Home / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 28 Penolakan Hazel

Share

BAB 28 Penolakan Hazel

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-28 22:53:46

Langit di luar sudah gelap sejak tadi. Dari jendela kamar, hanya terlihat cahaya lampu taman yang temaram menerpa dedaunan di halaman. Hazel duduk sendirian di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang. Lampu kamar tidak ia nyalakan sepenuhnya, hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang membuat kamar itu tampak redup.

Di luar, dari arah dapur, terdengar suara Miranti sedang memasak. Hazel sama sekali tidak peduli, tangannya memeluk lutut erat, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 157 Emosi yang Meluap

    Suara kasar Rehan masih terdengar memenuhi ruangan rawat itu. Bentakan demi bentakan keluar tanpa jeda. Sedangkan Hazel duduk diam di atas ranjang dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan matanya turun, jemarinya menggenggam ujung selimut erat. Lintang bisa melihat jelas perempuan itu sebenarnya gemetar sedikit. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama hidup di bawah tekanan seperti ini. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya duduk lebih dekat di sisi ranjang. Lalu perlahan tangannya menyentuh tangan Hazel. Hangat dan tenang, tidak menggenggam keras. Hanya menyentuh pelan seperti memberi tahu dirinya ada di sana. Sentuhan kecil itu langsung membuat Hazel sedikit tersadar. Tatapan perempuan itu perlahan berpindah ke arah Lintang. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap tenang sambil mengangguk kecil. 'Jawab. Kamu bisa.' Entah kenapa keberanian kecil itu akhirnya muncul lagi di diri Hazel. Perempuan itu menarik napas pelan, lalu akhirnya bicara. “Ngapain kamu repot-repot ke r

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 156 Rekaman

    Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 155 Konsultasi

    Setelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 154 Takut Penolakan

    Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 153 Ikan

    Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 152 Berhak Tahu

    Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status