraian. Bagaimana matanya terlihat benar-benar bingung dan kehilangan arah. Lintang mengembuskan napas panjang pelan. Kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemen. Dadanya masih terasa berat samp
Hazel masih duduk diam setelah mendengar penjelasan panjang Lintang tadi. Kepalanya terasa penuh, dirinya bahkan tidak pernah benar-benar berani memikirkan perceraian sejauh itu. Yang ada di pikirannya hanya bertahan, menjalani hari demi hari dan melewati semuanya sendirian sambil berharap keadaan membaik sendiri. Namun sekarang untuk pertama kalinya hidup Hazel terasa seperti memiliki arah lain, meski tetap menakutkan. Tangannya masih saling menggenggam erat di atas pangkuan. Sedangkan matanya terus sesekali mengarah ke anak-anak di depan sana. Leyan kembali heboh karena belalang yang ditangkapnya meloncat ke rambut sendiri. Sedangkan Liana sampai memegangi perut. Lintang berdiri sambil menghela napas kecil melihat dua adiknya terlalu ribut. Pemandangan kecil itu membuat mata Hazel kembali memanas. Semua yang dirinya lakukan selama ini selalu berakhir pada anak-anak. Lintang memperhatikan perempuan itu cukup lama. Semakin dirinya melihat Hazel, semakin kuat keinginannya untuk bena
Hazel benar-benar merasa dirinya seperti sedang ditelanjangi sekarang. Duduk di bangku taman itu dadanya terasa penuh sesak. Tangannya masih menutupi sebagian wajahnya. Bahu kecilnya sedikit bergetar menahan tangis. Sedangkan Lintang duduk diam di sebelahnya. Laki-laki itu tidak menyela dan tidak mendesak. Tatapannya hanya tertuju pelan ke arah Hazel, yang membuat pertahanan Hazel semakin runtuh. Dirinya sadar satu hal yang sangat menyakitkan. Ternyata selama ini anak-anaknya jauh lebih tahu tentang dirinya daripada yang ia kira. Bahkan orang baru seperti Lintang, malah mengetahui banyak hal yang selama ini mati-matian Hazel sembunyikan sendiri. Hazel perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Matanya merah, pipinya basah oleh air mata. Tatapannya langsung jatuh ke arah tiga anak kecil di depan sana. Leyan sekarang duduk di rumput sambil sibuk menghitung belalang mereka. Sedangkan Liana terus berbicara tanpa henti sambil menunjuk-nunjuk wadah plastik kecil itu. Lintang kecil dudu
Pertanyaan kecil dari Hazel membuat Lintang perlahan diam. Angin sore kembali berembus pelan melewati taman. Suara anak-anak masih terdengar samar di kejauhan. Leyan sekarang sibuk berlari sambil membawa wadah belalang mereka. Sedangkan Liana mengejar dari belakang sambil tertawa kerasn dan seperti biasa Lintang kecil tetap mengawasi dua adiknya sambil berjalan lebih tenang. Namun di bangku taman, suasananya kembali berat. Hazel masih menatap Lintang pelan. Matanya sudah tidak setegang tadi. Kini lebih banyak rasa penasaran dan iba di sana. “Apa mas… gak coba cari orangnya?” Suaranya lembut sekali. Tidak menghakimi hanya bertanya tulus. Lintang langsung tersenyum kecil samar namun senyum itu terlihat getir. Laki-laki itu menunduk sebentar sambil mengusap jemarinya sendiri pelan. “Cari?” Ia mengulang kata itu lirih. Lalu perlahan menggeleng kecil. “Awalnya… saya terlalu pengecut buat nyari dia.” Hazel langsung diam mendengarkan. Tatapan Lintang kosong mengarah ke rerumputan taman
Suasana taman mulai sedikit lebih teduh. Matahari sore perlahan turun, membuat cahaya keemasan jatuh di rerumputan dan area bermain anak-anak. Di depan sana, Leyan kembali berteriak heboh karena belalang yang ditangkapnya meloncat ke baju sendiri. Sedangkan Liana tertawa sampai membungkuk sambil menunjuk wajah panik saudaranya dan seperti biasa Lintang kecil berdiri sambil menghela napas kecil melihat dua adiknya terlalu ribut. “Makanya jangan ditempel ke baju.” ucapnya datar sambil mengambil belalang itu pelan. Namun di bangku taman suasananya terasa jauh lebih sunyi. Hazel masih memegang kartu nama pemberian Lintang Aksara Narendra di tangannya. Tatapannya beberapa kali jatuh ke arah laki-laki itu. Karena semakin lama berbicara semakin dirinya merasa ada sesuatu yang sangat berat disimpan oleh Lintang. Sedangkan Lintang sendiri duduk diam beberapa detik. Tatapannya kosong mengarah ke depan. Lalu perlahan laki-laki itu kembali bicara. “Mungkin… orang lain yang lihat saya…” Lint
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha
Keesokan harinya, Kevin sengaja menghindari kantin fakultasnya sendiri, terlalu ramai dan terlalu berisik. Dan akhir-akhir ini, ia semakin malas mendengar obrolan teman-temannya yang entah kenapa selalu berakhir membahas Hazel, tentang tubuhnya, tentang malam itu dan tentang hal-hal yang semakin me
Di luar café, malam mulai beranjak. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dan menuju parkiran. Lintang menggenggam tangan Melisa sepanjang jalan menuju mobilnya. Tatapan matanya pada perempuan itu terlihat begitu lembut. “Besok aku jemput kamu ke kampus”, ucap Lintang. Senyum di wajah Melisa s







